Category Archives: Kolom

ASALKAN ENGKAU TAK MARAH KEPADAKU

11 Aug 17
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Di ruang tunggu bandara, ketika menunggu pesawat delay, saya duduk, menutupi wajah dengan tangan. Berusaha tidur, kalau nggak bisa ya pura-pura tidur, supaya saya merdeka. Kapan saja bisa ambil jarak dari kehidupan, itulah kemerdekaan.
Tapi tiba-tiba ada yang menggamit pundak saya. Spontan saya membuka wajah. Orang itu menyapa dengan wajah riang gembira.

“Ngantuk, Cak?”, ia bertanya.
“Iyae…”
“Sampai jam berapa semalam acaranya?”
“Jam 3. Salamannya sampai jam 4”
“Semalam saya juga datang lho Cak, tapi cuma sampai jam 1. Khawatir kondisi anak saya, karena masih bayi”

“Lho kok ngajak bayi segala. Kan udara malam tidak baik”
“Ah, ya tapi kan ketutupan sama berkahnya persaudaraan di acara Njenengan”
“Amin”, jawab saya, “tapi posisi saya hanya bisa mendoakan lho. Mudah-mudahan logika dan harapan Anda itu dikabulkan. Sebab Allah mampu apa saja”
“Ini sekarang mau acara di mana lagi?”
Saya menyebut nama sebuah kota. Per malam sampai tiga hari ke depan.
“Cak, Njenengan kok kuat tho mobat-mabit terus. Apalagi maiyahan selalu sampai hampir pagi. Risiko dakwah ya Cak…”

“Ah, ndak. Saya tidak berdakwah. Saya cuma pas bisa memenuhi permintaan. Kalau dakwah itu kan tugas Da’i”
“Lha Njenengan kan Da’i”
“Semua orang juga Da’i”
“O gitu ya Cak”
“Angin juga Da’i. Hewan-hewan juga Da’i. Siapa dan apa saja yang berlaku sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, itu Da’i”

“Kok tahu sesuatu itu dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh Tuhan?”
“Berbuat baik, mempersaudarai setiap orang, memanusiakan orang, tidak menyakiti, tidak mencuri, tidak membunuh, selalu berbagi, berusaha bijaksana secara sosial – itu semua mestinya ya dikehendaki bahkan disukai oleh Tuhan”
“Mestinya atau pasti?”
“Kalau mau pasti, kapan-kapan kita sowan ke rumah Tuhan, nanya langsung. Kalau perlu kita rekam. Kita videokan sebagai bukti. Boleh juga diviralkan”
Orang itu tertawa.
“Tapi semua orang bilang Njenengan ini ya Da’i. Muballigh. Ustadz. Kiai. Bahkan ada yang menyebut Ulama ke Njenengan”
“Mereka bermaksud baik. Cuma belum tentu tepat. Saya ini temanmu, mungkin Bapak atau Mbahmu”
“Waduh. Nanti ada yang bilang lebai lho Cak”, celetuknya.

Akhirnya saya berpikir: sekalian sajalah. Toh sudah gagal tidur: “Dakwah itu memanggil, menghimbau, menganjurkan, menyarankan, merekomendasikan, dan itu dilakukan oleh hampir setiap orang di berbagai urusan. Kalau Muballigh yang bertabligh, itu menyampaikan. Lha Lembu melenguh saja menyampaikan keindahan Allah lewat makhluk-Nya. Kalau Ustadz itu panggilan Mister, atau Pak. Pak Karjo Bengkel. Pak Dirun Tongseng. Pak Kasdu Pijet. Kalau Kiai itu penghormatan budaya dan peradaban Jawa kepada orang atau benda. Ada Kiai Slawé di Jombang. Ada juga keris Kiai Sangkelat, pohon Kiai Keningar, gamelan Kiai Kanjeng, kerbau bulé Kiai Slamet di Solo”

Orang itu tertawa kecil. “Njenengan ini terlalu universal, Cak. Kurang akademis”.

Owalah. Ya sudahlah. “Makanya salah tuduhan bahwa saya ini Ulama. Ulama beda dengan Intelektual, Cendekiawan, atau Ilmuwan, meskipun arti harafiahnya sama. Kalau Ilmuwan itu orang yang memiliki penguasaan pengetahuan dan ilmu atas suatu hal. Kalau Ulama itu orang yang ekspertasinya atas suatu bidang ilmu membuatnya takjub kepada ciptaan Tuhan, sehingga merasa takdhim dan takut kepada-Nya. Kalau Ilmuwan, Intelektual dan Cendekiawan, tidak harus takut kepada Tuhan. Tidak harus bertaqwa untuk disebut Intelektual. Lha saya ini, Intelektual bukan, Ulama apalagi”

“Lho ternyata Njenengan lumayan akademis juga”, orang itu tertawa,
“Ditambah Njenengan ini kalau menjelaskan sesuatu bisa sederhana dan gamblang. Makanya masyarakat terus mengundang Njenengan untuk Amar Makruf…”

Aduh saya jadinya terseret untuk membantah terus. “Lho, Amar Makruf itu tugasnya Pemerintah atau Umara. Saya bukan Carik, Kepetengan atau Kamituwo. Saya tidak berposisi Amar Makruf. Bahkan para Kiai, Ustadz, Da’i, Muballigh dan Ulama pun tidak tidak pada tempatnya untuk melakukan Amar Makruf”

“Kok gitu Cak?”, agak serius wajahnya.

“Amar itu bisa berarti urusan, bisa perintah. Amir itu Pemerintah. Amirul Mu`minin itu pemegang pemerintahan atas Kaum Muslimin. Itu butuh legalitas jabatan dan otoritas resmi. Makruf itu berposisi maf’ul: sesuatu yang sudah diolah menjadi paket padat. Dari kata ‘Irfan, semacam pengetahuan tentang kebijaksanaan. Makruf adalah nilai-nilai kebaikan yang sudah di-arif-i. sudah dimusyawarahkan dengan matang, disimulasikan dan dihitung manfaat mudaratnya. Sehingga ia menjadi pasal, formula yang jelas tentang sesuatu hal. Kalau dalam dunia modern namanya hukum positif, pasal-pasal hukum. Maka Kiai dan Ulama tidak di situ tempatnya. Mereka tidak memegang otoritas untuk memerintahkan, melarang dan menerapkan hukum positif”

“Lha kok selama ini dibilang tugas Ulama adalah Amar Makruf Nahi Munkar?”
“Kalau pendapat saya tugas Ulama itu Dakwah Khoir. Khoir itu kebaikan yang masih cair, bersifat universal, benih, serbuk, energi, glepung. Kebenaran dan kebaikan yang masih umum, hanya bisa disampaikan, dianjurkan atau direkomendasikan. Itulah posisi tugas Ulama, Kiai, Ustadz. Beliau-beliau ini tidak memerintahkan atau melarang, melainkan menyampaikan dan merekomendasikan. Jadi, dakwah khoir. Kalau Pemerintah, jangan menghimbau, tetapi memerintahkan, melarang, menindak tegas”

“Kalau Nahi Munkar?”
“Itu tugas bersama. Setiap manusia harus menghindarkan dirinya dan orang lain untuk tidak melakukan destruksi, penggerogotan nilai kebenaran dan kebaikan, penghancuran kemanusiaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan”

“Jadi Njenengan keliling-keliling ini melakukan Dakwah Khoir Nahi Munkar?”

“Nggak juga. Niat saya cuma jangan sampai dimarahi oleh Tuhan. In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali. Itu ucapan Kanjeng Nabi favorit saya. Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku – maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, ada atau tiada. La ubali, gak pathèken. Pak Harto yang serem 32 tahun saja percaya saya omongi untuk bersikap di koordinat nothing to loose itu”. *

Reference :
https://www.caknun.com/2017/asalkan-engkau-tak-marah-kepadaku/

LIMA TANTANGAN PERUBAHAN

10 Aug 17
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Meskipun Nabi atau Rasul, tidak terhindar dari sekurang-kurangnya lima tantangan, ujian atau halangan, ketika mensosialisasikan perubahan kepada masyarakatnya. Misalnya Nabi Nuh, Ruhullah – bahkan  ia ruh-nya Allah sendiri – tak kurang dari 950 tahun menyebarkan wacana kebenaran, susahnya bukan main, dan hasilnya jauh dari memadai.

Nuh menginformasikan rasio sangkan-paran, bahwa bumi dengan segala kesuburan dan kekayaannya, bahwa langit dengan tak terbatas matahari dan planet satelitnya, adalah milik Tuhan. Sebab Tuhan yang bikin. Maka Dia pemilik saham primer. Maka pula Dia yang berhak menentukan segala aturan, konstitusi, regulasi, kewajiban dan hak. Manusia bukan pemilik bumi, bahkan tidak memiliki dirinya sendiri. Maka manusia bukan pejabat utama pengelolaan bumi, kecuali pada batas ia dimandati oleh Maha Pemiliknya.

Dari rasio dasar kepemilikan itu, baru dilakukan penerjemahan logis secara sosial pada tata nilai kehidupan manusia. Lahirlah logika ibadah. Urgensi rahmatan lil’alamin. Relevansi akhlakul karimah. Prinsip berbagi dan bertoleransi. Pendidikan sabar dan syukur. Metode puasa atau efisiensi. Keperluan ekspertasi agar shirathal-mustaqim atau efektivitasnya ketemu. Manusia berposisi buruh. Karyawan. Agen. Kepala Bagian. Manajer suatu bagian dari urusan. Mungkin Sales. Pengepul. Pengecer.

Sampaipun pekerja kaki lima. Tetapi seluruh yang dikelola, diperniagakan dan didistribusi – mau tidak mau harus berdasarkan policy Sang Maha Owner, Komisaris Utama, yang bahkan dalam banyak hal Ia juga Direktur Utama Kehidupan, meskipun Tuhan mengangkat sejumlah Staf Khusus di lingkaran dalam manajemen-Nya sendiri, yang dipimpin oleh Jabroil. Atau Jabarala. Sampai Makahala, Hasarapala, Hajarala, para Muqorrobin, petugas khusus Zabaniyah, Ridwan, Malik, Salim, Sykahlatus-Syams dll.

Tahap sosialisasi nilai oleh Nabi Nuh itu baru tahap sangat awal: mengajak masyarakat memahami, menyadari dan mengakui bahwa bukan manusia yang berkuasa, melainkan Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran itu pun cukup berlaku di pikiran dan pengakuan di hati. Belum sampai aplikasi melalui langkah kaki dan gerak tangan. Baru persaksian dan kesaksian. Belum sampai aplikasi dan manifestasi.

Syahadah saja sudah lumayan. Dan Nabi Nuh hanya mendapatkan beberapa puluh orang selama 950 tahun. Tidak perlu sampai ke eksekusi sosial, politik dan kebudayaan. Belum sampai ke sosialisme dan kapitalisme. Fundamentalisme dan pragmatisme. Liberalisme dan radikalisme. Kerajaan dan Kesultanan. Persemakmuran dan Republik. Jangankan lagi Huntingtonisme, Balkanisasi, Arab Spring, Kenduri Nusantara, reklamasi dan Meikarta – yang unit-unit apartemennya sudah ditawarkan secara resmi di tempat-tempat resmi. Nabi Nuh belum sampai harus berpikir otonomi daerah dan Pilkada serentak. Sekadar satu kalimat pendek yang keluar dari bibir manusia.

Tetapi pada posisi sangat dini-nilai itu pun seorang aktivis perempuan menuding, nge-share dan memviralkan “Innahu majnun”, “anduweni loro edan”. Nuh itu tokoh gila. Sakit jiwa. Untung Allah tidak mentakdirkan Prabu Jayabaya menjadi salah seorang stafnya Nabi Nuh. Andaikan demikian, pasti Jayabaya, dibantu Ranggawarsito, bikin counter meme: “Amenangi jaman edan. Sopo ora melu edan ora bakal keduman. Lha wong yang sudah ikut edan saja belum tentu keduman. Arep entuk dumduman sethithik wae konangan….”. Kita mengalami zaman edan. Siapa tidak gabung ikut edan tidak mendapat bagian. Lha yang sudah ikut edan saja belum tentu dapat bagian. Mau dapat bagian sedikit saja malah ketahuan.

Tantangan pertama yang menabrak Nabi Nuh adalah area wacana, adu kekuatan untuk benar, kecanggihan talbis dan keahlian manipulasi. Tantangan kedua adalah budaya kapitalisasi dan atmosfer kapitalisme pada alam berpikir dan mentalitas manusia. Khawid, putra Nuh, yang ditugasi memimpin pembuatan kapal, minta upah kepada Bapaknya sendiri. Khawid mengajukan proposal anggaran biaya. Nabi Nuh tidak mengabulkan, apalagi klausul bahwa Khawid yang menentukan tenaga ahli maupun buruh-buruhnya.

Khawid marah karena hanya dikasih “tiga apem”. Semacam jajan Poffertjes Belanda. Tapi Bapaknya menyuruhnya memakan apem itu dengan terlebih dulu membaca “Bismillahi majreha”. Ketika Khawid memakan satu apem itu, ternyata tak habis-habis sampai ia kekenyangan. Itu suatu fenomena sangkan-paran yang Khawid mengalami tapi tidak memahami. Memang ranah Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, meskipun mengandung bagian dari maintenance yang harus berurusan jual beli – tetapi harus ada kewaspadaan dan kearifan untuk jangan sampai mengkapitalisasikan empat wilayah itu sehingga kehilangan substansi nilainya. Jangan sampai Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, dikelola dengan tujuan sebagaimana perusahaan ekonomi materi.

Tantangan ketiga yang dihadapi oleh Nabi Nuh adalah bergabungnya Iblis menumpang ke kapal beliau. Sang Idajil alias Azazil yang oleh Allah dimutasi menjadi Iblis ini berpegangan pada ekor hewan yang bernama Balkadaba, dan ikut bergabung dengan seribu hewan di kapal Nuh. Tatkala nanti banjir menggelombang raksasa dan menenggelamkan wilayah-wilayah di permukaan bumi, dan kapal Nuh berangkat berlayar mengikuti “perintah” alamiah ke mana ombak menyeretnya – Iblis tiba-tiba nongol ke depan Nabi Nuh yang sedang bersandar di sebuah tiang dengan napas terengah-engah. Nabi Nuh tentu saja terperanjat, dan spontan berkata: “Ngapain kamu ke sini!”

Iblis menyungging senyum yang amat menyakitkan hati Nabi Nuh. “Katanya kalau mau selamat disuruh naik kapalmu”, jawab Iblis.
“Kamu sudah tidak punya kemungkinan untuk selamat”.
Iblis tertawa. “Sudahlah. Itu urusanku dengan Allah”, katanya, “Saya menemuimu cuma mau memastikan: berapa jumlah pengikutmu di kapal ini?”
“Delapan puluh”, jawab Nabi Nuh.
“Selamat ya”, Iblis tertawa lebih menyakitkan lagi, “jadi yang mati tenggelam dalam banjir kira-kira berapa?”
“Sekian ratus ribu”, Nabi Nuh menjawab ogah-ogahan.
Iblis mengucapkan kalimat terakhir kemudian pergi meninggalkan Nuh: “Jadi jauh lebih banyak pengikutku ya dibanding pengikutmu….”

Hanya delapan puluh orang ikut naik kapal Nuh. Hanya 80 orang, sesudah berdakwah hampir semilenium. Jutaan lainnya tidak percaya, tidak menemukan gejala-gejala akan datangnya banjir bah yang menenggelamkan hampir dua pertiga permukaan bumi. Tidak ada peringatan ilmiah untuk itu. Tidak ada pengumuman untuk waspada atau siaga bencana. Apalagi Mbah Rono belum lahir waktu itu, dan Badan Meteorologi Klimatogi dan Geofisika belum didirikan.

Tetapi andaikanpun ada yang percaya akan ada banjir besar, belum tentu nanti di dalam kapal mereka memberikan persaksian atas nilai yang disosialisasikan oleh Nabi Nuh. Andaikan peristiwa banjir Nuh terjadi sekarang, kapal akan penuh penumpang. Bukan karena percaya kepada Nuh, bukan karena beriman, melainkan demi keselamatan pragmatis. Siapa yang kira-kira menang, didukung. Siapapun saja yang berkuasa, baik Nuh ataupun Iblis, banyak orang bergabung. Kemudian bersama-sama mereka merajut dan menerapkan kebenaran versi mereka sendiri, untuk dijadikan kebenaran tunggal nasional.

Tuhan memerintahkan Jibril untuk membantu Nabi Nuh mengumpulkan pasangan binatang-binatang minimal berjumlah seribu. Di samping itu, dihimpun juga benih-benih segala tanaman yang mungkin dicover. Nuh didorong untuk berpikir futurologis. Ini tantangan keempat di hadapan perjuangan perubahan. Bisakah Anda bayangkan tingkat kerepotan teknis dan ketidakmudahan teknologis untuk memuat seribu macam binatang? Yang harus dipisahkan antara jantan dengan betina? Dari serangga-serangga kecil hingga babi, kerbau, harimau dan gajah? Bagaimana memberi makan minum mereka di kapal dari hari ke hari? Dari mana bahannya? Tak jelas pula sampai kapan kapal terapung-apung di atas banjir?

Sampai-sampai karena kelelahan dan hampir putus asa, orang bikin humor: kenapa sapi berjalan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya? Karena di kapal Nuh tak boleh ada penambahan penumpang. Maka semua alat kelamin dicopot dan dikumpulkan di sebuah ruangan. Setelah banjir reda dan kapal mendarat, baru kelamin hewan-hewan itu dibagi dan dipasang kembali. Tetapi karena manusia saja belum tentu punya budaya antre, bisa dimaklumi kalau binatang berebut berdesakan mengambil kelaminnya masing-masing.

Kuda yang paling cepat larinya, sampai duluan ke gudang kelamin. Tanpa pikir panjang ia mengambil yang paling besar, daripada menunggu urutan administratif. Dengan kelamin yang dahsyat, kuda melesat lari dari gudang, lompat keluar kapal dan turun ke daratan. Sapi menyaksikan betapa cepat larinya kuda, serta betapa besar panjang kelaminnya – sehingga ia geleng-geleng kepala tak henti-henti sampai hari ini.

Adapun tantangan kelima, para pejuang perubahan perlu memastikan perilakunya agar mereka dicintai oleh Tuhan dan di-support serta difasilitasi perjuangan mereka. Sebab Tuhan bikin banjir tidak terutama karena kaum Nuh durhaka dan ingkar pada eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Sebab Tuhan tidak laba kalau kita beriman, dan Tuhan tidak defisit sepeser pun kalau kita kafir. Tuhan menyelenggarakan banjir bah dahsyat itu kemungkinan besar karena Nuh Ruhullah, kekasih-Nya, disakiti oleh manusia dan masyarakat.

Mohon Sampeyan semua tidak usah percaya-percaya amat pada apa yang saya tulis. Juga jangan mendalam-mendalam amat memasukkan ke hati. Di samping saya memang belum tentu bisa dipercaya, juga karena Sampeyan semua sedang hidup di zaman di mana para stakeholders sejarah yang sedang dilangsungkan ini, sangat menikmati keadaan yang sedang berlangsung, sehingga jangan bermimpi beliau-beliau menginginkan perubahan. *

Cermin Mursyid dan Ilmu Kependekaran

19 Mar 17
ja
, ,
No Comments

Oleh Andityas Praba

Inspirasi untuk mencari kemungkinan pemaknaan per-guru-an Maiyah saya temukan dalam tulisan Cak Nun, Daur 12 April 2016, “Mursyid Peradaban dari Barat dan Utara”. Dari sudut pandang tertentu, tulisan saya ini bisa dianggap saja catatan seorang murid yang baru belajar menulis apresiasi sastra. Kalau salah ya ngapunten, Cak. Namanya juga sedang belajar.

Bagian-bagian yang paling menarik perhatian saya adalah dua paragraf ini: “Masing-masing kalian harus menaklukkan saya di dalam diri kalian. Haram hukumnya Markesot berkuasa atas pikiran kalian, mental kalian, hati dan sikap hidup kalian. Masing-masing dari kalian wajib berdaulat atas diri kalian sendiri.”

“Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian. Jangan sampai saya mendominasi kedalaman jiwa kalian.”

 

           Ilustrasi Pencak Silat

(Sumber : Sumber : http://www.katawarta.com/olah-raga/pencak-silat-akan-didaftarkan-ke-unesco)

Mursyid dan cermin punya hubungan yang erat. Dalam khazanah tarekat, mursyid sering diibaratkan sebagai cermin bagi salik/murid. Ini mengambil hikmah dari hadits Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya.” (HR Abû Dâwûd). Pandangan atau anggapan dalam pikiran seorang murid terhadap mursyidnya sesungguhnya adalah pantulan kondisi batin sang murid sendiri. Seorang mursyid sejati ibarat cermin bening. Setiap orang yang bertemu dengannya hanya menemukan pantulan kondisi batinnya sendiri pada diri sang mursyid. Orang yang berpikiran duniawi menemukan hasrat mendapat keuntungan. Orang yang haus kekuasaan menjumpai peluang-peluang politik. Hanya seorang pencari sejati yang melihat pantulan diri sejatinya pada diri sang mursyid. Sedangkan mursyid sejati, yang kamil, pun memantulkan nur yang pantul-memantul sepanjang sekian generasi hingga mencapai Rasulullah. Atau sederhananya, supaya tidak memakai bahasa yang terlalu melangit, pada sosok sang mursyid, seorang murid bisa menemukan bahan untuk refleksi diri. Murid juga bisa menemukan dalam diri mursyid sifat dan akhlak terpuji yang belum murid punyai, padahal sesungguhnya potensi itu terpendam dalam dirinya.

Maiyah bukan tarekat. Cak Nun sendiri dalam berbagai kesempatan menyatakan tidak punya keinginan membuat tarekat. Tapi mungkin kita bisa mengambil inspirasi dari tradisi tarekat itu? Kita bisa masing-masing membuat laku pribadi seperti yang diisyaratkan Cak Nun dalam samaran Markesot: Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian.

Kita semua tahu Cak Nun adalah sosok multi-segi seperti prisma, memantulkan sinar beragam, tergantung dari sisi mana kita memandang. Kemungkinan sosok yang kita tangkap sangat banyak, dari seniman-budayawan hingga kiai. Dari pantulan yang kita tangkap saat ini, kita bisa belajar tentang kedalaman isi batin kita sendiri. Dan akhirnya setelah menangkap pantulan demi pantulan, kita bisa mendekati kesejatian diri masing-masing. Proses ini mengingatkan saya pada sebuah puisi Cak Nun, Kau Pandang Aku:

Kau pandang aku penderma agung, kau jilati, padahal aku papa tiada.
Kau pandang aku boneka, kau sandangkan sutera, padahal aku jiwa.

Kau pandang aku ruh perutusan, kau ikut masuk hutan, padahal aku gila.

Kau pandang aku penuh kasih, kau damba kau damba, padahal aku cuma pinjam

Berikutnya yang menarik saya adalah “permintaan” Markesot alias Cak Nun: Masing-masing kalian harus menaklukkan saya di dalam diri kalian … agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Bagian ini malah mengingatkan saya pada dunia persilatan. Dalam per-guru-an silat, meguru adalah proses panjang murid untuk menaklukkan guru. Guru adalah lawan tanding (sparring partner) abadi si murid. Mula-mula, murid hanya melulu meniru. Tapi setelah dirasa cukup ilmunya, guru justru mendorong murid untuk mencari kasus silat sebanyak-banyaknya. Bahan-bahan itu kemudian diujicobakan ke guru, semacam studi kasus (dalam silat Sunda disebut kajadian). Dengan melihat cara guru memecahkan masalah (Sunda: ubaran), murid mendapat tambahan pelajaran.

Tapi, selain saling berusaha menaklukkan, sesungguhnya guru dan murid harus berusaha menaklukkan diri sendiri. Murid harus menaklukkan kebosanan dan rasa frustrasi menghadapi latihan yang berat dan belum dia pahami gunanya. Sedangkan guru, jika benar-benar ingin menurunkan ilmunya, harus menaklukkan egonya dan bersabar meladeni, ngemong murid yang kadang bebal atau bandel.

Karena ketahuilah, ada bermacam-macam jenis pendekar. Jenis pertama adalah pendekar, tapi bukan guru. Ilmunya sakti, tapi dia tak punya jiwa pengajar. Kesaktiannya dipek dhewe (hanya untuk dirinya sendiri). Dia bisa menaklukkan lawan-lawan, tapi dia tak bisa menaklukkan dirinya sendiri. Kalaupun dia punya murid, biasanya muridnya tak bisa berkembang potensinya, karena selalu tertekan oleh kehebatannya.

Jenis kedua adalah pendekar yang guru. Ilmunya sakti dan dia punya ketelatenan membimbing murid. Tapi sering pendekar macam ini juga belum bisa mengalahkan egonya sendiri. Dia posesif, muridnya hanya boleh menjadi penerus ilmunya.

Jenis ketiga adalah pendekar yang guru dan memahami hakikat ke-guru-an. Egonya pupus sudah. Satu-satunya harapannya adalah memaksimalkan potensi tiap murid. Banyak terjadi murid perkembangannya mandek. Karena, dalam proses panjang “menaklukkan guru”, sering terjadi semakin naik ilmu murid, semakin naik pula ilmu guru. Karena guru secara alamiah akan berusaha mengimbangi perkembangan kemampuan murid ketika mereka ber-sparring partner. Sehingga ilmu sang guru terus tersundul ke atas. Jadi memang biasanya sampai akhir hayat guru, murid tetap tak bisa mengejar kesaktiannya. Pendekar yang guru sejati pada titik itu paham bahwa si murid harus “disapih”. Selama murid hanya menetek ilmu pada satu guru, dia hanya menjadi pendekar dalam tempurung gurunya. Oleh karena itu, di berbagai aliran silat, ada tradisi guru mengirim murid yang sudah cukup matang ilmunya untuk “studi banding”, belajar ke pendekar-pendekar lain, biasanya saudara seperguruan atau sahabat sang guru. Dengan cara itu, diharap murid bisa melihat ilmu persilatan di luar tempurung ilmu gurunya dan potensinya yang masih terpendam muncul. Ini yang kemudian menyebabkan munculnya aliran-aliran silat baru, hasil dari penemuan murid-murid yang “berdaulat”, yang potensinya berkembang penuh.

Nah, setelah ngalor-ngidul, akhirnya kita kembali ke per-guru-an Maiyah. Dengan definisi Maiyah sebagai majelis ilmu, maka fungsi Maiyah (salah satunya) adalah semacam perguruan dengan Cak Nun berperan sebagai guru. Dengan menghayati “pantulan” Cak Nun sebagai guru, orang-orang Maiyah dapat melakukan refleksi diri. Selain itu, ketika Maiyah ibarat perguruan silat, “pantulan” Cak Nun dalam diri setiap orang Maiyah adalah “mitra tanding” untuk “ditaklukkan”. Dengan demikian, orang Maiyah bisa memenuhi permintaan Cak Nun: Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian.

Dengan harapan beliau agar orang-orang Maiyah menemukan kedaulatan masing-masing, maka bagi saya Cak Nun adalah mursyid kamil mukammil. Mursyid yang menjadi cermin bening bagi murid. Dan ibarat pendekar, Cak Nun sudah mencapai ilmu kependekaran jenis ketiga, pendekar yang guru dan mampu membukakan jalan bagi munculnya pendekar-pendekar baru. Sekarang tinggal terpulang pada setiap orang Maiyah, apakah dia bisa menyerap pantulan cermin mursyid dan ilmu kependekaran Maiyah, sehingga dia menemukan diri sejatinya, kedaulatan penuhnya.

 

Bandung, 11 Mei 2016

 

UMMAT ISLAM INDONESIA DIJADIKAN GELANDANGAN DI NEGERINYA SENDIRI

08 Nov 16
ja
No Comments

Muhammad Ainun Nadjib

Andaikan kalah di satu pertempuran (battle), tidak mengagetkan bagi pasukan yang bersiap menjalani peperangan (war) yang panjang. Rakaat pertama yang umpamanya kurang utuh, pasti mendorong rakaat-rakaat berikutnya akan menjadi lebih utuh dan khusyu. Ummat Islam Indonesia tidak memuncakkan perjuangannya pada 4 November 2016, sebab mereka menata nafas untuk Jurus Rakaat Panjang dalam sejarahnya yang penuh tantangan, ancaman dan penderitaan.

Selama ini saya diberi gambaran bahwa sesudah pemecah-belahan Uni Sovyet, Balkanisasi dan Arab Spring, sekarang ada formasi baru persekongkolan internasional yang bekerja keras dan sangat strategis untuk menghancurkan Islam dan Indonesia. Kemudian agak lebih mengarah: merampok kekayaan Negara Indonesia, dengan cara memecah belah Bangsa Indonesia dan utamanya Ummat Islam. Sekarang tampaknya semakin terlihat penggambaran baru yang lebih spesifik dan akurat.

Yakni bahwa NKRI bukan akan dihancurkan, melainkan dimakmurkan, tetapi bukan untuk rakyat Indonesia. Kedaulatan politik, bangunan konstitusi, pasal-pasal hukum, tanah dan modal, alat-alat produksi, serta berbagai perangkat kehidupan dan penghidupan – tidak lagi berada di tangan kedaulatan Bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia tetap dikasih makan dan bisa ikut kecipratan sedikit kemakmuran, asalkan rela menjadi pembantu rumahtangga, karyawan, kuli, khadam dan jongos yang setia dan patuh kepada Penguasa baru NKRI, yang merupakan kongsi dari Dua Adidaya dunia. Syuraqoh, alias keserakahan, diteknokrasi sedemikian rupa.

Sukar saya hindari penglihatan bahwa yang paling sengsara di antara bangsa dan rakyat Indonesia adalah Ummat Islam, karena mereka didera dua penjajahan. Di samping ada paket penguasaan atas NKRI, terdapat juga disain untuk mendevaliditasi Islam di kalangan pemeluknya. Ini berposisi sebagai cara atau strategi penguasaan NKRI, maupun sebagai tujuan itu sendiri untuk memaksimalkan deIslamisasi kehidupan bangsa Indonesia. NKRI tidak boleh menjadi Negara Islam, artinya boleh menjadi Negara Agama selain Islam.

Hampir selama 40 tahun, intensif 20-an tahun belakangan, saya keliling jumpa rakyat rata-rata 10.000 orang perminggu, untuk ikut memelihara keIndonesia, keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan antar golongan apapun yang dinding-dindingnya mungkin etnik, agama, parpol, madzhab, aliran, muara-muara kepentingan, segmen-segmen dan level. Agenda saya adalah membesarkan hati mereka, merabuki optimisme penghidupan dan keyakinan akan masa depan mereka. Kalau orang bilang pluralisme, mereka saya himpun dan ayomi sebagai semacam keindahan orkestrasi. Kalau disebut toleransi, saya carikan formula, aransemen, modulasi sosial untuk puzzling dan saling paham atas batas-batas di tengah kemerdekaan.

Kalau ada kelompok terlibat bentrok dengan lainnya, saya disuruh menambal dan menyatukan kembali. Kalau ada yang diserbu, saya ditugasi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk melindungi dan menampung. Saya minta kepada Tuhan agar dianugerahi ilmu untuk menemani rakyat, agar berada dalam keseimbangan hubungan, meracik skala prioritas dan tata-etika untuk disepakati, dengan menomersatukan keutuhan kemanusiaan dan kebangsaan. Saya ditarik untuk menemani mereka mencari solusi-solusi dalam rembug pengetahuan atau diskusi ilmu dan kasih sayang, minimal 5 jam, bahkan sering berlangsung hingga dihentikan oleh Subuh.

Akan tetapi saya dan kami semua diam-diam ditikam dari belakang. Kami dimunafiki: bilangnya satu dalam perbedaan, tapi diam-diam di belakang punggung menciptakan pecahan-pecahan, menanam perilaku yang menimbulkan amarah, kebencian, permusuhan dan dendam. Saya mengajak kaum Muslimin untuk “la ikroha fiddin” dan memahami metoda-metoda tasammuh atau toleransi, untuk secara rasional menata keIndonesiaan. Tetapi diam-diam Kaum Muslimin digerogoti dari belakang: pergerakan-pergerakan sangat taktis dan strategis dari upaya-upaya deIslamisasi penduduk kampung-kampung, deIslamisasi Kraton, hingga deIslamisasi Pemerintahan Nasional, dengan plan dan timeline yang seksama, sangat kentara, bahkan terang-terangan dengan arogansi dan keculasan.

Bahkan Kaum Muslimin dicuci otaknya secara nasional untuk mempercayai bahwa demokrasi tetap gagal selama pemimpin nasionalnya berasal dari mayoritas. Demokrasi tercapai sempurna kalau pucuk pimpinannya adalah tokoh minoritas. Kalau mayoritas berkuasa itu artinya diktator mayoritas dan intoleransi. Kalau minoritas berkuasa itu maknanya demokrasi dan keadilan. Kalau orang Islam dibunuh, itu perjuangan melawan radikalisme dan fasisme. Kehancuran Islam adalah tegaknya keadilan dunia dan berkibarnya demokrasi. Penguasaan atas Kaum Muslimin dilakukan atas dasar subyektivitisme Ras dan Agama para pelakunya, kalau Kaum Muslimin menolaknya dituduh rasis dan pelaku SARA. Ummat Islam dipaksa untuk menerima kehendak kekuasaan, dan kalau menolak mereka disebut memaksakan kehendak. Ummat Islam diinjak, kalau bereaksi dituduh tidak toleran, anarkis dan radikal.

Sebenarnya selama puluhan tahun terakhir, proses pengikisan hak milik, penjebolan kedaulatan dan penguasaan harta benda Ibu Pertiwi, juga pencurangan cara berpikir tentang mayoritas-minoritas seperti itu sudah berlangsung. Tetapi kemudian, sukar saya elakkan pandangan, bahwa melalui rekayasa penyelenggaraan kepengurusan yang baru atas institusi Negara, dengan tiga tajaman di ujung Trisula politiknya, serta pendayagunaan seluruh perangkat lembaga pengelolaan itu, termasuk kerjasama proaktif dengan media-media informasi tertentu, pun jangan lupa sebagian tokoh dan institusi atau organisasi Islam tertentu yang dipekerjakan: hal itu dipacu maksimal dan total. Sampai Tanah Air Ibu Pertiwi Indonesia bukan lagi milik pribumi asli Indonesia. Dari kursi nomer satu di puncak kuasa hingga sejengkal tanah di pelosok desa, akan berangsur-angsur menjadi bukan lagi milik rakyat Indonesia.

Logika normalnya, siapa menolak kenyataan itu, akan hanya tersisa tempat untuk menjadi gelandangan di kampung sendiri. Dan kalau memberontak, akan dibunuh dengan berbagai jenis dan kadar pembunuhan. Kalau pemberontakannya sangat merepotkan, maka harus dimusnahkan. Rakyat Indonesia dikelabuhi secara intelektual, dininabobo secara mental, ditipudaya secara politik dan hukum, ditelikung secara ideologi, dikanak-kanakkan melalui tayangan-tayangan, disesatkan pengetahuannya, dikebiri keksatriaannya, serta ditidak-seimbangkan cara pandang kehidupannya.

Para ilmuwan, aktivis atau para tradisionalis penghitung sejarah dipersilahkan menjelaskan bebendu sejarah yang sedang deras dilangsungkan itu melalui tema Perang Asia Pasifik, Perang Asimetris, Ku Bilai Khan seri-II, Manifestasi Dajjal yang “mensorgakan neraka dan menerakakan sorga”, kulit dan mata Ya’juj Ma’juj, “wong jowo gari separo cino londo gari sakjodho”, tafsir baru 500 tahun Sabdopalon Noyogenggong, atau apapun. Yang pasti rakyat asli Nusantara Indonesia sedang dikurung oleh perampokan dan penjajahan besar-besaran, di mana mereka belum 10% menyadarinya.

Kalau para pejuang kebenaran 411 tidak memperoleh goal yang dimaksudkannya pada ‘pertempuran awal’, tidak boleh kaget dan malah perlu introspeksi total. Misalnya, karena medan perang dan sasaran tembaknya dipersempit menjadi hanya Al-Maidah 51, yang di dalam ketersediaan pasal pidana tidak sukar untuk di-syubhat-kan. Tidak ada tonjokan tentang kasus-kasus korupsi, reklamasi, atau penyiapan Jakarta untuk pilot project disain penjajahan nasional. Lebih 90% kejahatan manusia tidak selalu bisa dijangkau oleh hukum: ketidak-berbudayaan dalam memimpin, ‘hawa’ negatif eksistensinya, kejinya ucapan, brutalnya tindakan, aura dan nuansa kebenciannya kepada Islam, dst.

Pejuang 411 terfokus pada setitik hilir dan belum menemukan determinasi terhadap hulunya yang dahsyat. Sebab harus berjaga-jaga siapa tahu mereka semua adalah bagian dari suatu formasi kekuatan yang justru bertugas menjaga jangan sampai sasaran itu kena tembak.

Ummat Islam perlu melakukan ke dalam dirinya sendiri (Islam dan Kaum Muslimin) muhasabah komprehensif. Kaum Muslimin tidak bisa menunda waktu lagi untuk lebih mengislamkan dirinya, sebab itulah modal paling kuat untuk mempertahankan Indonesia. Kaum Muslimin di setiap titik harus menyelenggarakan tahqiqi keIslaman sampai ke anak-anak dan cucu-cucu mereka. Menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam. Setiap lingkaran Muslimin memastikan perkumpulan yang berlatih bersama untuk tidak ditimpa kemalasan berpikir, berpuasa dari egosentrisme kelompok, melawan tradisi amarah, atau memasrahkan persoalan-persoalan kepada para pemimpin, padahal pada saat yang sama sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya kepada pemimpin.

Ummat Islam tidak perlu melemahkan dirinya terus menerus dengan khilafiyah dan ikhtilafiyah, apalagi dengan tema-tema furuíyah. Aliran-aliran (produk tafsir) keIslaman tidak bisa mengelak lagi untuk mulai duduk bersama, ber-majlis-fatwa bersama, memandu ummat mereka berhimpun dan bersatu di dalam kebijakan sejarah “wa amruhum syuro bainahum”. Mengkonsisteni keseimbangan berpikir, keadilan sikap, cerdas kapan hitam-putih kapan warna-warni, serta memastikan bahwa Ummat Islam tidak dipersatukan oleh kebencian bersama kepada pihak yang memusuhi mereka.

Melainkan berukhuwah sejati karena iman kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi dan penjunjungan kepada AlQur`an yang Allah Sendiripun maha bekerja untuk menjaganya.

Termasuk tidak membiarkan kebiasaan mudah kagum, gampang terhanyut, mentakhayulkan idola, Satrio Piningit. Syukur akhirnya Allah menghidayahi Ummat Islam untuk memiliki keridlaan sebagai “ummatan wahidah”, ummat yang satu dan selalu menyatu. Dengan kepemimpinan yang juga satu, yang Allah sendiri Maha Pengangkat dan Pelantiknya. Mohon mafhum ini bukan gagasan tentang Imamah.

Salah satu modal Kaum Muslimin adalah mereka yang memusuhinya beranggapan dan meyakini, bahwa berdasarkan teori peperangan: Kaum Muslimin Indonesia kalah hampir di semua segi. Modalnya, pengorganisasiannya, kohesi keummatannya, mesiunya, penguasaan medan dan cuacanya, soliditas pasukan-pasukannya yang jahr maupun yang sirr. Mereka juga menyangka bahwa hizbullah 4Nov adalah gambaran maksimal kekuatan Kaum Muslimin.

Ada sejumlah dimensi, kekuatan, aura, energi, probabilitas “min haitsu la yahtasib”, immanensi “inna nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahu lahafidhun”, rahasia “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul makirin” dst dst yang semua penguasa di dunia sejak zaman Nabi Nuh hingga Abrahah serta para adikuasa abad-abad mutakhir, tidak pernah serius memperhitungkannya. Apalagi untuk konteks Nusantara Penggalan Sorga dengan sejarah tanal liat dan Tapel, dengan Iblis Smarabhumi dan Izroil, yang dianggap klenik dan khoyal, sehingga akan membuat mereka salah sangka di ujung penjajahannya atas tanah berkah ini. Fa’álul-lima Yurid, Allah Maha Bekerja mewujudkan kehendakNya.

Saya sendiri, bersama saudara-saudara yang bersama saya, hanyalah manusia, sehingga lemah dan tak berdaya. Yang Maha Kuat dan Maha Berdaya adalah Allah swt. Dan dengan segala ketidakberdayaan itu saya sudah berkali-kali membisikkan ke telinga para syuraqoh penindas manusia dan penganiaya nilai-nilai hakiki Tuhan yang hari-hari ini sedang berbuat adigang-adigung-adiguna di Tanah Air Indonesia: “Tolong dipikir ulang, agar tidak menyesal kemudian”.

Ke mana-manapun berpuluh tahun saya menghimpun para pecinta Allah, berupaya menambah jumlah hamba-hamba agar dicintai Allah, “mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya”. Saya sedih oleh permusuhan, selalu menikmati persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan, dan saya tidak bahagia harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.

Yogyakarta 8 November 2016.

Tahun Pertama Menjadi Kurir Cinta Maiyah

02 Nov 16
ja
, , , , ,
No Comments

Cinta, sepertinya akan atau bahkan mungkin sudah menjadi sesuatu yang langka saat ini. Bagaimana tidak, kita saat ini sudah jarang sekali bahkan nyaris tidak lagi memakainya dalam setiap gerak dan langkah kita di kehidupan ini. Dalam perencanaan suatu hal, pengambilan keputusan, bahkan dalam proses pencarian cinta pun kita sudah tidak mau lagi melibatkan cinta di dalamnya.

Aneh memang, kok ya bisa dalam proses pencarian cinta kita tak mau melibatkan cinta. Ya, lihat saja sekarang banyak sekali diantara kita saling berebut mencari jalan untuk ingin mendapatkan cinta-Nya tapi enggan melibatkan cinta dalam proses pencarian cinta-Nya yang sejati. Malah di tengah perjalanan pencarian cinta-Nya itu, kita tak segan saling sikut, saling pukul, bahkan ada yang tega membunuh sesama kita dengan dalih dirinya lah yang lebih berhak dan layak untuk mendapat balasan cinta dari-Nya.

Coba kalau kita bisa sedikit saja memakai cinta dalam perjalanan pencarian cinta, maka kita akan bisa saling bantu satu sama lain untuk bersama-sama menuju dan bersemayam di singgasana cinta-Nya yang sejati. Dan selama ini aku sendiri pun berada di sana, dalam kegaduhan para pencari cinta yang tak memiliki cinta.

Tapi saat ini, di sini, di Maiyah. Aku belajar banyak sekali hal tentang bagaimana seharusnya kita menikmati proses pencarian cinta dengan penuh cinta, seperti sedang berlayar diatas perahu cinta yang sedang menyusuri samudera cinta.

Satu tahun sudah aku berada diatas perahu cinta yang bernama ‘Jamparing Asih’, sebuah perahu kecil yang dipenuhi oleh panah-panah cinta, dimana di dalamnya aku hanya sang kurir pengantar cinta. Yang selalu siap sedia mengantar beribu ton cinta untuk dikirim kepada mereka yang sedang kehilangan atau dirampas cintanya.

Terima kasih Jamparing asih, yang telah sudi mengijinkan aku masuk dan bergabung untuk menjadi kurir cinta. Termakasih Maiyah, karena telah mengijinkan perahu kecil yang bernama Jamparing Asih ini untuk berlayar bersama perahu cinta yang lain, di lautan cinta ini. Jangan berhenti mengirimi kami cinta, agar kita bisa sampai bersama di samudera cinta-Nya.

Dari cinta, oleh cinta, untuk cinta-Nya.

Bandung, dini hari.

Edi Kandhani

Selamat satu tahun, Jamparing Asih…

Maiyah, Menuju Cahaya Di Atas Cahaya

25 Jul 16
ja
No Comments
oleh Inin Nasta’in
***
Entah berapa tahun ke belakang saya menonton film ‘Rayya, Cahaya di Atas Cahaya’ untuk pertama kalinya. Pun saya tidak tahu pasti sudah berapa kali duduk sila, selonjoran, baringan nonton film yang sudah mulai berpindah ke kamar indekos lewat laptopku itu. Paham? Nggak.. Sampai sekarang yang saya tangkap hanya beberapa petikan dialognya. Selebihnya? Saya hanya sok-sok an khusyuk melototin video, sambil berharap bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam film itu. Atau setidaknya dapat pembenaran atas beberapa kali saya nonton film itu.
 .
Apa yang saya alami dengan film itu, diam-diam membawa saya ke putaran waktu ke belakang, ketika pertama kali riungan dengan teman-teman Jamparing Asih (JA). Dalam pertemuan pertama di aula RRI, semua yang hadir diminta untuk menyampaikan apapun itu seputar maiyah dan Mbah Nun. Tidak terkecuali, Ustad Bambang, yang saat itu menyempatkan diri hadir bersama kami.
 .
jamparing.
Salah seorang hadirin menyampaikan pengalamannya bergelut dengan maiyah. Meskipun tidak rutin datang setiap bulan, tapi si temen ini cukup sering hadir di Majelisan Kenduri Cinta (KC), Jakarta. Dari kehadirannya yang lumayan sering, dia menyampaikan bahwa dia tidak lekas paham apa yang dibahas Mbah Nun di Majelisan KC itu. Tapi diam-diam, si temen itu merasa ada perasaan senang, perasaan yang bener-bener baru dirasakan setiap kali pulang dari sana. Ketidakpahamannya dengan apa yang disampaikan, tidak lantas membuat dia pundung. Tapi justru membuat dia ketagihan untuk datang, datang dan datang lagi.
.
Saya diem-diem terusik dengan pengakuan dari si temen itu. Karena memang itu juga yang saya rasakan selama ini. Tidak hanya ketika nonton Rayya, cahaya di Atas Cahaya saja. Ketika saya membuka youtube Mbah Nun, saya ikut tertawa, ikut seolah-olah terlihat berpikir keras mencerna apa yang disampaikan. Tapi lagi-lagi tolong jangan tanya apa dan bagaimananya. Karena saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya dengan seketika.
.
Seiring berjalannya waktu, ketika JA terus berjalan, dan mulai rutin membagikan tulisan-tulisan Mbah Nun, khususnya ketika turun hujan Daur, sedikit demi sedikit saya mulai paham dan merasa ada ketidakminderan dengan apa yang saya alami. Dari sekian jarang Daur Mbah, tulisan tentang Mbah  yang saya baca, saya menemukan tulisan tentang pelok dan mangga. Lewat tulisan itu, saya sok-sok an untuk menafsirkannya.
 .
maiyahan
.
Ketika banyak kalangan yang gemar memberi mangga, tapi Mbah Nun tidak. Beliau ingin, anak cucunya ketika pada satu kesimpulan, itu hasil dari proses pencariannya sendiri. Mbah Nun sekan-akan ingin anak cucunya mendapatkan cahaya yang tidak temaram, apalagi redup. Mbah Nun ingin anak cucunya mendapatkan cahaya yang benar-benar benderang. Dan itu bisa didapatkan, ketika anak cucunya memulai dari pelok, sebelum akhirnya menikmati Mangga Gendong Gincu Majalengka. Mbah Nun tidak mau anak cucunya menjadi generasi orang yang setengah, tidak utuh. Mbah Nun sekan-akan mengingatkan bahwa ‘kamu itu tidak langsung menjadi mahasiswa, sarjana. Tapi juga kamu terlebih dahulu duduk di SD, SMP dan MTs, SMA dan MA, baru kemudian menjadi mahasiswa, dan sarjana,” Mbah Nun sekan-akan tiadak rela jika anak cucunya hanya tahu hasil, tanpa mau peduli dengan proses. Menjaid generasi yang sakaba-kaba tidak puguh.
 .
Dengan menginginkan anak cucunya berdaulat, Mbah Nun sengaja merusak pikiran anak cucunya. Mbah Nun merusak, tanpa harus membuat anak cucu minder, pundung dan sebagainya. Mbah Nun ngasih pelok kepada anak cucunya, sambil mengajak tertawa dan berjoget. Sehingga nantinya, cahaya yang melekat pada anak cucu, adalah cahaya yang benar-benar cahaya. Cahaya yang tidak hanya menerangi orang lain saja, melainkan cahaya yang akan menciptakan cahaya untuk yang lainnya. Bermaiyah, untuk menuju cahaya.. Cahaya yang bukan hasil mendompleng, bonceng dari cahaya lain…

KOLOM PENGGIAT : MUNGGAH

09 May 16
ja
, , ,
No Comments

oleh Wawan Gunawan

Sebetulnya nama saya Marni, meski teman-teman di kota lebih mengenal saya sebagai Verra. Tante Yati yang pertama kali memberi nama itu. Katanya, kalau hidup di kota, nama pun harus disesuaikan. Memang dialah yang paling berperan hingga membuat saya terdampar di Kota A. Jadi maklum saja, kalau ia merasa sangat bertanggung jawab atas segala hal tentang saya; perilaku, penampilan, pakaian, tak terkecuali nama. Nama pun jangan asal pake, katanya lagi, semua harus nampak seksi dan komersil. Saat ia bertanya apa ada ide, saya hanya menggeleng kepala. Selain tidak pernah tahu nama bagaimana yang dimaksud itu, maunya sih saya menurut saja. Karena saya sadar Tantelah yang akan menjadi tumpuan nasib saya selama nanti hidup di kota. Jadi tidak boleh macam-macam.

“Pokoknya setelah nanti tante ngenalin sama dunungan (majikan —red) disana, you bilang saja namamu Verra”, ujarnya saat bis baru saja melaju meninggalkan dusun kami, Kampung B. Dan saya hanya mengangguk. Tetapi tanpa terasa, air mata perlahan telah mengucur di pipi. Tante Yati kemudian mengusapnya setelah ia memeluk dan membenamkan kepala saya ke dadanya. Sesekali ia belai rambut saya, hingga saya seperti merasakan lagi usap lembut dari kasih seorang ibu, yang sudah sekian lama dipanggil Yang Kuasa.

“Sudah, sudah… toh hidup seperti ini sudah menjadi pilihan kita. Lagi pula, kita melakukannya karena keadaan yang memaksa. Kamu juga kan ngerasain, kalau tidak begini kita semua akan ko’it. Apa kamu tega, terus-terusan melihat anak kamu makannya seperti itu! Belum lagi mereka juga butuh sekolah, butuh pakaian…” setelah sejenak menarik nafas, Tante Yati meneruskan, “Biar kita saja yang menjadi korban, jadi tumbal bagi kebahagiaan hari depan mereka. Siapa tahu diantara anak-anak kita bakal ada yang jadi jenderal, berguna untuk bangsa dan negara. Tuh, hebat kan dari orang-orang yang bekerja seperti kita ini, bisa lahir pengurus negara yang semoga jujur, adil, dan… “

Dan isak tangisku semakin deras. Tante menciumi ubun-ubun saya. Selintas kata-katanya seperti benar, tetapi nuraniku tetap mengalami ganjalan. (sebab sesekali bayangan wajah emak kerap muncul, seolah mengajakku untuk mengurungkan niat, kerja di kota B).

Saya bingung, apakah saya harus berterima kasih atau membenci Tante Yati. Pasalnya ia lah yang selalu bersedia menolong saya dalam berusaha lepas dari kemelut. Dan ia juga lah yang sekaligus mengantarkan saya untuk terjerumus pada pekerjaan seperti sekarang ini.

“Aku tidak memaksa lho…” katanya suatu sore saat saya meminjam beras dan uang untuk yang kesekian kalinya, entah. “Tapi kan hutangmu bukan sama eceu aja. Hutang-hutangmu pada para rentenir itu akan terus berbunga hingga lama-lama akan mencekik kamu sama anak-anakmu sampai ko’it” bicaranya santai saja, datar tanpa tekanan. “Hutangmu padaku anggap saja selesai, kita kan sudah lama tetanggaan.” Kemudian ia menepuk-nepuk bahu saya dan menyuruh saya segera pulang, biar berpikir lebih jernih di rumah.

Untuk kali ini ia memberikan pinjaman tiga kali lebih besar dari biasanya. Belum habis saya melongo, segera ia mengatakan, itu dianggap lunas juga, asal saya mau ikut kerja begitu. Meledak rasanya dada ini, ketika 3 hari kemudian harus memutuskan “ya” kepada Tante Yati. (terbayang lagi wajah emak mengiris-iris batin, tetapi aku sangat sadar susu si bungsu tidak dapat dibeli dengan ratusan bayangan wajah emak).

Dan yang selalu memperkuat tekadku untuk kerja begitu di kota B adalah setiap melintas bayangan roman muka Rahidi, mantan suamiku. Saat matanya merah penuh dendam mengacak-acak isi lemari, setelah sebelumnya menjedotkan kepala saya tiga sampai empat kali ke tembok sebelah risbang peninggalan emak. Ia mencari surat tanah untuk membayar utang kalah judi. Sementara ketiga anak-anak melengkingkan tangis menahan lapar, sedari pagi.

Jeritnya semakin keras, dan aku terhentak saat Rahidi membanting botol minumannya ke kaca lemari. Kata-kata manisnya dulu dalam mengumbar janji selagi pacaran, kini telah kuanggap sampah. Kabar dari masyarakat bahwa ia sering gonta-ganti perempuan terbukti. Saat aku mendesak minta penjelasan, ia meninjuku hingga memar, tulang rahang. Tak tahan disakiti aku pun minta cerai. Punya suami atau tidak, sama saja; susah.

Hampir setahun aku menjanda. Batinku sedikit legang. Paling tidak geram pada Rahidi sudah terusir jauh. Tetapi secara materil aku payah. Mula-mula aku kerja; mencucikan baju tetangga, atau mencari jukut-jukut untuk makanan domba Pak Mardi. Atau jika lebaran cina, ikut berburu berebutan membersihkan kuburan-kuburan para pembesar turunan Tionghoa. Dari semua itu hasilnya lumayan. Namun, lama-lama kebutuhan semakin membengkak. Anak pertama harus masuk SD tahun ini. Anak kedua sakit-sakitan, sedang yang ketiga, sial air susuku beku, sehingga harus pakai susu kalengan. Mahal juga. Sedang ayahnya pergi setelah perceraian itu, entah kemana.

Syarat untuk hidup kian meningkat, semua barang sudah habis terjual. Pinjam sana-sini sudah terlalu malu. Akhirnya dengan berat hati, kuputuskan ikut Tante Yati. Kerja begitu di kota B. Walaupun pada mulanya sering kali dek-dek-an, (kata tante itu biasa bagi pemula) tetapi kerja begitu berpenghasilan lebih dari sekedar cukup. Sri adikku, yang kutitipi anak-anak di desa secara berkala kuberi uang yang lumayan banyak, bahkan untuk ukuran orang desa yang sudah berkeluarga. Yang paling besar masuk sekolah SD Favorit di kampung sebelah yang sedikit lebih maju. Kedua adiknya tampak lebih montok, kulihat dari foto terakhir yang dikirimkan Sri.

Untuk setahun pertama aku tak pernah pulang. Setelah itu, hanya enam bulan sekali saya menjenguk anak-anak di desa. Itu pun paling dua – tiga hari tinggal di rumah. Jika kelamaan dunungan suka marah. Katanya mengurangi etos kerja komunal, dan juga suka ada konsumen yang kecewa, kalau saya tidak di tempat. Kecuali jika tak tahan kelewat kangen, diam-diam pergi dari tempat kerjaku dengan alasan mencari order baru di luar dalam rangka perluasan jaringan. Padahal aku pulang. Lamanya perjalanan, hanya menyisakan waktu buatku paling satu jam-an. Lumayan, cukup untuk sekedar melepas rindu dengan anak-anak.

“Sebetulnya ceuceu teh kerja apa sih di kota? Kok sibuk pisan” suatu hari Sri bertanya. “Semacam jualan, memenuhi kebutuhan masyarakat kota,” jawabku. Setelah itu biasanya pembicaraan kualihkan, demi menjaga pertanyaan yang lebih menyeliksik.

***

Tanpa terasa, sudah hampir lima tahun saya kerja begitu. Bayangan emak sudah lama kerap tak muncul lagi. Mungkin beliau marah. Persoalan restu.

Sudah delapan bulan ini saya tak pulang ke desa. Besok, puasa hari pertama. Ramadhan kali ini kurasakan berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya selama aku kerja di Kota B ini. Entah kenapa. Ingin rasanya pulang, meninggalkan kerja begituan, hidup seperti dulu lagi, berkumpul dengan keluarga, tarawih bersama, kembali mendekati Tuhan. Tapi sekarang sudah berbeda, maukah Tuhan menerima saya kembali?

littlechildren

“Anakku, Kemahasucian Tuhan tidak pernah terkotori oleh kenistaan hamba-Nya. Kasih sayang-Nya lebih besar dari murka-Nya,” tiba-tiba ingatan saya tertuju kepada rekaman suara emak, yang sering mengucapkan hal itu. Saya terhentak, bayangan emak yang sudah lama tak muncul itu, kini hadir lebih jelas dari yang dulu-dulu. Ini bagai nyata. Di matanya seperti ada air mata yang sengaja ditahan untuk tumpah. Sedang aku tak lagi kuasa menahan tangis. Kugapai ia. Dalam pangkuannya aku meraung, memohon ampun. Serasa tangan lembut itu mengusap-usap kepalaku. Hingga akhirnya aku tersadar, ini halusinasi. Tapi mungkin juga itu isyarat.

Perasaan ini semakin kuat. Hasrat kerinduan kepada kampung kelahiran semakin menebal. Aku ingin mengawali bulan puasa ini bersama anak-anak.

“Aku harus pulang, aku harus pulang” bisikku dalam hati. “semuanya harus disudahi.”

Aku lari dari tempat kerjaku, di kota B. Segala risikonya sudah aku pikirkan. Yang penting sekarang rinduku lunas.

Kembali kuhirup udara desa. Terasa lagi suasana kampung, yang jauh dari bising. Tak hentinya kuciumi anak-anakku. Nanti malam kita tarawih bersama.

***

Perasaanku tak jelas. Mungkin terharu, saat melihat ternyata Rahidi yang menjadi imam tarawih. Kata Sri, enam bulan yang lalu ia kembali ke desa ini. Ia telah berubah. Sehari-harinya tinggal di mesjid. Hingga masyarakat mempercayainya untuk menjadi salah satu pengurus DKM. Selama ini sudah dua kali ia sindang ke rumah, menjenguk anak-anak.

Mendengar kabar ini saya gembira. Walau sedikit kesal, kenapa Sri tak pernah mengirimiku surat tentang hal ini. Mungkin untuk menjaga perasaanku. Sudahlah, yang penting sekarang saya merasa ada teman dalam bertobat. Setelah selesai salat, bersama Sri dan anak-anak saya menghampirinya. Sementara jamaah banyak yang masih belum bubar. “Kang… “ aku menyapanya. Tetapi tak kuduga, ia malah memakiku, menyebut bahwa aku telah membesarkan anak-anak dengan uang haram. Kepada orang banyak ia ceritakan apa kerjaku di kota B. Aku juga heran, dari mana ia tahu pekerjaanku.

Kalau boleh dan pantas aku sakit hati diperlakukan begitu. Dan hal yang paling melukaiku adalah; saat sebagian orang dengan air sabun mencuci karpet tempat dimana aku tadi shalat.Air ludah Rahidi yang sudah meluncur menyentuh pipiku, kuusap dengan tangan dan kembali kugosok-gosokkan ke seluruh mukaku. Semoga air ludah orang suci ini, mampu membersihkan segala kekotoranku. Karena menurutnya, aku najis. Baiklah, aku najis. Lalu kalian apa?

Bandung, 2004

 

Olah Ruh dan Olah Rasa

13 Feb 16
ja
No Comments

Setelah kemarin malam selesai beracara di kampung di pinggir kali Code Jagalan Yogyakarta, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di Bandung. Tepatnya di Ballroom Hotel Nexa jalan WR. Supratman Bandung untuk memenuhi undangan Telkom Property yang tengah mengadakan Rapim I 2016. Sudah dua kali Telkom Property mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng, dan malam ini Cak Nun diminta memberikan pemaparan mengenai olah ruh dan olah rasa.

Read More…