Category Archives: Redaksi

Mukadimah : Kakaren Zaman

29 Jul 17
ja
No Comments

Mukadimah

Kakaren Zaman

 

 

Dalam bahasa Sunda, dikenal –dan dituturkan dalam kesehariannya– kata ‘kakaren’. Yakni penyebutan terhadap sisa-sisa kue atau makanan yang disajikan ketika berlangsung ‘pesta pora’ hari raya lebaran. Entah bagaimana kondisi, suasana dan nuansa linguistik terma kakaren itu pertama kali dilahirkan dalam ruang-waktu budayanya. Apakah itu bentuk kerinduan terhadap momentum lebaran atau bahkan sebelumnya, puasa Ramadhan? Ataukah kangen itu hanya sekedar ‘ngidam wadag’, yaitu makanan-makanan itu?

Manusia pada dasarnya pasti lebih menginginkan kenyang ketimbang lapar. Sebab, pasal hukumnya sangatlah jelas. Hukum Puasa (Ramadhan) itu dilansir untuk dijadikan kewajiban atas asumsi dasar bahwa manusia sejatinya tidak suka menahan diri untuk berlapar-dahaga. Lain lagi persoalan tatkala seorang hamba istiqamah mendayagunakan shabr dan syukur-nya untuk mendialektikan kewajiban itu menjadi kepatuhan dan, selanjutnya, peristiwa cinta antara makhluk dengan Sang Khaliqnya. Jadilah ia mencahayakan dirinya dari materi yang membalutnya, karena secara hakiki apa yang tidak merupakan cahaya Allah (nur Allah)!

Akan tetapi, dari masa ke masa, proses sejarah peradaban yang dibangun manusia justru merendahkan atau bahkan menghilangkan ‘cahaya’ kemanusiaannya. Cahaya dimaterikan, esensi atau substansi di-wadag-kan; nilai dinormakan; manusia dimasukkan ke dalam kotak-kotak paket sejarah. Manusia kelimpungan sendiri terhadap apa saja yang dihasilkan oleh dirinya melalui kreativitas intelektualnya, eksploitasi alamnya, pemberpihakan pembangunan ‘manggon’ –tidak ‘mampir’ atas dunia dan dipuncaki dengan penuhanan dirinya sendiri. Berhala-berhala menjadi tuhan-tuhan, dan maha berhala itu tak lain adalah ia atau mereka sendiri.

Adakah nabi, jika diperkenankan Allah untuk diturunkan ke bumi hari ini, akan dipercaya oleh umat manusia yang telah terbiasa memperoleh wahyu, kabar atau warta (an-naba’) dari para nabi uptodate mereka (al-anbiya: media-media cetak dan elektronik, medsos atau internet)? Masihkah mereka kagum dan meyakini mukjizat atau karamah di saat mereka sudah tidak lagi takjub dengan sedekah yang dilakukan oleh sesama mereka yang tulus lagi karim? Bahkan tak lagi peduli terhadap kedahsyatan penjajahan yang menimpa mereka? Atau memang benar adagium, bahwa: semakin canggih penjajahan, semakin yang dijajah merasa sedang tidak dijajah. Maka tak heran jika para penjajah diangkat sebagai juru penyelamat; pengkhianat dijunjung-junjung sebagai pahlawan; dan seterusnya.

Ieu teh kakaren zaman. Inilah sisa-sisa atau akhir zaman! Apa tafsirmu mengenai sisa-sisa? Selalu burukkah sisa itu? Sehingga hampir banyak orang tak mau atau berkenan bila kita memberinya makanan sisa atau ‘sisa-sisa’ yang lain. Pada saat yang sama, kita pun juga akan berpikir ulang untuk menghibahkan barang milik kita yang sisa itu kepada orang lain. Mengapa akhir acapkali dipotret sebagai momentum, ajal dari ending-nya sesuatu? Akhir, sadar atau tidak sadar, kita proyeksikan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari situasional kita masing-masing. Jika kesenangan atau kemudahan hidup menyapa kita, misalnya, akan bersikukuh kita mengucap doa: semoga ini takkan [cepat] berakhir. Sebaliknya, bila yang kita pandang sebagai kesengsaraan atau kesulitan datang melanda, kita pun lantas ngoyo untuk sesegera mungkin mem-propose kalimat: Tuhan, mohon cepat akhiri semua penderitaan ini! Lalu, indah atau jorokkah mengumpulkan kakaren yang dibuang orang untuk di-daurah-kan kembali sesuai dengan hak dan kewajibannya? Tak relakah kita untuk mengkhalifahi bahwa –yang dianggap saudara-saudara kita yang lain sebagai– penderitaan itu seyogianya merupakan setoran dari perjuangan kita? Sebab, tak menutup kemungkinan bahwa pendaran mukjizat, karamah, dan ma’unah itu memantul kepada orang-orang yang bersedekah dengan kakaren di tengah-tengah puncak zaman pencurian, perampokan, dan penjajahan.

Adakah kemungkinan kita mampu pelan-pelan merangsak naik untuk mensimulasikan bahwa akhir adalah awal, awal adalah akhir? Ah, siapa kita! Tetapi, bukankah jauh-jauh hari, Sang Kekasih-Nya, Muhammad Saw—yang kita belum sanggup dan berani benar-benar mengikutinya—berkata: …“Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman kepadaku tetapi tidak pernah berjumpa denganku. Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka”.

Gedhe rumongso-lah kita bila tak kunjung menguak titik mizan di antara gradasi ilmu dan rindu. Bukan Ilmu, Tapi Rindu. Ah, kakaren zaman, entahlah!

 

Mari melingkar, dalam bingkai Segitiga Cinta!

MUSYAWARAH DARURAT UMMAT ISLAM INDONESIA DAN MENUJU MAJELIS DARURAT PERMUSYAWARATAN RAKYAT INDONESIA

11 Nov 16
ja
No Comments

Sampai 71 merdeka, rakyat Indonesia semakin didera masalah. Dihimpit, dibelit dan dikurung kompleks persoalan-persoalan. Dan berhubung mayoritas warganegara Indonesia adalah Ummat islam, maka merekalah yang paling menderita. Di tahun 2016 ini mereka bukan hanya semakin menderita secara ekonomi, tapi diposisikan terhina secara politik, kemanusiaan dan keagamaan.
Dari tahun ke tahun rakyat Indonesia dan Ummat Islam berjuang untuk tetap optimis dan bersabar. Dari Pemerintahan ke Pemerintahan rakyat dan ummat berupaya untuk tetap tidak berputus-asa dan bangkit. Akan tetapi harapan-harapan itu selalu saja berujung pada kekecewaan. Persoalan tidak kunjung terurai bahkan semakin bertambah kusut dan saling silang sengkarut. Dan skalanya tidak hanya harta benda Negeri mereka yang semakin dikikis, tapi juga martabat kebangsaan dan harga diri kerakyatan mereka semakin diinjak-injak dan diperhinakan.

Di bidang ekonomi, kekuatan produksi rakyat harus bertarung bebas dengan raksasa kapital yang menindas. Sehingga tingginya angka kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran, semakin lebarnya kesenjangan penguasaan asset rakyat kecil dibanding segelintir taipan besar merupakan potret nyata kondisi masyarakat Indonesia hari ini. Belum lagi di bidang sosial budaya, hancurnya norma susila, kandasnya moral etika, lunturnya karakter adiluhung bangsa berpadu dengan rusaknya sistem pendidikan nasional yang semakin memperlemah kualitas manusia Indonesia. Konflik di segala lapisan masyarakat dengan berbagai luasan dan eskalasinya, semakin menyempurnakan keruwetan problem rakyat Indonesia. Tak terkecuali di bidang agama, politik, kesehatan, dan lain-lain seolah tidak cukup berlembar-lembar kita daftar satu persatu persolan yang membelit kehidupan Rakyat Indonesia.

Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan. Ummat Islam mayoritas sebagai pendidik, tapi minoritas yang marginal secara politik dan perekonomian. Kemudian semakin banyak di antara mereka yang menyadari bahwa mereka bukan hanya marginal, tapi memang ada suatu disain besar yang sengaja secara strategis untuk memarginalkan mereka. Mereka bukan hanya miskin, tapi memang dimiskinkan. Mereka bukan sekedar terperdaya, tapi memang diperdayakan. Semakin hari semakin merebak dan melebar kesadaran bahwa Ummat Islam memang sedang dilindas oleh semacam suatu mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada mereka, dikebiri kekuatannya, dimandulkan kepribadiannya, dikikis konsentrasi keIslamannya serta ditidak-berdayakan seluruh perjalanan sejarahnya.
Maiyah melihat bahwa salah satu cipratan dari ketertekanan yang kronis dan simultan itu adalah Gerakan 4 November 2016. Aksi Bela Islam dalam bentuk berhimpunnya massa ratusan ribu Ummat Islam berdemonstrasi di depan Istana Presiden pada tanggal 4 November 2016 tidak lain merupakan letupan kecil atas endapan rasa itu. Meskipun momentum-ledaknya adalah Al-Maidah 51, sesungguhnya posisi keternistaan, keterhinaan, keterlecehan, ketertindasan dan ketersingkiran posisi sejarah Ummat Islam jauh lebih besar, lebih menyeluruh, mendalam dan multikonteks.

Memperhatikan peta permasalahan di atas, juga setelah mempelajari panduan Mbah Nun di Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu serta Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri, kita ambil saja misalnya tiga keterhinaan Kaum Muslimin Indonesia:

  1. Ketaatan ummat kepada Imam atau pemimpinnya sebagai implementasi keberagamaan justru dimanfaatkan, ditunggangi dan dimanipulasi untuk meraih kepentingan-kepentingan elite tertentu yang bukan kepentingan ummat.
  2. Keberanian ummat Agama lain menyentuh, mempersoalkan dan menafsirkan kitab suci ummat Islam. Sementara Ummat Islam memegang tradisi keilmuan bahwa tafsir terhadap Al-Qur`an dipersyarati oleh prinsip-prinsip yang hanya bisa dipenuhi oleh Ulama-Ulama tertentu. Juga berani menyentuh prinsip aqidah keIslaman, yang Ummat Islam selama ini menjaga toleransi dengan prinsip “lakum dinukum waliyadin”
  3. Sangat berbahaya bagi masa depan Bangsa dan Negara Indonesia kalau Ummat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia justru menjadi kelompok minoritas dalam penguasaan asset dan kekayaan bumi Indonesia, apalagi dengan martabat Ummat Islam dan Agama Islam yang semakin dijadikan bahan pelecehan dan penghinaan.

Melihat, mengalami dan mendalami seluruh keadaan itu, kami berpendapat bahwa ada dua langkah yang harus segera dilakukan oleh Ummat Islam Indonesia:

Pertama,  Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia.

Gerakan 4Nov melihat medan tantangan yang lebih lengkap, makro dan menyeluruh, sebagaimana tertera di awal urun pendapat ini. Sudah saatnya para pemuka Ummat Islam dan segenap elemen ummatnya, yang tergabung di dalam berbagai organisasi massa, himpunan-himpunan sosial masyarakat, kelompok-kelompok ummat, jamaah-jamaah, perkumpulan, majelis, serta individu-individu yang tidak berafiliasi kedalam kelompok tersebut untuk duduk bersama. Melingkar dalam kebersamaan, berunding, bermusyawarah untuk memformulasikan langkah-langkah strategis ke depan, merumuskan harapan serta solusi atas berbagai persoalan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan.

Kedua, Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia.

Para pemimin rakyat Indonesia, para sesepuh, para tokoh, para nasionalis, para patriot Ibu Pertiwi, perlu bergandengan tangan, duduk rembug bersama, untuk merundingkan berbagai hal yang berkaitan dengan semakin runtuhnya kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia. Kedaulatan atas harta kekayaan Tanah Air Indonesia, kedaulatan atas hak-hak kemanusiaan dan harga diri Bangsa Indonesia, yang semakin dikikis oleh keserakahan sejumlah orang dan kelompok. Kita yang menjalani Indonesia hari ini berhutang amanah kepada para Perintis Kemerdekaan dan para Pendiri NKRI, serta bertanggungjawab kepada semua anak-cucu rakyat Indonesia untuk memastikan bahwa Tanah Air Indonesia adalah tetap milik mereka, bukan milik siapapun yang kelak mempekerjakan mereka sebagai kuli-kuli dan jongos-jongos.
Demikian jawaban dan pandangan kami. Jamaah Maiyah, yang hanya sekelompok kecil di antara rakyat Indonesia yang tidak berorganisasi, tidak mengenal jalur komando, dan hanya merupakan jaringan silaturahmi dan majlis ilmu – sangat meneguhkan urgensi itu.

Yogyakarta, 10 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA

Pengabdian Tanpa Pengakuan

24 Feb 16
ja
No Comments

“Abdi” menjadi salah satu kata ganti dalam Basa Sunda untuk menyebut saya atau aku. Apakah ada hubungannya dengan pengabdian dalam bahasa Indonesia? Kalau memang saya adalah abdi, dan abdi berarti orang yang mengabdikan dirinya, kepada siapakah sang subyek harus mengabdi? Siapapun yang menjadi lawan bicara, urang Sunda selalu menyebut dirinya sebagai “abdi”, entah pejabatkah ia, anak kecilkah ia, hatta kepada hewan dan tumbuhan, kita menyebut diri kita dengan abdi.

Begitu pun dalam kehidupan kemasyarakatan kita, jamak kita temui kata pengabdian menghiasi kalimat atau sekedar istilah dari sebuah aktivitas. Teman-teman di kampus tahu dan bahkan wajib mengikuti Praktek Pengabdian Masyarakat, karena memang Tridarma Perguruan Tinggi mengisyaratkan itu, yaitu : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Tapi, bagaimanakah konsep pengabdian yang dimaksud oleh Tridarma tersebut? Apakah ilmu yg kita dapatkan di bangku sekolah benar-benar diniatkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat, atau dengan ilmu kita malah memanfaatkan masyarakat?

Dalam dunia pemerintahan, kita juga mengenal istilah Abdi Negara, entah itu pegawai sipil, militer sampai para pemimpin negara, disebut dengan para abdi negara. Namun apakah yang sebenar-benarnya diabdikan? Dan apakah pengabdian kita sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh apa-apa yang dirumuskan dalam konsep kenegaraan? Apakah setiap pengabdian diri kita harus mendapatkan pengakuan dari institusi-institusi negara? Apakah sejatinya dimungkinkan adanya bentuk pengabdian dari diri dengan tidak mempertimbangkan ada-tidaknya pengakuan –meski nyatanya pengabdian-pengabdian yang dilakukan secara langsung terasa oleh khalayak ramai?.

pengabdian tanpa pengakuan redaksi

Dalam uraian khazanah Keislaman, Tuhan menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan tak lain kecuali sebagai dan menjadi hamba, makhluk yang mengabdikan diri kepada Tuannya. Namun sering kali kita temui, pengabdian kita ternyata berpamrih. Adakah pengabdian yang paling luhur selain pengabdian tanpa pamrih? Pengabdian yang dilakukan kerap kali memiliki unsur kesimpulan, sepertinya kita adalah hamba yang mengabdikan diri hanya untuk melambungkan keakuan sehingga posisi Tuhan lambat laun tersisihkan. Kalau memang fenomena ini benar terasa, apa sebenarnya yang menyebabkan perkara tersebut terjadi, dan mengapa manusia amat rentan terhadap kondisi dimana ia melihat diri sebagai subyek utama adalah pertanyaan-pertanyaan yang sepatutnya direfleksikan.

Untuk menciptakan sebuah diksursus dalam diri, seorang abdi selayaknya tak henti merefleksikan ulang posisi dan tingkat kemuliaan dirinya di hadapan Tuannya. Seperti mana yang sesungguhnya lebih mulia, manusia ataukah burung? Burung tak pernah memfungsikan semua atribut yang melekat padanya untuk hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, sayap untuk terbang mencari maisyah, kaki tak mencengkram ranting sesuatu yang bukan miliknya, paruh tak pernah mematuk sesuatu yang bukan untuk dipatuk, dan seterusnya. Mungkin itulah kenapa dalam Kitab Suci Tuhan sampai memberitahu bahwa manusia berpotensi menjadi lebih rendah derajatnya dibanding hewan ternak.

Kalau kita pergi ke desa, atau memperhatikan orang-orang yang dianggap kecil, para petani, pedagang keliling, nelayan kecil, perajin kebutuhan berbahan baku alam, kita akan menyadari betapa mereka setia kepada kehidupan, kepada Tuhan dan alam, membalik tanah, menandur, memupuk, mengoyos, membersihkan hama meski musim makin tak menentu, meski hasil tak dapat diharapkan tapi mereka setia karena tugas makhluk adalah bekerja memaksimalkan semua potensi yang melekat, masalah hasil itu hak preorgatifnya Tuhan. Pedagang keliling, memanggul dagangannya dengan payah, entah dimana pembeli akan menghampiri tapi kaki tetap melangkah meski puluhan kilometer harus ditempuh, meski hujan dan panas menguji. Para perajin, memotong, menganyam dan mengikat dengan cekatan, rapih dan indah, meski mungkin sesekali terpikir masih adakah yang akan membeli hasil mereka, meski produk handmade tetap dibeli dengan harga yang murah.

Di sisi lain, kebanyakan manusia saat ini bekerja untuk sekedar mencari pamrih, baik popularitas atau materi. Pengabdian kita hanya untuk diakui bahwa aku ini ada. Sedang bukankah abdi harus dan hanya patuh kepada kehendak Tuannya? Bukankah abdi ada justru untuk menegaskan bahwa Tuhan itu ada? ‎”Aku ada maka Allah meniada”, begitulah kira-kira seorang sufi pernah berujar.

Lantas, dimanakah posisi kita sebagai abdi Tuhan, makhluk yang dikaruniai segudang potensi plus fitur istimewa bernama akal. Apa yang menyebabkan kita lebih berpotensi menyerupai hewan ternak bahkan lebih rendah? Semua kesimpang-siuran ini mungkin telah lama berkecamuk di batin dan benak kita.

Sebagai sarana untuk mendengarkan isi hati yang ada, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sarerea untuk melingkar dan bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema “Pang-Abdi-an tanpa Peng-Aku-an”, pada hari Sabtu, 27 Februari 2016 yang akan dimulai pukul 17:00 WIB di Auditorium RRI Bandung. ‎

Dihaturanan kasumpinganana.