Category Archives: Mukadimah

mukadimah : Tetring Ka Kanjeng Nabi

19 Dec , 2017,
ja
No Comments

Mukaddimah

Tetring Ka Kanjeng Nabi

Bismillahirrahmanirrahim

Lur aya kuota teu? Tetring atuh..!?

Dalam peradaban yang akses pertukaran informasinya menggunakan keghaiban teknologi modern; internet, download, upload, chatting, wifi, hotspot serta tetring merupkan istilah pasaran yang sering bersliweran. Penggunaan fasilitas internet ini tentu sangat penting bagi kita ya meskipun sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Karena adanya suatu kepentingan itulah maka bagi yang tidak mempunyai kuota atau yang sinyalnya naik-turun amblas, minta tetring adalah suatu “keharusan”. Tak peduli lagi dengan urusan gengsi, karena adanya “keperluan” yang wajib dilaksanakan, maka minta tetring adalah suatu kewajiban yang tiba-tiba muncul sebab adanya kewajiban yang lain, ya semisal untuk bales chat ibu ataupun pacar.

Tetring selalu sepaket dengan wifi, hotspot, dan akses ulang-alik data juga dengan sinyal, pemancar, frekuensi dll. Tapi apa sebenarnya tetring itu? Jika merujuk dari shahibul lughah yaitu bahasa Inggris, tetring/tethering (tether+ing) mempunyai arti tambatan-menambatkan, tapi karena terlalu puitis jika diucapkan dalam terjemahan bahasa Indonesa, kita kemudian menyebutnya dengan minta wifi.

Lalu apa hubungannya dengan kanjeng nabi? Wong kanjeng nabi tidak punya smartphone, kok kita minta tetring pada beliau?  Apa juga yang beliau tetringkan pada kita atau yang ingin kita tetringi dari beliau? Mengapa urusan tetring ini menjadi perlu? Apa ada keterkaitan dengan koneksi kita ke Gusti Alah? Apa sinyal kita terlalu lemah untuk menjangkau hal-hal ilahiah? Apa data/kuota kita terlalu limited dan harus menunggu jam siang jam malam, musibah-anugrah untuk sesekali dekat pada-Nya? Ataukah kita memang tidak pernah memiliki driver/software/firmware yang cukup memadai untuk akses data lebih tentang Allah, untuk mendownload kasih sayang-Nya ataupun sekedar searching apa yang dikehendaki Allah? Sehingga kita perlu tetring ka kanjeng nabi?

Jika memang tetring ini menjadi analogi yang saklek tentang bagaimana seharusnya kita berhubungan (menghubungkan diri) dengan Rasulullah sehingga mampu online dengan Allah, maka adakah juga password sebagaimana hotspot-hotspot komunitas umumnya? Atau justru tanpa pasword sehingga semua bisa tetring pada beliau asalkan punya kemauan? Atau malah kemauan itulah yang menjadi passwordnya?

Dalam analogi sederhana, kita adalah smartphone dengan spek rendah yang masih 3G, dan kanjeng nabi adalah smartphone dengan spek tinggi yang sudah mampu menjangkau sinyal 10G sedangkan Allah adalah sinyal itu sendiri yang memancar dalam berbagai taraf gelombang mulai dari yang terendah yang bisa kita akses sampai yang sinyal yang paling tinggi yang hanya smartphone tertentu yang bisa mengaksesnya. Kita minta tetring ke kanjeng nabi, untuk bisa ikut nebeng sinyal yang beliau peroleh. Di sini kedudukan kanjeng nabi adalah sebagai penyalur ulang sinyal yang tak bisa dijangkau orang pada umumnya, oleh karena itu beliau juga disebut Rasul (utusan).

Lho tapi rasul-rasul kan juga banyak? Bahkan adapula para wali.

Jika kita melihat kembali bagaimana kedudukan Rasulullah dihadapan Allah, serta Rasulullah diantara para nabi dan seluruh makhluk. Maka wajar jika kita minta tetringan kepada beliau. Rasulullah adalah khatamul anbiya’, sayyidil mursalin, kekasih Allah, yang dari nurnya menjelmalah seluruh alam semesta ini, yang Allah pun mengajak malaikat-malaikat-Nya serta orang-orang beriman untuk bershalawat kepadanya, yang bahkan kita, umat yang beliau cintai pun, menjadi lebih dicintai oleh Allah karena begitu cintanya Allah kepada beliau.

Rasulullah adalah ‘transmittor’ yang menghubungkan Allah dengan kita. Lewat beliau Allah mengajak kita ngobrol, berkenalan lebih intim dan saling cinta-mencintai. Misi kanjeng nabi pun tidak sembarangan, menyempurnakan akhlak, menebar rahmat bagi seluruh alam. Dan kita inilah yang sedang ditebarkan beliau ke berbagai pelosok dunia, ke berbagai bidang kehidupan yang harus kita bidangi agar menjadi rahmat. Jika terpaksa menggunakan alur berpikir linier, sejatinya kita harus menjadi khalifah Rasulullah dulu sebelum benar-benar menjadi khalifah Allah fil ‘ard.

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui kanjeng nabi, ini mungkin dapat dipahami bahwa Allah sedang mengajari kita tentang etika prosedural. Kalau kita tiba-tiba menghadap Allah sendirian dan mengaku sebagai umat kanjeng nabi sedang kita tak pernah membawa kanjeng nabi bersama kita kemana-mana apa ya Allah akan percaya?

Maka dari itu tetring kepada rasulullah, itu sama dengan gondelhan klambine kanjeng nabi, agar ketika kanjeng nabi menemui Allah, kita ikut kabawa, kanjeng nabi masuk surga kita ikut di belakangnya, kita nginthil ke kanjeng nabi kemana-mana, enak tho?

Nah selanjutnya cara untuk tetring ini bagaimana? Apakah sekarang ini kita sudah otomatis tetring kepada beliau karena kita adalah umatnya, ataukah kita juga perlu melakukan sesuatu?

***

 

Mukadimah : Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

21 Nov , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

(Milad 2 Tahun Jamparing Asih)

 

What’s a name, Apalah arti sebuah nama! Tetapi ada yang lain, bahwa nama adalah doa. Manakah yang lebih benar? Bukankah nama itu penting? Apakah nama itu identitas atau personalitas? Bentuk atau esensi? Dari dua ini poin ini saja, kita bisa ‘terpaksa atau memaksakan diri’ menghabiskan energi intelektualitas dan spiritualitas kita untuk mencari atau menemukan kebenaran tentang hakikat ‘nama’ itu. Yang jelas, terdapat, misalnya, gradasi antara benermu dhewe (kebenaran menurut dirimu sendiri), benere wong akeh (kebenaran menurut orang banyak), dan bener kang sejati (kebenaran sejati). Belum lagi, di ujung dialektika ijtihad, jihad dan mujahadah kita itu menghadirkan ‘segitiga cinta maiyah’ (Allah, Cahaya Terpuji (Nur Muhammad), dan kita/makhluq) atau tidak?

Lha! Kenapa kebenaran sejati harus dipersyarati dengan menghadirkan ‘segitiga cinta’ itu, dengan menemukan Allah di setiap apapun/siapapun/kapanpun/di manapun/kenapapun/bagaimanapun dan seterusnya? Atau, agar tak terus-terusan jumawa dan GR, kita sebaiknya bertanya: kita ini siapa! Memang betul atau yakin kita bisa menemukan Allah? Tidakkah sebaliknya, bahwa Dia yang mengadakan, menemukan atau menyentuh kita?

Sejatinya siapapun atau apapun itu bermaiyah. Apa atau siapa yang bisa terlepas dari ‘peran dan kinerja’ Tuhannya? Maiyah adalah kebersamaan dengan Allah! Siapa atau apa yang tidak bersama-Nya, sebenarnya? Segala sesuatu secara pasti seyogianya manunggal, nyawiji, ngahiji, men-tauhid dengan Pemilik atau Penciptanya. Term ‘apa’ disertakan tak lain dimaksudkan untuk mengakui keberadaan semesta. Sebab, selama ini, kita sadar hidup di semesta ini, tapi sering merasa bahwa kitalah satu-satunya makhluk penghuni bumi ini. Bahkan Pencipta dan Pemilik Sejati kita, pun kita lupakan eksistensinya! Ketika kita berpikir, merasakan, dan bertindak: bukankah semesta juga merekam, mencatat, dan meresponnya? Tidakkah air, udara, tanah, api, tetumbuhan, binatang, jin, dan malaikat punya hak yang sama untuk bermaiyah? Innallaha ma’ana, Allah bersama kita: tutur Kekasih-Nya yang paling kinasih, Muhammad Saw! Karena kita, dan seluruh ciptaan lainnya, adalah milik atau kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Adakah atau bisakah sesuatu [yang] tidak kembali kepada-Nya?

Rasa syukur yang mendalam, tak terhingga kepada Pemilik Sejati kita: betapa tidak, Ia menyifati diri-Nya dengan dua sifat yang seyogianya ‘menampar’ kita: “asy-Syakur” (maha narima’ake/narimakeun) dan “ash-Shabur”. Tak cukup malukah kita jika Ia saja begitu (terhadap kita)? Kepada manusia pilihan, Rasul Terkasih, khatamul anbiya’, Muhammad Saw: shalawat dan salam terus kita upayakan sekuatnya dalam rangka ‘gondelan klambine’ (muntang ka) Beliau.

Terima kasih, matur suwun sanget, hatur nuhun sagala rupina: Maulana Muhammad Ainun Nadjib, Syaikh Ahmad Fuad Effendy, dan Syaikh Muhammad Nursamad Kamba –yang telah bersedekah menggalikan ‘sumur’ untuk kami menimba ilmu (maiyah), agar senantiasa rindu ke Maha Sangkan Paran kami. Syukran katsiran ‘ala kulli hal, telah memperkenankan kami untuk menikmati ngeli, tapa kungkum, merenangi, mereguk; di tetes, di mata air, di aliran sungai, di lubuk, maiyah… hingga sejauh ini…

Bertepatan dengan milad, ambal warsa, milangkala Jamparing Asih yang ke-2, entah sontak tiba-tiba kami didorong untuk menggali, men-iqra’, men-tadabburi khazanah orang tua atau nenek moyang kita yang telah lama dilupakan. Jadilah tema majlisan kita bulan ini: Wasitaning Budhi Sonya Kanthi! Berangkat dari ketidakmampuan, ketidaktahuan, dan ketidakhebatan, dengan terus-menerus merindukan untuk diajari iqra’ oleh-Nya; justru kami memberanikan diri untuk mengangkatnya sebagai tema, pemantik diskusi, sharing, untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan ‘nyicil’ perjuangan, proses, kerja; nandur, poso, dan shadaqah. Seribu mil di depan tentu akan dimulai dengan satu langkah kaki, bukan?

Jangan-jangan, atau secara hampir pasti, kita banyak salah paham terhadap banyak hal, di dalam atau di luar diri kita. Tugas kita masing-masing untuk menziarahi itu semua, sendiri-sendiri atau bersama-sama! Pernahkah kita mencari tahu, kenapa bahasa Indonesia –Melayu Pasar asalnya– yang dipilih untuk dijadikan bahasa kita? Mengapa bahasa sampai dipilah menjadi bahasa daerah, nasional dan internasional? Sampai kapan bahasa Jawa, Sunda, Madura, Batak dan lain-lain akan kita sebut tradisional, tidak modern? Tak bolehkah kita mentadabburi kisah epik Musa-Khidlir yang diabadikan di dalam Alquran literer-Nya untuk mendialektikakan masa kini-masa depan-masa silam kita, misalnya? Atau, tidakkah mungkin bahwa masa silam adalah masa depan? Jika Alquran itu masa silam, untuk apa Allah menyuruh kita membaca, mentadabburinya? Bukankah yang kita lakukan, saat ini, sadar atau tidak, ialah memasadepankan masa silam!

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Candra Sengkala. Watak bilangan 2 0 1 7. Kata-kata yang termasuk dalam watak 2 adalah kata-kata yang memiliki arti dua atau sepasang. Kata-kata yang termasuk dalam watak 0 adalah kata-kata yang memiliki arti kosong, hilang, habis, langit, dan tidak tampak secara jasmaniah. Kata-kata yang termasuk dalam watak 1 yakni kata-kata yang memiliki arti satu, tunggal, berjumlah satu baik itu Dzat Tuhan, benda, manusia, binatang, dan makhluk hidup lain serta kejadian alam dan sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam watak 7 yaitu kata-kata yang memiliki arti tujuh atau dalam sifatnya mengandung unsur yang berjumlah 7. Pengertian Wasita adalah nasihat, petunjuk, pelajaran (watak bilangan 7). Budhi adalah pikiran, pemikiran (watak bilangan 1). Sementara Sonya itu sepi, pertapaan (watak bilangan 0). Dan Kanthi berarti dengan, kebersamaan, teman (watak bilangan 2).

Jamparing Asih, 2 tahun, di rentang 2017. Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Bersama dalam kesunyian untuk menata budi, pikiran, agar menjadi wasita: petunjuk, pelita, obor yang menerangi. Ah, semoga…

Mari bergembira, bersama-sama: melakukan Maiyah!!

 

MUKADIMAH : WILAYAH ABA-ABA ABU-ABU

23 Oct , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Wilayah Aba-aba Abu-abu

 

 

Sebaiknya jangan meremehkan setiap kata. Aba-aba! Abu-abu, wilayah. Mungkin pula kata-kata lainnya, kita anggap biasa saja, sebagaimana –atau sudah begitu adanya: dan pada akhirnya ia atau mereka luput dari dialektika berpikir kita (yang seyogianya berkesadaran Ilahi). Tak jarang, dalam hidup kita di dunia [yang] ini, banyak kata yang dipergunakan tidak dengan tanggung jawab syarat-rukun yang seharusnya. Termasuk kata-kata yang diinformasikan Tuhan langsung melalui Kitab Suci literer-Nya, banyak yang disembelih, dikebiri, dipersempit sebagai kotak, lingkaran, label, branding, identitas kelompok-kelompok umat tertentu dan sebagainya. Bukankah berkesadaran Ilahi itulah yang diinginkan Tuhan melalui siklus innalillahi wa inna ilaihi raji’un? Bukankah pula kita diadakan, diselenggarakan, diperjalankan sebagai khalifah dengan manajemen fungsional rahmatan lil ‘alamin?

Kita hidup di ‘rimba raya’ zaman peradaban modernisme, kapitalisme (global), dan hedonisme. Semakin modern manusia, ia lantas menertawakan dan mengutuk habis ‘hukum rimba’, sembari menciptakan aturan-aturan, patokan-patokan, lalu lintas hukum yang tak kalah rimbanya. Macan, harimau, singa dan predator-predator lainnya disebut ‘buas’, ‘pemangsa’, hanya oleh manusia. Sementara kata ‘buas’ tidak manusia pergunakan untuk menyebut terhadap sesama mereka yang mengeruk hasil bumi secara serakah, merusak hutan, dan lain-lain –bahkan para pemangsa harta, nyawa dan martabat kemanusiaan mereka sendiri.

Tidakkah seekor macan itu muslim: patuh, taat, setia terhadap kosmologi peran yang diberikan Allah? Ia istiqamah, konsisten untuk memakan ‘mangsa’nya, dan tak sepanjang waktu ia melampiaskan syahwatnya pada makanan. Bukankah ia mengenal ‘puasa’, jeda, me-ngerem alias tak melulu nge-ngas? Pahamlah betul ia mengenai walayah atau wilayah peran dari Pencipta-Nya.

Bukankah macan, hutan rimba dan semua yang ada di cakrawala ini adalah ‘aba-aba’? Aba-aba, perintah, peringatan, ayat, petunjuk, perumpamaan (amstal) dan seterusnya! Allah tak segan-segan, misalnya, membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil darinya (QS. al-Baqarah: 26). Bukankah ‘amanat’ membaca amtsal, aba-aba dan seterusnya itu merupakan tugas dan kewajiban kita? Bacalah, tentu saja harus bismi Rabbika.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana membaca, men-tadabburi segala aba-aba Tuhan itu tatkala sudah berada di tangan para khalifah-Nya: dalam hal ini manusia? Menjadi gaduh, riuh-rendahlah nyanyian gerak sejarah berkeumatan kita. Bahwa wilayah aba-aba itu, disakralkan, di-tabu-kan dengan klaim: “Tak sembarang orang boleh memasukinya!” Sembarang orangkah kita, atau kita orang sembarangan? Siapa yang tak sembarang orang? Memang kita siapa di mata-Nya? Di antara awam seperti kita, siapa yang tak nyinyir, misal, ketika mendengar bahwa syarat-syarat untuk menafsirkan Al-Quran haruslah menguasai berbelas-belas fann, disiplin keilmuan; mulai dari bahasa Arab, asbab al-nuzul, manthiq, balaghah  dan lain-lain. Haruskah ketika kita ‘membaca’, iqra’ ayat Al-Quran secara otomatis menjadi mufassir? Mana yang lebih utama, mempelajari Al-Quran atau mempelajari tafsir-tafsir Al-Quran? Ah, kalau ada pilihan ketiga, kita sebaiknya memilih: belajar dari Al-Quran. Bukankah yang terakhir disebut lebih soft, halus, lembut untuk tidak merasa arogan mampu mempelajarinya. Sebab, konon, mempelajari itu teoritis; sedang belajar itu empiris.

Adakah itu grey area, wilayah abu-abu? Adakah itu aba-aba Tuhan yang di-abu-abu-kan? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita meletakkan kesadaran. Dan itu baru setetes, di tengah hamparan samudera abu-abu tak menentu milik-Nya. Itu baru segenggam tanah, di antero wilayah bumi-Nya yang ‘tak bersertifikat’ laiknya tanah-tanah yang kita klaim sebagai milik kita dengan sertifikat dan akta tanah. Berapa aba-aba yang diabu-abukan. Berapa iya yang ditidakkan, berapa tidak yang diiyakan!

Adakah abu-abu itu negatif, membingungkan, absurd, ambigu, ataukah transisional bak seragam favorit sekolah orang Indonesia sewaktu muda: putih abu-abu alias SMA/U? Adakah terdapat titik koordinat tertentu yang memang sengaja dibikin abu-abu, klawu, untuk mempertahankan walayah sirr-nya, terjaga misteri atau rahasianya. Biar tak hitam-putih warna kita, linier cara memandang dan cara laku kita dalam mensikapi segala sesuatu. Ah, entahlah, kan abu-abu!

 

Hayu, ngopi sareng didieu: aya kopi racikan para Jon Pakir Jamparing Asih! Ihdinasshiraathal mustaqiim…

 

 

 

MUKADIMAH : SHUT DOWN

27 Sep , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Shut Down

Shut Down, matikan! Pareuman! Apa yang terbayang oleh kita ketika mendengar kata tersebut? Sangat mungkin dan hampir pasti kebanyakan kita, karena kehidupan keseharian kita selama beberapa dekade terakhir ini banyak ditemani oleh benda-benda elektronik, akan menyebut atau membayangkan radio, tape recorder, televisi, komputer, laptop, handphone, gadget wa akhawatuhum/dan lain-lain.

Tidak serta merta, di sini, akan diuraikan secara rinci perihal seluk-beluk kebahasaan shut down berdasarkan asal-usul ruang dan waktu lahirnya term itu. Sebab, kita bukan pemilik asli bahasa ‘coro inggris’ itu, ditambah –dan ini yang utama– ketidakmampuan kita secara akademis laiknya sarjana bahasa (atau sastra). Yang bisa kita lakukan mungkin mereka-reka kritisi kita terhadapnya. Misal, shut as transitive verb means menutup, tetapi ketika diselipkan kata down menjadi bermakna ‘mematikan’. Sementara jika dipasangkan dengan up (Shut Up) mengandung arti ‘tutup mulut(mu): diamlah’! Akan tetapi nanti dulu, otak-atik kecil ini bisa kita selenggarakan sendiri-sendiri, atau bersama-sama.

Term shut down diambil untuk mewakili nuansa kebahasaan yang semakna dengannya. Tanpa bermaksud menafikan bahasa-bahasa lainnya, shut down dipilih untuk memudahkan komunikasi –di era millenial ini. Toh, bahasa dan para penuturnya tak mungkin bisa menghindar dari ‘cara kerja’ Tuhan.

Yang menarik untuk ditadabburi adalah mengapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa dimatikan? Dan dalam kondisi apa dimatikan? Kalau urusannya benda-benda elektrik itu harus dimatikan mungkin untuk menghindari error, hang, korslet dan seterusnya. Tapi materi-materi itu adalah hasil rasa cipta dan karya manusia! Bagaimana dengan benda atau materi lainnya semisal tumbuhan, hewan, angin, udara, air dan sebagainya? Bahkan manusia sendiri yang sejatinya ‘karya atau design’ Tuhan! Di luar Sunnatullah-Nya bahwa mereka harus berhenti, mati, layu dan lain-lain, berhakkah manusia melakukan tindakan ‘mematikan’ itu? Sebab ada penebangan pohon, penyembelihan hewan, teknologi penyulingan air, pengendalian udara atau iklim, perang antar negara dan seterusnya. Tidakkah itu persoalan hak dan kewajiban! Di manakah titik dan koordinat mizan manusia dalam walayah semacam itu?

Adakah manusia punya aktivasi daya menghidupkan atau mematikan? Tidakkah itu berhubungan dengan Sulthan Ilahiah al-muhyi wa al-mumit? Jika iya bagaimana, pun tidak juga bagaimana! Kalau hidup dan mati mungkin tak dipersoalkan oleh kita, yang memang sedang hidup dan akan mati. Tetapi sejatinya apakah itu hidup; what is dead? Tak banyak kita mendayagunakan akal kita untuk bermesraan dengan Juragan Agung kita untuk diajari meng-iqra’-nya. Bukankah kita lebih asyik menyibukkan diri secara habis-habisan untuk memacu potensi kita untuk menunjang karir kesejarahan hidup di dunia ini. Bagaimana jika hidup adalah mati, dan sebaliknya?

Kenapa kematian begitu mencemaskan atau menakutkan? Sampai-sampai ada sejumlah orang yang rela membayar mahal untuk menghindarkan diri dari kematian, misal, melalui ideologi pembangunan yang berwajah penindasan dan perang. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan. Orang mengejar-mengejar dunia; tapi tak henti-henti mengeluh tentangnya! Jangan-jangan kehidupan yang kita helat sampai detik ini sebenarnya adalah pesta kematian.

Urusan menebang pohon, mencari ikan di sungai, menyembelih binatang, sebagai contoh, bukanlah persoalan yang remeh temeh. Leluhur kita memiliki kearifan hidup yang luhur untuk mengkhalifahi sesuatu. Segala sesuatu ada caranya. Desa mawa cara, negara mawa tata. Silahkan gali khazanah ‘sesepuh dunia’ asli kita yang hari ini dikepung oleh superioritas dua lainnya. Buktinya, ketika kita bersekolah atau ngampus, kita ‘mendadak Yunani/Eropa’; sementara kita ber-Islam, kita latah menjadi ‘Arab’. Kita tidak lantas anti Arab dan Barat. Ada sesuatu yang memang harus Arab, perlu Barat dan musti Nusantara. Masih gengsikah kita untuk mau men-tadabburi filsafat radikal Mbah-mbah kita di Merapi sana: Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat!

Atau, di tengah arus globalisasi yang silang sengkarut mengepung kita melalui teknologi IT nubuwwah informasi, pengetahuan, ilmu dan seterusnya yang tak jelas ini, kita perlu untuk mematikan diri atau minta dimatikan oleh-Nya? Bak Ashabul Kahfi yang dimatikan/ditidurkan di Goa selama 309 tahun. Online kita di seluler, jangan-jangan meng-offline-kan kita di walayah lain. Betapa tak lelahkah kita mencari diri kita selalu di luar? Tanpa pernah sesekali menziarahi diri kita di dalam. Atau agar tak overlude, seperti perangkat-perangkat lunak atau keras IT itu, kita harus mematikan diri kita untuk lahir kembali, hidup lagi. Bukankah ‘menghidupkan yang mati’ (yuhhyillahu al-mauta, tsumma ahyahum, tsumma yumitukum, tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy¸dan sebagainya) dihamparkan Allah sebagai aktivasi shifat dan af’al-Nya di dalam qur’an literer-Nya? Belum lagi yang fi al-afaq wa fi anfusikum!

Ah, kalau itu terlalu seram atau menyeramkan, ingat saja seorang Madura ketika ditegur temannya: ‘Sampeyan ngerokok terus, nggak takut mati?’. Dengan santainya ia menjawab: “Ndak lah, kan saya bawa korek api”.

Diantos kasumpinganana, Ngopi Bareng di Majelisan Jamparing Asih!

***

MUKADIMAH : Manusia Goa

22 Aug , 2017,
ja
No Comments

Pernahkah kita membayangkan diri tinggal atau hidup di dalam goa? Sebagai pelancong alam, pengembara, atau pertapa yang sedang ngelmu lelaku hidup tertentu. Atau –untuk jangkau rentang waktu yang lebih lama– sebagai penghuni alias ‘manusia goa’. Apa itu goa; ada apa dengan goa? Wa ma adraka ma ‘goa’ (ghar/cave)? Sampai-sampai ia diabadikan sebagai salah satu surah dalam Al-Quran, al-Kahfi (goa). Rekam jejak kisah Ashabul Kahfi, yang ditidurkan oleh Pemilik Sejati mereka selama 309 tahun, kemudian dibangunkan kembali setelah ‘tidur panjang’nya pun diilustrasikan di dalam surah tersebut.

Belum lagi ‘detik-detik proklamasi’ kenabian (nubuwwah) Muhammad al-Amin juga berlangsung di dalam goa (Hira’). Kenapa harus di (dalam) Goa? Mengapa tidak di tempat lapang, terbuka, atau bahkan pusat keramaian suatu kaum tertentu; pasar, alun-alun, balai kota dan sebagainya? Pernahkah terbersit dan terlintas pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam diri kita? Sebab, kalau mengikuti pertimbangan rasionalitas ilmu pengetahuan modern saat ini, apa yang Tuhan simulasikan dengan Para Kekasih-Nya tersebut di atas sangatlah tidak paralel, compatible, dan marketable, dengan misalnya, efektifitas dan efisiensi dakwah (Islam). Betapa tidak! Orang sekarang, dan sangat mungkin kita di antaranya, begitu gemar menjadi da’i, tanpa pernah mengerti esensi ‘ruh’ da’wah. Kita bangga dan merasa hebat sebagai muballigh, tanpa perangkat pemahaman ijtihadi yang simultan terhadap tabligh.

Selinier itukah cara kita memandang dan berpikir? Bahwa masih ada dialektika siklikal, zig-zag, spiral dan seterusnya dalam menghikmahi sesuatu. Sesakti apa kita –yang tak mampu mengatur jadwal buang air kecil/besar, menumbuhkan kumis, rambut, jenggot dan lain-lain– ‘lancang’ mengidentifikasi Tuhan dengan parameter konsepsi intelektualitas manusia yang tak jangkep syarat-rukunnya, dan yang telah terlanjur dilembagakan berabad-abad? Tuhan, dalam sejarah kehidupan manusia, kita audisi dengan fit and proper test agar layak kita sebut Tuhan; dengan ‘juri tamu’ handalnya, materialisme. Dua aspek lainnya, kemanusiaan (humanisme) dan ketuhanan (teologi/aqidah), yang sejatinya lebih sublim dari materi dan mengajarkan manusia agar ‘tak berjarak’ dengan Penciptanya, digeletakkan begitu saja oleh manusia sendiri. Hasilnya adalah prestasi berkemanusiaan, beragama atau bertuhan kita, dipenuhi deret lajur standar-standar materialistik; dengan ‘pisau analisis’nya, sekularisme. Diakui atau tidak, cara beragama atau bertuhan kita menjadi sangat sekuler; parsial, tidak nyawiji atau manunggal (tauhid). Bukankah Allah sendiri mempelopori tauhid? Bukankah Ia sangat cemburu jika kita mempersekutukan-Nya, selingkuh dari-Nya?

Kiranya kita yang tak kunjung paham… Tak mungkinkah terdapat cakrawala kelapangan dalam kesempitan; terang dalam kegelapan; gerak dalam diam; suara dalam kebisuan; kaya dalam kemiskinan; dan sebagainya? Salahkah pula muatan-muatan pikiran seperti melihat suara; mendengar warna; mencium nada; dan seterusnya?

Seorang pendekar saja untuk mastering ilmu-ilmu bela dirinya harus sering ditempa dan dibiasakan untuk berlatih di tempat-ruang sempit. Tak menjadi aneh jika ia mampu menangkis, menghindari serangan dan tadahan –misal ketika menghadapi lawan– di ruang yang luas, lapang dan terbuka. Semakin sering ia bergelut dengan kesempitan, semakin ia mengerti hakikat keluasan. Semakin kita mampu mentarekati kemiskinan, semakin kita mengetahui kekayaan (kita). Orang yang haus dan menyibukkan diri habis-habisan untuk mengincar kekayaan, bukankah ia sejatinya miskin? Kaya-miskin bukanlah soal, cara kita memperlakukan keduanya itulah persoalaannya. Kaya dalam kemiskinan. Terang dalam kegelapan. Bukankah diam adalah ‘suara’ paling lantang? Kalau Anda tak percaya, bayangkan, pilih mana: lebih baik dimarahi atau bahkan ditampar Ibu Anda, daripada selama sepekan Anda tak ditegur sapa tanya sedikitpun olehnya. Ada suara-suara (kita bisa menyebutnya begitu atau spektrum energi-energi lainnya) dalam kebisuan, kesunyian, dan diam. Bahwa ada suara [dalam] kesunyian (sound of silence); dan diam adalah irama [itu sendiri] (silence is a rythm); dan lain-lain.

Kembali ke goa. Momentum goa. Betapa Gusti Allah telah mementaskan ‘teaterikal rububiyah’-Nya terhadap Para Kekasih-Nya itu di dalam goa! Pada momentum apa dan bagaimana pemuda-pemuda itu memasuki atau diperintahkan masuk ke dalam goa? Ilmu ruang dan waktu. Apa pesan yang dapat kita tadabburi dari ayat-ayat (qauliyah, dan juga kauniyyah [fi al-afaq wa fi anfusina]) tentang: al-Kahfi, Ashabul Kahfi, Raqim/Qithmir, Dzul Qarnain, Goa Hira’, Ruh al-Amin Jibril, Kanjeng Nabi Muhammad dan seterusnya? Tadabbur, bukan tafsir, sekali lagi. Adakah kita berpeluang sama untuk ‘diajari’ Allah di dalam ‘goa-goa’ kehidupan kita? Goa yang seperti apa; haruskah kita mencari, menemukan goa itu di sana di sini? Atau, atau dan atau… Ayat, surah al-Kahfi itu memang telah diwahyukan berabad-abad silam, tapi bukankah ia masih berlaku untuk kita saat ini, di sini?

 

Ahlan wa sahlanMari melingkar, di ‘goa’ JA! Dengan penuh kerendah-hatian kita memohon kepada Allah untuk senantiasa diajari meng-iqra’: agar, semakin tampak kekerdilan kita dan betapa semakin akbar Allah Swt.

 

MUKADIMAH : Suci Sang Primadogma

18 May , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah Mei

Suci Sang Primadogma

Dalam agama, keyakinan ataupun ideologi, dikenal prinsip-prinsip yang tidak perlu dipertanyakan, harus diterima begitu saja. Itulah dogma. Sering dogma ini menjadi fondasi konstruksi pemikiran religi atau ideologi. Sebegitu pentingnya sehingga dogma dikeramatkan, dianggap suci.

Padahal, dogma bukan kesucian itu sendiri. Jika kita pelajari sejarah, akan kita temukan bahwa dogma dilahirkan dari rumusan manusia yang menyimpulkan prinsip-prinsip itu dari informasi-informasi wahyu, sabda orang suci, atau pengamatan terhadap kehidupan. Artinya, sedikit-banyak ada unsur penafsiran dalam dogma. Namun, setelah menjadi kesepakatan otoritas agama, dan bisa jadi mendapat dukungan penguasa, dogma sering bersinonim dengan agama sendiri. Orang menyamakan dogma dengan agama dan merasa cukup beragama berdasarkan dogma. Maka kehidupan dan pemikiran keagamaan menjadi dogmatik. Dogma menjadi primadona. Primadogma yang disucikan.

Dogma sendiri bukan dosa. Barangkali, manusia memang membutuhkan dogma sebagai pijakan awal pencariannya, atau sebagai rambu-rambu petunjuk jalan, sehingga ia tidak perlu mengulang proses pencarian yang sudah dilalui orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, dogma bisa menjadi alat bantu. Tapi dogma bisa membelenggu ruang gerak pikiran manusia, atau mematikan gairah pencarian manusia itu sendiri. Dogma yang tidak boleh dipertanyakan amat mungkin berubah menjadi pembunuh kemampuan manusia untuk bertanya. Terlebih lagi jika dogma menjadi alat otoritas keagamaan atau politik untuk membela kepentingannya sendiri. Dalam kasus seperti ini, dogma bisa menjelma dosa.

Oleh karena itu, mari kita tengok kembali keberagamaan kita masing-masing. Mari kita temukan batasan dogma yang dibutuhkan hidup kita, seberapa prosentase antara dogma dan ruang gerak pencarian kita. Dengan demikian, kita tidak memprimakan dogma, tetapi bergerak mencari kesucian sejati.

MUKADIMAH : BORN IDENTITY

24 Apr , 2017,
ja
No Comments

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
QS. Al-Hujurat: 13

Begitu terlahir di dunia, manusia menerima setumpuk identitas. Pertama-tama adalah identitas sebagai makhluk hidup, berspesies manusia. Bukan hewan atau penghuni alam gaib macam malaikat, jin, genderuwo, atau tuyul. Lalu berdasarkan jenis kelaminnya, ia menjadi lelaki atau perempuan. Gen ayah-ibunya membuat ia termasuk ke dalam etnis, kebangsaan atau suku tertentu. Maka jadilah ia orang Jawa, Cina, Sunda, Arab, dan sebagainya. Ini semua identitas yang ia terima dari Tuhan, menjadi hak prerogatif Tuhan, dan tidak bisa diubah manusia.

 

Setelah itu, barulah ia memasuki ranah hubungan dengan manusia lain. Sebagai pengenal, untuk membedakan dengan manusia lain, ayah-ibunya memberi nama. Maka jadilah ia Teten atau Titin jika ia Sunda, Totok atau Titik jika ia Jawa. Lantas ia mendapat sederet identitas lain berdasarkan keluarga dan setting kelahirannya, seperti agama, status sosial dan ekonomi, serta kewarganegaraan. Ini identitas sosial yang ia terima dari manusia lain, mulanya ia tak punya pilihan tetapi kemudian ia bisa mengubahnya.

Dua identitas di atas bolehlah kita sebut sebagai identitas pemberian. Kita hanya menerimanya. Tapi dalam perjalanan hidupnya, manusia memilih bahkan membentuk identitas-identitas lain. Maka, kita bisa mengidentifikasi diri sendiri dan orang berdasarkan pendidikan, kekayaan, pekerjaan, pilihan politik, maupun hobi.
Segala identitas yang disebut di atas dan yang belum disebut, menggumpal dalam satu individu, dan tidak mungkin satu orang direduksi hanya berdasarkan satu identitas saja. Jika sejumlah orang punya kesamaan dalam salah satu identitas, jadilah sebuah identitas sosial atau kelompok. Suatu identitas menjadi menonjol atau ditonjolkan berdasarkan konteks atau kepentingan tertentu.

Begitulah takdir yang harus dijalani manusia selama ia hidup di dunia yang merupakan alam perbedaan. Identitas dibutuhkan sebagai tanda pengenal, dan semestinya tanda pengenal berfungsi sebagai alat bantu kita saling mengenal, mengetahui, dan memahami. Namun, sepanjang sejarah manusia dipenuhi konflik yang dipicu karena perbedaan identitas. Sekarang, pada masa yang disebut-sebut sebagai era globalisasi, kita bisa lihat semakin pesatnya informasi dan komunikasi diikuti dengan meningkatnya konflik akibat identitas, baik di tataran nasional maupun internasional. Mengapa itu terjadi? Bukankah semestinya semakin lancar kita berkomunikasi, semakin meningkat pemahaman kita satu sama lain? Apa yang salah? Apa permasalahannya?

Pada Jamparing Asih April ini, marilah kita bersama mengenal apa itu identitas, dan berusaha memaknai identitas-identitas orang lain dan diri kita sendiri. Dengan demikian mudah-mudahan kita menemukan identitas sejati kita di hadapan Tuhan.

NGAJI BARENG EMHA AINUN NADJIB & BUYA NURSAMAD KAMBA : “Menyemai Akhlak, Menuai Cinta Indonesia” #MaiyahBDG

18 Nov , 2016,
ja
, , , ,
No Comments

ditulis oleh : CSSMORA UIN Sunan Gunung Djati

Ngaji bareng Emha Ainun Nadjib dan Syeikh Nursamad Kamba | 19 November 2016, 20:00 WIB | UIN Sunan Gunung Jati, Bandung #MaiyahBDG

Pola hidup materialisme dan hedonisme yang kini menjadi corak paling terang masyarakat modern, tentunya berdampak pada kepribadian manusia secara individual maupun kolektif. Terutama besarnya gelombang persaingan hidup yang sangat kompetitif membuat manusia rentan: mudah stress dan frustasi. Besar kemungkinan ketika manusia modern tidak lagi mampu menghadapi problematika hidup, mereka cenderung mengambil jalan pintas seperti bunuh diri, penyalahgunaan narkotika, tindakan asusila dan lain sebagainya.

Ini menandakan bahwa ada beragam krisis yang tengah menggerogoti kondisi manusia modern sebagai hasil dari ketidaksesuaian sistem-sistem yang sedang dipakai saat ini. Salah satu sistem yang fundamental ialah sistem pendidikan dan kaitannya dengan konstelasi politik. Pendidikan akan selalu ditagih kontribusinya baik berupa SDM yang baik maupun efektivitas sistem yang diterapkannya. Dan dari fenomena inilah urgensi fungsi institusi pendidikan—terutama perguruan tinggi—demikian dinanti agar ikut serta dalam menyelesaikan, atau minimal menanggulangi problematika hidup manusia modern yang kering nilai-nilai keharmonisan lagi.

Dosen sekaligus mahasiswa dan segenap civitas akademik perguruan tinggi sebagai wakil dari kalangan intelektual (yang terdidik) telah memikul tanggung jawab dan beban moral tersebut. Mahasiswa yang diposisikan sebagai agent of social change atau dengan sebutan lain agent of social control saat ini mulai terasa banyak mengalami degradasi nilai dan peranannya. Otomatis akan terkait pula dengan pengajarnya (dosen). Pernyataan ini merupakan suatu asumsi –untuk tidak menyebut tuduhan—dari pengamatan atas realita yang telah terjadi. Khususnya pada beberapa perguruan tinggi yang secara legal-formal memiliki basic dan background Islam.

15042056_331536600551220_8171851330321443798_o

Selebihnya, institusi pendidikan yang jelas-jelas berlabel Islam nyatanya belum bisa menjamin seseorang di dalamnya akan mencerminkan perilaku orang berilmu dan berakhlak. Universitas sebagai laboratorium keilmuan yang semestinya menerapkan 3 terminologi hidup: kebaikan, kebenaran, dan keindahan justru seolah-olah blunder atau barangkali miss the target.

Lebih luas lagi (selain tindakan asusila), persoalan yang menimpa dunia kampus dimana mahasiswa sebagai subjek dan objek seringkali melahirkan dinamika, seperti aksi (demonstrasi) atas nama memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang berujung anarkisme, pengawalan birokrasi kampus yang dianggap rawan akan penyalahgunaan wewenang institusi yang terpaksa harus terhenti di tengah jalan karena adanya kolusi-kolusi, hingga perubahan orientasi pendidikan yang tidak memanusiakan manusia. Telah lazim jika fenomena-fenomena tersebut tampaknya telah menjadi rahasia umum.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: sebenarnya apa dan bagaimana perilaku yang semestinya mahasiswa sekaligus pejabat kampus cerminkan di dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat? Jangan-jangan, perilaku mahasiswa selama ini sudah bukan lagi menunjukkan hakekat ‘mahasiswa’ itu sendiri.

Semua masalah yang sudah diungkap kalau diteliti akarnya adalah karena jiwa manusia itu telah terpecah-belah sehingga perlu diintegrasikan kembali melalui ajaran akhlak (tasawuf). Maka perlu adanya perenungan kembali, bagaimana mahasiswa sekaligus seluruh warga kampus berperilaku sebagaimana tugas dan peran yang diemban. Dalam kadar paling minimum ialah menumbuhkan kepekaan terhadap realitas sosial. Barangkali, melalui reinternalisasi nilai-nilai kedalaman akhlak, mahasiswa dapat memposisikan kembali sebagai kaum intelektual dan calon pemimpin bangsa yang tentunya dibutuhkan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia secara umum dalam mengatasi beraneka-ragam problematika zaman.

Melalui kesadaran-kesadaran itulah nantinya mahasiswa dibentuk dan dididik bukan sebagai manusia yang semakin merusak tatanan yang dimiliki bangsa Indonesia, namun menjadi manusia-manusia yang cinta Indonesia dengan mengimplementasikan keilmuan dan kebijaksanaan dalam upaya mengentaskan masyakarat dari krisis kemanusiaan di tengah arus peradaban yang serba-boleh (over-permissive) ini. Atau, jika tidak, ‘Tuhan pun tersinggung’ oleh kaum yang menyebut diri sebagai “maha-siswa”.

MUKADIMAH : Lemah Cai Kuring, Lemah Cai Nu Sajati #JAOkt

27 Oct , 2016,
ja
, ,
No Comments

(Tanah Airku, Tanah Air yang Sejati)

Lemah cai

Lemah cai kuring

Nagri endah asri, rasmi

Suggih cacah jiwa

Bahan lubak libuk 

Simkuring tresna miwah nyaah

Ka lemah cai pribadi

Kuring suka kuring betah

Dibali geusan ngajadi

Simkuring tresna miwah nyaah

Lemah cai Indonesia

Kuring suka kuring betah

Indonesia gemah ripah


Sejak dahulu daerah Tatar Sunda sudah berpenduduk yang dikenal dengan Masyarakat Sunda yang menjalankan tatanan yang disusun menjadi tatanan Sunda. Tatanan kehidupan sosial masyarakat sunda lebih kepada  ramah & murah senyum, lemah lembut, hormat serta santun atau lebih dikenal dengan Silih Asah, Silih Asih serta Silih Asuh dan sangat menghormati tatacara sabilulungan/gotong-royong, paheuyeuk-heuyeuk leungeun, ngeduk cikur kudu mihatur, nyokel jahe kudu micarek,  tigin kana jangji , ulah kabita ku imah bodas, ulah heroy ku sangu bodasSementara hal yang sangat dijauhi dalam kehidupan mereka adalah mipit teu amit, ngala teu menta, menta teu bebeja, ngegedag teu ka bewara.

Beberapa ajaran dalam budaya sunda tentang nyukcruk galur kahirupan atau jalan menuju keutamaan hidup seperti Cageur (sehat), Bageur (baik), Pinter (cerdas), Singer (mawas). Unsur-unsur di atas menjadi dasar kepercayaan dan keyakinan mereka kepada Tuhan atau sang pencipta yaitu yang tak dapat digambarkan dan manusia tidak mampu  memberi namaNya, karena tidak dapat dibanding-bandingkan dengan sesuatu yang ada di dunia ini.

Adapun prinsip atas kepercayaan kepada sang pencipta dikenal istilah : 

Ku harti moal katepi, ku akal moal kahontal, ngan karasa ku manusa (oleh pikiran tidak akan tercapai, hanya dengan rasa manusia)
Betapa tinggi nilai falsafah yang mereka terapkan dalam tatanan kehidupan keseharian mereka. Namun kini apa yang terjadi ?

14858584_517912371751501_705290883_o

Masyarakat Sunda mungkin sedang dan sudah lupa akan dirinya,  sehingga tatanan yang telah menjadi norma yang di junjung tinggi tinggal sebuah nilai-nilai yang hanya dapat diteliti di atas kertas. Pemaparan diatas adalah sedikit tentang gambaran mengenai pemahaman sebuah tatanan masyarakat yang menjunjung tinggi norma-norma kehidupan secara turun temurun yang dalam sekian lama berproses secara terus menerus. Mungkin masih berproses sampai dengan sekarang.

Berdasarkan latar belakang sejarah, tidak menutup kemungkinan bahwa jati diri urang Sunda telah terpengaruh dua politik kekuasaan, yaitu kekuasaan feodalisme dan kolonialisme (Belanda). Kedua politik kekuasaan tersebut telah memporak-porandakan jati diri urang Sunda, serta begitu mendominasi seluruh tatanan kehidupan termasuk terhadap sikap dan perilaku selama beberapa generasi. Indikasi hal tersebut tampak bahwa hingga saat ini urang Sunda bersikap ngelehan maneh (mengambil langkah mengalah) dan sumuhun dawuh  hal demikian adalah berkat tempaan selama berabad-abad dari politik kekuasaan feodalisme dan kolonialisme.

Secara umum masyarakat tatar sunda dikenal sebagai masyarakat yang lemah lembut, religius dan sangat spiritual, maka dalam tatar sunda juga dikenal beberapa falsafah kehidupan dan menjadi Ageman  bagi jalan menuju keutamaan hidup dalam mencapai Kasampurnaan.

Salah satunya adalah falsafah Tri tangtu yaitu falsafah diri tentang Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh  yang sempat juga menjadi materi bahasan dalam riungan Jamparing Asih sebelumnya, Jamparing Asih membahas Tri tangtu dimana falsafah ini memiliki kaitan erat dalam pemahaman dan pemaknaan bagaimana kita merasakan Cinta dan kasih sayang dari Sang Maha Pemurah serta Maha Penyayang (Ar Rahman – Ar Rahim) yang kemudian kita menebarkan kembali Cinta Kasih serta sayang tersebut dengan kemurahan kepada sesama mahluk ciptaaNya (Rohmatan Lilalamin).

Budaya-budaya luhung masyarakat sunda sedikit banyaknya saat ini sedang dan sudah terkontaminasi oleh budaya-budaya deungeun  dan cenderung modern atau kekinian. Kondisi ini secara sadar dan tidak sadar merubah etika serta tatanan khususnya di kota Bandung sebagai pusat kegiatan masa kini di Tatar sunda.

Kecap/kata Punten, Sampurasun, Kulan, Kah, wilujeng dsb sudah sangat jarang terdengar atau mungkin sudah tidak dikenal oleh sebagian besar masyarakat sunda saat ini khususnya para Nonoman (remaja/muda-mudi). Begitu mudahnya pengaruh-pengaruh asing/budaya deungeun merubah tatanan dan norma-norma sehingga membuat program pemkot Bandung Rebo Nyunda masih sangat kecil artinya dalam menumbuhkan kembali tatanan serta norma-norma masyarakat sunda.

Pada kesempatan ini yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Jamparing Asih mengajak khususnya para Nonoman/pemuda sunda dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk mencoba kembali memahami dari apa isi Sumpah Pemuda. Sudahkah mengaku bahwa tanah airnya Indonesia? Apa kira-kira yang sudah diberikan untuk Indonesia? Ataukah terbalik, justru Indonesia dalam bentukan pemerintahannyalah yang sudah banyak mengambil dari kita? Kenapa masih men-naturalisasikan WNA untuk menjadi WNI sebagai pemain TimNas Indonesia? Sudah tidak bersaingkah pemain Indonesia dengan pemain luar negeri? Kenapa harus banyak menggunakan bahasa asing terutama bahasa Inggris dibanding bahasa/istilah daerah? Mengapa kini rasanya kita terasing di negeri kita sendiri?

Kesenian dan budaya asli Indonesia ketika akan di akui/dicaplok oleh negara lain barulah bereaksi terutama para pemuda, sebuah reaksi yang bagus tapi pertanyaannya adalah kemana kalian sewaktu seni dan budaya asli Indonesia hampir punah dan cenderung tidak dikenali? Kini semakin marak pula penyamarataan bahwa islam itu arab, arab adalah islam. Apakah iya seharusnya seperti itu? Lalu Sunda-nya, Jawa-nya, Madura-nya, mau dibawa kemana?

Jika dikaitkan dengan pencarian dan pemahaman Diri, maka sudah saatnya lah kita semua merubah cara pandang kita sebagai umat Islam yang ada di daerah tatar sunda atau pun di wilayah Indonesia lainnya untuk melihat dan memahami bahwa dengan didasari rasa syukur atas nikmat yang telah Allah swt berikan yaitu disinilah kita dilahirkan atau di tempat mana kita dilahirkan maka disitulah norma dan etika yang harus kita junjung.

Kita tahu dan sadari bahwa kita semua dilahirkan bukanlah atas kemauan kita sendiri tapi itu semua Bi Qudratillah, Bi Iradatillah.

Jadi kenapa tidak kita junjung tinggi seni dan budaya kita sendiri dan tidaklah salah jika nilai-nilai tersebut kita selaraskan dengan tatanan serta norma-norma dalam kehidupan beragama.

Sesungguhnya Islam yang sejati adalah di dalam Hati setiap orang, karena Allah swt tidak melihat dan menilai ke Islam nya seseorang dari wajah, pangkat/jabatan, pakaian serta perhiasan tetapi Allah melihat dan menilai Islamnya seseorang adalah dari Qolbu/hatinya.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini Jamparing Asih mengundang dan mengajak para wargi serta sasegenap masyarakat yang mencintai Tanah leluhur-Lemah cai untuk hadir  dalam riung mungpulung Majelis Masyarakat Maiyah: Jamparing Asih yang bertemakan “Lemah Cai Kuring, Lemah Cai nu Sajatipada hari Sabtu, 29 Oktober 2016, pukul 19.00 di SMK Al-Hadi, Bandung dengan silih asah-silih asih-silih asuh untuk menggapai cinta, kasih dan sayang Nya.

Hapunten nu kasuhun, hampura nu diteda … bilih aya nu kajingjing kudiri, nu ka candak ku raga, nu kadugikeun ku basa anu kirang sapuk sareng mamanahan kitu oge tangtos seueur keneh kirangna tur lepatna mugi katampi ku gulah galih nu wening nu teu kakeunaan ku owah gingsir.


Sabilulungan

Sabilulungan, urang gotong-royong
Sabilulungan, urang silih rojong
Sabilulungan, genteng ulah potong
Sabilulungan, persatuan tembong

Tohaga, rohaka,
Rempug jukung ngabasmi pasalingsingan
Satia, sajiwa,
Rempug jukung ngabasmi pasalingsingan.

MUKADIMAH : PAREUMEUN OBOR #JAJuli

29 Jul , 2016,
ja
, , , ,
No Comments

***

Merunut ke masa lalu, obor merupakan modal awal manusia untuk membangun peradaban. Dapat disebut bahwa obor adalah pelita awal yang diciptakan manusia. Kehadirannya sudah ada jauh sebelum ditemukannya lampu minyak, petromak, atau bahkan lampu yang kini dialiri listrik.  Sifatnya pun berbeda dengan nyala penerangan yang dikobarkan oleh api unggun. Nyala penerangan obor dapat dibawa untuk berkelana, tak seperti api unggun yang statis di suatu tempat.

Penerangan obor telah membawa manusia-manusia masa lalu dari satu tempat ke tempat lainnya. Kebermanfaatannya telah menjadi pemantik sejak masa silam hingga kita dapat berpijak di sini saat ini. Obor telah menemani manusia-manusia zaman dahulu menapaki satu desa ke desa lainnya, satu kerajaan ke kerajaan lainnya,  satu hutan ke hutan lainnya. Dengan bermodalkan pencahayaan obor yang sederhana, manusia zaman dahulu dapat memiliki harapan untuk beraktifitas, berpelesir, bahkan “mbabad alas” untuk membangun sebuah peradaban.

Dalam pemaknaan Sunda obor adalah simbolisasi dari asal-usul dan persaudaraan.  Berkaitan dengan hal tersebut, di tatar Sunda dikenal adanya istilah “Pareumeun Obor”.  Biasanya para sepuh menyampaikannya kepada anak-cucunya dengan petuah “Kade jang, ka dulur téh ulah nepi ka pareumeun obor.” “Pareumeun obor” mengandung makna terputusnya silaturahmi dengan saudara dan kerabat. Tentunya ada banyak pemaknaan mengenai babasan “Pareumeun Obor” dan di maiyah setiap orang dapat memaknai dan mengkontekstualisasikannya sendiri-sendiri secara otentik. Obor digenggam tangan-tangan manusia di kala malam untuk dapat saling berkunjung. Nyala obor dimanfaatkan untuk dapat saling munjungan ke kerabat, keluarga, dan sanak saudara. Obor pun dapat digilir maupun dipinjamkan dari satu orang kepada yang lainnya hingga dapat saling bekerja sama dan dapat pula menjadi penerang jalan di tengah redupnya hunian-hunian di waktu malam kala itu.

pareumeun obor

Terpadamnya nyala obor menunjukan padamnya jalur estafet pengetahuan akan keluarga dan kerabat yang telah tercipta sejak beberapa generasi ke atas, maupun sejak zaman bihari. Jangankan untuk belasan ataupun puluhan generasi ke atas, bahkan sanak saudara yang saat ini masih hidup pun banyak yang saling tidak mengenal dan melupakan. Tradisi silaturahmi dan munjungan kepada yang dituakan kini bergeser kepada naluri kepentingan dan sebab akibat. Tak sedikit pula yang menghindari tradisi tersebut karena budaya yang ada kali ini mengisyaratkan bahwa kedatangan satu sama lain ke tempat saudara atau kerabatnya akan berbuah kepada mempertunjukkan kesukesan pribadi dan pencapaian masing-masing diri. Lalu apa yang dapat kita lakukan apabila hal ini banyak terjadi? Menghindarinya? Ataukah tetap menjalani tradisi silaturahmi tersebut untuk tetap menjaga nyala sang obor agar tidak padam? Memang seberapa pentingnya bagi kita untuk saling mengenal dan bersilaturahmi, baik dengan sanak saudara? Apakah makna “pareumeun obor” hanya dapat dielaborasi kepada saudara sedarah saja? Bagaimana dengan konsep pertemanan, persaudaraan, atau paseduluran yang lainnya?

Estafet obor dapat pula dimaknai sebagai doa yang mengalir bagi leluhur yang sudah mendahului. Pun mengenai bagaimana keturunan-keturunan berikutnya dapat mengamalkan ilmu bermanfaat yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Baik hubungan anak-cucu dan leluhur yang bersifat sebangsa, maupun satu keturunan, yaitu para Bani Adam. Nyala obor berupa ilmu itu akankah dapat kita lanjutkan dan estafetkan kepada anak-cucu dan keturunan kita nantinya? Yaitu nyala ilmu yang telah diturunkan oleh Allah melalui kekasih-kekasihNya.

Mengingat obor adalah upaya untuk memancing ingatan kita kembali ke masa silam. Ke masa dimana para leluhur kita berjuang untuk mengemban amanah mereka dalam membangun peradaban. Hampir di setiap maiyahan, Simbah Guru Emha Ainun Nadjib selalu menekankan pentingnya mengenal kembali leluhur. Bagaimana kita mau lebih presisi melangkah menata masa depan kalau tidak pernah mengenal masa lalu? Pun begitu, kalau upaya untuk menyalakan obor itu hanya untuk mereka yang masih hidup saat ini, bagaimana dengan leluhur-leluhur kita yang telah mendahului? Bagaimana upaya kita untuk tetap menjaga nyala obor yang telah beliau-beliau gengggam sebelumnya dan menjaganya di masa kini bahkan di masa mendatang nantinya? Kalau tidak mengenal diri kita dan leluhur serta apa yang telah mereka perjuangkan, bagaimana kita bisa mengetahui wilayah amanah yang tepat untuk kita emban? Penting untuk disadari bahwa leluhur-leluhur kita di masa silam telah menyalakan api peradaban bagi anak-cucunya. Bagi diri kita di masa ini.

Ketidakmengenalan diri kita terhadap leluhur akan menjadikan pergeseran-pergeseran makna perjuangan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Memaknai dan membatini apa yang telah para leluhur lakukan adalah pembangunan kesadaran untuk berterima kasih, bersyukur, dan kesadaran untuk melanjutkan perjuangan. Membatini apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah, para anbiya, dan Kekasih-KekasihNya. Karena bila tidak, kita akan berakhir menjadi individu yang hidup untuk semata hidup, bukan hidup untuk kehidupan. Kita akan berakhir menjadi individu yang hidup untuk diri sendiri dan kebermanfaatan pribadi. Bukankah hidup ini adalah upaya siklikal untuk terurs-menerus mengawinkan upaya Habluminallah dengan kebermanfaatan Habluminannas, bahkan dengan makhkluk-makhlukNya yang lain?

Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa, “people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.” Membicarakan “Pareumeun Obor” memiliki kaitan yang erat akan hal tersebut. Erat kaitannya dengan mati, pareum,  terputus, asal muasal diri, leluhur, nenek moyang, keluarga, persaudaraan, estafet amanah dari masa ke masa, peninggalan, masa silam, masa kini, maupun masa yang akan datang, dan ragam hal lainnya yang dapat terus digali dan dielaborasi. Lalu, akankah hingga nanti obor itu tetap pareum? Ataukah akan ada yang bersedia mulai menyalakannya, dengan berbagai konsekuensi, kelebihan, dan kekurangannya? Bersediakah kita untuk mulai menggali dan menemukan kembali apa yang telah lama terlupa dan menyalakan obor itu kembali?

Sebagai wadah untuk melingkar, bertukar pengalaman, dan juga rasa, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘Pareumeun Obor’ pada hari Sabtu, 30 Juli 2016 yang akan dimulai pukul 18:00 WIB di Studio 1 Gedung RRI Bandung.  Semoga dapat saling membuka cakrawala dan mencahayai satu sama lain dengan saling mengasah, mengasihi, dan mengasuh. Karena apalah artinya obor yang banyak meskipun sebesar pohon kelapa kalau ia tidak menyala, bercahaya, dan menghangatkan.

Dihaturanan kasumpinganana.