Category Archives: Mukadimah

MUKADIMAH : MANUSIA PUASA

21 May 18
ja
No Comments

Apa yang ada di pikiran dan benak kita ketika mendengar istilah ‘Manusia Puasa’? Apakah ‘Manusia Puasa’ itu manusia yang seumur hidupnya dihabiskan dengan menjalankan ritual puasa? Tidak makan dari waktu imsak sampai waktu magrib?

Apakah puasa kita maknai hanya sesempit itu?

Apabila kita lacak dari akar bahasa, puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Upawasa yang bermakna ritual untuk mendekatkan diri, agar sampai pada perjumpaan agung dengan Sang Maha Agung. Ada juga istilah selain Upawasa yaitu Pasa. Kemudian berkembang menjadi Puasa. Selaras dengan makna Shaum atau Shiyam di dalam bahasa Arab Showama berarti menahan, berhenti, tidak bergerak. Menahan di tengah-tengah kebiasaan melampiaskan keinginan. Keinginan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Ingin makan, ingin minum, ingin jalan-jalan dan ingin-ingin seterusnya yang tiada habisnya jika dituruti.

Bahkan mungkin keinginan itu mewujud merasuk dalam rupa mimpi saat tidur. Dimana hidup kita dalam berbagai hal terkait apapun itu, lebih banyak digas dari pada direm. Nah, di sini adanya puasa dalam rangka menahan, mengendalikan, mengingatkan bahwa hidup itu tidak cuma digas tapi juga butuh direm.

Manusia disebut sebagai Khalifah (objek). Tidak dikatakan objek apabila tidak punya keinginan. Dan keinginan ini perlu diolah, puasa ini dalam rangka mengolah keinginan-keinginan kita. Yang pada dasarnya keinginan itu bukan berasal dari diri akan tetapi berasal dari fantasi-fantasi yang menyertai keinginan tersebut. Semisal dalam puasa di bulan Ramadhan ini, kenapa kaum Muslim mendadak berlomba-lomba datang ke masjid, beribadah, dzikir, tadarus, dll?

Karena ada sebuah fantasi, keinginan, anggapan yang sudah menjadi pemahaman di kalangan masyarakat kita, ketika di bulan Ramadhan itu seluruh amal ibadah kita digandakan oleh Allah. Orang sholat, shodaqoh, jihad, haji karena fantasinya terhadap surga, bidadari. Orang berebut jabatan, kursi karena fantasinya yang meyakinkan diri ketika sudah tercapai keinginan ini keinginan itu, hidup akan lebih bahagia, kaya, eksis, dikenal banyak orang, dihormati, dll.

Oleh karena itulah, puasa Ramadhan sebulan penuh ini hanya sebatas madrasah, sekolah dimana kita diwajibkan, dituliskan (Kutiba) dalam Al-Qur’an untuk menjalankan puasa, dalam rangka mengolah, mengendalikan, menahan keinginan-keinginan baik yang bersifat duniawi maupun bersifat ruhani.

Lalu apakah puasa itu hanya untuk diri? Atau puasa itu untuk-Ku (Allah) seperti yang disebutkan dalam hadits-hadits itu? Kita harus berhati-hati, karena di sisi lain bulan puasa ini juga memiliki efek halusinasi, yang dapat menyebabkan kita sudah merasa menjalani puasa. Padahal kita puasa atas apa? Apa memindahkan jam tayang makan itu yang kita sebut puasa? Godaan orang memberi itu merasa bahwa dirinya sudah dermawan, godaan orang yang terlalu senang berbicara di depan publik itu merasa dirinya lebih tahu, merasa lebih pandai, menggurui, dll. Dan godaan bagi manusia puasa ini justru lebih rumit lagi: merasa dirinya sudah berpuasa itu godaan, merasa dirinya belum puasa itu juga godaan. Malah justru dalam bulan Ramadhan ini terkadang puasa itu bukan terletak pada menahan rasa laparnya, namun pada kesabaran hati untuk menahan selama sebulan penuh mendengar suara bising para tukang ceramah, para penjaga barisan moral, baik di masjid, di mushola dan televisi yang sibuk mengobral pahala, surga, serta mitos-mitos semacamnya dan godaan menahan diri terhadap orang-orang yang terlalu men-teatrikal-kan puasa di bulan Ramadhan ini.

Padahal esensi puasa tidak hanya sebatas untuk mengolah diri. Tapi mampu menjadi menejemen di setiap rumah, lingkungan masyarakat, negara, kebudayaan dan peradaban. Apabila kita proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, negara ini puasa sejak kapan? Di era sekarang ini lebih banyak buka atau puasanya? Sistem demokrasi seperti sekarang ini lebih banyak berbuka atau puasanya? Bukankah di era hoax ini manusia lebih berlomba-lomba melampiaskan dari pada menahan? Sehingga pada akhirnya dapat dengan mudah digiring oleh sebuah arus berita-berita, info-info picisan dan murahan yang dibuat oleh para penjahat negeri. Walaupun mau tidak mau kita akui bahwa latihan (madrasah) selama sebulan ini tidak mudah, karena budaya konsumerisme sebagai anak kapitalisme sudah menunggangi dalam kehidupan beragama di kalangan masyarakat kita, baik dalam puasa Ramadhan, haji, dll. Sehingga jalan satu-satu nya untuk meng-counter kapitalisme dan budaya konsumerisme ini dengan cara berpuasa, menjadi manusia puasa dari setiap individu di antara kita.

Karena hidup di dunia ini hanya sebatas mampir ngombe, hanya sebatas ngabuburit sampai pada waktu berbuka itu tiba. Bahwa hidup kita ini ibarat hanya sebatas menunggu saat-saat waktu berbuka puasa/perjumpaan agung dengan yang Maha Agung. Dimana secara hikakat baik hewan, tumbuhan, alam jagat raya seisinya dan Tuhan pun berpuasa. Lantas apakah manusia puasa itu? Entahlah …

Masih adakah manusia puasa di era seperti sekarang ini? Minimal apakah kita bersedia untuk mentadaburi walau sedikit saja perihal jalan sunyi manusia puasa? Yang bertepatan pada bulan ini salah satu dari tiga Marja’ Maiyah lahir di Bumi Nusantara. Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama di riungan Majelis Maiyah Bandung, 23 Mei 2018. Pukul 20.00 WIB. Di Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur, jalan raya Cibiru Hilir No.04, RT 01/RW01, Cileunyi Bandung. Di ruang rindu, di kedalaman kalbu, mari kita bertemu …

***

Mukadimah : Sidik Paningal

27 Apr 18
ja
No Comments

Sidik paningal? Penglihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi & jelas ke titik, dalam bahasa arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masa nya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan segalanya bisa dengan mudah dilakukan secara instant? Dimana robot dengan mudah tercipta di berbagai tempat. Pangkas ilmunya, injeksi perintah program yang harus dijalankan tanpa ada kemungkinan tolah-toleh, tangan kaki terantai, mata terbuka serta alat indera nya berfungsi tetapi tak terhubung antara kepala dan badannya. Hingga muncullah ayat Iqra bismi Rabbikalladzi kholaq, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di Gua Hiro itulah Muhammad bin Abdullah menjadi perintis Manusia Iqro’, bukan robot!

Nabi Khidir pun dalam Paningal-nya diperjalankan Allah bertemu Musa lalu membunuh anak kecil, melubangi kapal, dan menegakkan tembok yang roboh. Hingga membuat Musa tidak lulus menjadi murid karena dalam Paningal Musa hal seperti itu tidak ladzim atau bertentangan dengan pengetahuannya. Padahal di perjalanan lain, Nabi Musa dengan tongkat nya pun dengan Paningal nya berjalan menuju lautan ketika dikejar Firaun, yang bagi kaum nya itu hal bodor menurut Paningal mereka. Lalu Sidik Paningal itu seperti apa? Hingga tercipta kisah dalam Lauhul Mahfudz seperti itu. Sidik Paningal atau Silau Paningal-kah itu? Tersilaukan karena terlalu dekat tanpa source hardware serta software yang mumpuni kah? Yang dengan source itu maka Silau itu pun tersibak hingga jelas titik itu. Nur ala Nur….

Bagaimana menentukan presisi koordinat kita? Lalu mungkinkah positioning peran tiap ciptaan nya saling memiliki Sidik Paningal nya masing-masing seperti wujud sidik jari manusia yang berbeda satu sama lain? Bahkan kembar identik pun memiliki ketidak identikan nya. Yang jago mengolah makanan dengan istiqomah meracik komposisi bumbu, memproses hingga bisa disajikan dengan kasih sayang, yang keahliannya bisa menyetir pun mengendalikan tunggangannya dengan apik serta mengantarkan penumpangnya agar aman serta nyaman hingga tujuan, dan masih banyak lagi. Ataukah seperti ‘ceunah’ wakil kita yang mengatur tata tanah nusantara peninggalan leluhur kita ini, yang mengemong dengan cara membujuk Mbah Tanah agar mau dimadu dengan lembaran-lembaran cetakan nilai tukar? Kakang pohon yang rela mengalah ketika wakil makhluk terbungsu ini mengubah wujudnya menjadi abu? Abah Air  yang biasa ikhlas mengamalkan ilmu ‘kantong bolong’ kepada semua makhluk, dipaksa  diperas dan diperkosa lalu perdagangkan keikhlasan nya?

Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama saling mengasah presisi serta menentukan koordinat diri, Sidik Paningal kita hingga memperjalankan kita menuju Putus Pamrikso dan kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 27 April 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung. Di Ruang rindu.. Kita bertemu….

***

mukadimah: dogdog pangrewong

20 Mar 18
ja
No Comments

Dogdog adalah alat musik membranophone  yang suaranya keras dan nyaring seperti drum. Namun drum ini membrannya menggunakan plastik sedangkan dogdog menggunakan kulit kambing yang dikencangkan oleh rotan dan belahan kayu atau dalam istilah Sundanya yaitu dipaseuk. Salah satu kesenian di Jawa Barat yang menggunakan dogdog adalah seni Reak, kesenian ini dahulu memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengiringi upacara panen padi, khusunya ketika mengangkut padi dari sawah menuju lumbung. Dewasa ini akibat banyak petani yang gantung cangkul karena sawahnya dibabad oleh tanaman semen, maka seni syukuran pengiring panen padi ini berubah fungsi menjadi seni helaran syukuran anak khitan yang diarak keliling kampung.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda ada sebuah peribahasa Dogdog Pangrèwong. Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada posisi dan status seseorang yang tidak terlalu penting fungsi kehadirannya. Misalnya kalau berbicara cuma sekadar menimpali. Kalau membantu pun cuma sekadar dianggap lumayan, daripada tidak sama sekali. Maka setelah selesai, kehadiran dogdog pangrèwong akan disimpan kembali, mungkin akan dikeluarkan lagi suatu saat nanti meski entah kapan. Maka  peribahasa tersebut bisa kita pahami  sebagai suatu penambahan materi yang sifatnya tidak penting, maka jika hal tersebut tidak ada pun tidak masalah.

Dengan merujuk terhadap musikalitas dogdog  yang memiliki timbre keras, nyaring dan menggelegar dan pangrèwong berasal dari kata rèwong yang artinya menganggu,  maka secara harfiah, peribahasa ini berarti suara kemeriahan yang menganggu. Namun bukan berarti alat musik tersebut  adalah sesuatu hal yang mutlak sebagai suara pengacau,  tetapi hanya penggambaran suasana yang meriah saja. Yang menarik dari hal tersebut,  Sepertinya karuhun tidak ingin terlalu kejam dalam meluapkan kekesalannya terhadap sesuatu yang menganggu. Saking bijaksananya, karuhun menggap kehadiran noise tersebut  seakan memberikan kontribusi, meski nyatanya tidak memberikan apa-apa. Maka jika kita mencoba memaknai sesuatu yang menganggu tersebut tidak sebatas manusia atau suara-suara, Dogdog pangrèwong adalah segala  kemeriahan atau keasyikan apapun  yang sejatinya berpotensi menganggu diri kita terhadap segala hal. Bagaimana jika hal-hal tersebut adalah kemeriahan atau kebisingan-kebisingan yang menganggu kemesraan kita denganNya?

Pemaknaaan dogdog pangrèwong pun bisa menjadi beragam jika kita ambil dalam kordinat lain, misalnya jika peribahasa ini  biasa digunakan  untuk manusia yang selalu ikut-ikutan  hadir meski tidak berguna, bagaimana jika anggapan si Dogdog pangrewong ini sebagai upaya sodaqoh yang ingin ia berikan semampunya? Atau sebagai bentuk kerendah hatian serta kepasrahan seseorang menyikapi dan menghadapi robot-robot canggih yang salah program?

Banyak sekali ternyata makna suatu istilah jika kita coba bidik dari kordinat lain. Lantas dari potensi melebarnya pemaknaan tersebut, apakah kita akan masuk ke dalam zona dogdog pangrèwong juga? Tapi dogdog pangrèwong yang mana? Atau jadi pangrèwong dogdog?  Atau mau jadi dogdognya saja? Atau jadi pangrèwongnya saja?

Mari kita melingkar dan diskusi bersama-sama menyikapi fenomena dunia yang kini kian meriah namun tidak meraih sesuatu untuk memperjalankan kita menuju kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 30 Maret 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung.

***

MUKADIMAH: Samagaha Pikir

20 Feb 18
ja
No Comments

Samagaha Pikir

 

“Apakah ada yang ingin ditanyakan anak-anak?”  Tanya seorang pengajar kepada siswa-siswinya.

Kelas sejenak hening, beberapa siswa SMU itu hanya menyoroti seorang pengajar yang berdiri di depan kelas dengan baju dinas berwarna coklat. Pengajar tersebut mempersilahkan kembali kepada siswanya barangkali ada sesuatu yang ingin ditanyakan setelah ia memberikan serangkaian materi tentang fenomena alam. Namun siswa-siswi tersebut nampak bertambah keasyikannya menatap si pengajar yang sedang menodongkan tangan kanannya. Pengajar yang sedikit terlihat tua itu mengeritkan dahinya, kenapa tidak ada respon atas pertanyaanya tersebut? Dia malah menyaksikan siswa-siswa bangku pojokan belakang yang sedang sibuk merapihkan buku. Ada juga yang sibuk memasuk-masukan perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Dalam hati si pengajar bergumam “Ada apa ini sebenarnya? Apakah siswa-siswa ini sudah faham? Apakah mereka sudah lebih tau dari aku? Apakah mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa? Apa yang ada dalam pikiran siswa-siswa ini???”

Pengajar berbaju coklat tersebut tiba-tiba diserang dengan beberapa pertanyaan yang menusuk hatinya, serta mengoyak-ngoyak pikirannya. Dalam hujaman pertanyaan atas dirinya tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya?

“Silahkan Parta apa yang ingin kamu tanyakan?” Ucap pengajar tersebut.

Ketika Parta akan berucap tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya tanda kegiatan belajar telah berakhir.

“Baik Parta, maaf sekali waktu sudah habis. Simpan pertanyaanmu dan kita bertemu minggu depan” sahut si pengajar sambil bergegas dan dengan cepat ia meninggalkan kelas sambil pamit dan mengucapkan salam.

Siswa-siswa beteriak dengan girangnya, ekspresi kegagapan yang sebelumnya ditampilkan di hadapan pengajar ketika sedang kegiatan belajar berbalik menjadi teriakan-teriakan seperti budak yang dimerdekakan saat itu juga. Namun seorang siswa yang bernama Parta hanya termenung seperti ada sesuatu yang menganggu pikirannya. siswa-siswa pun berhamburan meninggalkan kelas dengan ribut, Parta masih terduduk saat itu, ketika kelas perlahan tenang ia barulah meninggalkan kelas dengan tertunduk membawa beban dikepala dan juga hatinya.

Di perjalanan pulang menuju rumah Parta mencoba mengingat kembali apa yang tadi dikelas ia dapatkan disaat pengajarnya bercerita tentang fenomena alam. Salah satu yang ia ingat adalah ketika pengjarnya di kelas berkata bahwa akhir ini kita sedang menyaksikan kemarahan Tuhan, banyak bencana alam dimana-mana, sungai meluap banjir, tanah tiada hentinya bergemuruh gempa, dan itu semua adalah bukti bahwa Tuhan sedang marah. Parta bingung, dalam hati kecilnya ia berbicara loh kok Tuhan pemarah ya? Bukannya Ia maha pengasih dan juga maha pemurah? Kenapa bisa marah juga? Apakah pengajarku itu becanda? Kalau Tuhan marah berarti adakah kesalahan yang sangat fatal dilakukan oleh manusia? Sejak kapan manusia melakukan sesuatu kesalahan hingga Tuhan marah? Apakah marahnya sekarang aja? Atau dari dulu? Apakah nanti bakal marah lagi? Parta yakin Tuhan tidak marah, jadi apakah Tuhan  memberikan teguran, peringatan atau hukuman?

Parta tidak ingin mengunakan kata-kata tersebut untuk menghindari kejadian alam dan menjadikan alat untuk meng’kambinghitam’kan Tuhan, atau setidaknya GR bahwa Tuhan sedang menguji (padahal meng-azab-nya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Tuhan menguji kita –manakala banjir bandang datang menerjang.

***

Ketika di angkot akan pulang ke rumah Parta menyaksikan beberapa ibu-ibu sedang asyik membicarakan bahwa nanti malam akan ada fenomena alam yang spektakuler katanya. Yaitu akan ada sebuah femomena langka yang terjadi setiap seratus tahunan sekali, kejadian itu bernama Super Blue Blood Moon. Katanya bulan akan berwarna merah, biru, putih dan terang menyala. Ini hal yang menakjubkan. Penampakan bulan tersebut diakibatkan karena gerhana bulan, dimana posisi matahari, bumi dan bulan dalam keadaan sejajar.

Parta menjadi teringat dengan kejadian gerhana matahari beberapa tahun yang lalu, semua orang seperti biasa terlarut dalam euforia fenomena alam tersebut, semua orang ingin menyaksikan tampilan gerhana matahari tersebut, ada yang pergi ke tempat Nobar Gerhana, ada yang menuju tempat studi astronomi, ada yang tidak beranjak dari televisi yang menyaksikan siaran langsung proses gerhana. Begitu banyak masyarakat yang antusias ingin menyaksikan kejadian ini. Parta ingat sehabis pulang ‘shalat gerhana’ dan bertemu dengan kakek tua yang berdiam diri di masjid tidak seperti kebanyakan orang yang seolah tidak ingin ketinggalan menyaksikan fenomena tersebut. Parta masih mengingat ucapan kakek tua yang bernama Abah Idi ketika ditanya kenapa kakek tidak ingin melihat fenomena yang jarang terjadi itu, Abah Idi pernah berkata bahwa gerhana atau yang di daerahnya disebut Samagaha menurutnya jangan dirasakan secara visual saja, meski ini fenomena yang langka kita harus ingat siapa Yang Maha Membuat fenomena tersebut? Apa tujuan Sang Maha Kuasa menciptakan sebuah fenomena samagaha? Bagi dirinya jika gerhana matahari terjadi karena posisi cahaya matahari menuju bumi terhalang bulan karena garis edarnya berada pada posisi sejajar sesungguhnya ini pun terjadi pada diri manusia. Telah terjadi Samagaha Pikir. Karena akhir-akhir ini pemikiran manusia banyak terhalang oleh sesuatu yang membuat dirinya tergelapkan. Samagaha hanya terjadi beberapa menit saja. Tapi ‘samagaha pikir’ bisa berlanjut terus sebelum dirinya melepaskan diri dari zona tergelapkan yang dapat menghalanginya menerima cahaya ilmu untuk sebuah pemikiran yang terang. Begitupun dengan gerhana bulan, banyak orang yang mengidolakan bulan berwarna terang-benderang, menurut Abah Idi kita harus ingat dimana sumber cahaya yang membuat bulan menjadi terang benderang? Jangan menghadap hanya kepada bulan saja, karena kecantikan bulan hanya berangsung beberapa menit. Samagaha bulan hanya terjadi beberapa menit saja tetapi ‘samagaha pikir’ bisa terus terjadi sebelum manusia ingat kembali kepada siapa Sang Pemberi Pemikiran yang terang? Siapa Yang Maha Kaya akan sebuah cahaya tersebut?

Mendengar beberapa perkataan yang diberikan oleh Abah Idi, Parta tertunduk dan merenung apakah selama ini telah terjadi ‘samagaha pikir’ dalam dirinya? Parta tidak menjawab ketika dirinya ditanya oleh Abah Idi apa samagaha itu bagi dirinya? Apa samagaha itu bagi orang lain?

Apa ‘samagaha pikir’ itu seperti apa yang dikatakan Abah Idi? Apa Samagaha Pikir bagi orang lain? Apakah ada yang lebih menarik dari fenomena samagaha ini?

Jika ada sesuatu yang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut mengenai Samagaha Pikir ini, mari bersama-sama kita melingkar di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih hari Jumat 23 Januari 2017 pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Anak Jalanan At Tamur Cibiru Hilir.

 

mukadimah : Tetring Ka Kanjeng Nabi

19 Dec 17
ja
No Comments

Mukaddimah

Tetring Ka Kanjeng Nabi

Bismillahirrahmanirrahim

Lur aya kuota teu? Tetring atuh..!?

Dalam peradaban yang akses pertukaran informasinya menggunakan keghaiban teknologi modern; internet, download, upload, chatting, wifi, hotspot serta tetring merupkan istilah pasaran yang sering bersliweran. Penggunaan fasilitas internet ini tentu sangat penting bagi kita ya meskipun sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Karena adanya suatu kepentingan itulah maka bagi yang tidak mempunyai kuota atau yang sinyalnya naik-turun amblas, minta tetring adalah suatu “keharusan”. Tak peduli lagi dengan urusan gengsi, karena adanya “keperluan” yang wajib dilaksanakan, maka minta tetring adalah suatu kewajiban yang tiba-tiba muncul sebab adanya kewajiban yang lain, ya semisal untuk bales chat ibu ataupun pacar.

Tetring selalu sepaket dengan wifi, hotspot, dan akses ulang-alik data juga dengan sinyal, pemancar, frekuensi dll. Tapi apa sebenarnya tetring itu? Jika merujuk dari shahibul lughah yaitu bahasa Inggris, tetring/tethering (tether+ing) mempunyai arti tambatan-menambatkan, tapi karena terlalu puitis jika diucapkan dalam terjemahan bahasa Indonesa, kita kemudian menyebutnya dengan minta wifi.

Lalu apa hubungannya dengan kanjeng nabi? Wong kanjeng nabi tidak punya smartphone, kok kita minta tetring pada beliau?  Apa juga yang beliau tetringkan pada kita atau yang ingin kita tetringi dari beliau? Mengapa urusan tetring ini menjadi perlu? Apa ada keterkaitan dengan koneksi kita ke Gusti Alah? Apa sinyal kita terlalu lemah untuk menjangkau hal-hal ilahiah? Apa data/kuota kita terlalu limited dan harus menunggu jam siang jam malam, musibah-anugrah untuk sesekali dekat pada-Nya? Ataukah kita memang tidak pernah memiliki driver/software/firmware yang cukup memadai untuk akses data lebih tentang Allah, untuk mendownload kasih sayang-Nya ataupun sekedar searching apa yang dikehendaki Allah? Sehingga kita perlu tetring ka kanjeng nabi?

Jika memang tetring ini menjadi analogi yang saklek tentang bagaimana seharusnya kita berhubungan (menghubungkan diri) dengan Rasulullah sehingga mampu online dengan Allah, maka adakah juga password sebagaimana hotspot-hotspot komunitas umumnya? Atau justru tanpa pasword sehingga semua bisa tetring pada beliau asalkan punya kemauan? Atau malah kemauan itulah yang menjadi passwordnya?

Dalam analogi sederhana, kita adalah smartphone dengan spek rendah yang masih 3G, dan kanjeng nabi adalah smartphone dengan spek tinggi yang sudah mampu menjangkau sinyal 10G sedangkan Allah adalah sinyal itu sendiri yang memancar dalam berbagai taraf gelombang mulai dari yang terendah yang bisa kita akses sampai yang sinyal yang paling tinggi yang hanya smartphone tertentu yang bisa mengaksesnya. Kita minta tetring ke kanjeng nabi, untuk bisa ikut nebeng sinyal yang beliau peroleh. Di sini kedudukan kanjeng nabi adalah sebagai penyalur ulang sinyal yang tak bisa dijangkau orang pada umumnya, oleh karena itu beliau juga disebut Rasul (utusan).

Lho tapi rasul-rasul kan juga banyak? Bahkan adapula para wali.

Jika kita melihat kembali bagaimana kedudukan Rasulullah dihadapan Allah, serta Rasulullah diantara para nabi dan seluruh makhluk. Maka wajar jika kita minta tetringan kepada beliau. Rasulullah adalah khatamul anbiya’, sayyidil mursalin, kekasih Allah, yang dari nurnya menjelmalah seluruh alam semesta ini, yang Allah pun mengajak malaikat-malaikat-Nya serta orang-orang beriman untuk bershalawat kepadanya, yang bahkan kita, umat yang beliau cintai pun, menjadi lebih dicintai oleh Allah karena begitu cintanya Allah kepada beliau.

Rasulullah adalah ‘transmittor’ yang menghubungkan Allah dengan kita. Lewat beliau Allah mengajak kita ngobrol, berkenalan lebih intim dan saling cinta-mencintai. Misi kanjeng nabi pun tidak sembarangan, menyempurnakan akhlak, menebar rahmat bagi seluruh alam. Dan kita inilah yang sedang ditebarkan beliau ke berbagai pelosok dunia, ke berbagai bidang kehidupan yang harus kita bidangi agar menjadi rahmat. Jika terpaksa menggunakan alur berpikir linier, sejatinya kita harus menjadi khalifah Rasulullah dulu sebelum benar-benar menjadi khalifah Allah fil ‘ard.

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui kanjeng nabi, ini mungkin dapat dipahami bahwa Allah sedang mengajari kita tentang etika prosedural. Kalau kita tiba-tiba menghadap Allah sendirian dan mengaku sebagai umat kanjeng nabi sedang kita tak pernah membawa kanjeng nabi bersama kita kemana-mana apa ya Allah akan percaya?

Maka dari itu tetring kepada rasulullah, itu sama dengan gondelhan klambine kanjeng nabi, agar ketika kanjeng nabi menemui Allah, kita ikut kabawa, kanjeng nabi masuk surga kita ikut di belakangnya, kita nginthil ke kanjeng nabi kemana-mana, enak tho?

Nah selanjutnya cara untuk tetring ini bagaimana? Apakah sekarang ini kita sudah otomatis tetring kepada beliau karena kita adalah umatnya, ataukah kita juga perlu melakukan sesuatu?

***

 

Mukadimah : Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

21 Nov 17
ja
No Comments

Mukadimah

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

(Milad 2 Tahun Jamparing Asih)

 

What’s a name, Apalah arti sebuah nama! Tetapi ada yang lain, bahwa nama adalah doa. Manakah yang lebih benar? Bukankah nama itu penting? Apakah nama itu identitas atau personalitas? Bentuk atau esensi? Dari dua ini poin ini saja, kita bisa ‘terpaksa atau memaksakan diri’ menghabiskan energi intelektualitas dan spiritualitas kita untuk mencari atau menemukan kebenaran tentang hakikat ‘nama’ itu. Yang jelas, terdapat, misalnya, gradasi antara benermu dhewe (kebenaran menurut dirimu sendiri), benere wong akeh (kebenaran menurut orang banyak), dan bener kang sejati (kebenaran sejati). Belum lagi, di ujung dialektika ijtihad, jihad dan mujahadah kita itu menghadirkan ‘segitiga cinta maiyah’ (Allah, Cahaya Terpuji (Nur Muhammad), dan kita/makhluq) atau tidak?

Lha! Kenapa kebenaran sejati harus dipersyarati dengan menghadirkan ‘segitiga cinta’ itu, dengan menemukan Allah di setiap apapun/siapapun/kapanpun/di manapun/kenapapun/bagaimanapun dan seterusnya? Atau, agar tak terus-terusan jumawa dan GR, kita sebaiknya bertanya: kita ini siapa! Memang betul atau yakin kita bisa menemukan Allah? Tidakkah sebaliknya, bahwa Dia yang mengadakan, menemukan atau menyentuh kita?

Sejatinya siapapun atau apapun itu bermaiyah. Apa atau siapa yang bisa terlepas dari ‘peran dan kinerja’ Tuhannya? Maiyah adalah kebersamaan dengan Allah! Siapa atau apa yang tidak bersama-Nya, sebenarnya? Segala sesuatu secara pasti seyogianya manunggal, nyawiji, ngahiji, men-tauhid dengan Pemilik atau Penciptanya. Term ‘apa’ disertakan tak lain dimaksudkan untuk mengakui keberadaan semesta. Sebab, selama ini, kita sadar hidup di semesta ini, tapi sering merasa bahwa kitalah satu-satunya makhluk penghuni bumi ini. Bahkan Pencipta dan Pemilik Sejati kita, pun kita lupakan eksistensinya! Ketika kita berpikir, merasakan, dan bertindak: bukankah semesta juga merekam, mencatat, dan meresponnya? Tidakkah air, udara, tanah, api, tetumbuhan, binatang, jin, dan malaikat punya hak yang sama untuk bermaiyah? Innallaha ma’ana, Allah bersama kita: tutur Kekasih-Nya yang paling kinasih, Muhammad Saw! Karena kita, dan seluruh ciptaan lainnya, adalah milik atau kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Adakah atau bisakah sesuatu [yang] tidak kembali kepada-Nya?

Rasa syukur yang mendalam, tak terhingga kepada Pemilik Sejati kita: betapa tidak, Ia menyifati diri-Nya dengan dua sifat yang seyogianya ‘menampar’ kita: “asy-Syakur” (maha narima’ake/narimakeun) dan “ash-Shabur”. Tak cukup malukah kita jika Ia saja begitu (terhadap kita)? Kepada manusia pilihan, Rasul Terkasih, khatamul anbiya’, Muhammad Saw: shalawat dan salam terus kita upayakan sekuatnya dalam rangka ‘gondelan klambine’ (muntang ka) Beliau.

Terima kasih, matur suwun sanget, hatur nuhun sagala rupina: Maulana Muhammad Ainun Nadjib, Syaikh Ahmad Fuad Effendy, dan Syaikh Muhammad Nursamad Kamba –yang telah bersedekah menggalikan ‘sumur’ untuk kami menimba ilmu (maiyah), agar senantiasa rindu ke Maha Sangkan Paran kami. Syukran katsiran ‘ala kulli hal, telah memperkenankan kami untuk menikmati ngeli, tapa kungkum, merenangi, mereguk; di tetes, di mata air, di aliran sungai, di lubuk, maiyah… hingga sejauh ini…

Bertepatan dengan milad, ambal warsa, milangkala Jamparing Asih yang ke-2, entah sontak tiba-tiba kami didorong untuk menggali, men-iqra’, men-tadabburi khazanah orang tua atau nenek moyang kita yang telah lama dilupakan. Jadilah tema majlisan kita bulan ini: Wasitaning Budhi Sonya Kanthi! Berangkat dari ketidakmampuan, ketidaktahuan, dan ketidakhebatan, dengan terus-menerus merindukan untuk diajari iqra’ oleh-Nya; justru kami memberanikan diri untuk mengangkatnya sebagai tema, pemantik diskusi, sharing, untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan ‘nyicil’ perjuangan, proses, kerja; nandur, poso, dan shadaqah. Seribu mil di depan tentu akan dimulai dengan satu langkah kaki, bukan?

Jangan-jangan, atau secara hampir pasti, kita banyak salah paham terhadap banyak hal, di dalam atau di luar diri kita. Tugas kita masing-masing untuk menziarahi itu semua, sendiri-sendiri atau bersama-sama! Pernahkah kita mencari tahu, kenapa bahasa Indonesia –Melayu Pasar asalnya– yang dipilih untuk dijadikan bahasa kita? Mengapa bahasa sampai dipilah menjadi bahasa daerah, nasional dan internasional? Sampai kapan bahasa Jawa, Sunda, Madura, Batak dan lain-lain akan kita sebut tradisional, tidak modern? Tak bolehkah kita mentadabburi kisah epik Musa-Khidlir yang diabadikan di dalam Alquran literer-Nya untuk mendialektikakan masa kini-masa depan-masa silam kita, misalnya? Atau, tidakkah mungkin bahwa masa silam adalah masa depan? Jika Alquran itu masa silam, untuk apa Allah menyuruh kita membaca, mentadabburinya? Bukankah yang kita lakukan, saat ini, sadar atau tidak, ialah memasadepankan masa silam!

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Candra Sengkala. Watak bilangan 2 0 1 7. Kata-kata yang termasuk dalam watak 2 adalah kata-kata yang memiliki arti dua atau sepasang. Kata-kata yang termasuk dalam watak 0 adalah kata-kata yang memiliki arti kosong, hilang, habis, langit, dan tidak tampak secara jasmaniah. Kata-kata yang termasuk dalam watak 1 yakni kata-kata yang memiliki arti satu, tunggal, berjumlah satu baik itu Dzat Tuhan, benda, manusia, binatang, dan makhluk hidup lain serta kejadian alam dan sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam watak 7 yaitu kata-kata yang memiliki arti tujuh atau dalam sifatnya mengandung unsur yang berjumlah 7. Pengertian Wasita adalah nasihat, petunjuk, pelajaran (watak bilangan 7). Budhi adalah pikiran, pemikiran (watak bilangan 1). Sementara Sonya itu sepi, pertapaan (watak bilangan 0). Dan Kanthi berarti dengan, kebersamaan, teman (watak bilangan 2).

Jamparing Asih, 2 tahun, di rentang 2017. Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Bersama dalam kesunyian untuk menata budi, pikiran, agar menjadi wasita: petunjuk, pelita, obor yang menerangi. Ah, semoga…

Mari bergembira, bersama-sama: melakukan Maiyah!!

 

MUKADIMAH : WILAYAH ABA-ABA ABU-ABU

23 Oct 17
ja
No Comments

Mukadimah

Wilayah Aba-aba Abu-abu

 

 

Sebaiknya jangan meremehkan setiap kata. Aba-aba! Abu-abu, wilayah. Mungkin pula kata-kata lainnya, kita anggap biasa saja, sebagaimana –atau sudah begitu adanya: dan pada akhirnya ia atau mereka luput dari dialektika berpikir kita (yang seyogianya berkesadaran Ilahi). Tak jarang, dalam hidup kita di dunia [yang] ini, banyak kata yang dipergunakan tidak dengan tanggung jawab syarat-rukun yang seharusnya. Termasuk kata-kata yang diinformasikan Tuhan langsung melalui Kitab Suci literer-Nya, banyak yang disembelih, dikebiri, dipersempit sebagai kotak, lingkaran, label, branding, identitas kelompok-kelompok umat tertentu dan sebagainya. Bukankah berkesadaran Ilahi itulah yang diinginkan Tuhan melalui siklus innalillahi wa inna ilaihi raji’un? Bukankah pula kita diadakan, diselenggarakan, diperjalankan sebagai khalifah dengan manajemen fungsional rahmatan lil ‘alamin?

Kita hidup di ‘rimba raya’ zaman peradaban modernisme, kapitalisme (global), dan hedonisme. Semakin modern manusia, ia lantas menertawakan dan mengutuk habis ‘hukum rimba’, sembari menciptakan aturan-aturan, patokan-patokan, lalu lintas hukum yang tak kalah rimbanya. Macan, harimau, singa dan predator-predator lainnya disebut ‘buas’, ‘pemangsa’, hanya oleh manusia. Sementara kata ‘buas’ tidak manusia pergunakan untuk menyebut terhadap sesama mereka yang mengeruk hasil bumi secara serakah, merusak hutan, dan lain-lain –bahkan para pemangsa harta, nyawa dan martabat kemanusiaan mereka sendiri.

Tidakkah seekor macan itu muslim: patuh, taat, setia terhadap kosmologi peran yang diberikan Allah? Ia istiqamah, konsisten untuk memakan ‘mangsa’nya, dan tak sepanjang waktu ia melampiaskan syahwatnya pada makanan. Bukankah ia mengenal ‘puasa’, jeda, me-ngerem alias tak melulu nge-ngas? Pahamlah betul ia mengenai walayah atau wilayah peran dari Pencipta-Nya.

Bukankah macan, hutan rimba dan semua yang ada di cakrawala ini adalah ‘aba-aba’? Aba-aba, perintah, peringatan, ayat, petunjuk, perumpamaan (amstal) dan seterusnya! Allah tak segan-segan, misalnya, membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil darinya (QS. al-Baqarah: 26). Bukankah ‘amanat’ membaca amtsal, aba-aba dan seterusnya itu merupakan tugas dan kewajiban kita? Bacalah, tentu saja harus bismi Rabbika.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana membaca, men-tadabburi segala aba-aba Tuhan itu tatkala sudah berada di tangan para khalifah-Nya: dalam hal ini manusia? Menjadi gaduh, riuh-rendahlah nyanyian gerak sejarah berkeumatan kita. Bahwa wilayah aba-aba itu, disakralkan, di-tabu-kan dengan klaim: “Tak sembarang orang boleh memasukinya!” Sembarang orangkah kita, atau kita orang sembarangan? Siapa yang tak sembarang orang? Memang kita siapa di mata-Nya? Di antara awam seperti kita, siapa yang tak nyinyir, misal, ketika mendengar bahwa syarat-syarat untuk menafsirkan Al-Quran haruslah menguasai berbelas-belas fann, disiplin keilmuan; mulai dari bahasa Arab, asbab al-nuzul, manthiq, balaghah  dan lain-lain. Haruskah ketika kita ‘membaca’, iqra’ ayat Al-Quran secara otomatis menjadi mufassir? Mana yang lebih utama, mempelajari Al-Quran atau mempelajari tafsir-tafsir Al-Quran? Ah, kalau ada pilihan ketiga, kita sebaiknya memilih: belajar dari Al-Quran. Bukankah yang terakhir disebut lebih soft, halus, lembut untuk tidak merasa arogan mampu mempelajarinya. Sebab, konon, mempelajari itu teoritis; sedang belajar itu empiris.

Adakah itu grey area, wilayah abu-abu? Adakah itu aba-aba Tuhan yang di-abu-abu-kan? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita meletakkan kesadaran. Dan itu baru setetes, di tengah hamparan samudera abu-abu tak menentu milik-Nya. Itu baru segenggam tanah, di antero wilayah bumi-Nya yang ‘tak bersertifikat’ laiknya tanah-tanah yang kita klaim sebagai milik kita dengan sertifikat dan akta tanah. Berapa aba-aba yang diabu-abukan. Berapa iya yang ditidakkan, berapa tidak yang diiyakan!

Adakah abu-abu itu negatif, membingungkan, absurd, ambigu, ataukah transisional bak seragam favorit sekolah orang Indonesia sewaktu muda: putih abu-abu alias SMA/U? Adakah terdapat titik koordinat tertentu yang memang sengaja dibikin abu-abu, klawu, untuk mempertahankan walayah sirr-nya, terjaga misteri atau rahasianya. Biar tak hitam-putih warna kita, linier cara memandang dan cara laku kita dalam mensikapi segala sesuatu. Ah, entahlah, kan abu-abu!

 

Hayu, ngopi sareng didieu: aya kopi racikan para Jon Pakir Jamparing Asih! Ihdinasshiraathal mustaqiim…

 

 

 

MUKADIMAH : SHUT DOWN

27 Sep 17
ja
No Comments

Mukadimah

Shut Down

Shut Down, matikan! Pareuman! Apa yang terbayang oleh kita ketika mendengar kata tersebut? Sangat mungkin dan hampir pasti kebanyakan kita, karena kehidupan keseharian kita selama beberapa dekade terakhir ini banyak ditemani oleh benda-benda elektronik, akan menyebut atau membayangkan radio, tape recorder, televisi, komputer, laptop, handphone, gadget wa akhawatuhum/dan lain-lain.

Tidak serta merta, di sini, akan diuraikan secara rinci perihal seluk-beluk kebahasaan shut down berdasarkan asal-usul ruang dan waktu lahirnya term itu. Sebab, kita bukan pemilik asli bahasa ‘coro inggris’ itu, ditambah –dan ini yang utama– ketidakmampuan kita secara akademis laiknya sarjana bahasa (atau sastra). Yang bisa kita lakukan mungkin mereka-reka kritisi kita terhadapnya. Misal, shut as transitive verb means menutup, tetapi ketika diselipkan kata down menjadi bermakna ‘mematikan’. Sementara jika dipasangkan dengan up (Shut Up) mengandung arti ‘tutup mulut(mu): diamlah’! Akan tetapi nanti dulu, otak-atik kecil ini bisa kita selenggarakan sendiri-sendiri, atau bersama-sama.

Term shut down diambil untuk mewakili nuansa kebahasaan yang semakna dengannya. Tanpa bermaksud menafikan bahasa-bahasa lainnya, shut down dipilih untuk memudahkan komunikasi –di era millenial ini. Toh, bahasa dan para penuturnya tak mungkin bisa menghindar dari ‘cara kerja’ Tuhan.

Yang menarik untuk ditadabburi adalah mengapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa dimatikan? Dan dalam kondisi apa dimatikan? Kalau urusannya benda-benda elektrik itu harus dimatikan mungkin untuk menghindari error, hang, korslet dan seterusnya. Tapi materi-materi itu adalah hasil rasa cipta dan karya manusia! Bagaimana dengan benda atau materi lainnya semisal tumbuhan, hewan, angin, udara, air dan sebagainya? Bahkan manusia sendiri yang sejatinya ‘karya atau design’ Tuhan! Di luar Sunnatullah-Nya bahwa mereka harus berhenti, mati, layu dan lain-lain, berhakkah manusia melakukan tindakan ‘mematikan’ itu? Sebab ada penebangan pohon, penyembelihan hewan, teknologi penyulingan air, pengendalian udara atau iklim, perang antar negara dan seterusnya. Tidakkah itu persoalan hak dan kewajiban! Di manakah titik dan koordinat mizan manusia dalam walayah semacam itu?

Adakah manusia punya aktivasi daya menghidupkan atau mematikan? Tidakkah itu berhubungan dengan Sulthan Ilahiah al-muhyi wa al-mumit? Jika iya bagaimana, pun tidak juga bagaimana! Kalau hidup dan mati mungkin tak dipersoalkan oleh kita, yang memang sedang hidup dan akan mati. Tetapi sejatinya apakah itu hidup; what is dead? Tak banyak kita mendayagunakan akal kita untuk bermesraan dengan Juragan Agung kita untuk diajari meng-iqra’-nya. Bukankah kita lebih asyik menyibukkan diri secara habis-habisan untuk memacu potensi kita untuk menunjang karir kesejarahan hidup di dunia ini. Bagaimana jika hidup adalah mati, dan sebaliknya?

Kenapa kematian begitu mencemaskan atau menakutkan? Sampai-sampai ada sejumlah orang yang rela membayar mahal untuk menghindarkan diri dari kematian, misal, melalui ideologi pembangunan yang berwajah penindasan dan perang. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan. Orang mengejar-mengejar dunia; tapi tak henti-henti mengeluh tentangnya! Jangan-jangan kehidupan yang kita helat sampai detik ini sebenarnya adalah pesta kematian.

Urusan menebang pohon, mencari ikan di sungai, menyembelih binatang, sebagai contoh, bukanlah persoalan yang remeh temeh. Leluhur kita memiliki kearifan hidup yang luhur untuk mengkhalifahi sesuatu. Segala sesuatu ada caranya. Desa mawa cara, negara mawa tata. Silahkan gali khazanah ‘sesepuh dunia’ asli kita yang hari ini dikepung oleh superioritas dua lainnya. Buktinya, ketika kita bersekolah atau ngampus, kita ‘mendadak Yunani/Eropa’; sementara kita ber-Islam, kita latah menjadi ‘Arab’. Kita tidak lantas anti Arab dan Barat. Ada sesuatu yang memang harus Arab, perlu Barat dan musti Nusantara. Masih gengsikah kita untuk mau men-tadabburi filsafat radikal Mbah-mbah kita di Merapi sana: Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat!

Atau, di tengah arus globalisasi yang silang sengkarut mengepung kita melalui teknologi IT nubuwwah informasi, pengetahuan, ilmu dan seterusnya yang tak jelas ini, kita perlu untuk mematikan diri atau minta dimatikan oleh-Nya? Bak Ashabul Kahfi yang dimatikan/ditidurkan di Goa selama 309 tahun. Online kita di seluler, jangan-jangan meng-offline-kan kita di walayah lain. Betapa tak lelahkah kita mencari diri kita selalu di luar? Tanpa pernah sesekali menziarahi diri kita di dalam. Atau agar tak overlude, seperti perangkat-perangkat lunak atau keras IT itu, kita harus mematikan diri kita untuk lahir kembali, hidup lagi. Bukankah ‘menghidupkan yang mati’ (yuhhyillahu al-mauta, tsumma ahyahum, tsumma yumitukum, tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy¸dan sebagainya) dihamparkan Allah sebagai aktivasi shifat dan af’al-Nya di dalam qur’an literer-Nya? Belum lagi yang fi al-afaq wa fi anfusikum!

Ah, kalau itu terlalu seram atau menyeramkan, ingat saja seorang Madura ketika ditegur temannya: ‘Sampeyan ngerokok terus, nggak takut mati?’. Dengan santainya ia menjawab: “Ndak lah, kan saya bawa korek api”.

Diantos kasumpinganana, Ngopi Bareng di Majelisan Jamparing Asih!

***

MUKADIMAH : Manusia Goa

22 Aug 17
ja
No Comments

Pernahkah kita membayangkan diri tinggal atau hidup di dalam goa? Sebagai pelancong alam, pengembara, atau pertapa yang sedang ngelmu lelaku hidup tertentu. Atau –untuk jangkau rentang waktu yang lebih lama– sebagai penghuni alias ‘manusia goa’. Apa itu goa; ada apa dengan goa? Wa ma adraka ma ‘goa’ (ghar/cave)? Sampai-sampai ia diabadikan sebagai salah satu surah dalam Al-Quran, al-Kahfi (goa). Rekam jejak kisah Ashabul Kahfi, yang ditidurkan oleh Pemilik Sejati mereka selama 309 tahun, kemudian dibangunkan kembali setelah ‘tidur panjang’nya pun diilustrasikan di dalam surah tersebut.

Belum lagi ‘detik-detik proklamasi’ kenabian (nubuwwah) Muhammad al-Amin juga berlangsung di dalam goa (Hira’). Kenapa harus di (dalam) Goa? Mengapa tidak di tempat lapang, terbuka, atau bahkan pusat keramaian suatu kaum tertentu; pasar, alun-alun, balai kota dan sebagainya? Pernahkah terbersit dan terlintas pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam diri kita? Sebab, kalau mengikuti pertimbangan rasionalitas ilmu pengetahuan modern saat ini, apa yang Tuhan simulasikan dengan Para Kekasih-Nya tersebut di atas sangatlah tidak paralel, compatible, dan marketable, dengan misalnya, efektifitas dan efisiensi dakwah (Islam). Betapa tidak! Orang sekarang, dan sangat mungkin kita di antaranya, begitu gemar menjadi da’i, tanpa pernah mengerti esensi ‘ruh’ da’wah. Kita bangga dan merasa hebat sebagai muballigh, tanpa perangkat pemahaman ijtihadi yang simultan terhadap tabligh.

Selinier itukah cara kita memandang dan berpikir? Bahwa masih ada dialektika siklikal, zig-zag, spiral dan seterusnya dalam menghikmahi sesuatu. Sesakti apa kita –yang tak mampu mengatur jadwal buang air kecil/besar, menumbuhkan kumis, rambut, jenggot dan lain-lain– ‘lancang’ mengidentifikasi Tuhan dengan parameter konsepsi intelektualitas manusia yang tak jangkep syarat-rukunnya, dan yang telah terlanjur dilembagakan berabad-abad? Tuhan, dalam sejarah kehidupan manusia, kita audisi dengan fit and proper test agar layak kita sebut Tuhan; dengan ‘juri tamu’ handalnya, materialisme. Dua aspek lainnya, kemanusiaan (humanisme) dan ketuhanan (teologi/aqidah), yang sejatinya lebih sublim dari materi dan mengajarkan manusia agar ‘tak berjarak’ dengan Penciptanya, digeletakkan begitu saja oleh manusia sendiri. Hasilnya adalah prestasi berkemanusiaan, beragama atau bertuhan kita, dipenuhi deret lajur standar-standar materialistik; dengan ‘pisau analisis’nya, sekularisme. Diakui atau tidak, cara beragama atau bertuhan kita menjadi sangat sekuler; parsial, tidak nyawiji atau manunggal (tauhid). Bukankah Allah sendiri mempelopori tauhid? Bukankah Ia sangat cemburu jika kita mempersekutukan-Nya, selingkuh dari-Nya?

Kiranya kita yang tak kunjung paham… Tak mungkinkah terdapat cakrawala kelapangan dalam kesempitan; terang dalam kegelapan; gerak dalam diam; suara dalam kebisuan; kaya dalam kemiskinan; dan sebagainya? Salahkah pula muatan-muatan pikiran seperti melihat suara; mendengar warna; mencium nada; dan seterusnya?

Seorang pendekar saja untuk mastering ilmu-ilmu bela dirinya harus sering ditempa dan dibiasakan untuk berlatih di tempat-ruang sempit. Tak menjadi aneh jika ia mampu menangkis, menghindari serangan dan tadahan –misal ketika menghadapi lawan– di ruang yang luas, lapang dan terbuka. Semakin sering ia bergelut dengan kesempitan, semakin ia mengerti hakikat keluasan. Semakin kita mampu mentarekati kemiskinan, semakin kita mengetahui kekayaan (kita). Orang yang haus dan menyibukkan diri habis-habisan untuk mengincar kekayaan, bukankah ia sejatinya miskin? Kaya-miskin bukanlah soal, cara kita memperlakukan keduanya itulah persoalaannya. Kaya dalam kemiskinan. Terang dalam kegelapan. Bukankah diam adalah ‘suara’ paling lantang? Kalau Anda tak percaya, bayangkan, pilih mana: lebih baik dimarahi atau bahkan ditampar Ibu Anda, daripada selama sepekan Anda tak ditegur sapa tanya sedikitpun olehnya. Ada suara-suara (kita bisa menyebutnya begitu atau spektrum energi-energi lainnya) dalam kebisuan, kesunyian, dan diam. Bahwa ada suara [dalam] kesunyian (sound of silence); dan diam adalah irama [itu sendiri] (silence is a rythm); dan lain-lain.

Kembali ke goa. Momentum goa. Betapa Gusti Allah telah mementaskan ‘teaterikal rububiyah’-Nya terhadap Para Kekasih-Nya itu di dalam goa! Pada momentum apa dan bagaimana pemuda-pemuda itu memasuki atau diperintahkan masuk ke dalam goa? Ilmu ruang dan waktu. Apa pesan yang dapat kita tadabburi dari ayat-ayat (qauliyah, dan juga kauniyyah [fi al-afaq wa fi anfusina]) tentang: al-Kahfi, Ashabul Kahfi, Raqim/Qithmir, Dzul Qarnain, Goa Hira’, Ruh al-Amin Jibril, Kanjeng Nabi Muhammad dan seterusnya? Tadabbur, bukan tafsir, sekali lagi. Adakah kita berpeluang sama untuk ‘diajari’ Allah di dalam ‘goa-goa’ kehidupan kita? Goa yang seperti apa; haruskah kita mencari, menemukan goa itu di sana di sini? Atau, atau dan atau… Ayat, surah al-Kahfi itu memang telah diwahyukan berabad-abad silam, tapi bukankah ia masih berlaku untuk kita saat ini, di sini?

 

Ahlan wa sahlanMari melingkar, di ‘goa’ JA! Dengan penuh kerendah-hatian kita memohon kepada Allah untuk senantiasa diajari meng-iqra’: agar, semakin tampak kekerdilan kita dan betapa semakin akbar Allah Swt.

 

MUKADIMAH : Suci Sang Primadogma

18 May 17
ja
No Comments

Mukadimah Mei

Suci Sang Primadogma

Dalam agama, keyakinan ataupun ideologi, dikenal prinsip-prinsip yang tidak perlu dipertanyakan, harus diterima begitu saja. Itulah dogma. Sering dogma ini menjadi fondasi konstruksi pemikiran religi atau ideologi. Sebegitu pentingnya sehingga dogma dikeramatkan, dianggap suci.

Padahal, dogma bukan kesucian itu sendiri. Jika kita pelajari sejarah, akan kita temukan bahwa dogma dilahirkan dari rumusan manusia yang menyimpulkan prinsip-prinsip itu dari informasi-informasi wahyu, sabda orang suci, atau pengamatan terhadap kehidupan. Artinya, sedikit-banyak ada unsur penafsiran dalam dogma. Namun, setelah menjadi kesepakatan otoritas agama, dan bisa jadi mendapat dukungan penguasa, dogma sering bersinonim dengan agama sendiri. Orang menyamakan dogma dengan agama dan merasa cukup beragama berdasarkan dogma. Maka kehidupan dan pemikiran keagamaan menjadi dogmatik. Dogma menjadi primadona. Primadogma yang disucikan.

Dogma sendiri bukan dosa. Barangkali, manusia memang membutuhkan dogma sebagai pijakan awal pencariannya, atau sebagai rambu-rambu petunjuk jalan, sehingga ia tidak perlu mengulang proses pencarian yang sudah dilalui orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, dogma bisa menjadi alat bantu. Tapi dogma bisa membelenggu ruang gerak pikiran manusia, atau mematikan gairah pencarian manusia itu sendiri. Dogma yang tidak boleh dipertanyakan amat mungkin berubah menjadi pembunuh kemampuan manusia untuk bertanya. Terlebih lagi jika dogma menjadi alat otoritas keagamaan atau politik untuk membela kepentingannya sendiri. Dalam kasus seperti ini, dogma bisa menjelma dosa.

Oleh karena itu, mari kita tengok kembali keberagamaan kita masing-masing. Mari kita temukan batasan dogma yang dibutuhkan hidup kita, seberapa prosentase antara dogma dan ruang gerak pencarian kita. Dengan demikian, kita tidak memprimakan dogma, tetapi bergerak mencari kesucian sejati.