Author Archives: ja

mukadimah : Tetring Ka Kanjeng Nabi

19 Dec , 2017,
ja
No Comments

Mukaddimah

Tetring Ka Kanjeng Nabi

Bismillahirrahmanirrahim

Lur aya kuota teu? Tetring atuh..!?

Dalam peradaban yang akses pertukaran informasinya menggunakan keghaiban teknologi modern; internet, download, upload, chatting, wifi, hotspot serta tetring merupkan istilah pasaran yang sering bersliweran. Penggunaan fasilitas internet ini tentu sangat penting bagi kita ya meskipun sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Karena adanya suatu kepentingan itulah maka bagi yang tidak mempunyai kuota atau yang sinyalnya naik-turun amblas, minta tetring adalah suatu “keharusan”. Tak peduli lagi dengan urusan gengsi, karena adanya “keperluan” yang wajib dilaksanakan, maka minta tetring adalah suatu kewajiban yang tiba-tiba muncul sebab adanya kewajiban yang lain, ya semisal untuk bales chat ibu ataupun pacar.

Tetring selalu sepaket dengan wifi, hotspot, dan akses ulang-alik data juga dengan sinyal, pemancar, frekuensi dll. Tapi apa sebenarnya tetring itu? Jika merujuk dari shahibul lughah yaitu bahasa Inggris, tetring/tethering (tether+ing) mempunyai arti tambatan-menambatkan, tapi karena terlalu puitis jika diucapkan dalam terjemahan bahasa Indonesa, kita kemudian menyebutnya dengan minta wifi.

Lalu apa hubungannya dengan kanjeng nabi? Wong kanjeng nabi tidak punya smartphone, kok kita minta tetring pada beliau?  Apa juga yang beliau tetringkan pada kita atau yang ingin kita tetringi dari beliau? Mengapa urusan tetring ini menjadi perlu? Apa ada keterkaitan dengan koneksi kita ke Gusti Alah? Apa sinyal kita terlalu lemah untuk menjangkau hal-hal ilahiah? Apa data/kuota kita terlalu limited dan harus menunggu jam siang jam malam, musibah-anugrah untuk sesekali dekat pada-Nya? Ataukah kita memang tidak pernah memiliki driver/software/firmware yang cukup memadai untuk akses data lebih tentang Allah, untuk mendownload kasih sayang-Nya ataupun sekedar searching apa yang dikehendaki Allah? Sehingga kita perlu tetring ka kanjeng nabi?

Jika memang tetring ini menjadi analogi yang saklek tentang bagaimana seharusnya kita berhubungan (menghubungkan diri) dengan Rasulullah sehingga mampu online dengan Allah, maka adakah juga password sebagaimana hotspot-hotspot komunitas umumnya? Atau justru tanpa pasword sehingga semua bisa tetring pada beliau asalkan punya kemauan? Atau malah kemauan itulah yang menjadi passwordnya?

Dalam analogi sederhana, kita adalah smartphone dengan spek rendah yang masih 3G, dan kanjeng nabi adalah smartphone dengan spek tinggi yang sudah mampu menjangkau sinyal 10G sedangkan Allah adalah sinyal itu sendiri yang memancar dalam berbagai taraf gelombang mulai dari yang terendah yang bisa kita akses sampai yang sinyal yang paling tinggi yang hanya smartphone tertentu yang bisa mengaksesnya. Kita minta tetring ke kanjeng nabi, untuk bisa ikut nebeng sinyal yang beliau peroleh. Di sini kedudukan kanjeng nabi adalah sebagai penyalur ulang sinyal yang tak bisa dijangkau orang pada umumnya, oleh karena itu beliau juga disebut Rasul (utusan).

Lho tapi rasul-rasul kan juga banyak? Bahkan adapula para wali.

Jika kita melihat kembali bagaimana kedudukan Rasulullah dihadapan Allah, serta Rasulullah diantara para nabi dan seluruh makhluk. Maka wajar jika kita minta tetringan kepada beliau. Rasulullah adalah khatamul anbiya’, sayyidil mursalin, kekasih Allah, yang dari nurnya menjelmalah seluruh alam semesta ini, yang Allah pun mengajak malaikat-malaikat-Nya serta orang-orang beriman untuk bershalawat kepadanya, yang bahkan kita, umat yang beliau cintai pun, menjadi lebih dicintai oleh Allah karena begitu cintanya Allah kepada beliau.

Rasulullah adalah ‘transmittor’ yang menghubungkan Allah dengan kita. Lewat beliau Allah mengajak kita ngobrol, berkenalan lebih intim dan saling cinta-mencintai. Misi kanjeng nabi pun tidak sembarangan, menyempurnakan akhlak, menebar rahmat bagi seluruh alam. Dan kita inilah yang sedang ditebarkan beliau ke berbagai pelosok dunia, ke berbagai bidang kehidupan yang harus kita bidangi agar menjadi rahmat. Jika terpaksa menggunakan alur berpikir linier, sejatinya kita harus menjadi khalifah Rasulullah dulu sebelum benar-benar menjadi khalifah Allah fil ‘ard.

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui kanjeng nabi, ini mungkin dapat dipahami bahwa Allah sedang mengajari kita tentang etika prosedural. Kalau kita tiba-tiba menghadap Allah sendirian dan mengaku sebagai umat kanjeng nabi sedang kita tak pernah membawa kanjeng nabi bersama kita kemana-mana apa ya Allah akan percaya?

Maka dari itu tetring kepada rasulullah, itu sama dengan gondelhan klambine kanjeng nabi, agar ketika kanjeng nabi menemui Allah, kita ikut kabawa, kanjeng nabi masuk surga kita ikut di belakangnya, kita nginthil ke kanjeng nabi kemana-mana, enak tho?

Nah selanjutnya cara untuk tetring ini bagaimana? Apakah sekarang ini kita sudah otomatis tetring kepada beliau karena kita adalah umatnya, ataukah kita juga perlu melakukan sesuatu?

***

 

Mukadimah : Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

21 Nov , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

(Milad 2 Tahun Jamparing Asih)

 

What’s a name, Apalah arti sebuah nama! Tetapi ada yang lain, bahwa nama adalah doa. Manakah yang lebih benar? Bukankah nama itu penting? Apakah nama itu identitas atau personalitas? Bentuk atau esensi? Dari dua ini poin ini saja, kita bisa ‘terpaksa atau memaksakan diri’ menghabiskan energi intelektualitas dan spiritualitas kita untuk mencari atau menemukan kebenaran tentang hakikat ‘nama’ itu. Yang jelas, terdapat, misalnya, gradasi antara benermu dhewe (kebenaran menurut dirimu sendiri), benere wong akeh (kebenaran menurut orang banyak), dan bener kang sejati (kebenaran sejati). Belum lagi, di ujung dialektika ijtihad, jihad dan mujahadah kita itu menghadirkan ‘segitiga cinta maiyah’ (Allah, Cahaya Terpuji (Nur Muhammad), dan kita/makhluq) atau tidak?

Lha! Kenapa kebenaran sejati harus dipersyarati dengan menghadirkan ‘segitiga cinta’ itu, dengan menemukan Allah di setiap apapun/siapapun/kapanpun/di manapun/kenapapun/bagaimanapun dan seterusnya? Atau, agar tak terus-terusan jumawa dan GR, kita sebaiknya bertanya: kita ini siapa! Memang betul atau yakin kita bisa menemukan Allah? Tidakkah sebaliknya, bahwa Dia yang mengadakan, menemukan atau menyentuh kita?

Sejatinya siapapun atau apapun itu bermaiyah. Apa atau siapa yang bisa terlepas dari ‘peran dan kinerja’ Tuhannya? Maiyah adalah kebersamaan dengan Allah! Siapa atau apa yang tidak bersama-Nya, sebenarnya? Segala sesuatu secara pasti seyogianya manunggal, nyawiji, ngahiji, men-tauhid dengan Pemilik atau Penciptanya. Term ‘apa’ disertakan tak lain dimaksudkan untuk mengakui keberadaan semesta. Sebab, selama ini, kita sadar hidup di semesta ini, tapi sering merasa bahwa kitalah satu-satunya makhluk penghuni bumi ini. Bahkan Pencipta dan Pemilik Sejati kita, pun kita lupakan eksistensinya! Ketika kita berpikir, merasakan, dan bertindak: bukankah semesta juga merekam, mencatat, dan meresponnya? Tidakkah air, udara, tanah, api, tetumbuhan, binatang, jin, dan malaikat punya hak yang sama untuk bermaiyah? Innallaha ma’ana, Allah bersama kita: tutur Kekasih-Nya yang paling kinasih, Muhammad Saw! Karena kita, dan seluruh ciptaan lainnya, adalah milik atau kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Adakah atau bisakah sesuatu [yang] tidak kembali kepada-Nya?

Rasa syukur yang mendalam, tak terhingga kepada Pemilik Sejati kita: betapa tidak, Ia menyifati diri-Nya dengan dua sifat yang seyogianya ‘menampar’ kita: “asy-Syakur” (maha narima’ake/narimakeun) dan “ash-Shabur”. Tak cukup malukah kita jika Ia saja begitu (terhadap kita)? Kepada manusia pilihan, Rasul Terkasih, khatamul anbiya’, Muhammad Saw: shalawat dan salam terus kita upayakan sekuatnya dalam rangka ‘gondelan klambine’ (muntang ka) Beliau.

Terima kasih, matur suwun sanget, hatur nuhun sagala rupina: Maulana Muhammad Ainun Nadjib, Syaikh Ahmad Fuad Effendy, dan Syaikh Muhammad Nursamad Kamba –yang telah bersedekah menggalikan ‘sumur’ untuk kami menimba ilmu (maiyah), agar senantiasa rindu ke Maha Sangkan Paran kami. Syukran katsiran ‘ala kulli hal, telah memperkenankan kami untuk menikmati ngeli, tapa kungkum, merenangi, mereguk; di tetes, di mata air, di aliran sungai, di lubuk, maiyah… hingga sejauh ini…

Bertepatan dengan milad, ambal warsa, milangkala Jamparing Asih yang ke-2, entah sontak tiba-tiba kami didorong untuk menggali, men-iqra’, men-tadabburi khazanah orang tua atau nenek moyang kita yang telah lama dilupakan. Jadilah tema majlisan kita bulan ini: Wasitaning Budhi Sonya Kanthi! Berangkat dari ketidakmampuan, ketidaktahuan, dan ketidakhebatan, dengan terus-menerus merindukan untuk diajari iqra’ oleh-Nya; justru kami memberanikan diri untuk mengangkatnya sebagai tema, pemantik diskusi, sharing, untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan ‘nyicil’ perjuangan, proses, kerja; nandur, poso, dan shadaqah. Seribu mil di depan tentu akan dimulai dengan satu langkah kaki, bukan?

Jangan-jangan, atau secara hampir pasti, kita banyak salah paham terhadap banyak hal, di dalam atau di luar diri kita. Tugas kita masing-masing untuk menziarahi itu semua, sendiri-sendiri atau bersama-sama! Pernahkah kita mencari tahu, kenapa bahasa Indonesia –Melayu Pasar asalnya– yang dipilih untuk dijadikan bahasa kita? Mengapa bahasa sampai dipilah menjadi bahasa daerah, nasional dan internasional? Sampai kapan bahasa Jawa, Sunda, Madura, Batak dan lain-lain akan kita sebut tradisional, tidak modern? Tak bolehkah kita mentadabburi kisah epik Musa-Khidlir yang diabadikan di dalam Alquran literer-Nya untuk mendialektikakan masa kini-masa depan-masa silam kita, misalnya? Atau, tidakkah mungkin bahwa masa silam adalah masa depan? Jika Alquran itu masa silam, untuk apa Allah menyuruh kita membaca, mentadabburinya? Bukankah yang kita lakukan, saat ini, sadar atau tidak, ialah memasadepankan masa silam!

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Candra Sengkala. Watak bilangan 2 0 1 7. Kata-kata yang termasuk dalam watak 2 adalah kata-kata yang memiliki arti dua atau sepasang. Kata-kata yang termasuk dalam watak 0 adalah kata-kata yang memiliki arti kosong, hilang, habis, langit, dan tidak tampak secara jasmaniah. Kata-kata yang termasuk dalam watak 1 yakni kata-kata yang memiliki arti satu, tunggal, berjumlah satu baik itu Dzat Tuhan, benda, manusia, binatang, dan makhluk hidup lain serta kejadian alam dan sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam watak 7 yaitu kata-kata yang memiliki arti tujuh atau dalam sifatnya mengandung unsur yang berjumlah 7. Pengertian Wasita adalah nasihat, petunjuk, pelajaran (watak bilangan 7). Budhi adalah pikiran, pemikiran (watak bilangan 1). Sementara Sonya itu sepi, pertapaan (watak bilangan 0). Dan Kanthi berarti dengan, kebersamaan, teman (watak bilangan 2).

Jamparing Asih, 2 tahun, di rentang 2017. Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Bersama dalam kesunyian untuk menata budi, pikiran, agar menjadi wasita: petunjuk, pelita, obor yang menerangi. Ah, semoga…

Mari bergembira, bersama-sama: melakukan Maiyah!!

 

MUKADIMAH : WILAYAH ABA-ABA ABU-ABU

23 Oct , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Wilayah Aba-aba Abu-abu

 

 

Sebaiknya jangan meremehkan setiap kata. Aba-aba! Abu-abu, wilayah. Mungkin pula kata-kata lainnya, kita anggap biasa saja, sebagaimana –atau sudah begitu adanya: dan pada akhirnya ia atau mereka luput dari dialektika berpikir kita (yang seyogianya berkesadaran Ilahi). Tak jarang, dalam hidup kita di dunia [yang] ini, banyak kata yang dipergunakan tidak dengan tanggung jawab syarat-rukun yang seharusnya. Termasuk kata-kata yang diinformasikan Tuhan langsung melalui Kitab Suci literer-Nya, banyak yang disembelih, dikebiri, dipersempit sebagai kotak, lingkaran, label, branding, identitas kelompok-kelompok umat tertentu dan sebagainya. Bukankah berkesadaran Ilahi itulah yang diinginkan Tuhan melalui siklus innalillahi wa inna ilaihi raji’un? Bukankah pula kita diadakan, diselenggarakan, diperjalankan sebagai khalifah dengan manajemen fungsional rahmatan lil ‘alamin?

Kita hidup di ‘rimba raya’ zaman peradaban modernisme, kapitalisme (global), dan hedonisme. Semakin modern manusia, ia lantas menertawakan dan mengutuk habis ‘hukum rimba’, sembari menciptakan aturan-aturan, patokan-patokan, lalu lintas hukum yang tak kalah rimbanya. Macan, harimau, singa dan predator-predator lainnya disebut ‘buas’, ‘pemangsa’, hanya oleh manusia. Sementara kata ‘buas’ tidak manusia pergunakan untuk menyebut terhadap sesama mereka yang mengeruk hasil bumi secara serakah, merusak hutan, dan lain-lain –bahkan para pemangsa harta, nyawa dan martabat kemanusiaan mereka sendiri.

Tidakkah seekor macan itu muslim: patuh, taat, setia terhadap kosmologi peran yang diberikan Allah? Ia istiqamah, konsisten untuk memakan ‘mangsa’nya, dan tak sepanjang waktu ia melampiaskan syahwatnya pada makanan. Bukankah ia mengenal ‘puasa’, jeda, me-ngerem alias tak melulu nge-ngas? Pahamlah betul ia mengenai walayah atau wilayah peran dari Pencipta-Nya.

Bukankah macan, hutan rimba dan semua yang ada di cakrawala ini adalah ‘aba-aba’? Aba-aba, perintah, peringatan, ayat, petunjuk, perumpamaan (amstal) dan seterusnya! Allah tak segan-segan, misalnya, membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil darinya (QS. al-Baqarah: 26). Bukankah ‘amanat’ membaca amtsal, aba-aba dan seterusnya itu merupakan tugas dan kewajiban kita? Bacalah, tentu saja harus bismi Rabbika.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana membaca, men-tadabburi segala aba-aba Tuhan itu tatkala sudah berada di tangan para khalifah-Nya: dalam hal ini manusia? Menjadi gaduh, riuh-rendahlah nyanyian gerak sejarah berkeumatan kita. Bahwa wilayah aba-aba itu, disakralkan, di-tabu-kan dengan klaim: “Tak sembarang orang boleh memasukinya!” Sembarang orangkah kita, atau kita orang sembarangan? Siapa yang tak sembarang orang? Memang kita siapa di mata-Nya? Di antara awam seperti kita, siapa yang tak nyinyir, misal, ketika mendengar bahwa syarat-syarat untuk menafsirkan Al-Quran haruslah menguasai berbelas-belas fann, disiplin keilmuan; mulai dari bahasa Arab, asbab al-nuzul, manthiq, balaghah  dan lain-lain. Haruskah ketika kita ‘membaca’, iqra’ ayat Al-Quran secara otomatis menjadi mufassir? Mana yang lebih utama, mempelajari Al-Quran atau mempelajari tafsir-tafsir Al-Quran? Ah, kalau ada pilihan ketiga, kita sebaiknya memilih: belajar dari Al-Quran. Bukankah yang terakhir disebut lebih soft, halus, lembut untuk tidak merasa arogan mampu mempelajarinya. Sebab, konon, mempelajari itu teoritis; sedang belajar itu empiris.

Adakah itu grey area, wilayah abu-abu? Adakah itu aba-aba Tuhan yang di-abu-abu-kan? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita meletakkan kesadaran. Dan itu baru setetes, di tengah hamparan samudera abu-abu tak menentu milik-Nya. Itu baru segenggam tanah, di antero wilayah bumi-Nya yang ‘tak bersertifikat’ laiknya tanah-tanah yang kita klaim sebagai milik kita dengan sertifikat dan akta tanah. Berapa aba-aba yang diabu-abukan. Berapa iya yang ditidakkan, berapa tidak yang diiyakan!

Adakah abu-abu itu negatif, membingungkan, absurd, ambigu, ataukah transisional bak seragam favorit sekolah orang Indonesia sewaktu muda: putih abu-abu alias SMA/U? Adakah terdapat titik koordinat tertentu yang memang sengaja dibikin abu-abu, klawu, untuk mempertahankan walayah sirr-nya, terjaga misteri atau rahasianya. Biar tak hitam-putih warna kita, linier cara memandang dan cara laku kita dalam mensikapi segala sesuatu. Ah, entahlah, kan abu-abu!

 

Hayu, ngopi sareng didieu: aya kopi racikan para Jon Pakir Jamparing Asih! Ihdinasshiraathal mustaqiim…

 

 

 

Reportase Manusia Goa

4 Oct , 2017,
ja
No Comments

MANUSIA GOA

(Edisi Agustus)

Tema “Manusia Goa”. Ada apa gerangan dengan goa? Di tengah gempuran kemewahan artifisial zaman serba digital ini, kok masih-masihnya seseorang atau sekelompok berani dengan ‘lancang’ menceburkan diri ke pembahasan yang terkesan kolot ini? Lagi-lagi kebingungan merasuki para jamaah JA—yang pada wengi Edisi Agustus ini dihamparkan seleluasa mungkin. Terutama bagi yang belum membaca mukaddimah.

Merambah pra-diskusi, diisilah dengan mini-halaqah atau lingkaran kecil yang mewadahi perbincangan para tamu baru istimewa JA yang membela-belakan diri agar bisa hadir meski mengorbankan tontonan live Tim-Nas Vs Malaysia yang berakhir terserah apa kata ijtihad anda untuk menyebutnya. Para tamu tersebut sangatlah menyumbang beraneka warna anyar dalam maiyahan lantaran berasal dari beragam corak background; teknisi, seni, musisi, pedagang, aktivis, sipil, orang biasa hingga orang-orangan pun ada dan yang selainnya pula. Kesemuanya menyatu tanpa merasa dibelenggu.

Lanjutlah ke iftitah diskusi, ditemani Mas Aam meng-iqra’ wirid ta’ziz wa at-tadzlil secara berjamaah. Kemudian Al-Fatihah. Diaromai segitiga cinta. Allah-Rasulullah-Hamba. Masuklah kita ke ranah ‘pergunjingan’ tentang “manusia goa”.

Om Teguh—yang usai digoda moderator untuk men-jlentrehkan ketersembunyian makna simbolis poster—mencoba menawarkan suguhan pancingan. Secara pribadi saja, terasa oleh saya, ada keterjebakan pikiran dalam memandang poster JA bertajuk “Manusia Goa” yang tidak terlihat ada manusia dan goa sama sekali. Seekor anjing srigala lah yang justru exist.

Pada aslinya, Om Teguh makin memperdalam penjelasan, di poster itu terdapat goa namun memang sengaja dibikin tidak jelas. Dalam terminologi bidang design dinamakan “double-expose”. Ditonjolkannya sosok anjing srigala itu sebagai simbol anjing “Kitmir” yang menjaga mulut goa dalam kisah Ashabul Kahfi.

Perbincangan mulai mencapai titik panas awal. Setrum-setrum pemantik di masing-masing ubun-ubun berkelindan anggun. Mas Aam ikut meraba bereaksi seolah tertegun. Bahwa kita, yang konon sekarang beralih nama lagi “generasi millenial” ini, kenapa musti mau-maunya menceburkan diri membahas goa—yang padahal terkesan berdebu penuh sarang laba-laba.

Lantas apakah goa? Sampai-sampai term itu, goda Mas Aam dalam mukaddimah yang disebutnya, telah diabadikan dalam salah satu surah Al-Qur’an berisikan rekam jejak Ashabul Kahfi yang usai dimatisurikan selama lebih kurang 309 tahun untuk kemudian digugah kembali dan disuruh-Nya agar tarung-pengetahuan ke-silaman dengan pasar di zaman yang terlampau depan. Sewaktu bangun menatap kondisi sendiri yang tetiba berkuku panjang, rambut makin berkembang, mata sayu memandang, tentu akan penuh kebingungan. Maka tidak mencengangkan jika mata-uang pikiran, mata-uang perenungan, mata-uang pengalaman kita ini tidak laku di pasaran (lautan mainstream) ini. Sanggupkah kita mentadabburi cuplikan fenomena tersebut?

Goa, tak bisakah bahasan tentangnya melampaui sekat-sekat identifikasi akademis-empiris, yang berarti hanya seonggok tanah berlubang dan berisikan kegelapan penuh kelelawar dan dampak penggaungan? Jika bisa, dari sisi perspektif apa saja manusia mampu menjamah kesejatiannya? Betapa wajah goa bila diteropong dari mata saintifik-religius? Kumaha ronanya jika ditilik dari sedotan-pandang tarekat antro-psikologis dunia? Eta terangkanlah seperti apa perangainya seumpama diintip dari bilik keruang-waktuan alam semesta?

Mata-mata menagih tanya. Kepala-kepala mengubrak-abrik rak akalnya. Menelusuri dokumen-dokumen keluasan dimensi, aspek, spektrum, approach, dan sisi-sudut lainnya tentang goa. Jamaah tengah berkelana dalam goa personalnya. Dalam kesunyian jeda dan hening yang seketika, Jamparing Asih serasa begitu gaduh tanpa suara.

Berupa-rupa frekuensi—walau tak kelihatan—ke sana kemari berlompatan, dan untuk nanti, akan saling menemukan titik-pijak pertemuan-pertemuan. Yang sama sekali tidak terduga logika-statis pikiran.

Lompatan pertama yang memecah kebekuan dalam sibuknya akal pikiran, dilakukan Kang Iman selaku moderator. Mempersilahkan Arif Mbah dari Telkom yang memaparkan temuan sekaligus pertanyaan pikirannya, bahwa dalam bahasa lampau ada “topo ing rame, sepi ing gawe”. Bertapa dalam keramaian, sunyi dalam pekerjaan. Jika memang ada goa pada masing-masing diri kita, bagaimana mencari atau metoda menemukannya?

Soal bertapa, Mas Aam menghidangkan contoh Nabi Muhammad—yang pula sering bertapa di goa dan bahkan menerima wahyu di dalamnya. Apakah memang goa ini wasilah dari perenungan?

Tapi apakah Allah bersembunyi ke dalam goa sehingga kita perlu untuk masuk ke sana? Sahutan Kang Imam memperindah penasaran dan memperparah kerinduan. Lantas manusia, sanggah Kang Satrio—keluarga baru JA, semua secara masing-masing akan menemukan titik di mana harus sendiri. Setelah usai dari titik atau ruang kesendirian itu, maka baru menyesuaikan diri (readaptasi sekaligus reinforcement) dengan lingkungan sekitar dan berbekal kesadaran yang juga baru sama sekali.

Gelombang diskusi pun diputar-silamkan Mas Aam, perihal kenapa musti goa yang dijudulkan bahkan disurahkan. Mengacu pada mukaddimah kembali; tentang dalam kesempitan—yang sering didapat dalam goa—justru tersembunyi suatu kelapangan, dalam keheningan ada kegaduhan, miskin dalam kekayaan, begitupun sebaliknya dan malah ada yang mengatakan silence is rhythm itself.

Ada lagi lainnya, masih ada suara dalam sunyi. There are still some noises, altough on the silence. Bahkan terkadang secara dialektis, diam adalah suara paling lantang. Semisal; mending dihajar habis-habisan oleh Ibu dengan rotan, ketimbang sang Ibu mendiamkannya barang dua hari saja. Sebab orang akan lebih sakit hati parah ketika didiamkan ber-ibu bahasa.

Kemudian lompatan selanjutnya, melihat wajah-wajah yang masih menanti penjelasan simbolik poster secara lebih rinci, Om Teguh berusaha memberikan dauroh setulusnya. Karena ada anjing yang merupakan representasi dari Kitmir sang penjaga mulut goa, kita lantas menjadi malas, enggan, atau takut serta paranoid untuk memasukinya. Lebih-lebih menelusurinya? Padahal di dalamnya terdapat banyak sekali tokoh-tokoh yang difigurkan namun tetap bersembunyi. “Mungkin” tersebab kecenderungan orang yang ada di goa itu sudah tidak bisa menghadapi dunia luar. Atau barangkali saja para “Manusia Goa” itu bisa, namun tetap membawa nilai-nilai pedoman mereka yang sudah tidak laku di pasaran dunia luar goa sehingga akan terbitlah rasa-terasing (sense of alien) di batin dan jiwa mereka.

Semua kita memiliki “Goa Garba” dalam diri masing-masing, terus Om Teguh. Tatkala mengamati sesuatu di luar yang tidak cocok dengan kita, sontak kita reflect membatin dalam goa pribadi. Contoh jauhnya, kenapa kok ya tega-teganya pemerintah—yang diamanahi oleh rakyat yang memilihnya—justru memasang tulisan “hanya untuk masyarakat miskin” pada tabung elpigi untuk rakyatnya sendiri? Ironis sekali rakyat yang membayarnya itu, martabat dan harga dirinya telah dijatuhkan sendiri oleh sosok yang dipilihnya untuk mengemban amanah. Menjatuhkan harga diri yang membayarnya. Memerosotkan martabat rakyat, yang merupakan juragannya.

Batin kita—yang tidak cocok bahkan tersiksa oleh hal demikian—seketika akan menarik diri untuk lalu memasuki goa pribadi masing-masing. Maka marilah kita bangun dari tidur di goa ini, ajak Om Teguh, lantas kita ukur nilai-nilai di luar kita; mana yang musti diikuti dan mana yang kudu diubah-perbaiki? Dilanjut dengan menemukan presisi titik mizan di mana kita tengah berdiri dan kemudian memposisikan kedirian sesuai peranan.

Para Peranakan Goa & Terma Pamali

Perihal ini, “peranakan goa” hanyalah sebuah pemadatan dari butir-butir variasi makna tentang goa yang diketemukan. Tercakup pentadabburan dari para tamu JA, goa barangkali saja bisa disepertikan atau dimisalkan “rahim ibu”. Ruang dimana seseorang bisa menjumpai sekaligus mencapai titik rasa paling aman, nyaman, dan akan siap untuk bertumbuh-kembang.

Hidup dalam kondisi ‘ekologi’ yang tidak kenapa-kenapa. Nihil dari situasi genting dan kebak benturan konflik. Meski nanti kepenuhan rasa aman itu akan tetap berlanjut dengan resiko kebahayaan tersendiri. Dan sebagai anak yang baru keluar dari “rahim” kehidupan, akibat alaminya tentu berefek ke rasa keheranan pada cemarutnya dunia. Kekejaman, suram, bunuhan, gelut, polusi dan lain seterusnya.

Sementara Venol, Jamaah baru JA basic seni, memberikan manuver baru. Apakah betul orang yang ke goa itu untuk mencari sunyi (yang padahal ada ramai dalam sepi), atau justru sekadar bersembunyi? Hanya pelarian atau eskapisme kah? Venol coba ajak liyan menggali.

Sedang kalau dalam musik, jeda ialah musik itu sendiri. Venol pun membeberkan cerita tentang anomali konser seorang Komposer luar, John Cage, yang menuai beragam kontroversi. Karya itu, ternyata di dalamnya semua pemain musik hanya terdiam selama hamper 5 menit. Tentu aneh. Meski ada perspektif lain dari pengamat bahwa itu bukan lah musik, melainkan karya seni yang mengilhami musik. Sebab ia terinspirasi oleh lukisan putih polos sewaktu pameran seni. Ketika ditanyakan kenapa hanya putih, atau cuma jual kanvas saja? Pelukis menjawab kepada John Cage bahwa lukisannya ialah apapun yang terlihat oleh pengamat. Jika muncul wajah kekasih, maka itulah isi lukisannya. Dari situlah John Cage meramu karya berjudul 4”33’ itu.

Atas hal itu, Mas Aam menambah diikuti Om Teguh. Kita akhirnya sadar. Bahwa selama ini, kita semua diracuni secara sehalus mungkin oleh sistem konsensus budaya mainstream bahwa yang musik itu gitu, cantik ya demikian itu, lukisan indah seni ya begini. Ini racunan. Anomali lukisan dan musik tadi menggelarkan satu dari sekian contoh cinta yang leluasa dan rahmatan lil-‘alamin. Dalam keheningan masih ada suara. Silakan tanyakan pada yang tuna-rungu, nyatanya masih ada desis atau dengung yang mereka terima.

Kembali ke goa; dalam kebudayaan sunda ada yang serupa. Sebutannya “goah”. Tempat menyimpan hasil panen, terdapat sesaji dan tidak sembarang orang boleh memasukinya. Sering kali orangtua dulu di kampong memarahi anak dan remaja yang lancang menyusup ke goah dengan istilah “heh, awas… pamali”.

Om Teguh lantas mengatakan kalau orang kampong dahulu itu musti taat aturan adat dan manut kepada sesepuh. Pamali menjadi suatu tata-hukum nilai yang kuat dan kokoh dengan tanpa disertai bantah-bantahan. Karena ada yang dituakan—tidak seperti era kekinian. Terma “pamali”, lanjutnya, sangat mungkin berasal dari “Pak Wali”. Awas, jangan masuk…pamali (nanti dimarahin pak wali).

Ini mungkin memang sebuah sistem kolot tapi sekaligus canggih. Yangmana perlu ada hutan larangan yang kita tidak boleh menjamahnya. Tahu batasan. Babi ya harus dan butuh berkembang-biak di sana. Konservasi juga. Sama halnya dengan di suku-suku ‘primitif’ ada semacam aturan adat tentang mengatur air. Hal demikian bukan sesuatu yang remeh. Lebih dari itu, termasuk pula di dalamnya kontrol-sosial. Kita harus turut menanam, berkebun dan menjadwal panen.

Sontak Mas Aam melihat perspektif lain, primitif ialah originalitas. Nabi mendapat gelar Al-Amin itu karena originalitasnya sebagai manusia paripurna. Nah, mungkin sudah waktunya, di tengah gemparnya kemajuan pesat zaman dan era popolontong suka ndangak-an; mending secara berjamaah mari memprimitifkan diri dengan makna di goa benak kita sendiri-sendiri. [08-2017/M.NaufalW.]

MUKADIMAH : SHUT DOWN

27 Sep , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah

Shut Down

Shut Down, matikan! Pareuman! Apa yang terbayang oleh kita ketika mendengar kata tersebut? Sangat mungkin dan hampir pasti kebanyakan kita, karena kehidupan keseharian kita selama beberapa dekade terakhir ini banyak ditemani oleh benda-benda elektronik, akan menyebut atau membayangkan radio, tape recorder, televisi, komputer, laptop, handphone, gadget wa akhawatuhum/dan lain-lain.

Tidak serta merta, di sini, akan diuraikan secara rinci perihal seluk-beluk kebahasaan shut down berdasarkan asal-usul ruang dan waktu lahirnya term itu. Sebab, kita bukan pemilik asli bahasa ‘coro inggris’ itu, ditambah –dan ini yang utama– ketidakmampuan kita secara akademis laiknya sarjana bahasa (atau sastra). Yang bisa kita lakukan mungkin mereka-reka kritisi kita terhadapnya. Misal, shut as transitive verb means menutup, tetapi ketika diselipkan kata down menjadi bermakna ‘mematikan’. Sementara jika dipasangkan dengan up (Shut Up) mengandung arti ‘tutup mulut(mu): diamlah’! Akan tetapi nanti dulu, otak-atik kecil ini bisa kita selenggarakan sendiri-sendiri, atau bersama-sama.

Term shut down diambil untuk mewakili nuansa kebahasaan yang semakna dengannya. Tanpa bermaksud menafikan bahasa-bahasa lainnya, shut down dipilih untuk memudahkan komunikasi –di era millenial ini. Toh, bahasa dan para penuturnya tak mungkin bisa menghindar dari ‘cara kerja’ Tuhan.

Yang menarik untuk ditadabburi adalah mengapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa dimatikan? Dan dalam kondisi apa dimatikan? Kalau urusannya benda-benda elektrik itu harus dimatikan mungkin untuk menghindari error, hang, korslet dan seterusnya. Tapi materi-materi itu adalah hasil rasa cipta dan karya manusia! Bagaimana dengan benda atau materi lainnya semisal tumbuhan, hewan, angin, udara, air dan sebagainya? Bahkan manusia sendiri yang sejatinya ‘karya atau design’ Tuhan! Di luar Sunnatullah-Nya bahwa mereka harus berhenti, mati, layu dan lain-lain, berhakkah manusia melakukan tindakan ‘mematikan’ itu? Sebab ada penebangan pohon, penyembelihan hewan, teknologi penyulingan air, pengendalian udara atau iklim, perang antar negara dan seterusnya. Tidakkah itu persoalan hak dan kewajiban! Di manakah titik dan koordinat mizan manusia dalam walayah semacam itu?

Adakah manusia punya aktivasi daya menghidupkan atau mematikan? Tidakkah itu berhubungan dengan Sulthan Ilahiah al-muhyi wa al-mumit? Jika iya bagaimana, pun tidak juga bagaimana! Kalau hidup dan mati mungkin tak dipersoalkan oleh kita, yang memang sedang hidup dan akan mati. Tetapi sejatinya apakah itu hidup; what is dead? Tak banyak kita mendayagunakan akal kita untuk bermesraan dengan Juragan Agung kita untuk diajari meng-iqra’-nya. Bukankah kita lebih asyik menyibukkan diri secara habis-habisan untuk memacu potensi kita untuk menunjang karir kesejarahan hidup di dunia ini. Bagaimana jika hidup adalah mati, dan sebaliknya?

Kenapa kematian begitu mencemaskan atau menakutkan? Sampai-sampai ada sejumlah orang yang rela membayar mahal untuk menghindarkan diri dari kematian, misal, melalui ideologi pembangunan yang berwajah penindasan dan perang. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan. Orang mengejar-mengejar dunia; tapi tak henti-henti mengeluh tentangnya! Jangan-jangan kehidupan yang kita helat sampai detik ini sebenarnya adalah pesta kematian.

Urusan menebang pohon, mencari ikan di sungai, menyembelih binatang, sebagai contoh, bukanlah persoalan yang remeh temeh. Leluhur kita memiliki kearifan hidup yang luhur untuk mengkhalifahi sesuatu. Segala sesuatu ada caranya. Desa mawa cara, negara mawa tata. Silahkan gali khazanah ‘sesepuh dunia’ asli kita yang hari ini dikepung oleh superioritas dua lainnya. Buktinya, ketika kita bersekolah atau ngampus, kita ‘mendadak Yunani/Eropa’; sementara kita ber-Islam, kita latah menjadi ‘Arab’. Kita tidak lantas anti Arab dan Barat. Ada sesuatu yang memang harus Arab, perlu Barat dan musti Nusantara. Masih gengsikah kita untuk mau men-tadabburi filsafat radikal Mbah-mbah kita di Merapi sana: Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat!

Atau, di tengah arus globalisasi yang silang sengkarut mengepung kita melalui teknologi IT nubuwwah informasi, pengetahuan, ilmu dan seterusnya yang tak jelas ini, kita perlu untuk mematikan diri atau minta dimatikan oleh-Nya? Bak Ashabul Kahfi yang dimatikan/ditidurkan di Goa selama 309 tahun. Online kita di seluler, jangan-jangan meng-offline-kan kita di walayah lain. Betapa tak lelahkah kita mencari diri kita selalu di luar? Tanpa pernah sesekali menziarahi diri kita di dalam. Atau agar tak overlude, seperti perangkat-perangkat lunak atau keras IT itu, kita harus mematikan diri kita untuk lahir kembali, hidup lagi. Bukankah ‘menghidupkan yang mati’ (yuhhyillahu al-mauta, tsumma ahyahum, tsumma yumitukum, tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy¸dan sebagainya) dihamparkan Allah sebagai aktivasi shifat dan af’al-Nya di dalam qur’an literer-Nya? Belum lagi yang fi al-afaq wa fi anfusikum!

Ah, kalau itu terlalu seram atau menyeramkan, ingat saja seorang Madura ketika ditegur temannya: ‘Sampeyan ngerokok terus, nggak takut mati?’. Dengan santainya ia menjawab: “Ndak lah, kan saya bawa korek api”.

Diantos kasumpinganana, Ngopi Bareng di Majelisan Jamparing Asih!

***

Reportase : kakaren zaman

28 Aug , 2017,
ja
No Comments

 KAKAREN ZAMAN

(Jamparing Asih Edisi Juli)

Tema kali ini unik. Sebab berawal dari kebingungan para perumus tema memikirkan bagaimana pada bulan Juli yang Syawalnya sudah mau habis ini sementara masih ada kerinduan tentang bahasan mengenai puasa ramadhan, hari raya, dan suasana halal-bihalal. Namun terkesan terlalu telat. Akhirnya setelah pusing sejenak, tercetuslah dua kata: Kakaren Zaman. Tentang sisa-sisa.

Mas Aam selaku pembuka diskusi, mengawali pembicaraan dengan bacaan al-fatihah bersama, lantas melanjutkan bahwa pada malam itu kami semua akan berusaha mengupas mengenai sisa-sisa. Apa tafsirmu tentang sisa-sisa? Begitu ungkapnya dalam mukaddimah.

Kata kakaren diusulkan oleh Om Teguh—yang disepuhkan di JA sekaligus beliaulah designer poster Maiyah JA—karena pada kakaren yang merupakan term dari bahasa Sunda untuk sisa-sisa makanan pada Hari Raya ini cukup representatif dalam mewakili kondisi dan perasaan kompleks-universal sebagaimana yang ingin dibedah secara berjamaah. Bahkan ditarik-hubungkan ke skala yang lebih luas dari penggunaan kata kakaren itu sendiri.

Berangkat dari sisa makanan di musim Lebaran yang telah lewat, Om Teguh menangkap dan menunjukkan keterkaitan kakaren dengan puasa, syawal dan bahkan zaman—sebagaimana tema lengkapnya. Mata rantai atau simpulnya pada dasarnya yaitu sederhana: sisa. Kami para jamaah maiyah pun merupakan kakaren dalam konteks waktu (minggu ke-4 setiap bulan) dan tema pun juga kakaren. Sementara jika dikaitkan dengan bulan puasa ialah bagaimana kita menghayati dan menelusuri apa saja kakaren atau sisa-sisa dari suasana Ramadhan berikut pula Idul-fitrinya.

Apakah kita masih berjuang senantiasa mengendalikan dan berprihatin-ria sebagai bentuk hasil dari gemblengan selama satu bulan itu ataukah kita kembali ke zona-pelampiasan yang serba membolehkan—permissive? Maka dari sinilah pancingan Om Teguh mulai menyulut beragam reaksi kerja pikir setiap jamaah. Sebelum yang lainnya menanggapi, Mas Aam masuk menyuguhkan pendapatnya bahwa sejatinya yang dapat ditangkap dari kakaren yang dihubungkan zaman ini secara nilainya ialah soal bagaimana sisa-sisa secara luas dan dalam itu kita olah, daur dan dayagunakan untuk menjadi apa. Sesuatu yang lebih bermanfaat kah atau justru menjadi sampah.

Cak Nun & Kiai Kanjeng (CNKK) sering menyebut diri sebagai “keranjang sampah” bagi masyarakat. Tempat menampung bermacam-macam keluh-kesah, kegelisahan, kerisauan, kehausan akan ilmu dari masyarakat. Tema JA kali ini tampak saling terhubung dengan tanpa disengaja.

Lantas ada mahasiswa UIN Bandung yang ikut Jamparingan edisi Juli ini turut serta berpendapat setelahnya mengenai apa yang dia alami. Bahwa kata kakaren yang berasal dari bahasa Sunda itu sendiri masih jarang diturunkan atau diwariskan kepada generasi baru sehingga menimbulkan para pemuda sekarang dan nanti semakin buram atau bahkan tidak mengerti kosa-kata daerah semacam itu. Mahasiswa tersebut yang asli keturunan berdarah Sunda mencoba meneliti apa yang dialaminya sendiri, sebab ia baru mengerti kata kakaren yaitu semenjak mengikuti Jamparingan ini. Maka yang disayangkan olehnya ialah makin punahnya penggunaan kosa-kata daerah asli oleh kebudayaan urban (perkotaan) yang mengakibatkan pada ketidaktahuan generasi baru terhadap kosa-kata otentik mereka sendiri.

Kemudian, seusai mendiskusikan perkara etimologi dan terminologi kakaren dari berbagai sumber pikiran, pembahasan berbelok untuk menengok sedikit tentang pemenggalan kata dan kalimat yang acapkali terjadi atau malah disukai generasi zaman kini. Semisal yang sering kita dengar, “umatnya Nabi Luth”. Ketika mendengarnya, asosiasi bayangan dari hampir semua kita ini tentu sontak berpikir tentang “kaum sodom”. Padahal tidak semua umatnya Nabi Luth itu termasuk kaum sodom, demikian sanggah Mas Aam.

Generalisasi yang carut-marut, silang-sengkarut dan kaprah ini dapat menimbulkan kesalahan sikap yang berefek pada hidup kita secara fatal. Dan ini juga, setahu hemat saya, pernah dibedah dalam Majalah Sabana mengenai kacaunya pemahaman kita akan konotasi dan denotasi oleh Pak-Dhe Iman Budhi Santosa.

Sementara kalau kembali ke topik edisi Juli ini, banyak bermunculan dan berseliweran cabang ide, ranting gagasan, dan dahan wacana yang demikian beragam tertumbuhkan hanya dari satu pohon kata kakaren belaka. Para jamaah Jamparing Asih tidak segan-segan memaparkan keterbesitan ide di pikiran mereka masing-masing untuk dibagi-suguhkan kepada jamaah yang lain dengan tanpa memaksa mereka agar mengonsumsinya.

Ada keterus-terangan yang berpendapat, kakaren itu kan sisa. Berarti sisa itu sudah tentu saja suatu akibat dari sebab tertentu. Maka seseorang boleh bertanya: apakah kakaren ini merupakan produk dari sikap kemubadziran yang dilakukan oleh sesuatu, seseorang, atau suasana-kondisi atau apa? Ambil contoh sederhana istilah “sampah masyarakat”. Jika ditarik ke pembahasan dimensi sosio-kultural, pasti dari istilah itu kita dapat meyakini bahwa tentu ada yang memproduksi sesuatu yang dianggap sampah tadi. Lantas siapa? Masyarakat kah? Negarakah? Atau apa? Hal ini sangat perlu untuk diteliti agar sanggup mempertajam presisi dan akurasi kita dalam menilai segala sesuatu semampu kita dengan mata-pandang yang seluas mungkin.

Sungguh masih teramat melimpah temuan-temuan—yang dalam dunia mainstream dianggap ‘tak berguna’—pada maiyahan JA kali ini. Namun, sudah tentu hanya lantaran kebelum-mampuan penulis lah yang menjadikan semua hasil dan temuan pada diskusi tersebut tidak tertuangkan dalam reportase secara sempurna lengkap dan detail.

 

Kakaren Zaman, Sains-Teknologi dan Al-Qur’an

Usai mencapai pertengahan diskusi, Om Teguh mencoba memaparkan sedikit bocoran tentang makna simbolis dari poster edisi Kakaren Zaman. Terdapat sesosok manusia (boleh juga: makhluq) yang kepalanya terbuat atau memang berbentuk toples khas jajanan Hari Raya. Tidak hanya itu. Ada pula satu buah toples lain yang tengah dipangku oleh sosok manusia dalam poster tersebut. Ringkasnya, tentang kepala toples itu bermakna apa bagi anda dalam radius penafsiran seluas mungkin, pada intinya yaitu pertanyaan ini: apakah apa yang ada di kepala kita, akal kita, itu sudah sesuai dengan yang ada di pangkuan kita? Perlu untuk diolah-renungkan masing-masing diri jamaah sebagai bahan atau daftar pencarian.

Lantas setelahnya, diisilah diskusi malam itu dengan selingan asyik-masyuk berupa musik oleh Gitaris bernama Kang Shofi. Dikeluarkannya selembar kertas dan disampaikan kepada Mas Aam. Maksudnya ialah mengajak agar bersedia menjadi vokalis lagu kesukaannya: Ya Ampun karya Mbah Nun. “Puisisasi Musik”, demikian kata pembukaan dari Kang Shofi dan berlanjut dengan duet seru mereka berdua.

Maka pasca bermusik-ria, disambunglah kembali jalan diskusi. Banyak sirat wajah yang tidak sabar menunggu bagaimana jika kakaren ini dikaitkan dengan zaman. Namun sebelum ada yang ingin menarik garis-hubung itu, Mas Tyas—Guru Silat sekaligus seorang penulis di Mizan—berterus terang mengenai pikirannya kalau kakaren itu musti dibedakan dan menurutnya ada 2 jenis kakaren secara garis besar. Pertama, ialah sisa yang masih bagus, baik, dan masih berguna. Sedangkan kedua, yaitu sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi atau sampah.

Penjelasan itu memantik aneka respon dari jamaah, termasuk yang saya ingat yaitu Kang Shofi. Ia mengajukan respon dalam kemasan ilustrasi di kampung-kampung: “Nak, itu sisanya dihabiskan. Biar berkah.” Nah, kenapa seakan erat kaitannya antara sisa dengan berkah? Agaknya perlu untuk ditelusuri. Disamping kepenasaranan mengenai sisa dengan berkah, ada yang mencoba mengurai contoh-contoh lain yang saya sebut itu: relativitas sisa. Bahwa sisa tidak hanya sekadar bersifat subjektif saja melainkan dapat pula mengandung suatu tolok ukur yang relatif berbeda. Sebutlah, umpamanya, “apa respon kita ketika diberi suatu sisa, sisa ayam goring misalkan, namun oleh sang kekasih?

Dari perumpamaan berupa kalimat tanya di atas, bisa kita lihat ternyata kakaren masih juga terikat oleh relativitas. Pada mulanya orang yang hendak menyuguhkan kakaren (tuan rumah) kepada tamu tentu terbesit secara alamiah rasa sungkan kepada tamu lantaran hanya mampu menyediakan ‘sisa’. Sedangkan, anehnya, tidak jarang ada tamu yang menanyakan, Wa, mana atuh kakaren teh? Apakah itu suatu bentuk gejala kerinduan tertentu pada diri sang tamu? Begitupun dengan permisalan kekasih yang memberikan sisa. Sudah dipastikan akan berbeda sensasinya dan respon penerimanya. Itu baru relativitas pada kategori subjek. Belum hal-hal yang beraroma spiritual dan dianggap semi-klenik semisal sisa minuman atau kopi Kyai yang dijadikan ajang rebutan para santri dengan harapan mencecap berkah ilmu. Belum pula kategori objek seperti: sisa emas, sisa uang negara, sisa piutang, dan silakan dilanjutkan.

Kemudian Om Widi memiliki tanggapannya sendiri—lebih ke ranah yang berbau teknologi. Jika pada kaum awam (konteks ini: gaptek), hardisk bekas dipandang sebagai barang loakan yang tidak bernilai jual tinggi dan tidak terlampau penting. Akan tetapi, timpah Om Widi, betapapun suda jeleknya itu tampilan luar hardisk bekas tetap akan dinilai berharga oleh Ahli Security System. Sebab melalui hardisk bekas tadi, pihak Ahli Forensik Security—demikian kiasan Om Widi—akan dapat menjamah sekaligus mendapatkan data barangkali semacam di-restore, terutama email. Bahkan dari yang rusak sekalipun. Ketika sudah dapat mengakses email yang ada, akan ditemukanlah beragam informasi-informasi. Meskipun telah diakui umum bahwa hardisk itu error, namun di tangan Ahli Security of Technology, hal itu memberikan keuntungan dengan tidak terduga oleh common-sense manusia gaptek. Dari sinilah sisa atau kakaren dalam perspektif teknologi.

Selain dari itu, masih banyak jamaah yang mencuatkan isi benak mereka masing-masing. Termasuk mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi bernama Arif. Sebetulnya, dari beraneka jenis pikiran-pikiran atau bolehlah disebut tiupan-tiupan inspirasi oleh Jibril, tidak lain adalah produk dari kakaren yang digunakan serta dimodifikasi sebagai rumus dalam memandang sesuatu. Maka Arif memperdengarkan isi pikirannya bahwa Al-Qur’an dan Islam pun kakaren. Sisa-sisa. Kita mungkin sering menyebut sebagai kitab dan agama terakhir. Pamungkas. Setelah melalui proses-proses rumit pencarian Tuhan dan manusia masih juga bingung, maka di-shortcut-lah oleh Allah dalam wujud Ajaran Islam melalui Nabi Muhammad Saw dengan pedoman kitab suci Al-Qur’an yang sekaligus menjadi penutup dari semua kitab-kitab suci.

Jadi tidak heran apabila beberapa dari kita berpendapat Indonesia pun merupakan kakaren dari kerajaan-kerajaan peradaban sebelumnya yang secara entah terpaksa atau memang disengaja untuk diramu menjadi satu: Indonesia Bhineka Tunggal Ika.

Lantas jika kita menelisik Kakaren Zaman, sesuai tema, orang cenderung ingat kepada Hari Akhir. Kiamat. Ada pula yang memikirkan sisa-sisa peradaban. Plot kisah-kisah, dongeng-dongeng, paribahasa-paribahasa dan sebagainya. Muncul pertanyaan, kenapa kok mulai dari dahulu, semua orang di zamannya masing-masing merasa bahwa pada zaman mereka itu sudah mendekati akhir? Begitupun kita? Ada apa gerangan?

Pertanyaan-pertanyaan berhamburan tak karuan. Tapi itulah fungsi diskusi: kalau tidak menambah ketakjuban, keilmuan dan pengetahuan, paling tidak ya menambah kepuyengan, keresahan, keheranan dan bentuk-bentuk lain dari kebingungan. Terdengar oleh saya ada yang mengungkapkan bahwa itu sebagai ajang ge-er setiap generasi pada zamannya sendiri sekaligus agar supaya memantik kesadaran serta membikin generasi di zamannya lebih eling lan waspadha—kalau meng-ghosob istilah Ronggowarsito. Toh, pada era milenial ini tidak sedikit yang meskipun sudah merasa tengah berdiri di zaman akhir (kakaren zaman), masih saja secara nekat menjauhkan diri dari cahaya. Barangkali diri kita masing-masing pun tercakup dalam orang-orang yang termaksud itu.

Meski demikian, pada intinya semua kita mau tidak mau terikat pada hukum alam untuk senantiasa berproses dan maiyahan mewadahi para jamaah untuk kebutuhan itu. Salah satunya mungkin dengan saling menjaga agar selalu bersentuhan-pandang—muwajjahah—yang di masa kini mulai pudar intensitasnya. Lantas, dari sekian pemaparan dangkal penulis pada reportase ini, semoga dapat menyulut atau memperparah kekaguman kita sehingga kita ucapkan satu kalimat indah dari Allah dengan khusyuk berdasarkan pengalaman masing-masing seusai menelusuri tentang kakaren. Tentang sisa-sisa yang tertuduh sia-sia dan seolah sampah. Rabbana ma khalaqta hadza bathila.

Betapapun keindahan itu dapat terangkum dan kecerdasan akal setinggi apa, hanya kebelum-mampuan penulis lah dalam meracik gado-gado pemikiran para jamaah secara sekomplit mungkin yang barangkali kurang melezatkan hidangan reportase ini. Dan tersebut adalah satu dari sekian kelemahan dalam mini-reportase edisi Kakaren Zaman. Namun, inilah kakaren yang dengan bismillah bisa saya gambarkan dan diharapkan masih dapat ditransferkan oleh cinta saya kepada pembaca sekalian. [7-2017/M Naufal W]

MUKADIMAH : Manusia Goa

22 Aug , 2017,
ja
No Comments

Pernahkah kita membayangkan diri tinggal atau hidup di dalam goa? Sebagai pelancong alam, pengembara, atau pertapa yang sedang ngelmu lelaku hidup tertentu. Atau –untuk jangkau rentang waktu yang lebih lama– sebagai penghuni alias ‘manusia goa’. Apa itu goa; ada apa dengan goa? Wa ma adraka ma ‘goa’ (ghar/cave)? Sampai-sampai ia diabadikan sebagai salah satu surah dalam Al-Quran, al-Kahfi (goa). Rekam jejak kisah Ashabul Kahfi, yang ditidurkan oleh Pemilik Sejati mereka selama 309 tahun, kemudian dibangunkan kembali setelah ‘tidur panjang’nya pun diilustrasikan di dalam surah tersebut.

Belum lagi ‘detik-detik proklamasi’ kenabian (nubuwwah) Muhammad al-Amin juga berlangsung di dalam goa (Hira’). Kenapa harus di (dalam) Goa? Mengapa tidak di tempat lapang, terbuka, atau bahkan pusat keramaian suatu kaum tertentu; pasar, alun-alun, balai kota dan sebagainya? Pernahkah terbersit dan terlintas pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam diri kita? Sebab, kalau mengikuti pertimbangan rasionalitas ilmu pengetahuan modern saat ini, apa yang Tuhan simulasikan dengan Para Kekasih-Nya tersebut di atas sangatlah tidak paralel, compatible, dan marketable, dengan misalnya, efektifitas dan efisiensi dakwah (Islam). Betapa tidak! Orang sekarang, dan sangat mungkin kita di antaranya, begitu gemar menjadi da’i, tanpa pernah mengerti esensi ‘ruh’ da’wah. Kita bangga dan merasa hebat sebagai muballigh, tanpa perangkat pemahaman ijtihadi yang simultan terhadap tabligh.

Selinier itukah cara kita memandang dan berpikir? Bahwa masih ada dialektika siklikal, zig-zag, spiral dan seterusnya dalam menghikmahi sesuatu. Sesakti apa kita –yang tak mampu mengatur jadwal buang air kecil/besar, menumbuhkan kumis, rambut, jenggot dan lain-lain– ‘lancang’ mengidentifikasi Tuhan dengan parameter konsepsi intelektualitas manusia yang tak jangkep syarat-rukunnya, dan yang telah terlanjur dilembagakan berabad-abad? Tuhan, dalam sejarah kehidupan manusia, kita audisi dengan fit and proper test agar layak kita sebut Tuhan; dengan ‘juri tamu’ handalnya, materialisme. Dua aspek lainnya, kemanusiaan (humanisme) dan ketuhanan (teologi/aqidah), yang sejatinya lebih sublim dari materi dan mengajarkan manusia agar ‘tak berjarak’ dengan Penciptanya, digeletakkan begitu saja oleh manusia sendiri. Hasilnya adalah prestasi berkemanusiaan, beragama atau bertuhan kita, dipenuhi deret lajur standar-standar materialistik; dengan ‘pisau analisis’nya, sekularisme. Diakui atau tidak, cara beragama atau bertuhan kita menjadi sangat sekuler; parsial, tidak nyawiji atau manunggal (tauhid). Bukankah Allah sendiri mempelopori tauhid? Bukankah Ia sangat cemburu jika kita mempersekutukan-Nya, selingkuh dari-Nya?

Kiranya kita yang tak kunjung paham… Tak mungkinkah terdapat cakrawala kelapangan dalam kesempitan; terang dalam kegelapan; gerak dalam diam; suara dalam kebisuan; kaya dalam kemiskinan; dan sebagainya? Salahkah pula muatan-muatan pikiran seperti melihat suara; mendengar warna; mencium nada; dan seterusnya?

Seorang pendekar saja untuk mastering ilmu-ilmu bela dirinya harus sering ditempa dan dibiasakan untuk berlatih di tempat-ruang sempit. Tak menjadi aneh jika ia mampu menangkis, menghindari serangan dan tadahan –misal ketika menghadapi lawan– di ruang yang luas, lapang dan terbuka. Semakin sering ia bergelut dengan kesempitan, semakin ia mengerti hakikat keluasan. Semakin kita mampu mentarekati kemiskinan, semakin kita mengetahui kekayaan (kita). Orang yang haus dan menyibukkan diri habis-habisan untuk mengincar kekayaan, bukankah ia sejatinya miskin? Kaya-miskin bukanlah soal, cara kita memperlakukan keduanya itulah persoalaannya. Kaya dalam kemiskinan. Terang dalam kegelapan. Bukankah diam adalah ‘suara’ paling lantang? Kalau Anda tak percaya, bayangkan, pilih mana: lebih baik dimarahi atau bahkan ditampar Ibu Anda, daripada selama sepekan Anda tak ditegur sapa tanya sedikitpun olehnya. Ada suara-suara (kita bisa menyebutnya begitu atau spektrum energi-energi lainnya) dalam kebisuan, kesunyian, dan diam. Bahwa ada suara [dalam] kesunyian (sound of silence); dan diam adalah irama [itu sendiri] (silence is a rythm); dan lain-lain.

Kembali ke goa. Momentum goa. Betapa Gusti Allah telah mementaskan ‘teaterikal rububiyah’-Nya terhadap Para Kekasih-Nya itu di dalam goa! Pada momentum apa dan bagaimana pemuda-pemuda itu memasuki atau diperintahkan masuk ke dalam goa? Ilmu ruang dan waktu. Apa pesan yang dapat kita tadabburi dari ayat-ayat (qauliyah, dan juga kauniyyah [fi al-afaq wa fi anfusina]) tentang: al-Kahfi, Ashabul Kahfi, Raqim/Qithmir, Dzul Qarnain, Goa Hira’, Ruh al-Amin Jibril, Kanjeng Nabi Muhammad dan seterusnya? Tadabbur, bukan tafsir, sekali lagi. Adakah kita berpeluang sama untuk ‘diajari’ Allah di dalam ‘goa-goa’ kehidupan kita? Goa yang seperti apa; haruskah kita mencari, menemukan goa itu di sana di sini? Atau, atau dan atau… Ayat, surah al-Kahfi itu memang telah diwahyukan berabad-abad silam, tapi bukankah ia masih berlaku untuk kita saat ini, di sini?

 

Ahlan wa sahlanMari melingkar, di ‘goa’ JA! Dengan penuh kerendah-hatian kita memohon kepada Allah untuk senantiasa diajari meng-iqra’: agar, semakin tampak kekerdilan kita dan betapa semakin akbar Allah Swt.

 

ASALKAN ENGKAU TAK MARAH KEPADAKU

11 Aug , 2017,
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Di ruang tunggu bandara, ketika menunggu pesawat delay, saya duduk, menutupi wajah dengan tangan. Berusaha tidur, kalau nggak bisa ya pura-pura tidur, supaya saya merdeka. Kapan saja bisa ambil jarak dari kehidupan, itulah kemerdekaan.
Tapi tiba-tiba ada yang menggamit pundak saya. Spontan saya membuka wajah. Orang itu menyapa dengan wajah riang gembira.

“Ngantuk, Cak?”, ia bertanya.
“Iyae…”
“Sampai jam berapa semalam acaranya?”
“Jam 3. Salamannya sampai jam 4”
“Semalam saya juga datang lho Cak, tapi cuma sampai jam 1. Khawatir kondisi anak saya, karena masih bayi”

“Lho kok ngajak bayi segala. Kan udara malam tidak baik”
“Ah, ya tapi kan ketutupan sama berkahnya persaudaraan di acara Njenengan”
“Amin”, jawab saya, “tapi posisi saya hanya bisa mendoakan lho. Mudah-mudahan logika dan harapan Anda itu dikabulkan. Sebab Allah mampu apa saja”
“Ini sekarang mau acara di mana lagi?”
Saya menyebut nama sebuah kota. Per malam sampai tiga hari ke depan.
“Cak, Njenengan kok kuat tho mobat-mabit terus. Apalagi maiyahan selalu sampai hampir pagi. Risiko dakwah ya Cak…”

“Ah, ndak. Saya tidak berdakwah. Saya cuma pas bisa memenuhi permintaan. Kalau dakwah itu kan tugas Da’i”
“Lha Njenengan kan Da’i”
“Semua orang juga Da’i”
“O gitu ya Cak”
“Angin juga Da’i. Hewan-hewan juga Da’i. Siapa dan apa saja yang berlaku sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, itu Da’i”

“Kok tahu sesuatu itu dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh Tuhan?”
“Berbuat baik, mempersaudarai setiap orang, memanusiakan orang, tidak menyakiti, tidak mencuri, tidak membunuh, selalu berbagi, berusaha bijaksana secara sosial – itu semua mestinya ya dikehendaki bahkan disukai oleh Tuhan”
“Mestinya atau pasti?”
“Kalau mau pasti, kapan-kapan kita sowan ke rumah Tuhan, nanya langsung. Kalau perlu kita rekam. Kita videokan sebagai bukti. Boleh juga diviralkan”
Orang itu tertawa.
“Tapi semua orang bilang Njenengan ini ya Da’i. Muballigh. Ustadz. Kiai. Bahkan ada yang menyebut Ulama ke Njenengan”
“Mereka bermaksud baik. Cuma belum tentu tepat. Saya ini temanmu, mungkin Bapak atau Mbahmu”
“Waduh. Nanti ada yang bilang lebai lho Cak”, celetuknya.

Akhirnya saya berpikir: sekalian sajalah. Toh sudah gagal tidur: “Dakwah itu memanggil, menghimbau, menganjurkan, menyarankan, merekomendasikan, dan itu dilakukan oleh hampir setiap orang di berbagai urusan. Kalau Muballigh yang bertabligh, itu menyampaikan. Lha Lembu melenguh saja menyampaikan keindahan Allah lewat makhluk-Nya. Kalau Ustadz itu panggilan Mister, atau Pak. Pak Karjo Bengkel. Pak Dirun Tongseng. Pak Kasdu Pijet. Kalau Kiai itu penghormatan budaya dan peradaban Jawa kepada orang atau benda. Ada Kiai Slawé di Jombang. Ada juga keris Kiai Sangkelat, pohon Kiai Keningar, gamelan Kiai Kanjeng, kerbau bulé Kiai Slamet di Solo”

Orang itu tertawa kecil. “Njenengan ini terlalu universal, Cak. Kurang akademis”.

Owalah. Ya sudahlah. “Makanya salah tuduhan bahwa saya ini Ulama. Ulama beda dengan Intelektual, Cendekiawan, atau Ilmuwan, meskipun arti harafiahnya sama. Kalau Ilmuwan itu orang yang memiliki penguasaan pengetahuan dan ilmu atas suatu hal. Kalau Ulama itu orang yang ekspertasinya atas suatu bidang ilmu membuatnya takjub kepada ciptaan Tuhan, sehingga merasa takdhim dan takut kepada-Nya. Kalau Ilmuwan, Intelektual dan Cendekiawan, tidak harus takut kepada Tuhan. Tidak harus bertaqwa untuk disebut Intelektual. Lha saya ini, Intelektual bukan, Ulama apalagi”

“Lho ternyata Njenengan lumayan akademis juga”, orang itu tertawa,
“Ditambah Njenengan ini kalau menjelaskan sesuatu bisa sederhana dan gamblang. Makanya masyarakat terus mengundang Njenengan untuk Amar Makruf…”

Aduh saya jadinya terseret untuk membantah terus. “Lho, Amar Makruf itu tugasnya Pemerintah atau Umara. Saya bukan Carik, Kepetengan atau Kamituwo. Saya tidak berposisi Amar Makruf. Bahkan para Kiai, Ustadz, Da’i, Muballigh dan Ulama pun tidak tidak pada tempatnya untuk melakukan Amar Makruf”

“Kok gitu Cak?”, agak serius wajahnya.

“Amar itu bisa berarti urusan, bisa perintah. Amir itu Pemerintah. Amirul Mu`minin itu pemegang pemerintahan atas Kaum Muslimin. Itu butuh legalitas jabatan dan otoritas resmi. Makruf itu berposisi maf’ul: sesuatu yang sudah diolah menjadi paket padat. Dari kata ‘Irfan, semacam pengetahuan tentang kebijaksanaan. Makruf adalah nilai-nilai kebaikan yang sudah di-arif-i. sudah dimusyawarahkan dengan matang, disimulasikan dan dihitung manfaat mudaratnya. Sehingga ia menjadi pasal, formula yang jelas tentang sesuatu hal. Kalau dalam dunia modern namanya hukum positif, pasal-pasal hukum. Maka Kiai dan Ulama tidak di situ tempatnya. Mereka tidak memegang otoritas untuk memerintahkan, melarang dan menerapkan hukum positif”

“Lha kok selama ini dibilang tugas Ulama adalah Amar Makruf Nahi Munkar?”
“Kalau pendapat saya tugas Ulama itu Dakwah Khoir. Khoir itu kebaikan yang masih cair, bersifat universal, benih, serbuk, energi, glepung. Kebenaran dan kebaikan yang masih umum, hanya bisa disampaikan, dianjurkan atau direkomendasikan. Itulah posisi tugas Ulama, Kiai, Ustadz. Beliau-beliau ini tidak memerintahkan atau melarang, melainkan menyampaikan dan merekomendasikan. Jadi, dakwah khoir. Kalau Pemerintah, jangan menghimbau, tetapi memerintahkan, melarang, menindak tegas”

“Kalau Nahi Munkar?”
“Itu tugas bersama. Setiap manusia harus menghindarkan dirinya dan orang lain untuk tidak melakukan destruksi, penggerogotan nilai kebenaran dan kebaikan, penghancuran kemanusiaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan”

“Jadi Njenengan keliling-keliling ini melakukan Dakwah Khoir Nahi Munkar?”

“Nggak juga. Niat saya cuma jangan sampai dimarahi oleh Tuhan. In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali. Itu ucapan Kanjeng Nabi favorit saya. Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku – maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, ada atau tiada. La ubali, gak pathèken. Pak Harto yang serem 32 tahun saja percaya saya omongi untuk bersikap di koordinat nothing to loose itu”. *

Reference :
https://www.caknun.com/2017/asalkan-engkau-tak-marah-kepadaku/

LIMA TANTANGAN PERUBAHAN

10 Aug , 2017,
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Meskipun Nabi atau Rasul, tidak terhindar dari sekurang-kurangnya lima tantangan, ujian atau halangan, ketika mensosialisasikan perubahan kepada masyarakatnya. Misalnya Nabi Nuh, Ruhullah – bahkan  ia ruh-nya Allah sendiri – tak kurang dari 950 tahun menyebarkan wacana kebenaran, susahnya bukan main, dan hasilnya jauh dari memadai.

Nuh menginformasikan rasio sangkan-paran, bahwa bumi dengan segala kesuburan dan kekayaannya, bahwa langit dengan tak terbatas matahari dan planet satelitnya, adalah milik Tuhan. Sebab Tuhan yang bikin. Maka Dia pemilik saham primer. Maka pula Dia yang berhak menentukan segala aturan, konstitusi, regulasi, kewajiban dan hak. Manusia bukan pemilik bumi, bahkan tidak memiliki dirinya sendiri. Maka manusia bukan pejabat utama pengelolaan bumi, kecuali pada batas ia dimandati oleh Maha Pemiliknya.

Dari rasio dasar kepemilikan itu, baru dilakukan penerjemahan logis secara sosial pada tata nilai kehidupan manusia. Lahirlah logika ibadah. Urgensi rahmatan lil’alamin. Relevansi akhlakul karimah. Prinsip berbagi dan bertoleransi. Pendidikan sabar dan syukur. Metode puasa atau efisiensi. Keperluan ekspertasi agar shirathal-mustaqim atau efektivitasnya ketemu. Manusia berposisi buruh. Karyawan. Agen. Kepala Bagian. Manajer suatu bagian dari urusan. Mungkin Sales. Pengepul. Pengecer.

Sampaipun pekerja kaki lima. Tetapi seluruh yang dikelola, diperniagakan dan didistribusi – mau tidak mau harus berdasarkan policy Sang Maha Owner, Komisaris Utama, yang bahkan dalam banyak hal Ia juga Direktur Utama Kehidupan, meskipun Tuhan mengangkat sejumlah Staf Khusus di lingkaran dalam manajemen-Nya sendiri, yang dipimpin oleh Jabroil. Atau Jabarala. Sampai Makahala, Hasarapala, Hajarala, para Muqorrobin, petugas khusus Zabaniyah, Ridwan, Malik, Salim, Sykahlatus-Syams dll.

Tahap sosialisasi nilai oleh Nabi Nuh itu baru tahap sangat awal: mengajak masyarakat memahami, menyadari dan mengakui bahwa bukan manusia yang berkuasa, melainkan Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran itu pun cukup berlaku di pikiran dan pengakuan di hati. Belum sampai aplikasi melalui langkah kaki dan gerak tangan. Baru persaksian dan kesaksian. Belum sampai aplikasi dan manifestasi.

Syahadah saja sudah lumayan. Dan Nabi Nuh hanya mendapatkan beberapa puluh orang selama 950 tahun. Tidak perlu sampai ke eksekusi sosial, politik dan kebudayaan. Belum sampai ke sosialisme dan kapitalisme. Fundamentalisme dan pragmatisme. Liberalisme dan radikalisme. Kerajaan dan Kesultanan. Persemakmuran dan Republik. Jangankan lagi Huntingtonisme, Balkanisasi, Arab Spring, Kenduri Nusantara, reklamasi dan Meikarta – yang unit-unit apartemennya sudah ditawarkan secara resmi di tempat-tempat resmi. Nabi Nuh belum sampai harus berpikir otonomi daerah dan Pilkada serentak. Sekadar satu kalimat pendek yang keluar dari bibir manusia.

Tetapi pada posisi sangat dini-nilai itu pun seorang aktivis perempuan menuding, nge-share dan memviralkan “Innahu majnun”, “anduweni loro edan”. Nuh itu tokoh gila. Sakit jiwa. Untung Allah tidak mentakdirkan Prabu Jayabaya menjadi salah seorang stafnya Nabi Nuh. Andaikan demikian, pasti Jayabaya, dibantu Ranggawarsito, bikin counter meme: “Amenangi jaman edan. Sopo ora melu edan ora bakal keduman. Lha wong yang sudah ikut edan saja belum tentu keduman. Arep entuk dumduman sethithik wae konangan….”. Kita mengalami zaman edan. Siapa tidak gabung ikut edan tidak mendapat bagian. Lha yang sudah ikut edan saja belum tentu dapat bagian. Mau dapat bagian sedikit saja malah ketahuan.

Tantangan pertama yang menabrak Nabi Nuh adalah area wacana, adu kekuatan untuk benar, kecanggihan talbis dan keahlian manipulasi. Tantangan kedua adalah budaya kapitalisasi dan atmosfer kapitalisme pada alam berpikir dan mentalitas manusia. Khawid, putra Nuh, yang ditugasi memimpin pembuatan kapal, minta upah kepada Bapaknya sendiri. Khawid mengajukan proposal anggaran biaya. Nabi Nuh tidak mengabulkan, apalagi klausul bahwa Khawid yang menentukan tenaga ahli maupun buruh-buruhnya.

Khawid marah karena hanya dikasih “tiga apem”. Semacam jajan Poffertjes Belanda. Tapi Bapaknya menyuruhnya memakan apem itu dengan terlebih dulu membaca “Bismillahi majreha”. Ketika Khawid memakan satu apem itu, ternyata tak habis-habis sampai ia kekenyangan. Itu suatu fenomena sangkan-paran yang Khawid mengalami tapi tidak memahami. Memang ranah Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, meskipun mengandung bagian dari maintenance yang harus berurusan jual beli – tetapi harus ada kewaspadaan dan kearifan untuk jangan sampai mengkapitalisasikan empat wilayah itu sehingga kehilangan substansi nilainya. Jangan sampai Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, dikelola dengan tujuan sebagaimana perusahaan ekonomi materi.

Tantangan ketiga yang dihadapi oleh Nabi Nuh adalah bergabungnya Iblis menumpang ke kapal beliau. Sang Idajil alias Azazil yang oleh Allah dimutasi menjadi Iblis ini berpegangan pada ekor hewan yang bernama Balkadaba, dan ikut bergabung dengan seribu hewan di kapal Nuh. Tatkala nanti banjir menggelombang raksasa dan menenggelamkan wilayah-wilayah di permukaan bumi, dan kapal Nuh berangkat berlayar mengikuti “perintah” alamiah ke mana ombak menyeretnya – Iblis tiba-tiba nongol ke depan Nabi Nuh yang sedang bersandar di sebuah tiang dengan napas terengah-engah. Nabi Nuh tentu saja terperanjat, dan spontan berkata: “Ngapain kamu ke sini!”

Iblis menyungging senyum yang amat menyakitkan hati Nabi Nuh. “Katanya kalau mau selamat disuruh naik kapalmu”, jawab Iblis.
“Kamu sudah tidak punya kemungkinan untuk selamat”.
Iblis tertawa. “Sudahlah. Itu urusanku dengan Allah”, katanya, “Saya menemuimu cuma mau memastikan: berapa jumlah pengikutmu di kapal ini?”
“Delapan puluh”, jawab Nabi Nuh.
“Selamat ya”, Iblis tertawa lebih menyakitkan lagi, “jadi yang mati tenggelam dalam banjir kira-kira berapa?”
“Sekian ratus ribu”, Nabi Nuh menjawab ogah-ogahan.
Iblis mengucapkan kalimat terakhir kemudian pergi meninggalkan Nuh: “Jadi jauh lebih banyak pengikutku ya dibanding pengikutmu….”

Hanya delapan puluh orang ikut naik kapal Nuh. Hanya 80 orang, sesudah berdakwah hampir semilenium. Jutaan lainnya tidak percaya, tidak menemukan gejala-gejala akan datangnya banjir bah yang menenggelamkan hampir dua pertiga permukaan bumi. Tidak ada peringatan ilmiah untuk itu. Tidak ada pengumuman untuk waspada atau siaga bencana. Apalagi Mbah Rono belum lahir waktu itu, dan Badan Meteorologi Klimatogi dan Geofisika belum didirikan.

Tetapi andaikanpun ada yang percaya akan ada banjir besar, belum tentu nanti di dalam kapal mereka memberikan persaksian atas nilai yang disosialisasikan oleh Nabi Nuh. Andaikan peristiwa banjir Nuh terjadi sekarang, kapal akan penuh penumpang. Bukan karena percaya kepada Nuh, bukan karena beriman, melainkan demi keselamatan pragmatis. Siapa yang kira-kira menang, didukung. Siapapun saja yang berkuasa, baik Nuh ataupun Iblis, banyak orang bergabung. Kemudian bersama-sama mereka merajut dan menerapkan kebenaran versi mereka sendiri, untuk dijadikan kebenaran tunggal nasional.

Tuhan memerintahkan Jibril untuk membantu Nabi Nuh mengumpulkan pasangan binatang-binatang minimal berjumlah seribu. Di samping itu, dihimpun juga benih-benih segala tanaman yang mungkin dicover. Nuh didorong untuk berpikir futurologis. Ini tantangan keempat di hadapan perjuangan perubahan. Bisakah Anda bayangkan tingkat kerepotan teknis dan ketidakmudahan teknologis untuk memuat seribu macam binatang? Yang harus dipisahkan antara jantan dengan betina? Dari serangga-serangga kecil hingga babi, kerbau, harimau dan gajah? Bagaimana memberi makan minum mereka di kapal dari hari ke hari? Dari mana bahannya? Tak jelas pula sampai kapan kapal terapung-apung di atas banjir?

Sampai-sampai karena kelelahan dan hampir putus asa, orang bikin humor: kenapa sapi berjalan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya? Karena di kapal Nuh tak boleh ada penambahan penumpang. Maka semua alat kelamin dicopot dan dikumpulkan di sebuah ruangan. Setelah banjir reda dan kapal mendarat, baru kelamin hewan-hewan itu dibagi dan dipasang kembali. Tetapi karena manusia saja belum tentu punya budaya antre, bisa dimaklumi kalau binatang berebut berdesakan mengambil kelaminnya masing-masing.

Kuda yang paling cepat larinya, sampai duluan ke gudang kelamin. Tanpa pikir panjang ia mengambil yang paling besar, daripada menunggu urutan administratif. Dengan kelamin yang dahsyat, kuda melesat lari dari gudang, lompat keluar kapal dan turun ke daratan. Sapi menyaksikan betapa cepat larinya kuda, serta betapa besar panjang kelaminnya – sehingga ia geleng-geleng kepala tak henti-henti sampai hari ini.

Adapun tantangan kelima, para pejuang perubahan perlu memastikan perilakunya agar mereka dicintai oleh Tuhan dan di-support serta difasilitasi perjuangan mereka. Sebab Tuhan bikin banjir tidak terutama karena kaum Nuh durhaka dan ingkar pada eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Sebab Tuhan tidak laba kalau kita beriman, dan Tuhan tidak defisit sepeser pun kalau kita kafir. Tuhan menyelenggarakan banjir bah dahsyat itu kemungkinan besar karena Nuh Ruhullah, kekasih-Nya, disakiti oleh manusia dan masyarakat.

Mohon Sampeyan semua tidak usah percaya-percaya amat pada apa yang saya tulis. Juga jangan mendalam-mendalam amat memasukkan ke hati. Di samping saya memang belum tentu bisa dipercaya, juga karena Sampeyan semua sedang hidup di zaman di mana para stakeholders sejarah yang sedang dilangsungkan ini, sangat menikmati keadaan yang sedang berlangsung, sehingga jangan bermimpi beliau-beliau menginginkan perubahan. *

HIPIIS Social Sciences Award 2017

Aug , 2017,
ja
No Comments

Di tengah padat jadwal keliling Sinau Bareng di berbagai tempat, malam ini Cak Nun berada di Sukoharjo. HIPIIS memberikan anugerah atau penghargaan HIPIIS Social Sciences Award 2017. Acara digelar di Pendopo Bupati Sukoharjo dan merupakan satu mata rangkaian Kongres HIPIIS 2017 yang digelar di Solo. Dalam kesempatan ini, Cak Nun sekaligus dimohon memberikan paparan terkait kenyataan makin modern makin banyak persoalan dialami manusia kepada seluruh peserta yaitu pengurus HIPIIS dan dosen-dosen ilmu sosial se-Indonesia.

 

Foto : Adin (Dok. Progress)
Lokasi : Pendopo Kab. Sukoharjo, 9 Agustus 2017

 

HIPIIS melihat kontribusi Cak Nun di tengah masyarakat melalui forum, komunitas, dan dekonstruksi-dekonstruksi yg dilakukan Cak Nun selama ini. HIPIIS melihat peran Cak Nun dalam menjaga kebersamaan dan keragaman di dalam masyarakat. Prof. Sahid Widodo melihat Cak Nun tak lelah menyebarkan pengetahuan dan cinta. Itu dilakukan dengan harapan agar orang-orang yang ditemui Cak Nun di mana-mana itu dicintai Tuhan.