Author Archives: ja

MUKADIMAH: TERNAK ILMU(WAN)

27 Aug 18
ja
No Comments

Kapan terakhir kali kita menjenguk suatu peternakan? Atau minimal mengintip ke dalam kandang binatang ternak yang berisi satu kontingen keluarga saja. Bagaimana kondisinya? Seperti apa manajemen, pemosisian peran dan tata-kelola kekeluargaan di dalamnya? Harmoniskah hubungan hewan ternak dengan pemiliknya?

Tidak harus dijawab sekarang.

Lantas, setelah mencuripandangi perihal ternak secara visual-imajinatif, adakah terlintas di benak masing-masing tentang kemiripan ‘peradaban ternak’ di kandang, dengan wajah situasi negara kita, bahkan dunia, belakangan ini—beserta komplikasi silang-sengkarut konstelasi di dalamnya?

Banyak centang-prenang kerumitan zaman yang semakin hari makin absurd perwujudan tingkah-polahnya. Jangan-jangan kita sendiri yang membikinnya rumit dan absurd. Atau, malahan kita yang sedang teperdaya oleh pusparagam make-up terkini dan aneka riasan ber-merk mutakhir yang semakin canggih memoles dan mematut-matut penampilan?

Syukurnya, mayoritas orang pada titik koordinat situasi tertentu, pasti akan pernah memetik kesadaran bahwa segala aspek di dunia ini tengah dicengkeram oleh ‘ideologi peternakan’ dan dramatika ‘industrialisasi’.

Tidak terhitung sudah berapa aspek dan ranah kemanusiaan yang diternakkan, dengan ribuan atau mungkin jutaan manusianya yang dijadikan SDT-nya. Sumber Daya Ternak. Sebab, yang konon disebut-sebut sebagai SDM, seperti sindir Mbah Nun, toh hanyalah ukuran yang parameternya disandarkan pada tingkat daya-produktivitas perorangan yang memberikan benefit kepada industri di mana ia bekerja. Bukankah yang demikian itu tergolong ‘mental ternak’?

Sekalipun seseorang tersebut memiliki produktivitas yang lumayan, selama ia tidak menyumbang keuntungan terhadap kepentingan industri, maka ia tidak akan pernah dikategorikan sebagai SDM yang baik.

Apalagi jika kita mentadabburi ungkapan Mbah Nun, “Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyarmar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah I’tikad yang terlalu polos dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Ghiroh dan spirit keilmuan bangsa sekarang, lebih mengutamakan hasil yang sekiranya dapat mendatangkan ‘daging-daging’ ilmu yang laku di pasaran (mainstream) dan ‘kotoran-kotoran’ hasil olah metabolisme dan sistem ekskresi yang bisa dijual sebagai pupuk. Pokoknya yang menghasilkan keuntungan dan kepuasan semu. Dengan sorot mata yang silau akan iming-iming omong-kosong motivasional dan serapah janji cerah masa depan. Yang bagai cenayang seakan mampu memproyeksikan masa depan dari telunjuk jari mereka sendiri.

Silakan diamati pula, umpamanya, frame beternak sarjana, kaum intelektual dijujui, disuapi dengan asupan gizi palsu yang kebak tabungan penyakit degradatif dan dekadensi bagi generasi mendatang. Atau fenomena cendekiawan dan ulama yang menurunkan derajatnya—untuk menyebutnya: jual diri—agar memperoleh kursi empuk, bernama kedudukan. Selepas lulus, asal colak-colek, langsung calik (dapat duduk).

Sehingga akan muncul pertanyaan, masih adakah ilmuwan yang nir-belenggu syahwat keduniawian?

Karena kini sosok begawan seakan sudah punah. Langka. Jika pun ada, akan dimatikan fungsi hidupnya, dihimpit peluang pergaulannya, dan masyarakat diracuni sedemikian rupa untuk segera membencinya, membuangnya, mencampakkannya.

Sayangnya, begawan sejati tidak akan benar-benar mati. Ia mengedari udara dan cakrawala, membagi-bagikan “hidangan kesejatian” yang dipetik dari samudera hikmah. Kewaskitaan cahyawi. Namun kenyataan yang sulit ditolak pada era ini adalah cahaya seringkali dimaterikan. Cahaya dikandangi untuk lantas diperjualbelikan—nu penting untung, bos.

Juga tentang keterbalikan penghormatan masyarakat; dari urutan “orang alim-sholeh, pintar, orang kuat, orang baik, kaya dan kuasa” berubah skala prioritasnya menjadi “kaya, kuasa, pandai, kuat, baik”. Hal tersebut tampak kontras betul dalam peradaban manusia postmodern ini—mungkin jika tidak dibenahi, boleh jadi hingga pascapostmodern dan seterusnya.

Betapa tidak geleng-geleng kepala generasi kita yang sadar akan hal itu. Bahkan sebagian ada yang sampai menangis, sehingga dipanggil ‘generasi gembeng’. Tidak jarang yang sekadar nepak-tarang hungkul atau malahan ada yang sampai gereh-gereh. Terlebih jika menengarai peristiwa ‘pesta bisnis ternak ilmuwan’ yang dipelihara habis-habisan hanya demi dipenggal urat nadi kerohaniannya di hari esok.

Dan saat sudah sadar pun, tidak sedikit dari mereka yang menghibur diri lantas menyangkal, “aih, kan dulu saat Nabi Isma’il diqurbankan Ayahandanya, Baginda Ibrahim, langsung diganti domba. Siapa tahu kita pun akan mengalami hal itu jua.

Kemudian suara lain menimpali, “Sudahlah, hidup hanyalah antrean menuju penyembelihan. Tidak perlu terlalu risau.” Tambahan yang di sandingya, “Toh, Mbah Chairil sudah benar, hidup hanya menunda kekalahan. Sekali berarti sesudah itu mati.

Kebingungan pun menjejali para anak adam di zaman now. Atau kita sama-sama hanya sedang berpura-pura bingung dalam dunia yang cuma tempat singgah meneguk air secawan ini? Ataukah kita mendadak blank karena kehabisan dialog saat melakonkan teater dengan skrip “ternak ilmuwan” ini?

Daripada hulang-huleung teu paruguh, mending hayu kita saling ‘ngoordinasi’—ngopi-ngrokok di Jamparing Asih. Bagi yang bukan perokok pun, kami haturkan “diantos kasumpinganana, lur…”

MUKADIMAH: Colak-Colek Calik

25 Jul 18
ja
No Comments

Hari-hari ini sungguh bising negeri kita. Penyebabnya: perhelatan penting yang bakal digelar tahun depan. Demi persiapan menghadapinya, kita saksikan para tokoh dan petinggi sibuk melakukan pendekatan. PDKT kata anak zaman now. Ibarat proses PDKT, terjadilah colek sana colek sini, menebar pesona, bujuk rayu untuk dipersunting.

Kenapa sih begitu semangat mereka colak-colek? Genit amat… Rupanya itu ada kaitan dengan peluang mereka mendapat kursi di perhelatan yang akan datang. Susah amat ya dapat kursi, alat sederhana untuk calik (duduk). Apa mereka tidak bisa duduk di tempat lain? Apa mereka tak kuat beli kursi? Nanti dulu, ini kursi bukan sembarang kursi. Kursi ini adalah simbol kedudukan. Jadi bukan sembarang duduk.

Dengan mendapat kedudukan ini, idealnya mereka menyalurkan aspirasi rakyat di rapat-rapat yang menentukan nasib semua orang di negeri ini. Mari kita doakan para tokoh tersebut tidak melupakan idealismenya setelah berhasil duduk di kursi idaman itu. Jangan seperti bunyi iklan furniture: “Sudah duduk, lupa berdiri.” Lebih gawat lagi kalau “Sudah dapat kedudukan, lupa diri.”

Tapi yang paling parah jika para tokoh kita yang terhormat itu memakai kedudukan mereka untuk menduduki bangsa ini. Karena “menduduki” dan “pendudukan” konotasinya adalah penjajahan, penguasaan. Jika itu yang terjadi, maka tak berlaku kearifan leluhur kita yang bertutur: “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.” Malang nian kita yang hanya penduduk jelata!

Perkara kursi dan tempat duduk ternyata amat penting dalam sejarah manusia. Coba perhatikan istana raja. Di balairung utamanya tentulah terdapat tahta yang indah dan memukau, tempat raja duduk penuh wibawa, membawa ketenteraman bagi rakyat dan keseganan penguasa negeri tetangga. Bayangkan jika raja boleh menerima tamu kerajaan di balairung sambil berbaring leyeh-leyeh di sofa! Saking pentingnya perkara tempat duduk, dalam Al-Quran kita temukan Ayat Kursi sebagai lambang kekuasaan Allah Swt. Mestinya fakta itu sudah cukup untuk mendorong kita mentadabburi secara serius perkara calik.

Dalam maiyah, kita sadar atau tak sadar diajak mentadabburi calik. Forum maiyah paling ideal berbentuk melingkar, sebuah halaqah. Posisi duduk semua hadirin setara. Siapa pun bisa menjadi “pusat perhatian” ketika mendapat giliran berbicara. Tentu tetap ada panggung atau tempat khusus di suatu titik sebagai tempat duduk narasumber atau koordinator, tetapi kesadaran yang dibangun dalam diri hadirin bukan sebagai penonton, tetapi pelaku. Secara sangat pas dan indah hal ini terlambangkan oleh bentuk cincin. Juga huruf nun.

Jika kita coba mentadabburi secara lebih transendental, atau meniti garis hablum minallah, maka kedudukan kita, atau maqam kita, di hadapan Allah Swt. adalah sesejati-sejatinya kedudukan. Sementara kedudukan kita di tengah manusia secara esensial adalah “duduk sama rendah.” Kedudukan-kedudukan lain yang diciptakan manusia adalah relatif.

Supaya tidak penasaran masalah duduk ini, mari kita ngawangkong dan ngariung di majelis Jamparing Asih Juli 2018. Mangga calik…

***

MUKADIMAH : Mudik ( Bandung Indonesia pulang pergi).

28 Jun 18
ja
No Comments

Aku kembali ke bandung dan kepada cintaku yang sesunguhnya.

-Bung karno

Sengaja saya awali tulisan muqadimah pengantar diskusi ini dengan kata-kata dari anak cucu bangsa nusantara yang dimana ia kemudian menjadi proklamator negara, yang hari ini kita dan dunia kenal dengan nama Indonesia.

Terlepas dari konteks sejarah dan maksud bagaimana bung besar mengucapkan kalimat tersebut, namun hal penting yang saya garis bawahi adalah bahwa ada perasaan begitu besar yang sulit untuk dijelaskan, terkubur dan tersimpan di Bandung.

Entah bagaimana sejatinya sejarah awal mula daerah itu dinamai Bandung, jujur saja saya tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang itu. Terlebih lagi banyak versi sejarah yang menceritakanya. Namun hal yang cukup menarik perhatian saya adalah bahwa keberadaan Bandung tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai cikapundung.

Kita bisa tengok sejarah peradaban dunia, bahwa setiap lahirnya peradaban tidak bisa lepas dari keberadaan sungai didalamnya. Tengoklah peradaban india,mesir kuno, mesopotamia, dan lain sebagainya. Beserta peradaban tersebut, pasti terdapat sungai yang menyertainya.

 Banyak ahli kesundaan, mengartikan bahwa  kata “cikapundung” adalah gabungan dari berbagai macam kata.  “tji”, berarti cahaya, “ka” berarti kepada, “pun” berarti kepemilikian, “indung” berarti ibu. Sederhananya arti cikapundung dalam bahasa Indonesia bisa diartikan

 “Cahaya menuju ibuku”.

Dalam beberapa khasanah kesundaan lain,ada pengertian bahwa “Bandung”, adalah “Ngabandungan Banda Indung” Ngabandungan artinya, memperhatikan, Banda, artinya materi, indung artinya ibu. Sederhanya Bandung bisa kita artikan

 “memperhatikan segala sesuatu yang lahir dari rahim ibu”.

Lantas pertanyaan kita adalah apa saja yang dilahirkan oleh ibu?

Saya pernah berbicara dengan penganut kepercayaan sunda wiwitan bahwa yang dinamai ibu ada dua. Pertama adalah ibu lahir yang berarti ibu biologis yang melahirkan kita, kemudian ibu batin yang berarti tanah kelahiran. Ibu yang dimana selama kita hidup selalu kita injak, kita serap ,kita hisap ,tanpa pernah kita ingat dan  berterima kasih terhadapnya.

Dari pengertian sanalah, bagi saya mudik menjadi begitu berharga bagi manusia indonesa. Mudik adalah kerinduaan yang tak tertahan kepada segala sesuatu yang melahirkan dan tumbuh berkembang bersama menyertai manusia indonesia.

 Siapakah di dunia ini yang tidak rindu kembali ke ibu?

Mudik sudah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun oleh manusia Indonesia. sehabis melaksanakan ibadah puasa, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia Indonesia melakukan persiapan dengan berbagai macam perbekalan yang disiapkan untuk kembali ke kampung halaman. Kita rindu kembali ke tanah kelahiran kita. Tanah yang dimana dalam tanah itu menyimpan bagian dari tubuh kita saat kita dilahirkan ke dunia.

 Oleh sebab itulah kenapa tradisi mudik sangat mendarah daging dan dijiwai bagi manusia Indonesia. dengan mudik kita bisa berkumpul dengan keluarga, saudara, teman-teman, kita membasuh kerinduan akan masa lalu yang kering, setelah cukup lama kita tingalkan. Begitu sangat banyak orang dilibatkan dalam prosesi tahunan ini, bahkan dimensi spirtualitas sangat tercermin dalam tradisi mudik ini.

Di sepanjang perjalanan menuju kampung halaman, Kita bisa lihat dimana ratusan ribu orang bersamaan tumpah ruah berbondong-bondong  pergi menuju kekampung halamanya masing-masing.

Setelah sampai kampung halaman dan selesai melaksanakan shalat ied, orang-orang rame-rame bersilaturahmi bersama sanak keluarga, rekan, sahabat dan bahkan kepada warga yang mereka sendiri saling tidak kenal sebelumya. Selain kepada orang yang masih hidup, mereka juga tidak lupa untuk mendatangi orang-orang yang sudah meninggal, untuk kemudian diingat-ingat jasa kebaikan mereka lalu kemudian didoakan. Juga tidak lupa sebagai pengingat  bahwa suatu saat dirinyalah yang akan berada didalam tanah itu.

“mengigat kematian!”  bukankah hal itu perenungan yang sangat dalam?

 Kembali kepada Bandung.

Bandung Indonesia pulang pergi? Ya begitulah.

Bagi saya Bandung adalah rahim negara Indonesia. Tempat dimana sejarah pergolakan pemikiran para pendiri bangsa bergejolak dan diasuh disana oleh sang ‘ibu’.

Sejarah mencatat bahwa di Jln Ciateul No 8 RT 02 RW 07 kelurahan nyengseret, kecamatan Astana anyar kota Bandung, terdapat sebuah rumah tempat berkumpulnya para founding father Indonesia melakukan pertemuan dan diskusi membahas masa depan bangsa Indonesia. dirumah itulah sosok seperti, Kh Agoes salim, Ki hadjar dewantoro, Hos Tjokroaminoto, H sanusi,Moh yamin, Kh Mas ali Mansur, MH, thamrin, Abdoel Muis, sostro Kartono( kakak Ibu kartini), Ali sastro, Asmara hadi,ibu trimurti, Suyudi, Soetan sjahrir, Mohamamad hatta , Soekarno , dlsb,  berkumpul. Mereka saling beradu intelektual untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bagi negara indonesia.

Sub Judul diskusi Maiyah Jamparing Asih kali ini, sebenarnya terinspirasi dari judul buku Si Mbah.  Maulana Emha Ainun Nadjib. Yang berjudul Yogyakarta Indonesia pulang pergi.  Jujur saja saya sebagi penulis Muqadimah untuk diskusi ini, belum pernah membaca buku tersebut. Namun saya berani menulis muqadimah ini dengan mengambil saduran dari buku si mbah tersebut, karena Bandung dan Jogyakarta memiliki hentakan ritmis yang sama dalam perkembangan dan perjuangan untuk kemerdekaan Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.

Yogyakarta pulang pergi?

Bandung pulang pergi?

 

Pulang dan pergi adalah siklus mudik. Dan mudik sejatinya adalah aturan kosmik, tentang pencarian akan kerinduan yang sejati.

Karena sebenarnya Bandung adalah tempat permulaan untuk kembali.

Untuk pembahasan lebih luasnya kami butuh pandangan dari kalian semua, mari kita melingkar kita berdiskusi bersama-sama merenungkan dan mencari kesejatian apa sebenarnya mudik itu.  karena itu kami Masyarakat Maiyah Jamparing asih mengundang kalian untuk berkumpul ngariung di tanggal 29 Juni 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung.

Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terimakasih, dan ditunggu kehadiranya.

Reportase : Manusia Puasa

07 Jun 18
ja
No Comments

MANUSIA PUASA

(Reportase Maiyah Jamparing Asih 23 Mei 2018)

 

Kesannya memang seperti agak senewen kalau hendak menyinggung tema “Manusia Puasa”. Sementara untuk membedah dimensi ‘puasa’ saja atau ‘manusia’ hungkul—yang masing-masingnya kebak nilai-nilai tak kasat mata plus menyiratkan banyak dimensi (multidimensi) nan variatif—peradaban masa kini yang paling mutakhir sekali pun tetap akan masih merasa kewalahan. Apalagi jika disatukan?

Namun, bukankah perkara kesukaran tersebut menjadi cair dan akan terasa ringan jika didasarkan pada rasa rindu untuk mentadabburi sesuatu—yang segalanya merupakan titipan amanah-Nya? Maka pada Rabu malam Kamis ini (23/5), seusai hadharah-an dan membaca ta’ziz wa tadzlil bersama dipimpin Mas Aam, para pelingkar maiyah JA mencoba mengurai suguhan tema sebisa mungkin dengan pantikan awal dari penulis mukaddimah.

Gus Ulum menyulut mbako untuk lalu mengungkapkan pentafakkuran puasa dalam diri masing-masing; bertanyalah apakah kita sudah pantas menyebut diri atau mengaku puasa? Sedang pemaknaan yang dilekatkan secara bahasa saja, misalnya upawasa dan pasa dalam Jawa yang dikait-maknakan sebagai usaha mendekatkan diri kepada sesuatu yang kita agungkan, yang Maha Lebih Besar (al-Akbar). Itu saja ternyata masih jauh dari kenyataan wajah perangai kita.

Atau dalam term Arab shaum dan shiyam, yang selintas diasosiasi-artikan dengan kata pause, jeda, berhenti, dan menahan. Lantas obrolan diloncatkan Gus Ulum ke tanda tanya lain; sebagai warga Indonesia, kita itu puasa sejak kapan? Timbul suasana hening sejenak. Kata-kata di kepala seperti sedang menghela napas. Muncul suaranya lagi, puasa itu menahan di tengah masa pelampiasan zaman. Me-manage keinginan-keingan. Raut kenyataannya kini, sekarang itu era sedang puasa-puasanya atau malah tengah buka-bukanya?

Gerbang awal abad 21 yang dinamakan globalisasi dulu, atau kini di era hoax ini, kita lebih sering melampiaskan dibanding menahan, kemuka Gus Ulum. Main share tanpa pertimbangan akal dan analisa yang memadai. Puasa ini kan dalam rangka untuk mengelola esensi diri. Apalagi jelas terang Allah, “puasa ini untuk-Ku”.

Di belantara perabacan zaman, orang-orang berebut, berpacu, berlomba-lomba, bersaing tanpa empati sama sekali, dalam menggaet lailatul qadr untuk justru sebagai ajang pemenuhan kepentingan masing-masing—yang cenderung bersifat egosentris. Kenapa tidak kita menjemput “malam seribu bulan” secara bersama-sama demi Indonesia, misalnya? Maka dari pancingan tersebut, di space-und-time masa ini, masih adakah “Manusia Puasa”?

Tapi, sebelum masuk lebih dalam lagi, boleh jadi semua pancingan itu malah sekadar jebakan, trap, trigger, penyekat, dan payung penghalang hujan keberkahan puasa itu sendiri—yang konon merupakan ibadah yang semata-mata untuk Allah dan akan berbicara sendiri kelak? Toh, pada hakikatnya, bila diuraikan semua alam jagat raya ini berpuasa; tumbuhan, angin, laut, dan bahkan Allah pun berpuasa, seperti yang sering diwejangkan Mbah Nun.

 Kemudian setelah diumpan-lambung oleh Cak Iman selaku moderator, Mas Aam pun menambah Intro, “Kenapa kok manusia yang melulu kita bahas?” Lanjutnya, dalam lagu Ebiet G. Ade mengapa alasannya “tanyakan pada rumput yang bergoyang”? Mungkin sekali manusia lah yang sering absen dari matakuliah yang ia ambil sendiri dari SKS yang disuguhkan Allah. Alam semesta tidak pernah absen.

Ini sangat kontra sekali dengan kalamullah yang Allah sendiri memberikannya sayu’tihi ayatallAllah fil afaqi wafi anfusihim. Manusialah yang paling sering dan ter-berani membelakangi—jika tidak disebut mengingkari—sunnatullah. Macan saja masih makan sehari se-kali dan punya daya menahan diri yang otentik.

Selanjutnya kalau ada yang bertanya, kenapa harus puasa? Goda Mas Aam. Poinnya adalah karena hukum itu pasal yang paling lemah. Manusia memerlukan terobosan inner-source yang mampu mengajarinya mengelola hasrat-hasrat. Tuhan bilang, “Kamu, tahan! Sebelum nanti hancur sendiri.”

Juga soal yang membikin Ramadlan istimewa adalah bukan karena ia Ramadlan. Tapi karena ada yang istimewa “di dalamnnya”, kupas Mas Aam. Aslinya, toh semua yang diwajibkan Allah adalah yang tidak disukai, tidak digemari manusia. Padahal di balik itu semua Tuhan tau bahwa jika kita mengumbarnya, maka kita sendiri binasa—mati-nurani, mati-kejernihan intelektual dsb.

Masuklah Nawa memberikan kudapan Interlude, ada yang istimewa dalam Ramadlan, kenapa? Sebab Al-Quran tidak mungkin diturunkan pada orang-orang yang masih terikat oleh dunia. Syahru ramadlana al-ladzi unzila qur’ana hudan linnasi wa bayyinatim minal huda wal furqan. Manusia tantangannya ada tiga (3): harta, tahta, dan asmara. Perut, kepala, dan kelamin. Setelah manusia menahan 3 perintang tersebut, dengan dimadrasahkan terlebih dahulu pada bulan Ramadlan, manusia telah baru layak untuk dipercikkan cahya ayat-ayat Al-Quran. Puasa itulah yang menjadi datangnya cahaya (nur) Al-Quran, dengan penahanan diri atas hasrat-hasrat duniawi yang melenakan.

Secara tidak disadari pun, puasa akan mengoptimalkan shadr. Qala rabbi ishrahli shadri. Manusia puasa itu berbicara manusia yang mendayagunakan secara optimal dan presisi dalam mengolah potensi shadr untuk kompatibel dan connect menerima wahyu Tuhan. Hudan linnasi.

Apabila mengacu pada amtsal, puasa itu bisa belajar dari ayam, sodoran dari Nawa. Terutama saat ayam mengerami telur. Berarti puasa itu ada yang dihidupkan. Anak-anak ayam. Sedang dalam konteks manusia ialah potensi spiritual untuk semakin intim mendekatkan diri dengan-Nya.

Sesruputan kopi, Cak Iman member view lain. Dalam photography, bicara soal angle, sudut pandang saat Ramadlan terhadap jadwal buka warteg-warteg, dan panti-panti yatim sosial, serta jam tayang acara-acara televise, tiba-tiba menjadi ramai, kenapa? Adakah hasrat berebut tadi, hanya demi berlomba dan tergiur akan iming-iming pahala berlimpah, bukan karena benar-benar tulus membantu selain dirinya sendiri? Atau malah Cuma berniat menolong kepentingan dirinya sendiri?

Tibalah Reff, Mep menghidangkan dua nomor; lagu Slank Lembah Balieum dan lalu dilanjutnya shalawatan Lir-Ilir dilengkapi dengan syi’iran burdah. Para jamaah bertemu suasana romantika-nostalgik dilanjut dengan atmosfer khusyuk-takzim oleh nada-nada burdah yang membawakan segenggam ruang sunyi di lubuk jiwa.

Sepertinya kopi tema di depan lingkaran kami ini takkan habi-habis disruput, sebagaimana lagu JA kali ini tampaknya takkan berujung dan mungkin sama sekali tak berniat untuk menuju end atau closing. Barangkali setiap kami pulang membawa PR di ubun-ubun pojok nurani-akalnya sendiri-sendiri. Mari ngopi kembali di pertemuan nanti. [MnW/05-2018]

***

Reportase : SHUTDOWN

07 Jun 18
ja
No Comments

SHUT DOWN

(Jamparing Asih Edisi September 2017)

 

Kenapa tiba-tiba shut-down? Apakah JA hanya sekedar berniat menggugurkan atau memenuhi kriteria “trendisitas istilah” agar dapat tergolong ke millenial-term yang sedang menggemparkan dirinya sendiri sekarang ini? Bermacam-macam respon. Sah-sah saja. Itu masih Hak Asasi Makhluk (HAM) kata beberapa.

Stimulus tema sejenis demikian, shut-down, sangat mungkin dan memang berpotensi untuk digali dalam keseharian kita yang telah dibanjiri informasi (information-overflow) dan serba machine serta kebak anasir-anasir elektronik. Bahkan nyaris mendominasi—untuk tidak menyebutnya memperbudak—sebulat-bulatnya kehidupan kita.

Ada perhubungan apa antara shut down yang ber-arti “matikan” atau “pareuman!” dengan shut-up; “diam!” atau “tutup-mulutmu”? Meskipun memang shut sendiri memiliki arti “tutup” tapi asal-muasal kenapa jika disandingkan dengan dua kata singkat yang berlawanan itu, down and up, lantas memiliki makna yang berbeda? Bukan walayah kita untuk mengaji perkara tersebut secara mendalam kecuali jika mentadabburinya.

Untuk permulaan, setulisan mukadimah episode kali ini, Mas Aam memberikan pancingan bahwa yang menarik untuk ditadabburi ialah kenapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa? Kapan tepatnya? Apanya yang perlu dimatikan? Siapa pula yang berkenan menshut-down? Dan masih bisa diperpanjang, diurut-urut lagi.

Serupakah kita dengan benda-benda elektronik yang perlu melakukan hal itu demi menghindari error, blank, hang, dan dulur-dulur wajah korsleting lainnya? Atau justru benda-benda dan peranti elektronik itulah, yang dengan tanpa sengaja, dibikin menyerupai fitrah manusia? Secara bawah sadar, mungkin, manusia menciptakan aneka peralatan ke-mesin-an yang tidak jauh beda dengan mereka (benda-benda berkabel) namun merepresentasikan kecenderungannya: “kebutuhan akan shut-down”.

Jika kita bermimpi ketemu Abraham Maslow, tanyakan, kebutuhan shut down akan diselipkan ke mana dalam tatanan Hierarki Kebutuhan cetusannya? Mungkin ia hanya terkekeh sambil mohon maaf lalu meminta tolong kepada kita agar rela menyeduhkan secangkir kopi doa untuknya.

To Shut-Down, To Refresh

            Satu pertanyaan didenyarkan dari Nanda, mahasiswa UIN: “Apakah pikiran, hati, nafsu, buthn, itu batasannya terletak di mana?” Kebingungannya mewakili beberapa jamaah maiyah JA. Mengoreksi ulang tentang kalimat sedulur papat kelimo pancer. Menyambungkan tali dari kebimbangan tentang rumusan kira-kira mengenai bagian mana yang sekiranya perlu untuk di-shutdown terlebih dahulu.

Tiap diri itu spesial, tanggapan dari Om Teguh. Tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Jibril tidak sama dengan malaikat jenis lain—dengan pusparagam jobdesc masing-masing. Sperma saja tidak sama walau jutaan jumlahnya. Dan hanya satu loh yang jadi. Sidik jari pun berbeda sama sekali. Itulah ciri Kemahaan Allah.

Otomatis, manakah yang musti dishutdown? Jelas kita harus mengkaji, menyelami, untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Kita butuh melakukan itu sebelum pada akhirnya memutuskan titik mana yang akan dipareuman heula. Juga dalam hal proses tersebut, kita memerlukan bantuan orang lain. Sawang-sinawang. Lita’arofu. Agar saling mengenal satu sama lain.

Namun, sebelum merambah lebih jauh, Om Teguh menerangkan sejak mata-mata para jamaah mulai memeram tanya, bahwa yang menjadi akar awal masalah ialah tatkala orang menyamakan dirinya dengan orang lain. Ini pemicu tombol bom waktu untuk sebuah kehancuran. Tambah Om Teguh: temukan shutdown sendiri. Umpamanya, dengan mencari tahu, menggali informasi. Makin lama makin tahu kalau kita nyatanya tidak beda sama yang lain. Muter. Barulah kita berucap, bodoh ya kita ini… baru sadar.

Terpetiklah tanggapan dari Mas Aam, dalam hidup ini banyak pengulangan-pengulangan. Lagi-lagi guru yang mengajak kita untuk meneliti itu dalam setiap ngaji bareng itu Mbah Nun. Tetapi itu persoalan tersendiri. Inna nahnu nazzalna dzikro, innahu lahafidzin. Ayat tersebut sepertinya, dengan i’tikad tadabbur, mungkin wajah lain dari kerinduan-kerinduan kita. Dan rindu perkaranya bukan tentang “mempelajari”, namun “mengalami”.

Berapa banyak ilmu yang mempelajari manusia; psikologi, sosiologi, antropologi, pathologi, dst. Pertanyaannya: kita mengalaminya, tidak? Sadar tidak kalau kita ini manusia? (Nas, abdullah, basyar, khalifah, muslimin, muflihin, dan beragam lain-lain). Era modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemajuan, justru menyulut ketidaksadaran dan kemunduran terutama—tentang dirinya sendiri. Peradaban menjadi semakin buram, runyam.

Tak selang lama setelah menikmati selingan perform gitar dari Kang Shofi, Om Teguh mengajak kesadaran diri kembali: ketika zaman kacau, akan ada pembaharu. Selaiknya dalam air keruh akan lahir kerang dengan kilau mutiara di kandungannya. Meski kita diombang-ambing, diserimpung, dikoyak-moyak kekeruhan, nanti aplikasikan shutdown dan hitung-hitunglah output-nya. Minimal, dalam kadar paling rendahnya, kita menjadi manusia. Embel-embel, rumbai-rumbai dan atribusi-tempelan lainnya dishutdown—nanti sesaat masing-masing diri sudah ketemu tempo momentumnya yang tepat. Bahkan akan diketemukan oleh Allah bisa dalam wujud apa saja dan siapa saja.

Senggang waktu, diisilah pandangan Uwa Adi, tentang shut-down yang dibutuhkan dalam upaya menghindari error atau kerusakan. Operating system manusia perlu jeda untuk diistirahatkan. Rehat sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang memekakkan telinga dan mata—bahkan jiiwa. Refresh demi membangkitkan energi lagi. Kalau dalam kamera, terminologi lain yang mungkin sama itu ada istilah shutter. Ia memberi kesempatan agar cahaya masuk dan sebagai hasilnya potret akan berwujud nyata. Lebih hidup. Fokus. Karena telah mendapat hidayah.

Kembali disahuti Mas Aam: sepertinya segala sesuatu itu “siklikal”. Daur. Berulang dan mutar. Persoalan kematian, mati usia dini, kenapa ada yang mati bayi? Lantas kapan ia menjalankan kekhalifahannya di bumi? Barangkali dengan mati pun seseorang baru bisa menunaikan misi rahmatan lil’alaminnya. Tapi ini bukan kebenaran mutlak lantas anda akan menyengajakan waktu kematian dengan bunuh diri, misalnya. Silakan cari, jelajahi, dan selami dengan batas kepasrahanmu pada Gusti-Mu masing-masing.[MnW/2017]

***

 

 

MUKADIMAH : MANUSIA PUASA

21 May 18
ja
No Comments

Apa yang ada di pikiran dan benak kita ketika mendengar istilah ‘Manusia Puasa’? Apakah ‘Manusia Puasa’ itu manusia yang seumur hidupnya dihabiskan dengan menjalankan ritual puasa? Tidak makan dari waktu imsak sampai waktu magrib?

Apakah puasa kita maknai hanya sesempit itu?

Apabila kita lacak dari akar bahasa, puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Upawasa yang bermakna ritual untuk mendekatkan diri, agar sampai pada perjumpaan agung dengan Sang Maha Agung. Ada juga istilah selain Upawasa yaitu Pasa. Kemudian berkembang menjadi Puasa. Selaras dengan makna Shaum atau Shiyam di dalam bahasa Arab Showama berarti menahan, berhenti, tidak bergerak. Menahan di tengah-tengah kebiasaan melampiaskan keinginan. Keinginan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Ingin makan, ingin minum, ingin jalan-jalan dan ingin-ingin seterusnya yang tiada habisnya jika dituruti.

Bahkan mungkin keinginan itu mewujud merasuk dalam rupa mimpi saat tidur. Dimana hidup kita dalam berbagai hal terkait apapun itu, lebih banyak digas dari pada direm. Nah, di sini adanya puasa dalam rangka menahan, mengendalikan, mengingatkan bahwa hidup itu tidak cuma digas tapi juga butuh direm.

Manusia disebut sebagai Khalifah (objek). Tidak dikatakan objek apabila tidak punya keinginan. Dan keinginan ini perlu diolah, puasa ini dalam rangka mengolah keinginan-keinginan kita. Yang pada dasarnya keinginan itu bukan berasal dari diri akan tetapi berasal dari fantasi-fantasi yang menyertai keinginan tersebut. Semisal dalam puasa di bulan Ramadhan ini, kenapa kaum Muslim mendadak berlomba-lomba datang ke masjid, beribadah, dzikir, tadarus, dll?

Karena ada sebuah fantasi, keinginan, anggapan yang sudah menjadi pemahaman di kalangan masyarakat kita, ketika di bulan Ramadhan itu seluruh amal ibadah kita digandakan oleh Allah. Orang sholat, shodaqoh, jihad, haji karena fantasinya terhadap surga, bidadari. Orang berebut jabatan, kursi karena fantasinya yang meyakinkan diri ketika sudah tercapai keinginan ini keinginan itu, hidup akan lebih bahagia, kaya, eksis, dikenal banyak orang, dihormati, dll.

Oleh karena itulah, puasa Ramadhan sebulan penuh ini hanya sebatas madrasah, sekolah dimana kita diwajibkan, dituliskan (Kutiba) dalam Al-Qur’an untuk menjalankan puasa, dalam rangka mengolah, mengendalikan, menahan keinginan-keinginan baik yang bersifat duniawi maupun bersifat ruhani.

Lalu apakah puasa itu hanya untuk diri? Atau puasa itu untuk-Ku (Allah) seperti yang disebutkan dalam hadits-hadits itu? Kita harus berhati-hati, karena di sisi lain bulan puasa ini juga memiliki efek halusinasi, yang dapat menyebabkan kita sudah merasa menjalani puasa. Padahal kita puasa atas apa? Apa memindahkan jam tayang makan itu yang kita sebut puasa? Godaan orang memberi itu merasa bahwa dirinya sudah dermawan, godaan orang yang terlalu senang berbicara di depan publik itu merasa dirinya lebih tahu, merasa lebih pandai, menggurui, dll. Dan godaan bagi manusia puasa ini justru lebih rumit lagi: merasa dirinya sudah berpuasa itu godaan, merasa dirinya belum puasa itu juga godaan. Malah justru dalam bulan Ramadhan ini terkadang puasa itu bukan terletak pada menahan rasa laparnya, namun pada kesabaran hati untuk menahan selama sebulan penuh mendengar suara bising para tukang ceramah, para penjaga barisan moral, baik di masjid, di mushola dan televisi yang sibuk mengobral pahala, surga, serta mitos-mitos semacamnya dan godaan menahan diri terhadap orang-orang yang terlalu men-teatrikal-kan puasa di bulan Ramadhan ini.

Padahal esensi puasa tidak hanya sebatas untuk mengolah diri. Tapi mampu menjadi menejemen di setiap rumah, lingkungan masyarakat, negara, kebudayaan dan peradaban. Apabila kita proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, negara ini puasa sejak kapan? Di era sekarang ini lebih banyak buka atau puasanya? Sistem demokrasi seperti sekarang ini lebih banyak berbuka atau puasanya? Bukankah di era hoax ini manusia lebih berlomba-lomba melampiaskan dari pada menahan? Sehingga pada akhirnya dapat dengan mudah digiring oleh sebuah arus berita-berita, info-info picisan dan murahan yang dibuat oleh para penjahat negeri. Walaupun mau tidak mau kita akui bahwa latihan (madrasah) selama sebulan ini tidak mudah, karena budaya konsumerisme sebagai anak kapitalisme sudah menunggangi dalam kehidupan beragama di kalangan masyarakat kita, baik dalam puasa Ramadhan, haji, dll. Sehingga jalan satu-satu nya untuk meng-counter kapitalisme dan budaya konsumerisme ini dengan cara berpuasa, menjadi manusia puasa dari setiap individu di antara kita.

Karena hidup di dunia ini hanya sebatas mampir ngombe, hanya sebatas ngabuburit sampai pada waktu berbuka itu tiba. Bahwa hidup kita ini ibarat hanya sebatas menunggu saat-saat waktu berbuka puasa/perjumpaan agung dengan yang Maha Agung. Dimana secara hikakat baik hewan, tumbuhan, alam jagat raya seisinya dan Tuhan pun berpuasa. Lantas apakah manusia puasa itu? Entahlah …

Masih adakah manusia puasa di era seperti sekarang ini? Minimal apakah kita bersedia untuk mentadaburi walau sedikit saja perihal jalan sunyi manusia puasa? Yang bertepatan pada bulan ini salah satu dari tiga Marja’ Maiyah lahir di Bumi Nusantara. Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama di riungan Majelis Maiyah Bandung, 23 Mei 2018. Pukul 20.00 WIB. Di Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur, jalan raya Cibiru Hilir No.04, RT 01/RW01, Cileunyi Bandung. Di ruang rindu, di kedalaman kalbu, mari kita bertemu …

***

Mukadimah : Sidik Paningal

27 Apr 18
ja
No Comments

Sidik paningal? Penglihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi & jelas ke titik, dalam bahasa arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masa nya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan segalanya bisa dengan mudah dilakukan secara instant? Dimana robot dengan mudah tercipta di berbagai tempat. Pangkas ilmunya, injeksi perintah program yang harus dijalankan tanpa ada kemungkinan tolah-toleh, tangan kaki terantai, mata terbuka serta alat indera nya berfungsi tetapi tak terhubung antara kepala dan badannya. Hingga muncullah ayat Iqra bismi Rabbikalladzi kholaq, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di Gua Hiro itulah Muhammad bin Abdullah menjadi perintis Manusia Iqro’, bukan robot!

Nabi Khidir pun dalam Paningal-nya diperjalankan Allah bertemu Musa lalu membunuh anak kecil, melubangi kapal, dan menegakkan tembok yang roboh. Hingga membuat Musa tidak lulus menjadi murid karena dalam Paningal Musa hal seperti itu tidak ladzim atau bertentangan dengan pengetahuannya. Padahal di perjalanan lain, Nabi Musa dengan tongkat nya pun dengan Paningal nya berjalan menuju lautan ketika dikejar Firaun, yang bagi kaum nya itu hal bodor menurut Paningal mereka. Lalu Sidik Paningal itu seperti apa? Hingga tercipta kisah dalam Lauhul Mahfudz seperti itu. Sidik Paningal atau Silau Paningal-kah itu? Tersilaukan karena terlalu dekat tanpa source hardware serta software yang mumpuni kah? Yang dengan source itu maka Silau itu pun tersibak hingga jelas titik itu. Nur ala Nur….

Bagaimana menentukan presisi koordinat kita? Lalu mungkinkah positioning peran tiap ciptaan nya saling memiliki Sidik Paningal nya masing-masing seperti wujud sidik jari manusia yang berbeda satu sama lain? Bahkan kembar identik pun memiliki ketidak identikan nya. Yang jago mengolah makanan dengan istiqomah meracik komposisi bumbu, memproses hingga bisa disajikan dengan kasih sayang, yang keahliannya bisa menyetir pun mengendalikan tunggangannya dengan apik serta mengantarkan penumpangnya agar aman serta nyaman hingga tujuan, dan masih banyak lagi. Ataukah seperti ‘ceunah’ wakil kita yang mengatur tata tanah nusantara peninggalan leluhur kita ini, yang mengemong dengan cara membujuk Mbah Tanah agar mau dimadu dengan lembaran-lembaran cetakan nilai tukar? Kakang pohon yang rela mengalah ketika wakil makhluk terbungsu ini mengubah wujudnya menjadi abu? Abah Air  yang biasa ikhlas mengamalkan ilmu ‘kantong bolong’ kepada semua makhluk, dipaksa  diperas dan diperkosa lalu perdagangkan keikhlasan nya?

Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama saling mengasah presisi serta menentukan koordinat diri, Sidik Paningal kita hingga memperjalankan kita menuju Putus Pamrikso dan kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 27 April 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung. Di Ruang rindu.. Kita bertemu….

***

mukadimah: dogdog pangrewong

20 Mar 18
ja
No Comments

Dogdog adalah alat musik membranophone  yang suaranya keras dan nyaring seperti drum. Namun drum ini membrannya menggunakan plastik sedangkan dogdog menggunakan kulit kambing yang dikencangkan oleh rotan dan belahan kayu atau dalam istilah Sundanya yaitu dipaseuk. Salah satu kesenian di Jawa Barat yang menggunakan dogdog adalah seni Reak, kesenian ini dahulu memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengiringi upacara panen padi, khusunya ketika mengangkut padi dari sawah menuju lumbung. Dewasa ini akibat banyak petani yang gantung cangkul karena sawahnya dibabad oleh tanaman semen, maka seni syukuran pengiring panen padi ini berubah fungsi menjadi seni helaran syukuran anak khitan yang diarak keliling kampung.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda ada sebuah peribahasa Dogdog Pangrèwong. Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada posisi dan status seseorang yang tidak terlalu penting fungsi kehadirannya. Misalnya kalau berbicara cuma sekadar menimpali. Kalau membantu pun cuma sekadar dianggap lumayan, daripada tidak sama sekali. Maka setelah selesai, kehadiran dogdog pangrèwong akan disimpan kembali, mungkin akan dikeluarkan lagi suatu saat nanti meski entah kapan. Maka  peribahasa tersebut bisa kita pahami  sebagai suatu penambahan materi yang sifatnya tidak penting, maka jika hal tersebut tidak ada pun tidak masalah.

Dengan merujuk terhadap musikalitas dogdog  yang memiliki timbre keras, nyaring dan menggelegar dan pangrèwong berasal dari kata rèwong yang artinya menganggu,  maka secara harfiah, peribahasa ini berarti suara kemeriahan yang menganggu. Namun bukan berarti alat musik tersebut  adalah sesuatu hal yang mutlak sebagai suara pengacau,  tetapi hanya penggambaran suasana yang meriah saja. Yang menarik dari hal tersebut,  Sepertinya karuhun tidak ingin terlalu kejam dalam meluapkan kekesalannya terhadap sesuatu yang menganggu. Saking bijaksananya, karuhun menggap kehadiran noise tersebut  seakan memberikan kontribusi, meski nyatanya tidak memberikan apa-apa. Maka jika kita mencoba memaknai sesuatu yang menganggu tersebut tidak sebatas manusia atau suara-suara, Dogdog pangrèwong adalah segala  kemeriahan atau keasyikan apapun  yang sejatinya berpotensi menganggu diri kita terhadap segala hal. Bagaimana jika hal-hal tersebut adalah kemeriahan atau kebisingan-kebisingan yang menganggu kemesraan kita denganNya?

Pemaknaaan dogdog pangrèwong pun bisa menjadi beragam jika kita ambil dalam kordinat lain, misalnya jika peribahasa ini  biasa digunakan  untuk manusia yang selalu ikut-ikutan  hadir meski tidak berguna, bagaimana jika anggapan si Dogdog pangrewong ini sebagai upaya sodaqoh yang ingin ia berikan semampunya? Atau sebagai bentuk kerendah hatian serta kepasrahan seseorang menyikapi dan menghadapi robot-robot canggih yang salah program?

Banyak sekali ternyata makna suatu istilah jika kita coba bidik dari kordinat lain. Lantas dari potensi melebarnya pemaknaan tersebut, apakah kita akan masuk ke dalam zona dogdog pangrèwong juga? Tapi dogdog pangrèwong yang mana? Atau jadi pangrèwong dogdog?  Atau mau jadi dogdognya saja? Atau jadi pangrèwongnya saja?

Mari kita melingkar dan diskusi bersama-sama menyikapi fenomena dunia yang kini kian meriah namun tidak meraih sesuatu untuk memperjalankan kita menuju kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 30 Maret 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung.

***

MUKADIMAH: Samagaha Pikir

20 Feb 18
ja
No Comments

Samagaha Pikir

 

“Apakah ada yang ingin ditanyakan anak-anak?”  Tanya seorang pengajar kepada siswa-siswinya.

Kelas sejenak hening, beberapa siswa SMU itu hanya menyoroti seorang pengajar yang berdiri di depan kelas dengan baju dinas berwarna coklat. Pengajar tersebut mempersilahkan kembali kepada siswanya barangkali ada sesuatu yang ingin ditanyakan setelah ia memberikan serangkaian materi tentang fenomena alam. Namun siswa-siswi tersebut nampak bertambah keasyikannya menatap si pengajar yang sedang menodongkan tangan kanannya. Pengajar yang sedikit terlihat tua itu mengeritkan dahinya, kenapa tidak ada respon atas pertanyaanya tersebut? Dia malah menyaksikan siswa-siswa bangku pojokan belakang yang sedang sibuk merapihkan buku. Ada juga yang sibuk memasuk-masukan perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Dalam hati si pengajar bergumam “Ada apa ini sebenarnya? Apakah siswa-siswa ini sudah faham? Apakah mereka sudah lebih tau dari aku? Apakah mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa? Apa yang ada dalam pikiran siswa-siswa ini???”

Pengajar berbaju coklat tersebut tiba-tiba diserang dengan beberapa pertanyaan yang menusuk hatinya, serta mengoyak-ngoyak pikirannya. Dalam hujaman pertanyaan atas dirinya tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya?

“Silahkan Parta apa yang ingin kamu tanyakan?” Ucap pengajar tersebut.

Ketika Parta akan berucap tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya tanda kegiatan belajar telah berakhir.

“Baik Parta, maaf sekali waktu sudah habis. Simpan pertanyaanmu dan kita bertemu minggu depan” sahut si pengajar sambil bergegas dan dengan cepat ia meninggalkan kelas sambil pamit dan mengucapkan salam.

Siswa-siswa beteriak dengan girangnya, ekspresi kegagapan yang sebelumnya ditampilkan di hadapan pengajar ketika sedang kegiatan belajar berbalik menjadi teriakan-teriakan seperti budak yang dimerdekakan saat itu juga. Namun seorang siswa yang bernama Parta hanya termenung seperti ada sesuatu yang menganggu pikirannya. siswa-siswa pun berhamburan meninggalkan kelas dengan ribut, Parta masih terduduk saat itu, ketika kelas perlahan tenang ia barulah meninggalkan kelas dengan tertunduk membawa beban dikepala dan juga hatinya.

Di perjalanan pulang menuju rumah Parta mencoba mengingat kembali apa yang tadi dikelas ia dapatkan disaat pengajarnya bercerita tentang fenomena alam. Salah satu yang ia ingat adalah ketika pengjarnya di kelas berkata bahwa akhir ini kita sedang menyaksikan kemarahan Tuhan, banyak bencana alam dimana-mana, sungai meluap banjir, tanah tiada hentinya bergemuruh gempa, dan itu semua adalah bukti bahwa Tuhan sedang marah. Parta bingung, dalam hati kecilnya ia berbicara loh kok Tuhan pemarah ya? Bukannya Ia maha pengasih dan juga maha pemurah? Kenapa bisa marah juga? Apakah pengajarku itu becanda? Kalau Tuhan marah berarti adakah kesalahan yang sangat fatal dilakukan oleh manusia? Sejak kapan manusia melakukan sesuatu kesalahan hingga Tuhan marah? Apakah marahnya sekarang aja? Atau dari dulu? Apakah nanti bakal marah lagi? Parta yakin Tuhan tidak marah, jadi apakah Tuhan  memberikan teguran, peringatan atau hukuman?

Parta tidak ingin mengunakan kata-kata tersebut untuk menghindari kejadian alam dan menjadikan alat untuk meng’kambinghitam’kan Tuhan, atau setidaknya GR bahwa Tuhan sedang menguji (padahal meng-azab-nya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Tuhan menguji kita –manakala banjir bandang datang menerjang.

***

Ketika di angkot akan pulang ke rumah Parta menyaksikan beberapa ibu-ibu sedang asyik membicarakan bahwa nanti malam akan ada fenomena alam yang spektakuler katanya. Yaitu akan ada sebuah femomena langka yang terjadi setiap seratus tahunan sekali, kejadian itu bernama Super Blue Blood Moon. Katanya bulan akan berwarna merah, biru, putih dan terang menyala. Ini hal yang menakjubkan. Penampakan bulan tersebut diakibatkan karena gerhana bulan, dimana posisi matahari, bumi dan bulan dalam keadaan sejajar.

Parta menjadi teringat dengan kejadian gerhana matahari beberapa tahun yang lalu, semua orang seperti biasa terlarut dalam euforia fenomena alam tersebut, semua orang ingin menyaksikan tampilan gerhana matahari tersebut, ada yang pergi ke tempat Nobar Gerhana, ada yang menuju tempat studi astronomi, ada yang tidak beranjak dari televisi yang menyaksikan siaran langsung proses gerhana. Begitu banyak masyarakat yang antusias ingin menyaksikan kejadian ini. Parta ingat sehabis pulang ‘shalat gerhana’ dan bertemu dengan kakek tua yang berdiam diri di masjid tidak seperti kebanyakan orang yang seolah tidak ingin ketinggalan menyaksikan fenomena tersebut. Parta masih mengingat ucapan kakek tua yang bernama Abah Idi ketika ditanya kenapa kakek tidak ingin melihat fenomena yang jarang terjadi itu, Abah Idi pernah berkata bahwa gerhana atau yang di daerahnya disebut Samagaha menurutnya jangan dirasakan secara visual saja, meski ini fenomena yang langka kita harus ingat siapa Yang Maha Membuat fenomena tersebut? Apa tujuan Sang Maha Kuasa menciptakan sebuah fenomena samagaha? Bagi dirinya jika gerhana matahari terjadi karena posisi cahaya matahari menuju bumi terhalang bulan karena garis edarnya berada pada posisi sejajar sesungguhnya ini pun terjadi pada diri manusia. Telah terjadi Samagaha Pikir. Karena akhir-akhir ini pemikiran manusia banyak terhalang oleh sesuatu yang membuat dirinya tergelapkan. Samagaha hanya terjadi beberapa menit saja. Tapi ‘samagaha pikir’ bisa berlanjut terus sebelum dirinya melepaskan diri dari zona tergelapkan yang dapat menghalanginya menerima cahaya ilmu untuk sebuah pemikiran yang terang. Begitupun dengan gerhana bulan, banyak orang yang mengidolakan bulan berwarna terang-benderang, menurut Abah Idi kita harus ingat dimana sumber cahaya yang membuat bulan menjadi terang benderang? Jangan menghadap hanya kepada bulan saja, karena kecantikan bulan hanya berangsung beberapa menit. Samagaha bulan hanya terjadi beberapa menit saja tetapi ‘samagaha pikir’ bisa terus terjadi sebelum manusia ingat kembali kepada siapa Sang Pemberi Pemikiran yang terang? Siapa Yang Maha Kaya akan sebuah cahaya tersebut?

Mendengar beberapa perkataan yang diberikan oleh Abah Idi, Parta tertunduk dan merenung apakah selama ini telah terjadi ‘samagaha pikir’ dalam dirinya? Parta tidak menjawab ketika dirinya ditanya oleh Abah Idi apa samagaha itu bagi dirinya? Apa samagaha itu bagi orang lain?

Apa ‘samagaha pikir’ itu seperti apa yang dikatakan Abah Idi? Apa Samagaha Pikir bagi orang lain? Apakah ada yang lebih menarik dari fenomena samagaha ini?

Jika ada sesuatu yang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut mengenai Samagaha Pikir ini, mari bersama-sama kita melingkar di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih hari Jumat 23 Januari 2017 pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Anak Jalanan At Tamur Cibiru Hilir.

 

mukadimah : Gagap Gempita Spiritual

25 Jan 18
ja
No Comments

Gagap gempita bukan gegap gempita? Tergagap-gagap kah kita melihat deras arus zaman saat ini ataukah justru bergegap gempita kita menyelaminya? Atau pernahkan terbersit dalam hati seperti ini: Silakan berbuat seperti apapun, mau jungkir balik pun silahkan, asal jangan aku serta keluargaku yang berbuat seperti itu! Kami sudah menemukan cahaya yang benar, sedang kalian hanya mendapat kegelapan tanpa cahaya, semua ibadah kami lahap semua.

Sek Toh! ‘Saha maneh?’, kok berani berkata seperti itu! Cahayaku itu lebih terang daripada punyamu. Rapal ajianku lebih manjur dan sangat mustajab, alam semesta pun tunduk dan takluk padaku. Ohhh tunggu dulu, kalian berdua saling berargumen tanpa tahu argumenku. Kalian tidak punya pusaka dan kitab seperti aku kan, aku punya itu semua dan dijamin bisa melindungiku dan jadi penunjuk arahku.

Indah dan berwarna sekali dunia ini bukan? Mari berlomba-lomba dalam gagap gempita spiritual. Hingga Laa Hawla wa Laa Quwatta wa La Sulthona Illa Billah kamu simpan di sudut pojokan gudang rumahmu. Selamat berlomba mengorganisasikan kapan harus buang hajat, kapan udara harus keluar masuk tubuhmu, berapa frekuensi detak jantungmu tiap menitnya. Silahkan memilah-milah nutrisi mana yang dibutuhkan tubuh dan kandungan zat yang tidak dibutuhkan tubuh. Bertandinglah dengan mencret yang memiliki kecepatan melebihi kilat dan lampu menyala. Mampukah?

Yakinkah kita bahwa cahaya itu yang utama, lalu tanpa cahaya itu berbahaya? Lalu bagaimana posisi “Sebelum Cahaya”? Atau sadarkah mungkin kita sedang terbutakan oleh Cahaya? Adakah yang memiliki kemampuan menjadi ‘Juri Ahli’ dalam menilai ‘Pitch Control’ kondisi itu? Sedang dalam keseharian kita dicekoki makanan-makanan informasi yang begitu membeludak, kita kamerkaan dan tubuh kita overheat hingga malfungsi terhadap Rahmat-Nya.

Hingga soal makanan pun kita sudah dihomogenkan, dari hal sesederhana itu. Yang sehat ya 4 sehat 5 sempurna, nutrisi kalorinya harus segini bukan segitu. Yang tidak seperti itu berarti tidak sehat penyakitan. Penyakit kok selalu menjadi kambing hitam? Ketika memang harus dituruti, lalu mengapa harga bahan makanan kini melambung begitu tinggi? Bagaimana perasaan Mbah Tumbuhan dan Hewan ketika mereka dimonopoli oleh adik bungsunya bernama manusia?

Lalu teori itu pun apakah bisa batal mengingat kita setiap hari kebanyakan hanya makan seadanya saja sudah bisa menendang bola dengan kencang saat futsal, berorasi dengan begitu lantang dan menggetarkan, membuka tutup aplikasi dan game di gadget atau mengoceh seharian lewat media mulut atau media lain ngerasani segala tetek bengek dunia?

Berbagai kemudahan Spiritual Zaman Now, bahan diskusi kepintaran tentang banyak hal bisa dengan gampang ditempuh dengan ngabdi ke Romo Yai al Gugeliyah. Naik derajat cepat asal sering upload foto di Gus Instegrem dan Syekh Pesbukiyah dengan ulama dan umaro, tidak lupa dibumbui kata-kata bijak hasil mengutip.

Menguasai berbagai ilmu batin serta naik ‘maqom’ terlaksana dengan mahar uang harta benda bahkan jiwa raga pun direntalkan. Titel yang gampang disematkan asal kowe tiap tahun siap membuat karya buku untuk mempertahankan Gelarmu dan ke sana kemari bermahkotakan atribut ‘keagamaan’ ceunah mah, baju agama yang glamor branded. Tapi kok terlihat tidak bercelana, terlihat kemaluanmu. Apa memang sengaja harga dirimu kau perlihatkan, pamerkan, serta gempitakan? Agar sejuk tertiup angin lalu kerokan akibat demam meriang kemudian?

Apa sudah benar kondisi itu semua beresonansi dengan para manusia saat ini? Kalau sudah bener opo sudah pener? Ah jangan su`udhon, siapa tau mereka lakukan itu hanya demi urusan perut, tempat tinggal, kendaraan, dan seluruh fasilitas dunia dan bertahan hidup di ‘Rimba Raya Dunia’, iya kan? Oh husnudhdhon saja, mungkin sedang berproses sibuk mengurusi depan pintu Goa. Tapi dalam Goa Kahfi, Goa Garba, Bilik Kasunyatan dibiarkan, hingga Ashahbul Kahfi dan Dewa Ruci minggat pergi! Tunggu dulu, atau justru dirimu yang minggat pergi tanpa kamu sadari?

Halo generasi micin wal kagetan! Just rock n roll sajalah, toh kita semua juga awalnya dari batu, dari tanah. Lalu Rolling, menggelinding, berputar, Kunnnnn Fayakuuuuunnnnnnn! Aki John Lennon saja dalam lirik lagunya Imagine, membayangkan tidak ada surga dan neraka. Dan om Chrisye dengan Jika Surga dan Neraka tak pernah ada. Mungkinkah surga dan neraka ini salah satu penyebab saling berfanatik rianya manusia?

Perlukah saling berlomba mengejar Surga dengan berbagai dalih dan segala cara? Klaim bahwa agama, suku, golongannya lah yang paling berhak mendapat warisan sepetak tanah ‘Surga’, atau dalam dimensi gelombang lain, paling berhak mewarisi tanah perdikan nusantara milik Gusti Allah ini? jika yang satu berhak, apakah yang lain menjadi tidak berhak? Lalu bagaimana dengan menang tanpo ngasorake? Apakah sudah tidak berlaku mata uang itu di masa sekarang yang penuh gegap gempita yang gagap? Ritual tanpa spirit? atau spirit tanpa ritual? Gagap gegap gugup?

Apakah urusan ini sudah beres ataukah masih banyak kisah yang tertunda dari dahulu hingga saat ini? Masa kini, masa depan, masa lalu? Memasadepankan masa silam? Ah entahlah, jangankan berbuat kebaikan, berbuat jahat pun kita tak mampu. Hanya pertolongan-Nya lah, Maha Rahman Rahim, selalu mengembalikan kita di posisi Ihdinas Shirotol Mustaqim di saat tiap sekejapan mata kita potensi tergelincir jatuh sangatlah besar, atau bahkan always.

Diantosan kasumpinganana para Punokawan JA. Sasarengan ngopi ngaruing dengan kerendahan hati dan saling guyub rukun melingkar berMaiyah di bilik kasunyatan Jamparing Asih. Imagine all the people… Living life in peace.. Yuhuuu…[]