Aku kembali ke bandung dan kepada cintaku yang sesunguhnya.

-Bung karno

Sengaja saya awali tulisan muqadimah pengantar diskusi ini dengan kata-kata dari anak cucu bangsa nusantara yang dimana ia kemudian menjadi proklamator negara, yang hari ini kita dan dunia kenal dengan nama Indonesia.

Terlepas dari konteks sejarah dan maksud bagaimana bung besar mengucapkan kalimat tersebut, namun hal penting yang saya garis bawahi adalah bahwa ada perasaan begitu besar yang sulit untuk dijelaskan, terkubur dan tersimpan di Bandung.

Entah bagaimana sejatinya sejarah awal mula daerah itu dinamai Bandung, jujur saja saya tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang itu. Terlebih lagi banyak versi sejarah yang menceritakanya. Namun hal yang cukup menarik perhatian saya adalah bahwa keberadaan Bandung tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sungai cikapundung.

Kita bisa tengok sejarah peradaban dunia, bahwa setiap lahirnya peradaban tidak bisa lepas dari keberadaan sungai didalamnya. Tengoklah peradaban india,mesir kuno, mesopotamia, dan lain sebagainya. Beserta peradaban tersebut, pasti terdapat sungai yang menyertainya.

 Banyak ahli kesundaan, mengartikan bahwa  kata “cikapundung” adalah gabungan dari berbagai macam kata.  “tji”, berarti cahaya, “ka” berarti kepada, “pun” berarti kepemilikian, “indung” berarti ibu. Sederhananya arti cikapundung dalam bahasa Indonesia bisa diartikan

 “Cahaya menuju ibuku”.

Dalam beberapa khasanah kesundaan lain,ada pengertian bahwa “Bandung”, adalah “Ngabandungan Banda Indung” Ngabandungan artinya, memperhatikan, Banda, artinya materi, indung artinya ibu. Sederhanya Bandung bisa kita artikan

 “memperhatikan segala sesuatu yang lahir dari rahim ibu”.

Lantas pertanyaan kita adalah apa saja yang dilahirkan oleh ibu?

Saya pernah berbicara dengan penganut kepercayaan sunda wiwitan bahwa yang dinamai ibu ada dua. Pertama adalah ibu lahir yang berarti ibu biologis yang melahirkan kita, kemudian ibu batin yang berarti tanah kelahiran. Ibu yang dimana selama kita hidup selalu kita injak, kita serap ,kita hisap ,tanpa pernah kita ingat dan  berterima kasih terhadapnya.

Dari pengertian sanalah, bagi saya mudik menjadi begitu berharga bagi manusia indonesa. Mudik adalah kerinduaan yang tak tertahan kepada segala sesuatu yang melahirkan dan tumbuh berkembang bersama menyertai manusia indonesia.

 Siapakah di dunia ini yang tidak rindu kembali ke ibu?

Mudik sudah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun oleh manusia Indonesia. sehabis melaksanakan ibadah puasa, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan manusia Indonesia melakukan persiapan dengan berbagai macam perbekalan yang disiapkan untuk kembali ke kampung halaman. Kita rindu kembali ke tanah kelahiran kita. Tanah yang dimana dalam tanah itu menyimpan bagian dari tubuh kita saat kita dilahirkan ke dunia.

 Oleh sebab itulah kenapa tradisi mudik sangat mendarah daging dan dijiwai bagi manusia Indonesia. dengan mudik kita bisa berkumpul dengan keluarga, saudara, teman-teman, kita membasuh kerinduan akan masa lalu yang kering, setelah cukup lama kita tingalkan. Begitu sangat banyak orang dilibatkan dalam prosesi tahunan ini, bahkan dimensi spirtualitas sangat tercermin dalam tradisi mudik ini.

Di sepanjang perjalanan menuju kampung halaman, Kita bisa lihat dimana ratusan ribu orang bersamaan tumpah ruah berbondong-bondong  pergi menuju kekampung halamanya masing-masing.

Setelah sampai kampung halaman dan selesai melaksanakan shalat ied, orang-orang rame-rame bersilaturahmi bersama sanak keluarga, rekan, sahabat dan bahkan kepada warga yang mereka sendiri saling tidak kenal sebelumya. Selain kepada orang yang masih hidup, mereka juga tidak lupa untuk mendatangi orang-orang yang sudah meninggal, untuk kemudian diingat-ingat jasa kebaikan mereka lalu kemudian didoakan. Juga tidak lupa sebagai pengingat  bahwa suatu saat dirinyalah yang akan berada didalam tanah itu.

“mengigat kematian!”  bukankah hal itu perenungan yang sangat dalam?

 Kembali kepada Bandung.

Bandung Indonesia pulang pergi? Ya begitulah.

Bagi saya Bandung adalah rahim negara Indonesia. Tempat dimana sejarah pergolakan pemikiran para pendiri bangsa bergejolak dan diasuh disana oleh sang ‘ibu’.

Sejarah mencatat bahwa di Jln Ciateul No 8 RT 02 RW 07 kelurahan nyengseret, kecamatan Astana anyar kota Bandung, terdapat sebuah rumah tempat berkumpulnya para founding father Indonesia melakukan pertemuan dan diskusi membahas masa depan bangsa Indonesia. dirumah itulah sosok seperti, Kh Agoes salim, Ki hadjar dewantoro, Hos Tjokroaminoto, H sanusi,Moh yamin, Kh Mas ali Mansur, MH, thamrin, Abdoel Muis, sostro Kartono( kakak Ibu kartini), Ali sastro, Asmara hadi,ibu trimurti, Suyudi, Soetan sjahrir, Mohamamad hatta , Soekarno , dlsb,  berkumpul. Mereka saling beradu intelektual untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan bagi negara indonesia.

Sub Judul diskusi Maiyah Jamparing Asih kali ini, sebenarnya terinspirasi dari judul buku Si Mbah.  Maulana Emha Ainun Nadjib. Yang berjudul Yogyakarta Indonesia pulang pergi.  Jujur saja saya sebagi penulis Muqadimah untuk diskusi ini, belum pernah membaca buku tersebut. Namun saya berani menulis muqadimah ini dengan mengambil saduran dari buku si mbah tersebut, karena Bandung dan Jogyakarta memiliki hentakan ritmis yang sama dalam perkembangan dan perjuangan untuk kemerdekaan Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.

Yogyakarta pulang pergi?

Bandung pulang pergi?

 

Pulang dan pergi adalah siklus mudik. Dan mudik sejatinya adalah aturan kosmik, tentang pencarian akan kerinduan yang sejati.

Karena sebenarnya Bandung adalah tempat permulaan untuk kembali.

Untuk pembahasan lebih luasnya kami butuh pandangan dari kalian semua, mari kita melingkar kita berdiskusi bersama-sama merenungkan dan mencari kesejatian apa sebenarnya mudik itu.  karena itu kami Masyarakat Maiyah Jamparing asih mengundang kalian untuk berkumpul ngariung di tanggal 29 Juni 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung.

Kurang lebihnya saya mohon maaf. Terimakasih, dan ditunggu kehadiranya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *