Blog Detail

Mukadimah : Sidik Paningal

27 Apr 18
ja
No Comments

Sidik paningal? Penglihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi & jelas ke titik, dalam bahasa arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masa nya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan segalanya bisa dengan mudah dilakukan secara instant? Dimana robot dengan mudah tercipta di berbagai tempat. Pangkas ilmunya, injeksi perintah program yang harus dijalankan tanpa ada kemungkinan tolah-toleh, tangan kaki terantai, mata terbuka serta alat indera nya berfungsi tetapi tak terhubung antara kepala dan badannya. Hingga muncullah ayat Iqra bismi Rabbikalladzi kholaq, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di Gua Hiro itulah Muhammad bin Abdullah menjadi perintis Manusia Iqro’, bukan robot!

Nabi Khidir pun dalam Paningal-nya diperjalankan Allah bertemu Musa lalu membunuh anak kecil, melubangi kapal, dan menegakkan tembok yang roboh. Hingga membuat Musa tidak lulus menjadi murid karena dalam Paningal Musa hal seperti itu tidak ladzim atau bertentangan dengan pengetahuannya. Padahal di perjalanan lain, Nabi Musa dengan tongkat nya pun dengan Paningal nya berjalan menuju lautan ketika dikejar Firaun, yang bagi kaum nya itu hal bodor menurut Paningal mereka. Lalu Sidik Paningal itu seperti apa? Hingga tercipta kisah dalam Lauhul Mahfudz seperti itu. Sidik Paningal atau Silau Paningal-kah itu? Tersilaukan karena terlalu dekat tanpa source hardware serta software yang mumpuni kah? Yang dengan source itu maka Silau itu pun tersibak hingga jelas titik itu. Nur ala Nur….

Bagaimana menentukan presisi koordinat kita? Lalu mungkinkah positioning peran tiap ciptaan nya saling memiliki Sidik Paningal nya masing-masing seperti wujud sidik jari manusia yang berbeda satu sama lain? Bahkan kembar identik pun memiliki ketidak identikan nya. Yang jago mengolah makanan dengan istiqomah meracik komposisi bumbu, memproses hingga bisa disajikan dengan kasih sayang, yang keahliannya bisa menyetir pun mengendalikan tunggangannya dengan apik serta mengantarkan penumpangnya agar aman serta nyaman hingga tujuan, dan masih banyak lagi. Ataukah seperti ‘ceunah’ wakil kita yang mengatur tata tanah nusantara peninggalan leluhur kita ini, yang mengemong dengan cara membujuk Mbah Tanah agar mau dimadu dengan lembaran-lembaran cetakan nilai tukar? Kakang pohon yang rela mengalah ketika wakil makhluk terbungsu ini mengubah wujudnya menjadi abu? Abah Air¬† yang biasa ikhlas mengamalkan ilmu ‘kantong bolong’ kepada semua makhluk, dipaksa¬† diperas dan diperkosa lalu perdagangkan keikhlasan nya?

Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama saling mengasah presisi serta menentukan koordinat diri, Sidik Paningal kita hingga memperjalankan kita menuju Putus Pamrikso dan kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 27 April 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung. Di Ruang rindu.. Kita bertemu….

***

Leave A Comment