Blog Detail

mukadimah : Gagap Gempita Spiritual

25 Jan 18
ja
No Comments

Gagap gempita bukan gegap gempita? Tergagap-gagap kah kita melihat deras arus zaman saat ini ataukah justru bergegap gempita kita menyelaminya? Atau pernahkan terbersit dalam hati seperti ini: Silakan berbuat seperti apapun, mau jungkir balik pun silahkan, asal jangan aku serta keluargaku yang berbuat seperti itu! Kami sudah menemukan cahaya yang benar, sedang kalian hanya mendapat kegelapan tanpa cahaya, semua ibadah kami lahap semua.

Sek Toh! ‘Saha maneh?’, kok berani berkata seperti itu! Cahayaku itu lebih terang daripada punyamu. Rapal ajianku lebih manjur dan sangat mustajab, alam semesta pun tunduk dan takluk padaku. Ohhh tunggu dulu, kalian berdua saling berargumen tanpa tahu argumenku. Kalian tidak punya pusaka dan kitab seperti aku kan, aku punya itu semua dan dijamin bisa melindungiku dan jadi penunjuk arahku.

Indah dan berwarna sekali dunia ini bukan? Mari berlomba-lomba dalam gagap gempita spiritual. Hingga Laa Hawla wa Laa Quwatta wa La Sulthona Illa Billah kamu simpan di sudut pojokan gudang rumahmu. Selamat berlomba mengorganisasikan kapan harus buang hajat, kapan udara harus keluar masuk tubuhmu, berapa frekuensi detak jantungmu tiap menitnya. Silahkan memilah-milah nutrisi mana yang dibutuhkan tubuh dan kandungan zat yang tidak dibutuhkan tubuh. Bertandinglah dengan mencret yang memiliki kecepatan melebihi kilat dan lampu menyala. Mampukah?

Yakinkah kita bahwa cahaya itu yang utama, lalu tanpa cahaya itu berbahaya? Lalu bagaimana posisi “Sebelum Cahaya”? Atau sadarkah mungkin kita sedang terbutakan oleh Cahaya? Adakah yang memiliki kemampuan menjadi ‘Juri Ahli’ dalam menilai ‘Pitch Control’ kondisi itu? Sedang dalam keseharian kita dicekoki makanan-makanan informasi yang begitu membeludak, kita kamerkaan dan tubuh kita overheat hingga malfungsi terhadap Rahmat-Nya.

Hingga soal makanan pun kita sudah dihomogenkan, dari hal sesederhana itu. Yang sehat ya 4 sehat 5 sempurna, nutrisi kalorinya harus segini bukan segitu. Yang tidak seperti itu berarti tidak sehat penyakitan. Penyakit kok selalu menjadi kambing hitam? Ketika memang harus dituruti, lalu mengapa harga bahan makanan kini melambung begitu tinggi? Bagaimana perasaan Mbah Tumbuhan dan Hewan ketika mereka dimonopoli oleh adik bungsunya bernama manusia?

Lalu teori itu pun apakah bisa batal mengingat kita setiap hari kebanyakan hanya makan seadanya saja sudah bisa menendang bola dengan kencang saat futsal, berorasi dengan begitu lantang dan menggetarkan, membuka tutup aplikasi dan game di gadget atau mengoceh seharian lewat media mulut atau media lain ngerasani segala tetek bengek dunia?

Berbagai kemudahan Spiritual Zaman Now, bahan diskusi kepintaran tentang banyak hal bisa dengan gampang ditempuh dengan ngabdi ke Romo Yai al Gugeliyah. Naik derajat cepat asal sering upload foto di Gus Instegrem dan Syekh Pesbukiyah dengan ulama dan umaro, tidak lupa dibumbui kata-kata bijak hasil mengutip.

Menguasai berbagai ilmu batin serta naik ‘maqom’ terlaksana dengan mahar uang harta benda bahkan jiwa raga pun direntalkan. Titel yang gampang disematkan asal kowe tiap tahun siap membuat karya buku untuk mempertahankan Gelarmu dan ke sana kemari bermahkotakan atribut ‘keagamaan’ ceunah mah, baju agama yang glamor branded. Tapi kok terlihat tidak bercelana, terlihat kemaluanmu. Apa memang sengaja harga dirimu kau perlihatkan, pamerkan, serta gempitakan? Agar sejuk tertiup angin lalu kerokan akibat demam meriang kemudian?

Apa sudah benar kondisi itu semua beresonansi dengan para manusia saat ini? Kalau sudah bener opo sudah pener? Ah jangan su`udhon, siapa tau mereka lakukan itu hanya demi urusan perut, tempat tinggal, kendaraan, dan seluruh fasilitas dunia dan bertahan hidup di ‘Rimba Raya Dunia’, iya kan? Oh husnudhdhon saja, mungkin sedang berproses sibuk mengurusi depan pintu Goa. Tapi dalam Goa Kahfi, Goa Garba, Bilik Kasunyatan dibiarkan, hingga Ashahbul Kahfi dan Dewa Ruci minggat pergi! Tunggu dulu, atau justru dirimu yang minggat pergi tanpa kamu sadari?

Halo generasi micin wal kagetan! Just rock n roll sajalah, toh kita semua juga awalnya dari batu, dari tanah. Lalu Rolling, menggelinding, berputar, Kunnnnn Fayakuuuuunnnnnnn! Aki John Lennon saja dalam lirik lagunya Imagine, membayangkan tidak ada surga dan neraka. Dan om Chrisye dengan Jika Surga dan Neraka tak pernah ada. Mungkinkah surga dan neraka ini salah satu penyebab saling berfanatik rianya manusia?

Perlukah saling berlomba mengejar Surga dengan berbagai dalih dan segala cara? Klaim bahwa agama, suku, golongannya lah yang paling berhak mendapat warisan sepetak tanah ‘Surga’, atau dalam dimensi gelombang lain, paling berhak mewarisi tanah perdikan nusantara milik Gusti Allah ini? jika yang satu berhak, apakah yang lain menjadi tidak berhak? Lalu bagaimana dengan menang tanpo ngasorake? Apakah sudah tidak berlaku mata uang itu di masa sekarang yang penuh gegap gempita yang gagap? Ritual tanpa spirit? atau spirit tanpa ritual? Gagap gegap gugup?

Apakah urusan ini sudah beres ataukah masih banyak kisah yang tertunda dari dahulu hingga saat ini? Masa kini, masa depan, masa lalu? Memasadepankan masa silam? Ah entahlah, jangankan berbuat kebaikan, berbuat jahat pun kita tak mampu. Hanya pertolongan-Nya lah, Maha Rahman Rahim, selalu mengembalikan kita di posisi Ihdinas Shirotol Mustaqim di saat tiap sekejapan mata kita potensi tergelincir jatuh sangatlah besar, atau bahkan always.

Diantosan kasumpinganana para Punokawan JA. Sasarengan ngopi ngaruing dengan kerendahan hati dan saling guyub rukun melingkar berMaiyah di bilik kasunyatan Jamparing Asih. Imagine all the people… Living life in peace.. Yuhuuu…[]

Leave A Comment