Blog Detail

MUKADIMAH : Suci Sang Primadogma

18 May , 2017,
ja
No Comments

Mukadimah Mei

Suci Sang Primadogma

Dalam agama, keyakinan ataupun ideologi, dikenal prinsip-prinsip yang tidak perlu dipertanyakan, harus diterima begitu saja. Itulah dogma. Sering dogma ini menjadi fondasi konstruksi pemikiran religi atau ideologi. Sebegitu pentingnya sehingga dogma dikeramatkan, dianggap suci.

Padahal, dogma bukan kesucian itu sendiri. Jika kita pelajari sejarah, akan kita temukan bahwa dogma dilahirkan dari rumusan manusia yang menyimpulkan prinsip-prinsip itu dari informasi-informasi wahyu, sabda orang suci, atau pengamatan terhadap kehidupan. Artinya, sedikit-banyak ada unsur penafsiran dalam dogma. Namun, setelah menjadi kesepakatan otoritas agama, dan bisa jadi mendapat dukungan penguasa, dogma sering bersinonim dengan agama sendiri. Orang menyamakan dogma dengan agama dan merasa cukup beragama berdasarkan dogma. Maka kehidupan dan pemikiran keagamaan menjadi dogmatik. Dogma menjadi primadona. Primadogma yang disucikan.

Dogma sendiri bukan dosa. Barangkali, manusia memang membutuhkan dogma sebagai pijakan awal pencariannya, atau sebagai rambu-rambu petunjuk jalan, sehingga ia tidak perlu mengulang proses pencarian yang sudah dilalui orang-orang sebelumnya. Dengan demikian, dogma bisa menjadi alat bantu. Tapi dogma bisa membelenggu ruang gerak pikiran manusia, atau mematikan gairah pencarian manusia itu sendiri. Dogma yang tidak boleh dipertanyakan amat mungkin berubah menjadi pembunuh kemampuan manusia untuk bertanya. Terlebih lagi jika dogma menjadi alat otoritas keagamaan atau politik untuk membela kepentingannya sendiri. Dalam kasus seperti ini, dogma bisa menjelma dosa.

Oleh karena itu, mari kita tengok kembali keberagamaan kita masing-masing. Mari kita temukan batasan dogma yang dibutuhkan hidup kita, seberapa prosentase antara dogma dan ruang gerak pencarian kita. Dengan demikian, kita tidak memprimakan dogma, tetapi bergerak mencari kesucian sejati.

Leave A Comment