Blog Detail

MUKADIMAH : 1001 MAKLUM #JASept

30 Sep , 2016,
ja
No Comments

“Maklum” sering dijakdikan kata ajaib untuk menagih pengertian masyarakat atas sesuatu yang secara umum dianggap tidak sesuai.

            “. . . Malam ini keluarga A akan mengadakan pesta kelahiran anak kami dari pukul 20.00 – 00.00, oleh karena itu kami selaku perwakilan keluarga mohon izin atas ketidaknyamaanya. Demikian untuk maklum. Terima kasih” Begitulah bunyi papan penanda yang terpampang di bibir jalan tempat keluarga tersebut melangsungkan acara.

            “. . . Dikarenakan hujan deras yang mengakibatkan pohon roboh dan menjatuhi kabel listrik, maka dalam 3 hari ke depan listrik di desa A,B,C akan padam. Harap maklum”.

Bayangkan saja seandainya dua kejadian tersebut terjadi tanpa adanya pemberitahuan dan permohonan untuk “maklum”, mungkin yang terjadi adalah kemarahan, kedongkolan, bahkan kepanikan dan kekhawatiran atau apapun yang sekiranya menggambarkan ketidaksenangan.

Dengan adanya permohonan untuk maklum dari luar diri kita kepada kita, maka kita akan menjadi maklum, yang nantinya berbuah pada sikap saling mengerti. Namun, apakah sekedar untuk memaklumi kita menunggu orang lain orang memohon permakluman kita? Tidakah seharusnya kita menagih diri kita sendiri untuk senantiasa memaklumi keadaan yang menurut kita tidak sesuai?

Apa yang sekiranya kita akan lakukan atau sekedar gumamkan ketika melihat seorang supir yang tiba-tiba turun dari mobil, di tengah kemacetan kemudian buang air kecil disamping kendaraannya? Mungkin marah, dongkol, memaki dan umpatan yang lain adalah reaksi wajar yang akan termanifesfasikan dalam tindakan kita. Sedangkan kita tidak mengetahui fakta dan sebab kenapa dia seperti itu. Kita memposisikan orang itu sama dengan diri kita yang dianugerahi kesehatan fisik dimana seluruh organ tubuh kita dapat berfungsi secara utuh. Bagaimana jika seandainya dia memiliki permasalahan sistem ekskresi yang mengharuskannya untuk buang air kecil secara mendadak? Mungkin kita akan berhenti memaki, mengumpat atau apapun setelah memaklumi kondisinya. Ya, meskipun manusia tak akan pernah benar-benar memahami fakta yang ada pada orang lain. Bukankah disitulah salah satu saat khusnudzon ambil peran?

Ketika behenti di perempatan lampu merah, tak sedikit pengendara yang suka menerobos lampu merah. Mungkin sebagian akan marah, karena yang marah itu tidak melakukan pelanggaran yang rupanya adalah menerobos lampu merah. Sebagian yang lain, memaklumi karena menganggap hal yang wajar mengingat mungkin ada urgensi yang menyebabkan banyak orang itu menerobos lampu merah. Lucunya, terkadang yang memaklumi juga ikut-ikutan karena menganggap hal itu sebuah tindakan yang wajar. Jadi baiknya bagaimana? Kita memposisikan sebagian yang marah marah atau sebagian lain yang memaklumi dan akhirnya ikut-ikutan? Atau mungkin ada pilihan lain? Jika ada, pilihan yang bagaimana?

Lalu, bagaimana ketika tindakan yang dianggap tidak sesuai itu merugikan banyak orang? Misalnya saja tindakan pejabat yang dengan kesadaran utuh telah menyengsarakan rakyat. Haruskah manifestasi pemakluman yang kita berikan selaku rakyat dan bagian dari entitas masyarakat sama dengan ketika memaklumi bapak sopir tadi? Bukankah jika kita mendiamkannya maka akan melatih masyarakat menjadi cuek dan tidak peduli? Terlebih lagi memiliki sikap apatis terhadap permasalahan sosial yang ada, benarkah begitu? Lalu bagaimana manifestasti ‘setiap manusia adalah khalifah di muka bumi’ yang telah tuhan amanahkan kepada kita?

14450008_1249649405085125_7454495114600013847_n

Jika berupaya untuk mengingatkan, ada kecenderungan untuk menyalah nyalahkan yang lain – merasa benar. Namun jika berupaya untuk maklum dengan manifestasi mendiamkan, kecenderungan akan menjadi masyarakat yang cuek atau bahkan ikut ikutan. Lantas, dimana batasnya? Bagaimana pemosisian ‘maklum’ tersebut, mengingat ada 2 potensi yang sama bahanya? Antara kemungkinan untuk cenderung senang menyalahkan dan menjadi cuek tidak peduli atau bahkan ikut ikutan. Sampai sejauh apa sebenarnya kita dapat memaklumi tindakan demi tindakan yang tampak di depan mata kita? Sampai berapa jumlah permakluman lagi kita pantas untuk memaklumi tindakan demi tindakan yang ada?

Sebagai ikhtiar untuk dapat memperluas sudut dan cara pandang, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘1001 Maklum’ pada hari Jumat, 30 September 2016 yang akan dimulai pukul 19:00 WIB. Maiyahan bulan ini bertempat di SMK Al-Hadi, Jl. A.H. Nasution No.25 di depan RS Hermina Cikadut, Bandung. Mengetahui team Jamparing Asih bulan ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tersendiri di benak para pembaca.. Mengapa “1001 Maklum”? Ada apa dengan angka “1001”? Apakah ada korelasinya dengan dongeng “1001 Malam” yang telah lama kita kenal? Bagaimanapun, angka “1001” menunjukkan jumlah yang terlampau banyak dan seolah tidak terbatas (∞). Dan segala sesuatu yang tak terbatas berarti berhubungan dengan Gusti Allah, karena manusia dan makhluk lain itu memiliki keterbatasan, batas. Berarti di dalam 1001 maklum, pemakluman itu, ada Tuhan. Semoga kita semua dapat terus menyertakan kesadaran akan Allah di setiap lingkaran maiyahan yang digelar.. Ya, kesadaran yang tumbuh dari diri kita untuk terus menyertakan kehadiranNya.. Mengingat keberadaanNya yang tak pernah tiada.

Leave A Comment