Suatu malam, ribuan manusia tampak memadati area pertunjukkan musik di sebuah sudut kota.  Pertunjukkan yang ramai dan padat pengunjung merupakan pemandangan yang biasa nampak di kala malam minggu tiba. Utamanya di kota-kota besar, pun kota-kota metropolitan. Ratusan bahkan jutaan rupiah rela dirogoh untuk menikmati pertunjukan penampil-penampil musik satu dan lainnya. Demi menonton satu atau dua penampil idolanya. Di episode keramaian kota malam itu, tampaklah dua orang sahabat lama yang ikut menikmati pertunjukkan yang disuguhkan.

“Khusyuk sekali kamu menikmati musiknya? Senang ya? Berasa dunia milik sendiri.”

“Iya..” kemudian ia mulai mendeskripsikan perihal-perihal ketepatan komposisi dan apiknya permainan para musisi kepada sahabatnya itu.

“Iya, memang alunannya indah sekali.. Tapi, ingatlah, rasa takjubmu akan suara-suara itu, akan biduan dan biduanita itu, jangan mengalahkan rasa syukurmu atas pendengaranmu.”

***

Manusia kini terpatok pada apa yang diterimanya sebagai input, namun terlupa pada apa yang sudah melekat pada dirinya selama ini. Terlebih lagi pada pencipta apa-apa yang telah menjadikan diri seorang manusia menjadi dirinya seutuhnya. Bahkan terkadang gaduhnya suara-suara yang hilir mudik hadir di telinga membuat manusia terpatok pada suara-suara yang dihasilkan, bukan pada pesan di balik kehadiran suara-suara yang hadir. Baik suara yang gaduh, maupun yang sunyi.

Budaya manusia modern pun begitu lekat dengan input dan output suara yang begitu beragam. Pembicaraan-pembicaraan, pro dan kontra, diskusi-diskusi panel, dan pedebatan begitu gaduh menghiasi dunia pun layar kaca. Salah satu asbab utamanya adalah dikarenakan manusia modern begitu vokal dan jumawa dengan istilah-istilah seperti hak berbicara atau yang dikenal sebagai freedom of speech. Namun generasi kita tidak memerhatikan betapa pentingnya kewajiban untuk mendengar. Sejauh apakah batasan kebebasan manusia untuk berbicara? Lalu bagaimana dengan kewajiban untuk mendengarkan? Dimana tata letak kewajiban dan kebebasan? Freedom atau kebebasan itu pada akhirnya mengacu penyakralan istilah hak dan hak asasi manusia. Kalau manusia begitu menuhankan kata “hak”, lalu apa guna kata “kewajiban”? Bagaimana dialektika antara keduanya? Hal ini dapat merembet ke permasalahan kenegaraan, ketika yang disebut sebagai wakil rakyat hanya mau didengar dengan kegaduhan janji dan suara-suaranya, namun tidak mau mendengarkan.

koreksikupung

Suara dan pendengaran ibarat satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Indra yang digunakan oleh manusia untuk menghasilkan suara yang menjadi perwakilan dirinya adalah mulut. Sedangkan kuping atau telinga digunakan sebagai indra pendengaran. Namun sesungguhnya seberapa sering kita mendengarkan diri kita sendiri ketika kita berbicara? Seberapa sering sesungguhnya kita mendengarkan diri kita sendiri ketika kita mewakilkan diri kita pada pembicaraan kita? Seberapa sering kita merefleksikan diri kita dengan mendengarkan suara hati kita meski mulut terkunci dan tertutup rapat? Leluhur kita mengajarkan untuk berpuasa yang tidak hanya berpuasa makanan, melainkan juga berpuasa untuk membatasi bicara. Lelaku itu diajarkan untuk melatih kita agar dapat mendengarkan kesunyian meski dalam keadaan ramai, untuk bertapa di tengah keramaian. Bukankah ajaran-ajaran luhur dari para ‘Arifin itu adalah kuncian bagi kita untuk mendapatkan kejernihan yang berkaitan dengan pendengaran? Dan dari pendengaran itu manusia mampu untuk memanifestasikan beragam laku kita di kehidupan sesuai dengan apa yang telah ia tangkap di kejernihan pendengarannya.

Di dunia, mulut kita bisa berbicara untuk memberikan berbagai pembenaran-pembenaran. Di akhirat nanti yang akan bercerita adalah alat-alat indra lainnya. Gaduhnya suara-suara, berita, ataukah informasi sudah sepantasnya membuat manusia dapat lebih memilah, memilih, dan mengarifi apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan. Kearifan untuk mengorek informasi dan kebenaran, maupun mengoreksinya. Bersediakah kita untuk mengoreksi pembicaraan, pendengaran, dan telinga atau kuping kita untuk terciptanya suatu tatanan keseimbangan di lingkungan sosial-masyarakat kita? Karena eseimbangan adalah suatu keutamaan, sama halnya harus dicapai dalam proses mendapatkan keseimbangan dalam berbicara maupun mendengarkan. Bahkan, secara fisiologisnya, kuping manusia dititipkan amanah oleh Allah sebagai indra yang dapat mengatur keseimbangan tubuh manusia. Apakah sebuah kesia-siaan Allah mendayagunakannya? Makna apa yang dapat kita tarik dari pendengaran dan keseimbangan hidup manusia? Di dalam Al Qur’an Allah menyandingkan kata pendengaran (sama’) dengan pengelihatan (bashar) dengan menyebutkan pendengaran terlebih dahulu. Tidakkah hal-hal tersebut membuat kita ingin lebih mengorek lagi seberapa pentingkah sebenarnya pendengaran bagi kehidupan kita?

Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘KOREKSI KUPING’ pada hari Jumat26 Agustus 2016 yang akan dimulai pukul 18:00 WIB di Studio 1 Gedung RRI Bandung.  Semoga dapat saling membuka cakrawala dengan mendengarkan satu sama lain secara jernih dan hati yang bersih. Mendengarkan dan mempersilakan satu dan yang lainnya untuk berbicara. Namun begitu, tidak semestinya pembicaraan atau pendengaran adalah hal yang utama; diam dan keheningan pun tak kalah pentingnya. Karena apabila kadar kehebatan seseorang dilihat dari seberapa fasih ia berbicara, lalu bagaimana dengan para tuna wicara? Kalau kadar keimanan seseorang dinilai dari seberapa sering seseorang ia mendengarkan ceramah, lalu bagaimana dengan para tuna rungu? Bukankah di atas semua tingkatan itu yang paling utama adalah kadar kesyukuranmu atas dirimu sebagai seorang manusia? Ataukah apa?

Mari melingkar dan berdiskusi bersama.

Dihaturanan kasumpinganana.

Categories: Uncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *