Category Archives: Kabar

Reportase : Manusia Puasa

07 Jun 18
ja
No Comments

MANUSIA PUASA

(Reportase Maiyah Jamparing Asih 23 Mei 2018)

 

Kesannya memang seperti agak senewen kalau hendak menyinggung tema “Manusia Puasa”. Sementara untuk membedah dimensi ‘puasa’ saja atau ‘manusia’ hungkul—yang masing-masingnya kebak nilai-nilai tak kasat mata plus menyiratkan banyak dimensi (multidimensi) nan variatif—peradaban masa kini yang paling mutakhir sekali pun tetap akan masih merasa kewalahan. Apalagi jika disatukan?

Namun, bukankah perkara kesukaran tersebut menjadi cair dan akan terasa ringan jika didasarkan pada rasa rindu untuk mentadabburi sesuatu—yang segalanya merupakan titipan amanah-Nya? Maka pada Rabu malam Kamis ini (23/5), seusai hadharah-an dan membaca ta’ziz wa tadzlil bersama dipimpin Mas Aam, para pelingkar maiyah JA mencoba mengurai suguhan tema sebisa mungkin dengan pantikan awal dari penulis mukaddimah.

Gus Ulum menyulut mbako untuk lalu mengungkapkan pentafakkuran puasa dalam diri masing-masing; bertanyalah apakah kita sudah pantas menyebut diri atau mengaku puasa? Sedang pemaknaan yang dilekatkan secara bahasa saja, misalnya upawasa dan pasa dalam Jawa yang dikait-maknakan sebagai usaha mendekatkan diri kepada sesuatu yang kita agungkan, yang Maha Lebih Besar (al-Akbar). Itu saja ternyata masih jauh dari kenyataan wajah perangai kita.

Atau dalam term Arab shaum dan shiyam, yang selintas diasosiasi-artikan dengan kata pause, jeda, berhenti, dan menahan. Lantas obrolan diloncatkan Gus Ulum ke tanda tanya lain; sebagai warga Indonesia, kita itu puasa sejak kapan? Timbul suasana hening sejenak. Kata-kata di kepala seperti sedang menghela napas. Muncul suaranya lagi, puasa itu menahan di tengah masa pelampiasan zaman. Me-manage keinginan-keingan. Raut kenyataannya kini, sekarang itu era sedang puasa-puasanya atau malah tengah buka-bukanya?

Gerbang awal abad 21 yang dinamakan globalisasi dulu, atau kini di era hoax ini, kita lebih sering melampiaskan dibanding menahan, kemuka Gus Ulum. Main share tanpa pertimbangan akal dan analisa yang memadai. Puasa ini kan dalam rangka untuk mengelola esensi diri. Apalagi jelas terang Allah, “puasa ini untuk-Ku”.

Di belantara perabacan zaman, orang-orang berebut, berpacu, berlomba-lomba, bersaing tanpa empati sama sekali, dalam menggaet lailatul qadr untuk justru sebagai ajang pemenuhan kepentingan masing-masing—yang cenderung bersifat egosentris. Kenapa tidak kita menjemput “malam seribu bulan” secara bersama-sama demi Indonesia, misalnya? Maka dari pancingan tersebut, di space-und-time masa ini, masih adakah “Manusia Puasa”?

Tapi, sebelum masuk lebih dalam lagi, boleh jadi semua pancingan itu malah sekadar jebakan, trap, trigger, penyekat, dan payung penghalang hujan keberkahan puasa itu sendiri—yang konon merupakan ibadah yang semata-mata untuk Allah dan akan berbicara sendiri kelak? Toh, pada hakikatnya, bila diuraikan semua alam jagat raya ini berpuasa; tumbuhan, angin, laut, dan bahkan Allah pun berpuasa, seperti yang sering diwejangkan Mbah Nun.

 Kemudian setelah diumpan-lambung oleh Cak Iman selaku moderator, Mas Aam pun menambah Intro, “Kenapa kok manusia yang melulu kita bahas?” Lanjutnya, dalam lagu Ebiet G. Ade mengapa alasannya “tanyakan pada rumput yang bergoyang”? Mungkin sekali manusia lah yang sering absen dari matakuliah yang ia ambil sendiri dari SKS yang disuguhkan Allah. Alam semesta tidak pernah absen.

Ini sangat kontra sekali dengan kalamullah yang Allah sendiri memberikannya sayu’tihi ayatallAllah fil afaqi wafi anfusihim. Manusialah yang paling sering dan ter-berani membelakangi—jika tidak disebut mengingkari—sunnatullah. Macan saja masih makan sehari se-kali dan punya daya menahan diri yang otentik.

Selanjutnya kalau ada yang bertanya, kenapa harus puasa? Goda Mas Aam. Poinnya adalah karena hukum itu pasal yang paling lemah. Manusia memerlukan terobosan inner-source yang mampu mengajarinya mengelola hasrat-hasrat. Tuhan bilang, “Kamu, tahan! Sebelum nanti hancur sendiri.”

Juga soal yang membikin Ramadlan istimewa adalah bukan karena ia Ramadlan. Tapi karena ada yang istimewa “di dalamnnya”, kupas Mas Aam. Aslinya, toh semua yang diwajibkan Allah adalah yang tidak disukai, tidak digemari manusia. Padahal di balik itu semua Tuhan tau bahwa jika kita mengumbarnya, maka kita sendiri binasa—mati-nurani, mati-kejernihan intelektual dsb.

Masuklah Nawa memberikan kudapan Interlude, ada yang istimewa dalam Ramadlan, kenapa? Sebab Al-Quran tidak mungkin diturunkan pada orang-orang yang masih terikat oleh dunia. Syahru ramadlana al-ladzi unzila qur’ana hudan linnasi wa bayyinatim minal huda wal furqan. Manusia tantangannya ada tiga (3): harta, tahta, dan asmara. Perut, kepala, dan kelamin. Setelah manusia menahan 3 perintang tersebut, dengan dimadrasahkan terlebih dahulu pada bulan Ramadlan, manusia telah baru layak untuk dipercikkan cahya ayat-ayat Al-Quran. Puasa itulah yang menjadi datangnya cahaya (nur) Al-Quran, dengan penahanan diri atas hasrat-hasrat duniawi yang melenakan.

Secara tidak disadari pun, puasa akan mengoptimalkan shadr. Qala rabbi ishrahli shadri. Manusia puasa itu berbicara manusia yang mendayagunakan secara optimal dan presisi dalam mengolah potensi shadr untuk kompatibel dan connect menerima wahyu Tuhan. Hudan linnasi.

Apabila mengacu pada amtsal, puasa itu bisa belajar dari ayam, sodoran dari Nawa. Terutama saat ayam mengerami telur. Berarti puasa itu ada yang dihidupkan. Anak-anak ayam. Sedang dalam konteks manusia ialah potensi spiritual untuk semakin intim mendekatkan diri dengan-Nya.

Sesruputan kopi, Cak Iman member view lain. Dalam photography, bicara soal angle, sudut pandang saat Ramadlan terhadap jadwal buka warteg-warteg, dan panti-panti yatim sosial, serta jam tayang acara-acara televise, tiba-tiba menjadi ramai, kenapa? Adakah hasrat berebut tadi, hanya demi berlomba dan tergiur akan iming-iming pahala berlimpah, bukan karena benar-benar tulus membantu selain dirinya sendiri? Atau malah Cuma berniat menolong kepentingan dirinya sendiri?

Tibalah Reff, Mep menghidangkan dua nomor; lagu Slank Lembah Balieum dan lalu dilanjutnya shalawatan Lir-Ilir dilengkapi dengan syi’iran burdah. Para jamaah bertemu suasana romantika-nostalgik dilanjut dengan atmosfer khusyuk-takzim oleh nada-nada burdah yang membawakan segenggam ruang sunyi di lubuk jiwa.

Sepertinya kopi tema di depan lingkaran kami ini takkan habi-habis disruput, sebagaimana lagu JA kali ini tampaknya takkan berujung dan mungkin sama sekali tak berniat untuk menuju end atau closing. Barangkali setiap kami pulang membawa PR di ubun-ubun pojok nurani-akalnya sendiri-sendiri. Mari ngopi kembali di pertemuan nanti. [MnW/05-2018]

***

Reportase : SHUTDOWN

07 Jun 18
ja
No Comments

SHUT DOWN

(Jamparing Asih Edisi September 2017)

 

Kenapa tiba-tiba shut-down? Apakah JA hanya sekedar berniat menggugurkan atau memenuhi kriteria “trendisitas istilah” agar dapat tergolong ke millenial-term yang sedang menggemparkan dirinya sendiri sekarang ini? Bermacam-macam respon. Sah-sah saja. Itu masih Hak Asasi Makhluk (HAM) kata beberapa.

Stimulus tema sejenis demikian, shut-down, sangat mungkin dan memang berpotensi untuk digali dalam keseharian kita yang telah dibanjiri informasi (information-overflow) dan serba machine serta kebak anasir-anasir elektronik. Bahkan nyaris mendominasi—untuk tidak menyebutnya memperbudak—sebulat-bulatnya kehidupan kita.

Ada perhubungan apa antara shut down yang ber-arti “matikan” atau “pareuman!” dengan shut-up; “diam!” atau “tutup-mulutmu”? Meskipun memang shut sendiri memiliki arti “tutup” tapi asal-muasal kenapa jika disandingkan dengan dua kata singkat yang berlawanan itu, down and up, lantas memiliki makna yang berbeda? Bukan walayah kita untuk mengaji perkara tersebut secara mendalam kecuali jika mentadabburinya.

Untuk permulaan, setulisan mukadimah episode kali ini, Mas Aam memberikan pancingan bahwa yang menarik untuk ditadabburi ialah kenapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa? Kapan tepatnya? Apanya yang perlu dimatikan? Siapa pula yang berkenan menshut-down? Dan masih bisa diperpanjang, diurut-urut lagi.

Serupakah kita dengan benda-benda elektronik yang perlu melakukan hal itu demi menghindari error, blank, hang, dan dulur-dulur wajah korsleting lainnya? Atau justru benda-benda dan peranti elektronik itulah, yang dengan tanpa sengaja, dibikin menyerupai fitrah manusia? Secara bawah sadar, mungkin, manusia menciptakan aneka peralatan ke-mesin-an yang tidak jauh beda dengan mereka (benda-benda berkabel) namun merepresentasikan kecenderungannya: “kebutuhan akan shut-down”.

Jika kita bermimpi ketemu Abraham Maslow, tanyakan, kebutuhan shut down akan diselipkan ke mana dalam tatanan Hierarki Kebutuhan cetusannya? Mungkin ia hanya terkekeh sambil mohon maaf lalu meminta tolong kepada kita agar rela menyeduhkan secangkir kopi doa untuknya.

To Shut-Down, To Refresh

            Satu pertanyaan didenyarkan dari Nanda, mahasiswa UIN: “Apakah pikiran, hati, nafsu, buthn, itu batasannya terletak di mana?” Kebingungannya mewakili beberapa jamaah maiyah JA. Mengoreksi ulang tentang kalimat sedulur papat kelimo pancer. Menyambungkan tali dari kebimbangan tentang rumusan kira-kira mengenai bagian mana yang sekiranya perlu untuk di-shutdown terlebih dahulu.

Tiap diri itu spesial, tanggapan dari Om Teguh. Tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Jibril tidak sama dengan malaikat jenis lain—dengan pusparagam jobdesc masing-masing. Sperma saja tidak sama walau jutaan jumlahnya. Dan hanya satu loh yang jadi. Sidik jari pun berbeda sama sekali. Itulah ciri Kemahaan Allah.

Otomatis, manakah yang musti dishutdown? Jelas kita harus mengkaji, menyelami, untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Kita butuh melakukan itu sebelum pada akhirnya memutuskan titik mana yang akan dipareuman heula. Juga dalam hal proses tersebut, kita memerlukan bantuan orang lain. Sawang-sinawang. Lita’arofu. Agar saling mengenal satu sama lain.

Namun, sebelum merambah lebih jauh, Om Teguh menerangkan sejak mata-mata para jamaah mulai memeram tanya, bahwa yang menjadi akar awal masalah ialah tatkala orang menyamakan dirinya dengan orang lain. Ini pemicu tombol bom waktu untuk sebuah kehancuran. Tambah Om Teguh: temukan shutdown sendiri. Umpamanya, dengan mencari tahu, menggali informasi. Makin lama makin tahu kalau kita nyatanya tidak beda sama yang lain. Muter. Barulah kita berucap, bodoh ya kita ini… baru sadar.

Terpetiklah tanggapan dari Mas Aam, dalam hidup ini banyak pengulangan-pengulangan. Lagi-lagi guru yang mengajak kita untuk meneliti itu dalam setiap ngaji bareng itu Mbah Nun. Tetapi itu persoalan tersendiri. Inna nahnu nazzalna dzikro, innahu lahafidzin. Ayat tersebut sepertinya, dengan i’tikad tadabbur, mungkin wajah lain dari kerinduan-kerinduan kita. Dan rindu perkaranya bukan tentang “mempelajari”, namun “mengalami”.

Berapa banyak ilmu yang mempelajari manusia; psikologi, sosiologi, antropologi, pathologi, dst. Pertanyaannya: kita mengalaminya, tidak? Sadar tidak kalau kita ini manusia? (Nas, abdullah, basyar, khalifah, muslimin, muflihin, dan beragam lain-lain). Era modern yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemajuan, justru menyulut ketidaksadaran dan kemunduran terutama—tentang dirinya sendiri. Peradaban menjadi semakin buram, runyam.

Tak selang lama setelah menikmati selingan perform gitar dari Kang Shofi, Om Teguh mengajak kesadaran diri kembali: ketika zaman kacau, akan ada pembaharu. Selaiknya dalam air keruh akan lahir kerang dengan kilau mutiara di kandungannya. Meski kita diombang-ambing, diserimpung, dikoyak-moyak kekeruhan, nanti aplikasikan shutdown dan hitung-hitunglah output-nya. Minimal, dalam kadar paling rendahnya, kita menjadi manusia. Embel-embel, rumbai-rumbai dan atribusi-tempelan lainnya dishutdown—nanti sesaat masing-masing diri sudah ketemu tempo momentumnya yang tepat. Bahkan akan diketemukan oleh Allah bisa dalam wujud apa saja dan siapa saja.

Senggang waktu, diisilah pandangan Uwa Adi, tentang shut-down yang dibutuhkan dalam upaya menghindari error atau kerusakan. Operating system manusia perlu jeda untuk diistirahatkan. Rehat sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang memekakkan telinga dan mata—bahkan jiiwa. Refresh demi membangkitkan energi lagi. Kalau dalam kamera, terminologi lain yang mungkin sama itu ada istilah shutter. Ia memberi kesempatan agar cahaya masuk dan sebagai hasilnya potret akan berwujud nyata. Lebih hidup. Fokus. Karena telah mendapat hidayah.

Kembali disahuti Mas Aam: sepertinya segala sesuatu itu “siklikal”. Daur. Berulang dan mutar. Persoalan kematian, mati usia dini, kenapa ada yang mati bayi? Lantas kapan ia menjalankan kekhalifahannya di bumi? Barangkali dengan mati pun seseorang baru bisa menunaikan misi rahmatan lil’alaminnya. Tapi ini bukan kebenaran mutlak lantas anda akan menyengajakan waktu kematian dengan bunuh diri, misalnya. Silakan cari, jelajahi, dan selami dengan batas kepasrahanmu pada Gusti-Mu masing-masing.[MnW/2017]

***

 

 

MUKADIMAH : MANUSIA PUASA

21 May 18
ja
No Comments

Apa yang ada di pikiran dan benak kita ketika mendengar istilah ‘Manusia Puasa’? Apakah ‘Manusia Puasa’ itu manusia yang seumur hidupnya dihabiskan dengan menjalankan ritual puasa? Tidak makan dari waktu imsak sampai waktu magrib?

Apakah puasa kita maknai hanya sesempit itu?

Apabila kita lacak dari akar bahasa, puasa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Upawasa yang bermakna ritual untuk mendekatkan diri, agar sampai pada perjumpaan agung dengan Sang Maha Agung. Ada juga istilah selain Upawasa yaitu Pasa. Kemudian berkembang menjadi Puasa. Selaras dengan makna Shaum atau Shiyam di dalam bahasa Arab Showama berarti menahan, berhenti, tidak bergerak. Menahan di tengah-tengah kebiasaan melampiaskan keinginan. Keinginan sejak bangun tidur hingga menjelang tidur. Ingin makan, ingin minum, ingin jalan-jalan dan ingin-ingin seterusnya yang tiada habisnya jika dituruti.

Bahkan mungkin keinginan itu mewujud merasuk dalam rupa mimpi saat tidur. Dimana hidup kita dalam berbagai hal terkait apapun itu, lebih banyak digas dari pada direm. Nah, di sini adanya puasa dalam rangka menahan, mengendalikan, mengingatkan bahwa hidup itu tidak cuma digas tapi juga butuh direm.

Manusia disebut sebagai Khalifah (objek). Tidak dikatakan objek apabila tidak punya keinginan. Dan keinginan ini perlu diolah, puasa ini dalam rangka mengolah keinginan-keinginan kita. Yang pada dasarnya keinginan itu bukan berasal dari diri akan tetapi berasal dari fantasi-fantasi yang menyertai keinginan tersebut. Semisal dalam puasa di bulan Ramadhan ini, kenapa kaum Muslim mendadak berlomba-lomba datang ke masjid, beribadah, dzikir, tadarus, dll?

Karena ada sebuah fantasi, keinginan, anggapan yang sudah menjadi pemahaman di kalangan masyarakat kita, ketika di bulan Ramadhan itu seluruh amal ibadah kita digandakan oleh Allah. Orang sholat, shodaqoh, jihad, haji karena fantasinya terhadap surga, bidadari. Orang berebut jabatan, kursi karena fantasinya yang meyakinkan diri ketika sudah tercapai keinginan ini keinginan itu, hidup akan lebih bahagia, kaya, eksis, dikenal banyak orang, dihormati, dll.

Oleh karena itulah, puasa Ramadhan sebulan penuh ini hanya sebatas madrasah, sekolah dimana kita diwajibkan, dituliskan (Kutiba) dalam Al-Qur’an untuk menjalankan puasa, dalam rangka mengolah, mengendalikan, menahan keinginan-keinginan baik yang bersifat duniawi maupun bersifat ruhani.

Lalu apakah puasa itu hanya untuk diri? Atau puasa itu untuk-Ku (Allah) seperti yang disebutkan dalam hadits-hadits itu? Kita harus berhati-hati, karena di sisi lain bulan puasa ini juga memiliki efek halusinasi, yang dapat menyebabkan kita sudah merasa menjalani puasa. Padahal kita puasa atas apa? Apa memindahkan jam tayang makan itu yang kita sebut puasa? Godaan orang memberi itu merasa bahwa dirinya sudah dermawan, godaan orang yang terlalu senang berbicara di depan publik itu merasa dirinya lebih tahu, merasa lebih pandai, menggurui, dll. Dan godaan bagi manusia puasa ini justru lebih rumit lagi: merasa dirinya sudah berpuasa itu godaan, merasa dirinya belum puasa itu juga godaan. Malah justru dalam bulan Ramadhan ini terkadang puasa itu bukan terletak pada menahan rasa laparnya, namun pada kesabaran hati untuk menahan selama sebulan penuh mendengar suara bising para tukang ceramah, para penjaga barisan moral, baik di masjid, di mushola dan televisi yang sibuk mengobral pahala, surga, serta mitos-mitos semacamnya dan godaan menahan diri terhadap orang-orang yang terlalu men-teatrikal-kan puasa di bulan Ramadhan ini.

Padahal esensi puasa tidak hanya sebatas untuk mengolah diri. Tapi mampu menjadi menejemen di setiap rumah, lingkungan masyarakat, negara, kebudayaan dan peradaban. Apabila kita proyeksikan puasa dan tidak puasa dalam kehidupan nyata, negara ini puasa sejak kapan? Di era sekarang ini lebih banyak buka atau puasanya? Sistem demokrasi seperti sekarang ini lebih banyak berbuka atau puasanya? Bukankah di era hoax ini manusia lebih berlomba-lomba melampiaskan dari pada menahan? Sehingga pada akhirnya dapat dengan mudah digiring oleh sebuah arus berita-berita, info-info picisan dan murahan yang dibuat oleh para penjahat negeri. Walaupun mau tidak mau kita akui bahwa latihan (madrasah) selama sebulan ini tidak mudah, karena budaya konsumerisme sebagai anak kapitalisme sudah menunggangi dalam kehidupan beragama di kalangan masyarakat kita, baik dalam puasa Ramadhan, haji, dll. Sehingga jalan satu-satu nya untuk meng-counter kapitalisme dan budaya konsumerisme ini dengan cara berpuasa, menjadi manusia puasa dari setiap individu di antara kita.

Karena hidup di dunia ini hanya sebatas mampir ngombe, hanya sebatas ngabuburit sampai pada waktu berbuka itu tiba. Bahwa hidup kita ini ibarat hanya sebatas menunggu saat-saat waktu berbuka puasa/perjumpaan agung dengan yang Maha Agung. Dimana secara hikakat baik hewan, tumbuhan, alam jagat raya seisinya dan Tuhan pun berpuasa. Lantas apakah manusia puasa itu? Entahlah …

Masih adakah manusia puasa di era seperti sekarang ini? Minimal apakah kita bersedia untuk mentadaburi walau sedikit saja perihal jalan sunyi manusia puasa? Yang bertepatan pada bulan ini salah satu dari tiga Marja’ Maiyah lahir di Bumi Nusantara. Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama di riungan Majelis Maiyah Bandung, 23 Mei 2018. Pukul 20.00 WIB. Di Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur, jalan raya Cibiru Hilir No.04, RT 01/RW01, Cileunyi Bandung. Di ruang rindu, di kedalaman kalbu, mari kita bertemu …

***

Mukadimah : Sidik Paningal

27 Apr 18
ja
No Comments

Sidik paningal? Penglihatan yang lanthip, teg, tepat, akurat, presisi & jelas ke titik, dalam bahasa arabnya ya ‘Ainun Nadjib’. Tidak blero-blero seperti kebanyakan orang zaman sekarang atau mungkin ribuan tahun lalu di tiap masa nya. Lah kok blero-blero? Di zaman teknologi maju pesat dan segalanya bisa dengan mudah dilakukan secara instant? Dimana robot dengan mudah tercipta di berbagai tempat. Pangkas ilmunya, injeksi perintah program yang harus dijalankan tanpa ada kemungkinan tolah-toleh, tangan kaki terantai, mata terbuka serta alat indera nya berfungsi tetapi tak terhubung antara kepala dan badannya. Hingga muncullah ayat Iqra bismi Rabbikalladzi kholaq, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Di Gua Hiro itulah Muhammad bin Abdullah menjadi perintis Manusia Iqro’, bukan robot!

Nabi Khidir pun dalam Paningal-nya diperjalankan Allah bertemu Musa lalu membunuh anak kecil, melubangi kapal, dan menegakkan tembok yang roboh. Hingga membuat Musa tidak lulus menjadi murid karena dalam Paningal Musa hal seperti itu tidak ladzim atau bertentangan dengan pengetahuannya. Padahal di perjalanan lain, Nabi Musa dengan tongkat nya pun dengan Paningal nya berjalan menuju lautan ketika dikejar Firaun, yang bagi kaum nya itu hal bodor menurut Paningal mereka. Lalu Sidik Paningal itu seperti apa? Hingga tercipta kisah dalam Lauhul Mahfudz seperti itu. Sidik Paningal atau Silau Paningal-kah itu? Tersilaukan karena terlalu dekat tanpa source hardware serta software yang mumpuni kah? Yang dengan source itu maka Silau itu pun tersibak hingga jelas titik itu. Nur ala Nur….

Bagaimana menentukan presisi koordinat kita? Lalu mungkinkah positioning peran tiap ciptaan nya saling memiliki Sidik Paningal nya masing-masing seperti wujud sidik jari manusia yang berbeda satu sama lain? Bahkan kembar identik pun memiliki ketidak identikan nya. Yang jago mengolah makanan dengan istiqomah meracik komposisi bumbu, memproses hingga bisa disajikan dengan kasih sayang, yang keahliannya bisa menyetir pun mengendalikan tunggangannya dengan apik serta mengantarkan penumpangnya agar aman serta nyaman hingga tujuan, dan masih banyak lagi. Ataukah seperti ‘ceunah’ wakil kita yang mengatur tata tanah nusantara peninggalan leluhur kita ini, yang mengemong dengan cara membujuk Mbah Tanah agar mau dimadu dengan lembaran-lembaran cetakan nilai tukar? Kakang pohon yang rela mengalah ketika wakil makhluk terbungsu ini mengubah wujudnya menjadi abu? Abah Air  yang biasa ikhlas mengamalkan ilmu ‘kantong bolong’ kepada semua makhluk, dipaksa  diperas dan diperkosa lalu perdagangkan keikhlasan nya?

Mari kita melingkar dan melepas rindu bersama-sama saling mengasah presisi serta menentukan koordinat diri, Sidik Paningal kita hingga memperjalankan kita menuju Putus Pamrikso dan kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 27 April 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung. Di Ruang rindu.. Kita bertemu….

***

mukadimah: dogdog pangrewong

20 Mar 18
ja
No Comments

Dogdog adalah alat musik membranophone  yang suaranya keras dan nyaring seperti drum. Namun drum ini membrannya menggunakan plastik sedangkan dogdog menggunakan kulit kambing yang dikencangkan oleh rotan dan belahan kayu atau dalam istilah Sundanya yaitu dipaseuk. Salah satu kesenian di Jawa Barat yang menggunakan dogdog adalah seni Reak, kesenian ini dahulu memiliki fungsi sebagai sarana untuk mengiringi upacara panen padi, khusunya ketika mengangkut padi dari sawah menuju lumbung. Dewasa ini akibat banyak petani yang gantung cangkul karena sawahnya dibabad oleh tanaman semen, maka seni syukuran pengiring panen padi ini berubah fungsi menjadi seni helaran syukuran anak khitan yang diarak keliling kampung.

Dalam kehidupan masyarakat Sunda ada sebuah peribahasa Dogdog Pangrèwong. Ungkapan ini biasanya ditujukan kepada posisi dan status seseorang yang tidak terlalu penting fungsi kehadirannya. Misalnya kalau berbicara cuma sekadar menimpali. Kalau membantu pun cuma sekadar dianggap lumayan, daripada tidak sama sekali. Maka setelah selesai, kehadiran dogdog pangrèwong akan disimpan kembali, mungkin akan dikeluarkan lagi suatu saat nanti meski entah kapan. Maka  peribahasa tersebut bisa kita pahami  sebagai suatu penambahan materi yang sifatnya tidak penting, maka jika hal tersebut tidak ada pun tidak masalah.

Dengan merujuk terhadap musikalitas dogdog  yang memiliki timbre keras, nyaring dan menggelegar dan pangrèwong berasal dari kata rèwong yang artinya menganggu,  maka secara harfiah, peribahasa ini berarti suara kemeriahan yang menganggu. Namun bukan berarti alat musik tersebut  adalah sesuatu hal yang mutlak sebagai suara pengacau,  tetapi hanya penggambaran suasana yang meriah saja. Yang menarik dari hal tersebut,  Sepertinya karuhun tidak ingin terlalu kejam dalam meluapkan kekesalannya terhadap sesuatu yang menganggu. Saking bijaksananya, karuhun menggap kehadiran noise tersebut  seakan memberikan kontribusi, meski nyatanya tidak memberikan apa-apa. Maka jika kita mencoba memaknai sesuatu yang menganggu tersebut tidak sebatas manusia atau suara-suara, Dogdog pangrèwong adalah segala  kemeriahan atau keasyikan apapun  yang sejatinya berpotensi menganggu diri kita terhadap segala hal. Bagaimana jika hal-hal tersebut adalah kemeriahan atau kebisingan-kebisingan yang menganggu kemesraan kita denganNya?

Pemaknaaan dogdog pangrèwong pun bisa menjadi beragam jika kita ambil dalam kordinat lain, misalnya jika peribahasa ini  biasa digunakan  untuk manusia yang selalu ikut-ikutan  hadir meski tidak berguna, bagaimana jika anggapan si Dogdog pangrewong ini sebagai upaya sodaqoh yang ingin ia berikan semampunya? Atau sebagai bentuk kerendah hatian serta kepasrahan seseorang menyikapi dan menghadapi robot-robot canggih yang salah program?

Banyak sekali ternyata makna suatu istilah jika kita coba bidik dari kordinat lain. Lantas dari potensi melebarnya pemaknaan tersebut, apakah kita akan masuk ke dalam zona dogdog pangrèwong juga? Tapi dogdog pangrèwong yang mana? Atau jadi pangrèwong dogdog?  Atau mau jadi dogdognya saja? Atau jadi pangrèwongnya saja?

Mari kita melingkar dan diskusi bersama-sama menyikapi fenomena dunia yang kini kian meriah namun tidak meraih sesuatu untuk memperjalankan kita menuju kemesraan denganNya. Yuk kita ngopi bareng di riungan Majelis Maiyah Bandung 30 Maret 2018 pukul 20.00 WIB di Pondok pesantren anak jalanan At Tamur jalan raya Cibiru Hilir no.4 RT 01/01 Cileunyi Bandung.

***

MUKADIMAH: Samagaha Pikir

20 Feb 18
ja
No Comments

Samagaha Pikir

 

“Apakah ada yang ingin ditanyakan anak-anak?”  Tanya seorang pengajar kepada siswa-siswinya.

Kelas sejenak hening, beberapa siswa SMU itu hanya menyoroti seorang pengajar yang berdiri di depan kelas dengan baju dinas berwarna coklat. Pengajar tersebut mempersilahkan kembali kepada siswanya barangkali ada sesuatu yang ingin ditanyakan setelah ia memberikan serangkaian materi tentang fenomena alam. Namun siswa-siswi tersebut nampak bertambah keasyikannya menatap si pengajar yang sedang menodongkan tangan kanannya. Pengajar yang sedikit terlihat tua itu mengeritkan dahinya, kenapa tidak ada respon atas pertanyaanya tersebut? Dia malah menyaksikan siswa-siswa bangku pojokan belakang yang sedang sibuk merapihkan buku. Ada juga yang sibuk memasuk-masukan perlengkapan sekolahnya kedalam tas. Dalam hati si pengajar bergumam “Ada apa ini sebenarnya? Apakah siswa-siswa ini sudah faham? Apakah mereka sudah lebih tau dari aku? Apakah mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa? Apa yang ada dalam pikiran siswa-siswa ini???”

Pengajar berbaju coklat tersebut tiba-tiba diserang dengan beberapa pertanyaan yang menusuk hatinya, serta mengoyak-ngoyak pikirannya. Dalam hujaman pertanyaan atas dirinya tiba-tiba seorang siswa mengangkat tangannya?

“Silahkan Parta apa yang ingin kamu tanyakan?” Ucap pengajar tersebut.

Ketika Parta akan berucap tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya tanda kegiatan belajar telah berakhir.

“Baik Parta, maaf sekali waktu sudah habis. Simpan pertanyaanmu dan kita bertemu minggu depan” sahut si pengajar sambil bergegas dan dengan cepat ia meninggalkan kelas sambil pamit dan mengucapkan salam.

Siswa-siswa beteriak dengan girangnya, ekspresi kegagapan yang sebelumnya ditampilkan di hadapan pengajar ketika sedang kegiatan belajar berbalik menjadi teriakan-teriakan seperti budak yang dimerdekakan saat itu juga. Namun seorang siswa yang bernama Parta hanya termenung seperti ada sesuatu yang menganggu pikirannya. siswa-siswa pun berhamburan meninggalkan kelas dengan ribut, Parta masih terduduk saat itu, ketika kelas perlahan tenang ia barulah meninggalkan kelas dengan tertunduk membawa beban dikepala dan juga hatinya.

Di perjalanan pulang menuju rumah Parta mencoba mengingat kembali apa yang tadi dikelas ia dapatkan disaat pengajarnya bercerita tentang fenomena alam. Salah satu yang ia ingat adalah ketika pengjarnya di kelas berkata bahwa akhir ini kita sedang menyaksikan kemarahan Tuhan, banyak bencana alam dimana-mana, sungai meluap banjir, tanah tiada hentinya bergemuruh gempa, dan itu semua adalah bukti bahwa Tuhan sedang marah. Parta bingung, dalam hati kecilnya ia berbicara loh kok Tuhan pemarah ya? Bukannya Ia maha pengasih dan juga maha pemurah? Kenapa bisa marah juga? Apakah pengajarku itu becanda? Kalau Tuhan marah berarti adakah kesalahan yang sangat fatal dilakukan oleh manusia? Sejak kapan manusia melakukan sesuatu kesalahan hingga Tuhan marah? Apakah marahnya sekarang aja? Atau dari dulu? Apakah nanti bakal marah lagi? Parta yakin Tuhan tidak marah, jadi apakah Tuhan  memberikan teguran, peringatan atau hukuman?

Parta tidak ingin mengunakan kata-kata tersebut untuk menghindari kejadian alam dan menjadikan alat untuk meng’kambinghitam’kan Tuhan, atau setidaknya GR bahwa Tuhan sedang menguji (padahal meng-azab-nya). Kalau kita rajin menebangi hutan sembarangan, jangan kemudian bilang Tuhan menguji kita –manakala banjir bandang datang menerjang.

***

Ketika di angkot akan pulang ke rumah Parta menyaksikan beberapa ibu-ibu sedang asyik membicarakan bahwa nanti malam akan ada fenomena alam yang spektakuler katanya. Yaitu akan ada sebuah femomena langka yang terjadi setiap seratus tahunan sekali, kejadian itu bernama Super Blue Blood Moon. Katanya bulan akan berwarna merah, biru, putih dan terang menyala. Ini hal yang menakjubkan. Penampakan bulan tersebut diakibatkan karena gerhana bulan, dimana posisi matahari, bumi dan bulan dalam keadaan sejajar.

Parta menjadi teringat dengan kejadian gerhana matahari beberapa tahun yang lalu, semua orang seperti biasa terlarut dalam euforia fenomena alam tersebut, semua orang ingin menyaksikan tampilan gerhana matahari tersebut, ada yang pergi ke tempat Nobar Gerhana, ada yang menuju tempat studi astronomi, ada yang tidak beranjak dari televisi yang menyaksikan siaran langsung proses gerhana. Begitu banyak masyarakat yang antusias ingin menyaksikan kejadian ini. Parta ingat sehabis pulang ‘shalat gerhana’ dan bertemu dengan kakek tua yang berdiam diri di masjid tidak seperti kebanyakan orang yang seolah tidak ingin ketinggalan menyaksikan fenomena tersebut. Parta masih mengingat ucapan kakek tua yang bernama Abah Idi ketika ditanya kenapa kakek tidak ingin melihat fenomena yang jarang terjadi itu, Abah Idi pernah berkata bahwa gerhana atau yang di daerahnya disebut Samagaha menurutnya jangan dirasakan secara visual saja, meski ini fenomena yang langka kita harus ingat siapa Yang Maha Membuat fenomena tersebut? Apa tujuan Sang Maha Kuasa menciptakan sebuah fenomena samagaha? Bagi dirinya jika gerhana matahari terjadi karena posisi cahaya matahari menuju bumi terhalang bulan karena garis edarnya berada pada posisi sejajar sesungguhnya ini pun terjadi pada diri manusia. Telah terjadi Samagaha Pikir. Karena akhir-akhir ini pemikiran manusia banyak terhalang oleh sesuatu yang membuat dirinya tergelapkan. Samagaha hanya terjadi beberapa menit saja. Tapi ‘samagaha pikir’ bisa berlanjut terus sebelum dirinya melepaskan diri dari zona tergelapkan yang dapat menghalanginya menerima cahaya ilmu untuk sebuah pemikiran yang terang. Begitupun dengan gerhana bulan, banyak orang yang mengidolakan bulan berwarna terang-benderang, menurut Abah Idi kita harus ingat dimana sumber cahaya yang membuat bulan menjadi terang benderang? Jangan menghadap hanya kepada bulan saja, karena kecantikan bulan hanya berangsung beberapa menit. Samagaha bulan hanya terjadi beberapa menit saja tetapi ‘samagaha pikir’ bisa terus terjadi sebelum manusia ingat kembali kepada siapa Sang Pemberi Pemikiran yang terang? Siapa Yang Maha Kaya akan sebuah cahaya tersebut?

Mendengar beberapa perkataan yang diberikan oleh Abah Idi, Parta tertunduk dan merenung apakah selama ini telah terjadi ‘samagaha pikir’ dalam dirinya? Parta tidak menjawab ketika dirinya ditanya oleh Abah Idi apa samagaha itu bagi dirinya? Apa samagaha itu bagi orang lain?

Apa ‘samagaha pikir’ itu seperti apa yang dikatakan Abah Idi? Apa Samagaha Pikir bagi orang lain? Apakah ada yang lebih menarik dari fenomena samagaha ini?

Jika ada sesuatu yang sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanjut mengenai Samagaha Pikir ini, mari bersama-sama kita melingkar di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih hari Jumat 23 Januari 2017 pukul 19.30 WIB di Pondok Pesantren Anak Jalanan At Tamur Cibiru Hilir.

 

mukadimah : Tetring Ka Kanjeng Nabi

19 Dec 17
ja
No Comments

Mukaddimah

Tetring Ka Kanjeng Nabi

Bismillahirrahmanirrahim

Lur aya kuota teu? Tetring atuh..!?

Dalam peradaban yang akses pertukaran informasinya menggunakan keghaiban teknologi modern; internet, download, upload, chatting, wifi, hotspot serta tetring merupkan istilah pasaran yang sering bersliweran. Penggunaan fasilitas internet ini tentu sangat penting bagi kita ya meskipun sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Karena adanya suatu kepentingan itulah maka bagi yang tidak mempunyai kuota atau yang sinyalnya naik-turun amblas, minta tetring adalah suatu “keharusan”. Tak peduli lagi dengan urusan gengsi, karena adanya “keperluan” yang wajib dilaksanakan, maka minta tetring adalah suatu kewajiban yang tiba-tiba muncul sebab adanya kewajiban yang lain, ya semisal untuk bales chat ibu ataupun pacar.

Tetring selalu sepaket dengan wifi, hotspot, dan akses ulang-alik data juga dengan sinyal, pemancar, frekuensi dll. Tapi apa sebenarnya tetring itu? Jika merujuk dari shahibul lughah yaitu bahasa Inggris, tetring/tethering (tether+ing) mempunyai arti tambatan-menambatkan, tapi karena terlalu puitis jika diucapkan dalam terjemahan bahasa Indonesa, kita kemudian menyebutnya dengan minta wifi.

Lalu apa hubungannya dengan kanjeng nabi? Wong kanjeng nabi tidak punya smartphone, kok kita minta tetring pada beliau?  Apa juga yang beliau tetringkan pada kita atau yang ingin kita tetringi dari beliau? Mengapa urusan tetring ini menjadi perlu? Apa ada keterkaitan dengan koneksi kita ke Gusti Alah? Apa sinyal kita terlalu lemah untuk menjangkau hal-hal ilahiah? Apa data/kuota kita terlalu limited dan harus menunggu jam siang jam malam, musibah-anugrah untuk sesekali dekat pada-Nya? Ataukah kita memang tidak pernah memiliki driver/software/firmware yang cukup memadai untuk akses data lebih tentang Allah, untuk mendownload kasih sayang-Nya ataupun sekedar searching apa yang dikehendaki Allah? Sehingga kita perlu tetring ka kanjeng nabi?

Jika memang tetring ini menjadi analogi yang saklek tentang bagaimana seharusnya kita berhubungan (menghubungkan diri) dengan Rasulullah sehingga mampu online dengan Allah, maka adakah juga password sebagaimana hotspot-hotspot komunitas umumnya? Atau justru tanpa pasword sehingga semua bisa tetring pada beliau asalkan punya kemauan? Atau malah kemauan itulah yang menjadi passwordnya?

Dalam analogi sederhana, kita adalah smartphone dengan spek rendah yang masih 3G, dan kanjeng nabi adalah smartphone dengan spek tinggi yang sudah mampu menjangkau sinyal 10G sedangkan Allah adalah sinyal itu sendiri yang memancar dalam berbagai taraf gelombang mulai dari yang terendah yang bisa kita akses sampai yang sinyal yang paling tinggi yang hanya smartphone tertentu yang bisa mengaksesnya. Kita minta tetring ke kanjeng nabi, untuk bisa ikut nebeng sinyal yang beliau peroleh. Di sini kedudukan kanjeng nabi adalah sebagai penyalur ulang sinyal yang tak bisa dijangkau orang pada umumnya, oleh karena itu beliau juga disebut Rasul (utusan).

Lho tapi rasul-rasul kan juga banyak? Bahkan adapula para wali.

Jika kita melihat kembali bagaimana kedudukan Rasulullah dihadapan Allah, serta Rasulullah diantara para nabi dan seluruh makhluk. Maka wajar jika kita minta tetringan kepada beliau. Rasulullah adalah khatamul anbiya’, sayyidil mursalin, kekasih Allah, yang dari nurnya menjelmalah seluruh alam semesta ini, yang Allah pun mengajak malaikat-malaikat-Nya serta orang-orang beriman untuk bershalawat kepadanya, yang bahkan kita, umat yang beliau cintai pun, menjadi lebih dicintai oleh Allah karena begitu cintanya Allah kepada beliau.

Rasulullah adalah ‘transmittor’ yang menghubungkan Allah dengan kita. Lewat beliau Allah mengajak kita ngobrol, berkenalan lebih intim dan saling cinta-mencintai. Misi kanjeng nabi pun tidak sembarangan, menyempurnakan akhlak, menebar rahmat bagi seluruh alam. Dan kita inilah yang sedang ditebarkan beliau ke berbagai pelosok dunia, ke berbagai bidang kehidupan yang harus kita bidangi agar menjadi rahmat. Jika terpaksa menggunakan alur berpikir linier, sejatinya kita harus menjadi khalifah Rasulullah dulu sebelum benar-benar menjadi khalifah Allah fil ‘ard.

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita melalui kanjeng nabi, ini mungkin dapat dipahami bahwa Allah sedang mengajari kita tentang etika prosedural. Kalau kita tiba-tiba menghadap Allah sendirian dan mengaku sebagai umat kanjeng nabi sedang kita tak pernah membawa kanjeng nabi bersama kita kemana-mana apa ya Allah akan percaya?

Maka dari itu tetring kepada rasulullah, itu sama dengan gondelhan klambine kanjeng nabi, agar ketika kanjeng nabi menemui Allah, kita ikut kabawa, kanjeng nabi masuk surga kita ikut di belakangnya, kita nginthil ke kanjeng nabi kemana-mana, enak tho?

Nah selanjutnya cara untuk tetring ini bagaimana? Apakah sekarang ini kita sudah otomatis tetring kepada beliau karena kita adalah umatnya, ataukah kita juga perlu melakukan sesuatu?

***

 

Mukadimah : Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

21 Nov 17
ja
No Comments

Mukadimah

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi

(Milad 2 Tahun Jamparing Asih)

 

What’s a name, Apalah arti sebuah nama! Tetapi ada yang lain, bahwa nama adalah doa. Manakah yang lebih benar? Bukankah nama itu penting? Apakah nama itu identitas atau personalitas? Bentuk atau esensi? Dari dua ini poin ini saja, kita bisa ‘terpaksa atau memaksakan diri’ menghabiskan energi intelektualitas dan spiritualitas kita untuk mencari atau menemukan kebenaran tentang hakikat ‘nama’ itu. Yang jelas, terdapat, misalnya, gradasi antara benermu dhewe (kebenaran menurut dirimu sendiri), benere wong akeh (kebenaran menurut orang banyak), dan bener kang sejati (kebenaran sejati). Belum lagi, di ujung dialektika ijtihad, jihad dan mujahadah kita itu menghadirkan ‘segitiga cinta maiyah’ (Allah, Cahaya Terpuji (Nur Muhammad), dan kita/makhluq) atau tidak?

Lha! Kenapa kebenaran sejati harus dipersyarati dengan menghadirkan ‘segitiga cinta’ itu, dengan menemukan Allah di setiap apapun/siapapun/kapanpun/di manapun/kenapapun/bagaimanapun dan seterusnya? Atau, agar tak terus-terusan jumawa dan GR, kita sebaiknya bertanya: kita ini siapa! Memang betul atau yakin kita bisa menemukan Allah? Tidakkah sebaliknya, bahwa Dia yang mengadakan, menemukan atau menyentuh kita?

Sejatinya siapapun atau apapun itu bermaiyah. Apa atau siapa yang bisa terlepas dari ‘peran dan kinerja’ Tuhannya? Maiyah adalah kebersamaan dengan Allah! Siapa atau apa yang tidak bersama-Nya, sebenarnya? Segala sesuatu secara pasti seyogianya manunggal, nyawiji, ngahiji, men-tauhid dengan Pemilik atau Penciptanya. Term ‘apa’ disertakan tak lain dimaksudkan untuk mengakui keberadaan semesta. Sebab, selama ini, kita sadar hidup di semesta ini, tapi sering merasa bahwa kitalah satu-satunya makhluk penghuni bumi ini. Bahkan Pencipta dan Pemilik Sejati kita, pun kita lupakan eksistensinya! Ketika kita berpikir, merasakan, dan bertindak: bukankah semesta juga merekam, mencatat, dan meresponnya? Tidakkah air, udara, tanah, api, tetumbuhan, binatang, jin, dan malaikat punya hak yang sama untuk bermaiyah? Innallaha ma’ana, Allah bersama kita: tutur Kekasih-Nya yang paling kinasih, Muhammad Saw! Karena kita, dan seluruh ciptaan lainnya, adalah milik atau kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya: Inna lillahi wa inna ilahi raji’un. Adakah atau bisakah sesuatu [yang] tidak kembali kepada-Nya?

Rasa syukur yang mendalam, tak terhingga kepada Pemilik Sejati kita: betapa tidak, Ia menyifati diri-Nya dengan dua sifat yang seyogianya ‘menampar’ kita: “asy-Syakur” (maha narima’ake/narimakeun) dan “ash-Shabur”. Tak cukup malukah kita jika Ia saja begitu (terhadap kita)? Kepada manusia pilihan, Rasul Terkasih, khatamul anbiya’, Muhammad Saw: shalawat dan salam terus kita upayakan sekuatnya dalam rangka ‘gondelan klambine’ (muntang ka) Beliau.

Terima kasih, matur suwun sanget, hatur nuhun sagala rupina: Maulana Muhammad Ainun Nadjib, Syaikh Ahmad Fuad Effendy, dan Syaikh Muhammad Nursamad Kamba –yang telah bersedekah menggalikan ‘sumur’ untuk kami menimba ilmu (maiyah), agar senantiasa rindu ke Maha Sangkan Paran kami. Syukran katsiran ‘ala kulli hal, telah memperkenankan kami untuk menikmati ngeli, tapa kungkum, merenangi, mereguk; di tetes, di mata air, di aliran sungai, di lubuk, maiyah… hingga sejauh ini…

Bertepatan dengan milad, ambal warsa, milangkala Jamparing Asih yang ke-2, entah sontak tiba-tiba kami didorong untuk menggali, men-iqra’, men-tadabburi khazanah orang tua atau nenek moyang kita yang telah lama dilupakan. Jadilah tema majlisan kita bulan ini: Wasitaning Budhi Sonya Kanthi! Berangkat dari ketidakmampuan, ketidaktahuan, dan ketidakhebatan, dengan terus-menerus merindukan untuk diajari iqra’ oleh-Nya; justru kami memberanikan diri untuk mengangkatnya sebagai tema, pemantik diskusi, sharing, untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan ‘nyicil’ perjuangan, proses, kerja; nandur, poso, dan shadaqah. Seribu mil di depan tentu akan dimulai dengan satu langkah kaki, bukan?

Jangan-jangan, atau secara hampir pasti, kita banyak salah paham terhadap banyak hal, di dalam atau di luar diri kita. Tugas kita masing-masing untuk menziarahi itu semua, sendiri-sendiri atau bersama-sama! Pernahkah kita mencari tahu, kenapa bahasa Indonesia –Melayu Pasar asalnya– yang dipilih untuk dijadikan bahasa kita? Mengapa bahasa sampai dipilah menjadi bahasa daerah, nasional dan internasional? Sampai kapan bahasa Jawa, Sunda, Madura, Batak dan lain-lain akan kita sebut tradisional, tidak modern? Tak bolehkah kita mentadabburi kisah epik Musa-Khidlir yang diabadikan di dalam Alquran literer-Nya untuk mendialektikakan masa kini-masa depan-masa silam kita, misalnya? Atau, tidakkah mungkin bahwa masa silam adalah masa depan? Jika Alquran itu masa silam, untuk apa Allah menyuruh kita membaca, mentadabburinya? Bukankah yang kita lakukan, saat ini, sadar atau tidak, ialah memasadepankan masa silam!

Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Candra Sengkala. Watak bilangan 2 0 1 7. Kata-kata yang termasuk dalam watak 2 adalah kata-kata yang memiliki arti dua atau sepasang. Kata-kata yang termasuk dalam watak 0 adalah kata-kata yang memiliki arti kosong, hilang, habis, langit, dan tidak tampak secara jasmaniah. Kata-kata yang termasuk dalam watak 1 yakni kata-kata yang memiliki arti satu, tunggal, berjumlah satu baik itu Dzat Tuhan, benda, manusia, binatang, dan makhluk hidup lain serta kejadian alam dan sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam watak 7 yaitu kata-kata yang memiliki arti tujuh atau dalam sifatnya mengandung unsur yang berjumlah 7. Pengertian Wasita adalah nasihat, petunjuk, pelajaran (watak bilangan 7). Budhi adalah pikiran, pemikiran (watak bilangan 1). Sementara Sonya itu sepi, pertapaan (watak bilangan 0). Dan Kanthi berarti dengan, kebersamaan, teman (watak bilangan 2).

Jamparing Asih, 2 tahun, di rentang 2017. Wasitaning Budhi Sonya Kanthi. Bersama dalam kesunyian untuk menata budi, pikiran, agar menjadi wasita: petunjuk, pelita, obor yang menerangi. Ah, semoga…

Mari bergembira, bersama-sama: melakukan Maiyah!!

 

MUKADIMAH : WILAYAH ABA-ABA ABU-ABU

23 Oct 17
ja
No Comments

Mukadimah

Wilayah Aba-aba Abu-abu

 

 

Sebaiknya jangan meremehkan setiap kata. Aba-aba! Abu-abu, wilayah. Mungkin pula kata-kata lainnya, kita anggap biasa saja, sebagaimana –atau sudah begitu adanya: dan pada akhirnya ia atau mereka luput dari dialektika berpikir kita (yang seyogianya berkesadaran Ilahi). Tak jarang, dalam hidup kita di dunia [yang] ini, banyak kata yang dipergunakan tidak dengan tanggung jawab syarat-rukun yang seharusnya. Termasuk kata-kata yang diinformasikan Tuhan langsung melalui Kitab Suci literer-Nya, banyak yang disembelih, dikebiri, dipersempit sebagai kotak, lingkaran, label, branding, identitas kelompok-kelompok umat tertentu dan sebagainya. Bukankah berkesadaran Ilahi itulah yang diinginkan Tuhan melalui siklus innalillahi wa inna ilaihi raji’un? Bukankah pula kita diadakan, diselenggarakan, diperjalankan sebagai khalifah dengan manajemen fungsional rahmatan lil ‘alamin?

Kita hidup di ‘rimba raya’ zaman peradaban modernisme, kapitalisme (global), dan hedonisme. Semakin modern manusia, ia lantas menertawakan dan mengutuk habis ‘hukum rimba’, sembari menciptakan aturan-aturan, patokan-patokan, lalu lintas hukum yang tak kalah rimbanya. Macan, harimau, singa dan predator-predator lainnya disebut ‘buas’, ‘pemangsa’, hanya oleh manusia. Sementara kata ‘buas’ tidak manusia pergunakan untuk menyebut terhadap sesama mereka yang mengeruk hasil bumi secara serakah, merusak hutan, dan lain-lain –bahkan para pemangsa harta, nyawa dan martabat kemanusiaan mereka sendiri.

Tidakkah seekor macan itu muslim: patuh, taat, setia terhadap kosmologi peran yang diberikan Allah? Ia istiqamah, konsisten untuk memakan ‘mangsa’nya, dan tak sepanjang waktu ia melampiaskan syahwatnya pada makanan. Bukankah ia mengenal ‘puasa’, jeda, me-ngerem alias tak melulu nge-ngas? Pahamlah betul ia mengenai walayah atau wilayah peran dari Pencipta-Nya.

Bukankah macan, hutan rimba dan semua yang ada di cakrawala ini adalah ‘aba-aba’? Aba-aba, perintah, peringatan, ayat, petunjuk, perumpamaan (amstal) dan seterusnya! Allah tak segan-segan, misalnya, membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil darinya (QS. al-Baqarah: 26). Bukankah ‘amanat’ membaca amtsal, aba-aba dan seterusnya itu merupakan tugas dan kewajiban kita? Bacalah, tentu saja harus bismi Rabbika.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana membaca, men-tadabburi segala aba-aba Tuhan itu tatkala sudah berada di tangan para khalifah-Nya: dalam hal ini manusia? Menjadi gaduh, riuh-rendahlah nyanyian gerak sejarah berkeumatan kita. Bahwa wilayah aba-aba itu, disakralkan, di-tabu-kan dengan klaim: “Tak sembarang orang boleh memasukinya!” Sembarang orangkah kita, atau kita orang sembarangan? Siapa yang tak sembarang orang? Memang kita siapa di mata-Nya? Di antara awam seperti kita, siapa yang tak nyinyir, misal, ketika mendengar bahwa syarat-syarat untuk menafsirkan Al-Quran haruslah menguasai berbelas-belas fann, disiplin keilmuan; mulai dari bahasa Arab, asbab al-nuzul, manthiq, balaghah  dan lain-lain. Haruskah ketika kita ‘membaca’, iqra’ ayat Al-Quran secara otomatis menjadi mufassir? Mana yang lebih utama, mempelajari Al-Quran atau mempelajari tafsir-tafsir Al-Quran? Ah, kalau ada pilihan ketiga, kita sebaiknya memilih: belajar dari Al-Quran. Bukankah yang terakhir disebut lebih soft, halus, lembut untuk tidak merasa arogan mampu mempelajarinya. Sebab, konon, mempelajari itu teoritis; sedang belajar itu empiris.

Adakah itu grey area, wilayah abu-abu? Adakah itu aba-aba Tuhan yang di-abu-abu-kan? Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana kita meletakkan kesadaran. Dan itu baru setetes, di tengah hamparan samudera abu-abu tak menentu milik-Nya. Itu baru segenggam tanah, di antero wilayah bumi-Nya yang ‘tak bersertifikat’ laiknya tanah-tanah yang kita klaim sebagai milik kita dengan sertifikat dan akta tanah. Berapa aba-aba yang diabu-abukan. Berapa iya yang ditidakkan, berapa tidak yang diiyakan!

Adakah abu-abu itu negatif, membingungkan, absurd, ambigu, ataukah transisional bak seragam favorit sekolah orang Indonesia sewaktu muda: putih abu-abu alias SMA/U? Adakah terdapat titik koordinat tertentu yang memang sengaja dibikin abu-abu, klawu, untuk mempertahankan walayah sirr-nya, terjaga misteri atau rahasianya. Biar tak hitam-putih warna kita, linier cara memandang dan cara laku kita dalam mensikapi segala sesuatu. Ah, entahlah, kan abu-abu!

 

Hayu, ngopi sareng didieu: aya kopi racikan para Jon Pakir Jamparing Asih! Ihdinasshiraathal mustaqiim…

 

 

 

MUKADIMAH : SHUT DOWN

27 Sep 17
ja
No Comments

Mukadimah

Shut Down

Shut Down, matikan! Pareuman! Apa yang terbayang oleh kita ketika mendengar kata tersebut? Sangat mungkin dan hampir pasti kebanyakan kita, karena kehidupan keseharian kita selama beberapa dekade terakhir ini banyak ditemani oleh benda-benda elektronik, akan menyebut atau membayangkan radio, tape recorder, televisi, komputer, laptop, handphone, gadget wa akhawatuhum/dan lain-lain.

Tidak serta merta, di sini, akan diuraikan secara rinci perihal seluk-beluk kebahasaan shut down berdasarkan asal-usul ruang dan waktu lahirnya term itu. Sebab, kita bukan pemilik asli bahasa ‘coro inggris’ itu, ditambah –dan ini yang utama– ketidakmampuan kita secara akademis laiknya sarjana bahasa (atau sastra). Yang bisa kita lakukan mungkin mereka-reka kritisi kita terhadapnya. Misal, shut as transitive verb means menutup, tetapi ketika diselipkan kata down menjadi bermakna ‘mematikan’. Sementara jika dipasangkan dengan up (Shut Up) mengandung arti ‘tutup mulut(mu): diamlah’! Akan tetapi nanti dulu, otak-atik kecil ini bisa kita selenggarakan sendiri-sendiri, atau bersama-sama.

Term shut down diambil untuk mewakili nuansa kebahasaan yang semakna dengannya. Tanpa bermaksud menafikan bahasa-bahasa lainnya, shut down dipilih untuk memudahkan komunikasi –di era millenial ini. Toh, bahasa dan para penuturnya tak mungkin bisa menghindar dari ‘cara kerja’ Tuhan.

Yang menarik untuk ditadabburi adalah mengapa sampai lahir kata ‘matikan’. Untuk apa dimatikan? Dan dalam kondisi apa dimatikan? Kalau urusannya benda-benda elektrik itu harus dimatikan mungkin untuk menghindari error, hang, korslet dan seterusnya. Tapi materi-materi itu adalah hasil rasa cipta dan karya manusia! Bagaimana dengan benda atau materi lainnya semisal tumbuhan, hewan, angin, udara, air dan sebagainya? Bahkan manusia sendiri yang sejatinya ‘karya atau design’ Tuhan! Di luar Sunnatullah-Nya bahwa mereka harus berhenti, mati, layu dan lain-lain, berhakkah manusia melakukan tindakan ‘mematikan’ itu? Sebab ada penebangan pohon, penyembelihan hewan, teknologi penyulingan air, pengendalian udara atau iklim, perang antar negara dan seterusnya. Tidakkah itu persoalan hak dan kewajiban! Di manakah titik dan koordinat mizan manusia dalam walayah semacam itu?

Adakah manusia punya aktivasi daya menghidupkan atau mematikan? Tidakkah itu berhubungan dengan Sulthan Ilahiah al-muhyi wa al-mumit? Jika iya bagaimana, pun tidak juga bagaimana! Kalau hidup dan mati mungkin tak dipersoalkan oleh kita, yang memang sedang hidup dan akan mati. Tetapi sejatinya apakah itu hidup; what is dead? Tak banyak kita mendayagunakan akal kita untuk bermesraan dengan Juragan Agung kita untuk diajari meng-iqra’-nya. Bukankah kita lebih asyik menyibukkan diri secara habis-habisan untuk memacu potensi kita untuk menunjang karir kesejarahan hidup di dunia ini. Bagaimana jika hidup adalah mati, dan sebaliknya?

Kenapa kematian begitu mencemaskan atau menakutkan? Sampai-sampai ada sejumlah orang yang rela membayar mahal untuk menghindarkan diri dari kematian, misal, melalui ideologi pembangunan yang berwajah penindasan dan perang. Orang mencemaskan kematian yakni kehidupan. Orang mengejar-mengejar dunia; tapi tak henti-henti mengeluh tentangnya! Jangan-jangan kehidupan yang kita helat sampai detik ini sebenarnya adalah pesta kematian.

Urusan menebang pohon, mencari ikan di sungai, menyembelih binatang, sebagai contoh, bukanlah persoalan yang remeh temeh. Leluhur kita memiliki kearifan hidup yang luhur untuk mengkhalifahi sesuatu. Segala sesuatu ada caranya. Desa mawa cara, negara mawa tata. Silahkan gali khazanah ‘sesepuh dunia’ asli kita yang hari ini dikepung oleh superioritas dua lainnya. Buktinya, ketika kita bersekolah atau ngampus, kita ‘mendadak Yunani/Eropa’; sementara kita ber-Islam, kita latah menjadi ‘Arab’. Kita tidak lantas anti Arab dan Barat. Ada sesuatu yang memang harus Arab, perlu Barat dan musti Nusantara. Masih gengsikah kita untuk mau men-tadabburi filsafat radikal Mbah-mbah kita di Merapi sana: Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat!

Atau, di tengah arus globalisasi yang silang sengkarut mengepung kita melalui teknologi IT nubuwwah informasi, pengetahuan, ilmu dan seterusnya yang tak jelas ini, kita perlu untuk mematikan diri atau minta dimatikan oleh-Nya? Bak Ashabul Kahfi yang dimatikan/ditidurkan di Goa selama 309 tahun. Online kita di seluler, jangan-jangan meng-offline-kan kita di walayah lain. Betapa tak lelahkah kita mencari diri kita selalu di luar? Tanpa pernah sesekali menziarahi diri kita di dalam. Atau agar tak overlude, seperti perangkat-perangkat lunak atau keras IT itu, kita harus mematikan diri kita untuk lahir kembali, hidup lagi. Bukankah ‘menghidupkan yang mati’ (yuhhyillahu al-mauta, tsumma ahyahum, tsumma yumitukum, tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayy¸dan sebagainya) dihamparkan Allah sebagai aktivasi shifat dan af’al-Nya di dalam qur’an literer-Nya? Belum lagi yang fi al-afaq wa fi anfusikum!

Ah, kalau itu terlalu seram atau menyeramkan, ingat saja seorang Madura ketika ditegur temannya: ‘Sampeyan ngerokok terus, nggak takut mati?’. Dengan santainya ia menjawab: “Ndak lah, kan saya bawa korek api”.

Diantos kasumpinganana, Ngopi Bareng di Majelisan Jamparing Asih!

***