
MUKADDIMAH
Tema untuk riungan Jamparing Asih bulan sekarang terilhami ketika saya mengantar Pakdhe.Aam ke jalan raya menunggu bus elf jurusan Bandung-Tasikmalaya untuk pulang ke rumahnya di Malangbong, Garut. Obrolan-oborolan Pakdhe.Aam tentang jenis-jenis bus elf, tabiat sopir dengan keneknya, tarif bus dan cara bayarnya mengingatkan saya ke tulisan Mbah.Nun, bahwa Universitas paling jujur itu di Terminal Bus.
Sehingga seberesnya Pakdhe.Aam menaiki bus elf, saya ke kostan dan mencari tulisan Mbah.Nun tentang terminal tersebut. Tulisan Mbah.Nun tentang universitas paling jujur saya temukan di bukunya yang berjudul “Secangkir Kopi Jon Pakir”. Selain tulisan dengan judul universitas paling jujur banyak juga tulisan Mbah.Nun dibuku tersebut yang menceritakan tentang bus.
Dalam tulisan yang berjudul “Si Baik Hati”, Mbah.Nun memotret bagaimana keluarga Pak.Wondo tak kebagian kursi di bis yang kelebihan muatan dan di tengah jalan harus rela diturunkan karena kalah suara dari mayoritas penumpang lain yang jalur tujuannya lebih jauh sedangkan jalur tujuan Pak.Wondo sudah sesuai dengan jalur/trayek yang semestinya.
Tulisan yang berjudul “Kutukan Sang Dewa Tidur”, kita melihat bagaimana nasib penumpang yang belum duduk di kursi bus sudah di pusingkan terlebih dahulu, di bola pimpongkan oleh calo dan staff di terminal karena urusan tiket bus, nomor pelat dan posisi tempat duduk. Di tulisan “Sunan Kalijaga Naik Bis Antarkota”, kita disuguhkan cerita ketika orang-orang yang baru turun dari kapal ferry naek bus tapi di Tengah jalan diminta ongkos hampir dua kali lipat harga normal yang disepakati sebelum naik bus, yang tidak mau bayar dengan terpaksa harus turun.
Di tulisan lainnya dengan judul “Satu Bis Seribu Jurusan” kita disuguhkan dengan adat bus di Lampung Tengah (mungkin juga sama di semua daerah), bagaimana petugas bus mencari banyak penumpang yang mau pergi kemana saja di sepanjang jalan. Sudah lazimnya penumpang yang seperti ini akan diturunkan ditengah jalan dengan alasan tidak sesuai jurusan/trayek.
Dari semua cerita yang Mbah.Nun tuliskan tentang seluk beluk terminal bus, kita seakan-akan melihat bahwa penumpang bus itu bukan manusia, mereka hanya sekedar sejenis makhluk tak peduli bikinan siapa, tapi pokoknya di tangannya ada uang.
Sebagai penutup tulisan muqaddimah ini, saya mengutip perkataan Mbah.Nun yang tentunya masih di buku Secangkir Kopi Jon Pakir, yaitu : Maukah anda menjadi Pak.Wondo sekeluarga.? Tahukah kita bahwa kasus-kasus itu juga terjadi diluar bidang transportasi.?