Mukaddimah untuk riungan di awal bulan tahun 2026 ini diambil dari kegiatan rutin kumpul-kumpul para pegiat Maiyah simpul Bandung, Jamparing Asih. Biasanya obrolan di minggu pertama ketika tahun 2025 diagendakan untuk membahas kurikulum yang diberikan koordinator simpul dengan tujuan menjadi saran tema dan pembahasan di riungan setiap simpul di bulan tersebut, ketiadaan rutinitas harus disikapi dengan menghadirkan rutinas yang baru.

Jika di tahun sebelum adanya kurikulum dalam pembuatan tema para pegiat simpul khususnya simpul Maiyah Bandung mengambil tema dari keresahan dan persoalan-persoalan yang dirasakan oleh dari pegiatnya. Maka di tahun 2026, simpul bandung mencoba dan mengikhtiarkan pengambilan tema dari tulisan-tulisan mbah Nun yang tersusun di seri DAUR. Dan akhirnya untuk Maiyah simpul Bandung Jamparing Asih minggu pertama melingkar bersama karena kerinduan yang sama berakhir dengan kegiatan mentadaburi seri DAUR mbah Nun.

Karena baru permulaan, maka tidak mengherankan untuk tema di awal bulan masih di tulisan-tulisan awal daur, tepatnya di buku daur 1 nomor 08 dengan judul khairon?yaroh?Syarron?Yaroh?. Dalam sesi tadabur daur ini, banyak pegiat merasa tercerahkan dengan pembahasan mbah  Nun tentang konsep dan sistematika bagaimana cara pembalasan atas kebaikan dan keburukan yang kita lakukan. Karena kita sudah terbiasa dengan kata-kata “nanti akan dibalas setiap perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan”, hal ini tidak salah namun bagi kebanyakan orang dirasa perkataan tersebut hanya sebagai kata-kata untuk mendiamkan kita saja agar tidak banyak bertanya dan akhirnya hanya bisa pasrah.

Pembahasan tentang ketidakpastian kapan dan bagaimana pembalasan dari perbuatan baik dan buruk itu semakin meluas sehingga sampai kepada dampak yg dianggap akan berbahaya atau di khawatirkan dalam urusan beragama. Misalkan ketidak tahuan kita tentang sudah atau tidaknya perbuatan baik kita mendapatkan balasan akan membuat manusia semakin terjerumus dalam harapan yang panjang, jika ternayata sudah dibalas perbuatan baiknya timbul pertanyaan lainnya bagaimana cara kita untuk mengetahuinya, apakah ada satu pertanda jika perbuatan kita dibalas.

Begitupun dengan balasan perbuatan buruk, bukankah perbuatan kesalahan antar sesama hanya bisa dihapus ketika menerima kata maap dari orang yang ditimpa perbuatan buruknya. Bisakah kita mengklaim jika nasib buruk seseorang karena pembalasan dari perbuatan buruk dirinya kepada kita, karena tidak ada pemberitahuan kepada kita yang ditimpa keburukannya. Jika orang-orang tidak mendapatkan kepastian balasan yang nyata ketika berbuat baik dan buruk, dikhawatirkan banyak orang-orang semakin enggan untuk berbuat baik dan merasa bebas untuk berbuat buruk. Dan hal ini tentunya akan membuat umat semakin tidak memerhatikan sesamanya.

Di akhir obrolan, para pegiat berkeyakinan tentang Tulisan mbah.nun di khairon?yaroh? Syarron?Yaroh? merupakan suatu pemantik kepada semua orang untuk berani berbuat baik, berani mengajak kepada perbuatan baik, berani meninggalkan perbuatan buruk dan berani untuk melawan perbuatan buruk. Kita semua jangan merasa takut karena janji Allah sudah benar adanya. Kita sudah dibekali bekal yaitu janji Allah untuk membalas setiap perbuatan kita, lalu apa yang menyebabkan kita mundur sebelum melangkah, kita kabur dari medan perang, tong kumeok samemeh dipacok.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *