NGAMUMULE ELMU AJUG
(Reportase Maiyah Jamparing Asih 29 Desember 2025)
Suasana tajug Pondok Pesantren Anak Jalanan At-Tamur sedang syahdu dilapisi cahaya lampu putih, tidak lupa langit malam Bandung yang pekat memeluk suasana dengan sangat khusyu’. Dihiasinya malam itu dengan bulan yang tengah harap cemas menanti pergantian tahun, transisi dari 2025 – 2026. Memang masih dua hari lagi, namun semangat dan suasana pergantian tahun tersebut sudah mulai terasa—bahkan di dalam Majelis Masyarakat Jamparing Asih sekalipun.
Pada hari ini (29/12/2025), Majelis Masyarakat Jamparing Asih mengusung suatu tajuk yang agak menggelitik dan nyentil yakni: “Ngamumulé Èlmu Ajug.” Suatu frasa yang berasal dari bahasa Sunda yang secara literal memiliki arti: “Melestarikan Ilmu Penyangga Damar!” Bagi yang tidak familiar, ajug adalah sejenis tempat atau penyangga lampu zaman baheula yang berfungsi untuk meninggikan posisi lampu agar cahaya yang dihasilkan dapat menyebar secara luas. Tetapi bagi masyarakat Sunda sendiri, elmu ajug merupakan sebuah nasihat atau sindiran kepada mereka yang pintar memberikan pepatah, nasihat ataupun pandai berbicara tanpa konsistensi dengan apa yang diperbuat.
Forum dimulai dengan sedikit humor karena salah satu kawan kita, Asrul Al-Umari, bertanya: “Ajug teh naon sih? (Apa sih ajug itu?)” Wajar, Umar adalah seorang pemuda Lombok yang kini tengah menetap di Bandung. Akhirnya Bambang, sebagai moderator, menjembatani tanda tanya tersebut dan memberikan pengertian yang telah di jelaskan di atas. Umar pun menanggapi dengan asyik, “Ya sebetulnya elmu ajug ini bisa dilihat dalam dua sisi ya, kalau masalah elmu ya positif sih tapi ketika tidak dilakukan ya itu jadi negatif.”
Jika mau sedikit melakukan kilas balik, 2-3 tahun silam kita mendengar dengan ramai orang berbicara mengenai The Death of Expertise atau Matinya Kepakaran yang dipopularkan oleh Tom Nichols. Ia berbicara bahwa dalam iklim demokrasi yang kebablasan ini semua orang dianggap dapat berbicara apa saja (bahkan sampai urusan agama, sains, atau filsafat sekalipun) tanpa latar belakang keilmuan yang memadai dan sialnya banyak orang percaya. Nada serupa itulah yang coba Bambang genapkan selanjutnya demi menanggapi alur diskusi yang diawali Asrul:
“Sekarang banyak panggung untuk melestarikan elmu ajug ini, makin beragam bahkan sampai ke ruang digital. Kita bisa lihat bahwa banyak orang di medsos tersihir oleh pesona elmu ajug—orang-orang yang tidak kredibel di bidangnya. Ya penonton hanya terfokus pada tokoh yang banyak followers-nya itu yang didengar.” Begitu ujar Bambang. Sambil nyeletuk pula Noval menanggapi dengan bercanda, “Don’t make a stupid people famous ceunah mah!”
Menolak Ajug, Berani Menjadi Tajug!
Dengan sedikit nuansa mawas dan reflektif Dasep membawa persoalan ajug ini ke sisi yang filosofis, ia menyatakan bahwa: “Elmu ajug itu sebetulnya suatu nasehat agar—jika dalam bahasa agamanya mah—tidak munafik. Supaya engga silau sama orang lain, orang diperhatikan, tapi diri sendiri diterlantarkan. Sebetulnya kan bagusnya kayak tajug, bukan hanya ajug, ya kan tajug mah tempat orang bisa menimba ilmu.”
Tajug sendiri, bagi pembaca yang kurang tahu, adalah suatu bentuk bangunan tradisional khas Jawa-Sunda yang memiliki atas khas dengan fungsi sebagai tempat ritus keagamaan dan dakwah seperti pengajian dan lain sebagainya. Singkatnya, tempat kebaikan dapat dibagikan dan dirasakan semua orang. Hal itulah yang coba disorot Dasep bahwa kita mesti menjadi tajug, bukan hanya ajug!
Senada dengan Dasep, Ucan Kaheman menimpali dengan sedikit humor dan kekocakan khas seorang seniman. Ia bilang bahwa ke-ajugan itu tidak boleh hanya berhenti di sana tetapi juga harus ajeg. Hal itu ia kuatkan dengan sedikit mengutip lirik lagu Ebiet G Ade, “kita mesti telanjang dan benar-benar bersih ceunah mah.”
Tidak berhenti di sana, Ucan menyatakan bahwa dalam proses pengenalan diri dan pencarian ilmu itu ada setidaknya tiga tahapan yakni: tahapan ngaco, ngaca, dan ngaci. Tahapan ini setidaknya bisa kita pahami sebagai suatu urutan di mana seseorang mulai mencari kebenaran. Pertama-tama ia pasti ngaco, merasa benar dan mungkin punya pemahaman yang salah. Lalu ia dapat naik tingkat ketika ia mulai ngaca, melakukan refleksi dan mawas terhadap diri dan sekitarnya. Dengan pemahaman yang didapat dari proses panjang refleksi dan pemikiran kritis tersebut, barulah orang sampai pada tahapan ngaci—suatu istilah dalam proses pembuatan dinding pada rumah agar halus, rata, dan kokoh. Artinya ilmu yang didapat dikuatkan melalui perbuatan, tindak dan laku lampah agar kuat dan tidak hanya sekadar omongan doang. Berbagai tahapan ini mesti ditempuh manusia setidaknya agar, seperti Ucan bilang, “Yang tadinya elmu ajug bisa menjadi ilmi yang bermanfaat dan dikerjakan oleh yang empunya elmu!”
Penyakit Struktural itu bernama Èlmu Ajug
Suatu tanggapan serius dan agaknya menarik untuk kita soroti bersama datang dari Fauzan Anwar dengan mula-mula mengutip firman Tuhan: كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (“Sangatlah besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”) QS. As-Saff: 3. Sementara mengkritik paradigma ajug tersebut, Fauzan juga mencoba menerangkan bagaimana kondisi sosial masyarakat hari ini memperoduksi manusia-manusia yang harus terus berbicara karena dengan begitu berarti mereka ada. Ironisnya karena dipaksa berbicara agar dianggap ada, maka siapapun memaksakan diri untuk berbicara apa saja—bahkan hal-hal yang di luar kapasitas dirinya sendiri. Inilah suatu gambaran masyarakat yang miskin akan kedalaman, akan kebijaksanakan dan jeda waktu. Suatu masyarakat yang terburu-buru dan tergesa-gesa. Sialnya itu semua distrukturkan dalam sistem yang ada sekarang ini.
Hari makin larut, obrolan pun berlanjut dengan fokus yang makin luas dan melebar. Mas Tyas yang datang belakangan, mencoba ikut menanggapi obrolan asyik ini. “Supaya tidak ajug, baiknya kita mempelajari balik sejarah dengan baik dan benar. Agar kita bisa memiliki suatu kedaulatan, kedaualatan untuk menilai sesuatu. Jadi sebelum menerangkan orang lain, terangi diri kita dulu. Dan jangan lupa, kebenran yang sekarang kita pegang bisa kita revisi kembali. Kita harus memiliki kefleksibilitasan dalam menghadapi zaman.”
Higlight menarik juga disampaikan oleh Asrul dengan mengutip usulan Abdurahman Wahid dalam essaynya tentang Mencari Kepemimpinan Umat. Asrul mengatakan bahwa, “Kita ini sekarang terlena dengan orang-orang yang ajug, ya ini kan menandakan adanya suatu krisis yakni krisis figur di antara kita semua. Semestinya figur itu, kalau mau melihat yang ditawarkan oleh Gus Dur itu ya harus kuat secara lokal dan juga nasional. Ia pertama-tama memiliki akar kuat dengan struktur lokal ia berasal, tetapi di saat yang bersamaan ia juga terhubung secara kuat dengan jejaring nasional.”
Setidaknya kita melihat bahwa permasalah elmu ajug ini tidak hanya merambah nalar subjektif masyarakt Indonesia, ia juga justru dihasilkan dan merupakan watak dari sistem yang ada sekarang ini. Justru kita mesti bertanya: apakah sistem demikian dipelihara dengan baik oleh sistem? Jikalau jawabannya iya, untuk apa dan siapa yang bakal diuntungkan dari sistem yang demikian.
Obrolan pun berlanjut pada pembahasan mengenai persoalan kenegaraan dan sejarah dari perspektif Fauzan dan Mas Tyas, suatu perdebatan asyik yang membukakan mata. Walau memang sudah melesat jauh dari pembahasan ajug tadi, diskusi tersebut tetap menarik untuk disimak dan dicerna. Begitulah forum Jamparing Asih, layaknya tajug—tempat orang mencari ilmu dan menerangi dirinya sehingga orang juga ikut tercerahkan. Pembahasan berlanjut dari persoalan sejarah Indonesia, baik masyarakat Sunda sampai Jawa, juga pembahasan internasional mengenai kepemimpinan model China dan keberlangsungan sejarah ke depannnya.
Satu hal yang pasti yang bisa kita petik dan jadikan bahan refleksi sebagai penutup dari reportase Jamparing Asih kali ini bahwa kita mesti kembali bertanya dan memikirkan kembali ungkapan Nabi:
إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang
bukan ahlinya,
maka tunggulah kehancurannya (kiamat).”
Tentunya hal tersebut bukan hanya ungkapan kosong belaka, kita dapat melihat kejadian nyata dari ungkapan tersebut—contohlah misalnya Bencana Chernobyl di Uni Soviet dulu. Kepatuhan membuta terhadap rata mantai organisasi Komunis Soviet dan budaya otoritas yang salah terhadap atasan membutakan semuanya sehingga suara ilmuwan-ilmuwan Soviet dibungkam atas nama kepatuhan organisasi. Hal tersebut menyebabkan kegagalan sistem dan bencana besar meledaknya Reaktor Nuklir RBMK 4. Ribuan orang terkena kanker tiroid (dan berbagai kerusakan tubuh lainnya) akibat bencana tersebut.
Dengan forum bersama yang kita lakukan kali ini, semoga kita dapat menyongsong perubahan tahun dengan kesadaran bahwa ilmu tanpa pelaksanaan kata-kata hanyalah serupa ajug yang menerangi sekitar dalam tempo singkat lalu membakar dirinya secara habis.
Kita mesti yakin bahwa ilmu tidak demikian, ia layaknya obor zaman.Terang tiada habis dimakan waktu.