
MUKADDIMAH
Segala sesuatu mengalami perubahan. Hanya Tuhan yang kekal dan abadi. Selain Tuhan, semua berpotensi mengalami perubahan. Perilaku, baik kognitif, afektif, maupun motorik, akan selalu berubah mengikuti perubahan mindset. Bagaimana mindset itu dibentuk sangat ditentukan oleh pengalaman dan pendidikan. Juga, terkadang prasangka atau perkiraan.
(Muhammad Nursamad Kamba)
Sebuah musim akan berganti seiring merambatnya waktu, di negara yang memiliki kadar iklim tropis akan mengalami hanya dua musim di setiap tahunnya, yaitu musim hujan dan musim kemarau, dan hal ini berlaku di negara Indonesia. Di penghujung musim hujan atau kemarau ada masa pergeseran cuaca yang mendadak, sehingga pergantian musim tidak bisa terjadi dengan cepat, masa peralihan atau pergantian ini yang kita sebut dengan Pancaroba. Pancaroba berarti ketidakpastian, hujan turun tiba-tiba, angin menderu tanpa aba-aba, dan langit sulit ditebak, terkadang musim kemarau panjang, atau musim hujan yang berkepanjangan. Namun, apakah hanya itu? Atau barangkali alam sedang mengajar kita tentang makna perubahan yang sebenarnya?
Alam memaksa manusia untuk berhenti sejenak, memeriksa ulang arah dan tujuan. Sehingga hasinya pemahaman kita akan pancaroba mulai berubah makna, Ia tidak hanya menjadi tanda musim, tetapi peringatan bahwa pancaroba menjadi tangisan bumi yang lelah, balada pancaroba. Tapi negara? Negara seolah buta. Investasi tetap menggusur hutan, reklamasi tetap menenggelamkan pulau, dan korporasi tetap disayang. Alih-alih bertindak, pejabat sibuk menyalahkan cuaca. Padahal yang berubah bukan hanya musim, tapi juga nalar. Krisis ekologis bukan lagi ancaman masa depan—ia sudah terjadi, hari ini. Tapi negeri ini masih nyaman dalam siklus: mengabaikan, meratap, lalu melupakan.
Indonesia sampai saat ini selalu mengalami musim pancaroba, gambaran tentang negara yang selalu di ambang—di antara perubahan, tapi tak pernah sungguh berubah. Mari kita melancong menuju sejarah. Indonesia lahir di tengah pancaroba global, saat kolonialisme mulai roboh dan nasionalisme merekah. Proklamasi kemerdekaan 1945 adalah hujan badai yang diharapkan membawa kesuburan. Tapi nyatanya, setelah kemerdekaan, kita jatuh ke lubang gelap konflik internal—pemberontakan, kudeta, dan transisi kekuasaan berdarah. Dari Orde Lama menuju Orde Baru, dari tangan Soekarno ke titah Soeharto. Dari revolusi ke represi. Reformasi 1998 digadang-gadang sebagai musim semi demokrasi. Tapi dua dekade kemudian, kita bertanya: Apakah kita telah keluar dari pancaroba, atau justru terjebak di dalamnya?
Demokrasi kita digerogoti oligarki. Kebebasan dipoles, tapi substansi tak jua terisi. Perubahan digembor-gemborkan, tapi rakyat tetap menggigil kedinginan di tengah badai kebijakan yang tidak stabil. Hingga sampai hari ini, pancaroba pun semakin meluas. Media sosial menjadi cermin sekaligus pisau bermata dua. Diantara Fakta dan kebohongan bertarung dalam pusaran algoritma. Masyarakat terbelah oleh narasi, bukan oleh realitas. Polarisasi menjadi identitas, dan logika kalah oleh sentimen. Rakyat dipaksa memilih antara suka atau tidak suka, bukan antara adil dan zalim. Kita menyaksikan elite menari di panggung kekuasaan, sementara rakyat berebut bansos dan pekerjaan. Kritik dianggap ancaman, perbedaan dimusuhi, dan kebenaran dianggap relatif. Dalam balada pancaroba ini, semua orang merasa benar, semua merasa sebagai korban.
Ketika hubungan, harapan, atau keyakinan mendadak kabur seperti langit mendung yang tak segera hujan. Ketidakpastian pengetahuan membuat kita pada momentum dan situasi tertentu dalam peristiwa kehidupan sekarang di dunia — membuat sangat sulit menemukan posisi diri dan kuda-kuda mental. Petanyaannya apakah kesulitan dan keterpurukan di dunia ini ujian ataukah hukuman. Ketidakstabilan itu bisa benar-benar membuat kita kehilangan arah dan mungkin frustrasi. Ada apa dengan kita? Seharusnya di dalam pancaroba inilah benih kesadaran kita bisa tumbuh. Lalu kesadaran bagaimana saja yang tumbuh dari sebuah pancaroba?
Ada baiknya kita mulai bertanya-tanya tentang sumber penyebabnya. Jangan melihat orang lain dulu, tapi mari lihat diri kita masing-masing. Jangan-jangan segala bentuk kekacauan itu sebenarnya berawal dari sempitnya ruang kesadaran kita. Dan akhirnya, Pancaroba mari mulai kita maknai menjadi ruang jeda antara dunia yang kita kenal dan dunia yang akan kita hadapi. Siklus inilah yang menjadi hidangan kita tatkala malam tiba.