Mukadimah

Mukadimah

Sebelum lebih jauh membicarakan seputar definisi, pemaknaan, dan nilai, alangkah baik nya kita sadari terlebih dahulu bahwa yang paling dominan dari kedua kata tersebut ( Konotasi-Denotasi) adalah ‘notasi’ yang mungkin dalam bahasa kepenyairan/seniman/musisi itu berarti simbol dalam sebuah karya, untuk memberikan informasi mengenai tempo dari irama/melodi/nada dan seterusnya. Ada dua alasan mengapa tema ini menjadi sangat urgent untuk kita kaji kembali. Selain karena makna dan nilai sangat sering terjangkit virus kesembronoan ternyata mengkaji kembali ‘kata’ dapat menghindarkan bahkan menyembuhkan seseorang dari fobia kata.

Dari kesembronoan tersebut, pada dasarnya manusia hari ini dalam menyikapi segala hal cenderung tidak waspada serta tidak berhati-hati. Apalagi ketika kita sangkut-pautkan hal tersebut pada persoalan panggung modernitas–seperti industrialisasi dan kapitalisme yang  marak dibicarakan—Yang menggiring manusia menjadi eksklusif terhadap cara ataupun jarak pandang dari suatu fenomena.

Tentu saja tema mengenai keinginan masyarakat maiyah untuk merdeka dari kata-kata sudah sering dibahas. Misal seperti yang disampaikan Erik Supit pada majlisan Kenduri Cinta November kemarin bahwa, perlunya suatu saat masyarakat maiyah membuat ‘kamus versi Maiyah’. Kita bisa kembali pada apa yang dituliskan Mbah Nun pada tahun 2017 bahwa :

Semakin banyak kemudharatan zaman yang diawali dengan kata. Sehingga untuk mengatasinya, kita perlu berunding ulang dengan setiap kata, makna, dan nilai.

‘Kata’ memang, tidak terlalu berlebihan jika diungkapkan sebagai media mengidentifikasi identitas dan eksistensi manusia. Dari kata terbentuklah kalimat, paragraph, essai, kemudian diolah sedemikian rupa menjadi pidato dan janji-janji. Serta pamflet-pamflet kebohongan. Kita semua tentu sangat paham bahwa telah terbuka sangat luas jalan meng-ijtihadi segala fenomena dan semakin sempit keinginan untuk men-taqlid apa yang telah nyata ‘salah’ di depan mata.

Dalam Semiotika (cara mengetahui tanda-tanda melalui makna yang ada di baliknya) yang dikemukakan oleh John Fiske, ada tiga studi utama, yaitu : Tanda, Kode, dan Kebudayaan. Tanda, adalah upaya manusia mengkonstruksikan sesuatu dan hanya dapat dipahami oleh dirinya sendiri atau penggunanya. Kode, merupakan kelanjutan dari tanda-tanda yang telah mengalami pengorganisasian yang maknanya berdiri diatas konvensi dan kesepakatan. Tanda dan kode yang telah beroperasi sedemikian rupa kemudian membentuk kebudayaan.

Sementara makna, terbentuk dari apa yang telah dipahami bersama secara turun temurun, bukan dengan analisis yang jujur dan serius. Saussure mengungkapkan tanda, kode, dan kebudayaan memiliki ruh dan kehidupan di dalam masyarakat. Mereka akan terus hidup dan membentuk suatu peradaban. Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan “Notasi” yang akan coba kita uraikan, baik itu dalam karya musik ataupun pagelaran kehidupan menjadi penting, agar birama dari melodi, nada, ataupun sebuah karya, tetap terjaga kestabilannya. Sedang term ‘Konotasi-Denotasi’ di sini, justru bisa menjadi sebuah pertanyaan berikut tawaran jika kita coba gunakan otak-atik-gatuk (ilmu luhur masyarakat nusantara) sebagai metode memahami kata dan fenomena.

Memperbincangkan makna denotasi dan konotasi–entah arah maknanya yang telah berubah dari denotasi ke konotasi maupun sebaliknya—adalah sebuah keberanian besar. Sebab tentu saja, melepaskan diri dari sifat ke-aku-an adalah gerbangnya. Yaitu melepaskan kata dari kepentingan individu maupun kelompok. Pernyataan ini sangat beralasan bahwa, seorang filosof bernama Kent Palmer yang meneliti mitos-mitos Eropa Purba di Scandinavia dan Yunani menyimpulkan bahwa ‘ketiadaan’ adalah puncak Hierarki wujud. Inipun berlaku pada konsep ‘kekosongan’ pada Thaoisme dan Sunyata pada Buddhisme. Yang akrab kita kenal dalam Sufisme adalah kefanaan. Memang, apa yang sedang kita alami saat ini tampaknya tidak perlu terlalu dikagumi ataupun diratapi sebab Mbah Nun berpesan :

Bukan yang sedang berlangsung sekarang ini yang disebut manusia, masyarakat, ummat, negara, demokrasi, pembangunan, kemajuan, keberhasilan, sukses, kebudayaan, dan peradaban.

Tulisan ini tidak/belum memiliki kepentingan dengan pengertian atau makna kata per kata sebab itulah tujuan kita melingkar pada Majlisan Jamparing Asih edisi November 2019 ini.