Mukadimah

Bukit Mayoritas Gunung Mainstream

Bismillahirrohmanirrohim..

Judul tema Jamparing Asih bulan ini terinspirasi oleh bagian dalam tulisan Marja Maiyah yang baru saja ambal warsa yg ke-61, Mawlana Muhammad Nursamad Kamba, berjudul “Maiyah dan Perahu Nuh”. Seperti yang kita ketahui bersama, dalam kehidupan manusia selalu berkaitan erat dengan gunung dan lautan. Gunung di dalam beberapa daerah diumpamakan sebagai ‘Pemangku Kerajaan’ dan laut diumpamakan sebagai ‘Rakyat’. Atau mungkin bisa diumpamakan seperti titik hulu dan hilir, dimana diantara titik itu berjalanlah unsur nilai, unsur pasar, dan unsur istana. Atau mungkin terdapat amsal-amsal lain yang mari nanti kita saling sinaui bareng tadabburi bersama. Lalu, apakah antara Gunung dan Laut, hulu dan hilir, unsur nilai, pasar dan istana itu saling bersinergi? Ataukah justru seakan-akan bersama tetapi justru menginginkan perpecahan?

Salah satu kakak manusia yaitu Kangmas Gunung, selalu berusaha menjadi patok yang kokoh agar kehidupan adek bungsunya sejahtera dan terpenuhi dan daratan ini tidak goyang terombang-ambing. Mengalirkan mata air yang jernih dari hulu untuk penghidupan, abu serta unsur yang keluar dari dalam dirinya pun menyuburkan, serta bagian tubuhnya pun rela disedekahkan untuk menjadi pondasi, rumah serta gedung. Tetapi justru adek bungsunya saking dimanjanya hingga lupa batas, semua dieksploitasi, dirusak dari hulu.  Berbondong-bondong mayoritas manusia menanjaki bukit serta gunung, mungkin tujuannya mulia, memanfaatkan sumber daya yang ada untuk kemudian didistribusikan ke lingkungan sekitar yang ada di aliran sungai hingga hilir. Tetapi begitu sampai puncak, sebagian besar mengalami kelelahan dan haus lapar yang amat sangat. Maka berebutlah mereka, dikonsumsilah semua sumber daya itu tanpa ada sisa untuk didistribusikan. Lalu bagaimana kondisi yang di bawah hingga ke hilir?

Jika kita perhatikan fenomena dan nomena sekitar saat ini kita dibawa ke dalam arus utama besar: istana pindah ke pasar, pasar pindah ke masjid, masjid pun boyong ke istana dan menguasai pasar. Belum lagi arus informasi yang dahulu bisa disebut simpang siur atau angin sepoi, kini mulai menjadi badai besar hingga tsunami informasi. Ketika semakin rendah posisi pemukimannya, semakin besar pula badai yang dirasakan. Mungkin  yang tinggal di pantai bisa merasakan, angin laut lebih kencang dan jahat daripada angin yang posisinya semakin naik posisi datarannya. Maka sebagian besar berlarian ke atas gunung, harapannya agar hidupnya aman, disejaterahkan. Sedangkan orang-orang yang tersisa tetap gotongan membangun bahtera Nuh di tengah badai, agar anak cucunya dan mahkluk-makhluk Allah lainnya bisa diselamatkan. Maka di titik koordinat manakah kita saat yang lalu, saat ini, saat yang akan datang?

Mari kita sama-sama berkumpul ngariung sinau bersama, nandur poso sodaqoh untuk saling berpegangan pada tali Allah yang kuat, gandolan Sang Kekasih, Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dalam majelis masyarakat maiyah Jamparing Asih Bandung. Semoga Allah meridhoi dan tidak marah kepada kita.Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar. Aamiin

  1. “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap adzillah terhadap orang yang mu`min, dan bersikap a’izzah terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al Ma’idah ayat 54)

  2. Akhirnya Nuh berkesimpulan bahwa keadaan memang sudah demikian genting tapi tetap tidak perlu Perppu, gumamnya. Bagaimana dengan do’a pamungkas?: “Tuhan jangan biarkan bumi ini dihuni para pengecut yang tertutup hatinya; jika Engkau biarkan maka mereka hanya akan menyesatkan dan tak akan ada yang lahir dari mereka kecuali pengecut”. Tidak, tidak perlu do’a. Mungkin sudah terlambat memang, sebab banjir kini sedang melanda. Banjir informasi bergelombang bak tsunami datang silih berganti. Yang dilakukan sekarang adalah mengajak anak-anakku menumpang di atas perahu ini.

    Tapi mereka tetap menolak. “Tidaaaak”, teriak mereka, “kami akan berlindung di atas bukit Mayoritas dan gunung Arus-utama yang akan menjadi benteng kami.”

    “Tidak anak-anakku,” suara Nuh terdengar sayup-sayup di tengah gemuruh ombak, “tak ada yang dapat membendung ketetapan Tuhan, wahai anak-anakku.”
    Mereka kemudian tertelan oleh ombak dan tamat. Mereka tenggelam.


    (Beberapa Paragraf akhir dari tulisan Marja Maiyah , Maulana Syekh Dr. Muhammad Nursamad Kamba, berjudul “Maiyah dan Perahu Nuh”)