Mukadimah

Buruk Buruk Papan Jati

“Buruk buruk papan jati, ka sobat atawa ka baraya mah sok hayang ngahampura bae lamun aha kesalahan teh.”

Itu adalah paribasan Sunda yang artinya sejelek-jeleknya papan jati ya tetaplah papan jati, sejelek apapun sifat atau kesalahan sesama saudara pasti ingin memaafkan kesalahan saudaranya, karena semua asalnya dari satu sumber. Siloka dari leluhur kepada kita pun muncul karena beliau pernah mengalami kejadian itu, dan menemukan cahayaNya disitu. Dan selalu ada dari masa ke masa karena tersambung dengan DNA, Cakra Manggilingan. Terlepas seberapa parahnya itu, hingga menimbulkan luka atau sakit, didalam lubuk hati manusia pasti ada pemaafan itu. Dan secara praktek sehari-hari tiap individu punya pengalaman, metode dan solusi yang beragam tentang pemaafan itu. Pesan ibu kepadaku pun begitu,”mau bagaimanapun sifat sekitarmu, kowe kudu tetep apik harus tetap menemani ngancani.”

Kata buruk pasti berdampingan erat dengan baik. Tentu saja juga nyawiji dengan setiap partikel molekul yang ada di sini. Lalu apakah buruk itu selalu identik lebih dominan jika disematkan kepada objek di luar diri, dan baik lebih dominan kepada yang di dalam diri? Ataukah sebaliknya? Ataukah malah seharusnya kata buruk dan baik itu lebur? Karena tiap individu memiliki petualangan hidup yang beragam. Yang penting bagaimana pengolahannya sehingga outputnya Rahmatan lil Alamin, sebagaimana proton, elektron, dan neutron yang bekerjasama hingga outputnya berupa energi, ilmu, cahaya, nur ala nur…

Kemudian mengapa siloka ini diibaratkan dengan papan jati? Karena papan dan jati pun luas pemaknaan katanya. Jika papan yang dimaksud adalah papan nama  berhubungan dengan identitas, jika papan catur maka ada pion hitam dan putih, jika papan kayu maka berhubungan dengan penciptaan karya, atau justru papan itu adalah istilah lain dari Huma, tempat kembali dan berpulang dari hiruk pikuk petualangan kehidupan. Maka menggunakan papan jati, bukan papan bambu, papan besi, atau papan batu. Kembali ke Yang Sejati. Maka seburuk apapun saudaramu, temanmu, sekitarmu, atau bahkan di skala global jagad gede jagad cilik-mu, semua tetaplah satu Huma yang Jati. Dirimu adalah diriku yang lain.

Maka mari kita melingkar membersamai dan dibersamai di dalam tali-tali Allah yang kuat, dikancani gondelan Kanjeng Nabi Muhammad, di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih hari Jumat, 26 Juli 2019 pukul 20.00 WIB di aula Pesantren Anak Jalanan At Tamur Cibiru Hilir Bandung. Semoga Khusnul Khotimah. Kembali ke Huma Berhati. Aamiin.