Mukadimah

Paeh Poso

“Paeh Poso” merupakan warisan dari kebudayaan orang sunda terdahulu, Kalau dalam kamus bahasa sunda, kata ini mengandung dua makna tapi satu dalam maksudnya, bisa juga kita sandingkan istilah ini dengan kata yang lagi viral dan sangat mudah keluar dari lisan orang yang memegang kunci surga, yai “Jihad” (bersungguh sungguh). “Paeh” artinya itu mati dan “Poso” itu mengandung arti yang sama, tapi dengan bentuk penguatan atau Taukid kalau dalam istilah ilmu Nahwu. jadi ketika disatukan “paeh poso” itu mengandung kata kerja mati-matian, totalitas, bersungguh-sungguh atau apalah istilah yang menggambarkan tentang hal itu. Ungkapan pribahasa yang diwarsakan oleh nenek moyang kita selalu menyimpan makna yang tersirat dan keterbatasan atas sumber-sumber pencarian peribahasa tersebut sering kali menjadi kendala untuk kita menangkap makna. Namun setidaknya kita bisa mencoba meraba dan mendekatinya melalui pengetahuan pengetahuan yang kita miliki. Ya, Ini hanya tafsir sampangan saya, barangkali ada yang lebih menghayati lagi tentang istilah tersebut, Ini hanya sebatas cocokan dalam mencari istilah. Dari sedikit gambaran pemaparan istilah di atas, semoga bisa menjadi stimulus untuk kita membedahnya lebih dalam.

Nah, persoalan itu tidak slesai sampai disitu, Setelah tau makna dari kalimah “Paeh Poso”, yang ternyata satu makna dengan Jihad, muncul kembali sebuah pertanyaan-prtanyaan baru, sebab beginilah naluri manusia. Pertanyaan dasar yang muncul dari gejolak tersebut kurang lebih, Apa yang harus kita perjuangkan mati-matian? Haruskah kita mengejar keinginan yang muncul dari dalam diri? Siapa yang harus kita bela secara totalitas? Atau membela sang idola samapai kita meneteskan darah?. Sebab tidak sedikit manusia yang rela mati demi mencapai hasrat yang bersifat duniawi? Sebagai stimulus baru, dalam prinsipnya umat islam selalu mengutamakan panduan hidupnya pada Al-qur’an. Maka ada sebuah gambaran yang menjelasakan tentang bersungguh sungguh, yang terdapat dalam kitab suci Al-qur’an, bahwa “Dan orang orang yang berjihad dijalanku, maka mereka akan di berikan petunjuk terhadap jalan jalan kami” Al Ankabut ayat 69. Lantas apa yang di maksud dengan jalan Allah? Benarkah satu-satunya jalan itu dengan cara melukai sesama, bahkan sampai membunuh ciptaannya? Sehingga akhirnya, yang bagaimana? Untuk siapa? Dan apa yang harus kita perjuangkan mati-matian?

Wallahu’alam

Lebih lanjut, mari bersama saling bertukar pikiran dan berbagi pengetahuan. Menabur cinta, memperluas cakrawala. Melingkari cincin, mencincini Nusantara.