Category Archives: Uncategorized

mukadimah : Gagap Gempita Spiritual

25 Jan 18
ja
No Comments

Gagap gempita bukan gegap gempita? Tergagap-gagap kah kita melihat deras arus zaman saat ini ataukah justru bergegap gempita kita menyelaminya? Atau pernahkan terbersit dalam hati seperti ini: Silakan berbuat seperti apapun, mau jungkir balik pun silahkan, asal jangan aku serta keluargaku yang berbuat seperti itu! Kami sudah menemukan cahaya yang benar, sedang kalian hanya mendapat kegelapan tanpa cahaya, semua ibadah kami lahap semua.

Sek Toh! ‘Saha maneh?’, kok berani berkata seperti itu! Cahayaku itu lebih terang daripada punyamu. Rapal ajianku lebih manjur dan sangat mustajab, alam semesta pun tunduk dan takluk padaku. Ohhh tunggu dulu, kalian berdua saling berargumen tanpa tahu argumenku. Kalian tidak punya pusaka dan kitab seperti aku kan, aku punya itu semua dan dijamin bisa melindungiku dan jadi penunjuk arahku.

Indah dan berwarna sekali dunia ini bukan? Mari berlomba-lomba dalam gagap gempita spiritual. Hingga Laa Hawla wa Laa Quwatta wa La Sulthona Illa Billah kamu simpan di sudut pojokan gudang rumahmu. Selamat berlomba mengorganisasikan kapan harus buang hajat, kapan udara harus keluar masuk tubuhmu, berapa frekuensi detak jantungmu tiap menitnya. Silahkan memilah-milah nutrisi mana yang dibutuhkan tubuh dan kandungan zat yang tidak dibutuhkan tubuh. Bertandinglah dengan mencret yang memiliki kecepatan melebihi kilat dan lampu menyala. Mampukah?

Yakinkah kita bahwa cahaya itu yang utama, lalu tanpa cahaya itu berbahaya? Lalu bagaimana posisi “Sebelum Cahaya”? Atau sadarkah mungkin kita sedang terbutakan oleh Cahaya? Adakah yang memiliki kemampuan menjadi ‘Juri Ahli’ dalam menilai ‘Pitch Control’ kondisi itu? Sedang dalam keseharian kita dicekoki makanan-makanan informasi yang begitu membeludak, kita kamerkaan dan tubuh kita overheat hingga malfungsi terhadap Rahmat-Nya.

Hingga soal makanan pun kita sudah dihomogenkan, dari hal sesederhana itu. Yang sehat ya 4 sehat 5 sempurna, nutrisi kalorinya harus segini bukan segitu. Yang tidak seperti itu berarti tidak sehat penyakitan. Penyakit kok selalu menjadi kambing hitam? Ketika memang harus dituruti, lalu mengapa harga bahan makanan kini melambung begitu tinggi? Bagaimana perasaan Mbah Tumbuhan dan Hewan ketika mereka dimonopoli oleh adik bungsunya bernama manusia?

Lalu teori itu pun apakah bisa batal mengingat kita setiap hari kebanyakan hanya makan seadanya saja sudah bisa menendang bola dengan kencang saat futsal, berorasi dengan begitu lantang dan menggetarkan, membuka tutup aplikasi dan game di gadget atau mengoceh seharian lewat media mulut atau media lain ngerasani segala tetek bengek dunia?

Berbagai kemudahan Spiritual Zaman Now, bahan diskusi kepintaran tentang banyak hal bisa dengan gampang ditempuh dengan ngabdi ke Romo Yai al Gugeliyah. Naik derajat cepat asal sering upload foto di Gus Instegrem dan Syekh Pesbukiyah dengan ulama dan umaro, tidak lupa dibumbui kata-kata bijak hasil mengutip.

Menguasai berbagai ilmu batin serta naik ‘maqom’ terlaksana dengan mahar uang harta benda bahkan jiwa raga pun direntalkan. Titel yang gampang disematkan asal kowe tiap tahun siap membuat karya buku untuk mempertahankan Gelarmu dan ke sana kemari bermahkotakan atribut ‘keagamaan’ ceunah mah, baju agama yang glamor branded. Tapi kok terlihat tidak bercelana, terlihat kemaluanmu. Apa memang sengaja harga dirimu kau perlihatkan, pamerkan, serta gempitakan? Agar sejuk tertiup angin lalu kerokan akibat demam meriang kemudian?

Apa sudah benar kondisi itu semua beresonansi dengan para manusia saat ini? Kalau sudah bener opo sudah pener? Ah jangan su`udhon, siapa tau mereka lakukan itu hanya demi urusan perut, tempat tinggal, kendaraan, dan seluruh fasilitas dunia dan bertahan hidup di ‘Rimba Raya Dunia’, iya kan? Oh husnudhdhon saja, mungkin sedang berproses sibuk mengurusi depan pintu Goa. Tapi dalam Goa Kahfi, Goa Garba, Bilik Kasunyatan dibiarkan, hingga Ashahbul Kahfi dan Dewa Ruci minggat pergi! Tunggu dulu, atau justru dirimu yang minggat pergi tanpa kamu sadari?

Halo generasi micin wal kagetan! Just rock n roll sajalah, toh kita semua juga awalnya dari batu, dari tanah. Lalu Rolling, menggelinding, berputar, Kunnnnn Fayakuuuuunnnnnnn! Aki John Lennon saja dalam lirik lagunya Imagine, membayangkan tidak ada surga dan neraka. Dan om Chrisye dengan Jika Surga dan Neraka tak pernah ada. Mungkinkah surga dan neraka ini salah satu penyebab saling berfanatik rianya manusia?

Perlukah saling berlomba mengejar Surga dengan berbagai dalih dan segala cara? Klaim bahwa agama, suku, golongannya lah yang paling berhak mendapat warisan sepetak tanah ‘Surga’, atau dalam dimensi gelombang lain, paling berhak mewarisi tanah perdikan nusantara milik Gusti Allah ini? jika yang satu berhak, apakah yang lain menjadi tidak berhak? Lalu bagaimana dengan menang tanpo ngasorake? Apakah sudah tidak berlaku mata uang itu di masa sekarang yang penuh gegap gempita yang gagap? Ritual tanpa spirit? atau spirit tanpa ritual? Gagap gegap gugup?

Apakah urusan ini sudah beres ataukah masih banyak kisah yang tertunda dari dahulu hingga saat ini? Masa kini, masa depan, masa lalu? Memasadepankan masa silam? Ah entahlah, jangankan berbuat kebaikan, berbuat jahat pun kita tak mampu. Hanya pertolongan-Nya lah, Maha Rahman Rahim, selalu mengembalikan kita di posisi Ihdinas Shirotol Mustaqim di saat tiap sekejapan mata kita potensi tergelincir jatuh sangatlah besar, atau bahkan always.

Diantosan kasumpinganana para Punokawan JA. Sasarengan ngopi ngaruing dengan kerendahan hati dan saling guyub rukun melingkar berMaiyah di bilik kasunyatan Jamparing Asih. Imagine all the people… Living life in peace.. Yuhuuu…[]

MUKADIMAH : 1001 MAKLUM #JASept

30 Sep 16
ja
No Comments

“Maklum” sering dijakdikan kata ajaib untuk menagih pengertian masyarakat atas sesuatu yang secara umum dianggap tidak sesuai.

            “. . . Malam ini keluarga A akan mengadakan pesta kelahiran anak kami dari pukul 20.00 – 00.00, oleh karena itu kami selaku perwakilan keluarga mohon izin atas ketidaknyamaanya. Demikian untuk maklum. Terima kasih” Begitulah bunyi papan penanda yang terpampang di bibir jalan tempat keluarga tersebut melangsungkan acara.

            “. . . Dikarenakan hujan deras yang mengakibatkan pohon roboh dan menjatuhi kabel listrik, maka dalam 3 hari ke depan listrik di desa A,B,C akan padam. Harap maklum”.

Bayangkan saja seandainya dua kejadian tersebut terjadi tanpa adanya pemberitahuan dan permohonan untuk “maklum”, mungkin yang terjadi adalah kemarahan, kedongkolan, bahkan kepanikan dan kekhawatiran atau apapun yang sekiranya menggambarkan ketidaksenangan.

Dengan adanya permohonan untuk maklum dari luar diri kita kepada kita, maka kita akan menjadi maklum, yang nantinya berbuah pada sikap saling mengerti. Namun, apakah sekedar untuk memaklumi kita menunggu orang lain orang memohon permakluman kita? Tidakah seharusnya kita menagih diri kita sendiri untuk senantiasa memaklumi keadaan yang menurut kita tidak sesuai?

Apa yang sekiranya kita akan lakukan atau sekedar gumamkan ketika melihat seorang supir yang tiba-tiba turun dari mobil, di tengah kemacetan kemudian buang air kecil disamping kendaraannya? Mungkin marah, dongkol, memaki dan umpatan yang lain adalah reaksi wajar yang akan termanifesfasikan dalam tindakan kita. Sedangkan kita tidak mengetahui fakta dan sebab kenapa dia seperti itu. Kita memposisikan orang itu sama dengan diri kita yang dianugerahi kesehatan fisik dimana seluruh organ tubuh kita dapat berfungsi secara utuh. Bagaimana jika seandainya dia memiliki permasalahan sistem ekskresi yang mengharuskannya untuk buang air kecil secara mendadak? Mungkin kita akan berhenti memaki, mengumpat atau apapun setelah memaklumi kondisinya. Ya, meskipun manusia tak akan pernah benar-benar memahami fakta yang ada pada orang lain. Bukankah disitulah salah satu saat khusnudzon ambil peran?

Ketika behenti di perempatan lampu merah, tak sedikit pengendara yang suka menerobos lampu merah. Mungkin sebagian akan marah, karena yang marah itu tidak melakukan pelanggaran yang rupanya adalah menerobos lampu merah. Sebagian yang lain, memaklumi karena menganggap hal yang wajar mengingat mungkin ada urgensi yang menyebabkan banyak orang itu menerobos lampu merah. Lucunya, terkadang yang memaklumi juga ikut-ikutan karena menganggap hal itu sebuah tindakan yang wajar. Jadi baiknya bagaimana? Kita memposisikan sebagian yang marah marah atau sebagian lain yang memaklumi dan akhirnya ikut-ikutan? Atau mungkin ada pilihan lain? Jika ada, pilihan yang bagaimana?

Lalu, bagaimana ketika tindakan yang dianggap tidak sesuai itu merugikan banyak orang? Misalnya saja tindakan pejabat yang dengan kesadaran utuh telah menyengsarakan rakyat. Haruskah manifestasi pemakluman yang kita berikan selaku rakyat dan bagian dari entitas masyarakat sama dengan ketika memaklumi bapak sopir tadi? Bukankah jika kita mendiamkannya maka akan melatih masyarakat menjadi cuek dan tidak peduli? Terlebih lagi memiliki sikap apatis terhadap permasalahan sosial yang ada, benarkah begitu? Lalu bagaimana manifestasti ‘setiap manusia adalah khalifah di muka bumi’ yang telah tuhan amanahkan kepada kita?

14450008_1249649405085125_7454495114600013847_n

Jika berupaya untuk mengingatkan, ada kecenderungan untuk menyalah nyalahkan yang lain – merasa benar. Namun jika berupaya untuk maklum dengan manifestasi mendiamkan, kecenderungan akan menjadi masyarakat yang cuek atau bahkan ikut ikutan. Lantas, dimana batasnya? Bagaimana pemosisian ‘maklum’ tersebut, mengingat ada 2 potensi yang sama bahanya? Antara kemungkinan untuk cenderung senang menyalahkan dan menjadi cuek tidak peduli atau bahkan ikut ikutan. Sampai sejauh apa sebenarnya kita dapat memaklumi tindakan demi tindakan yang tampak di depan mata kita? Sampai berapa jumlah permakluman lagi kita pantas untuk memaklumi tindakan demi tindakan yang ada?

Sebagai ikhtiar untuk dapat memperluas sudut dan cara pandang, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘1001 Maklum’ pada hari Jumat, 30 September 2016 yang akan dimulai pukul 19:00 WIB. Maiyahan bulan ini bertempat di SMK Al-Hadi, Jl. A.H. Nasution No.25 di depan RS Hermina Cikadut, Bandung. Mengetahui team Jamparing Asih bulan ini mungkin akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tersendiri di benak para pembaca.. Mengapa “1001 Maklum”? Ada apa dengan angka “1001”? Apakah ada korelasinya dengan dongeng “1001 Malam” yang telah lama kita kenal? Bagaimanapun, angka “1001” menunjukkan jumlah yang terlampau banyak dan seolah tidak terbatas (∞). Dan segala sesuatu yang tak terbatas berarti berhubungan dengan Gusti Allah, karena manusia dan makhluk lain itu memiliki keterbatasan, batas. Berarti di dalam 1001 maklum, pemakluman itu, ada Tuhan. Semoga kita semua dapat terus menyertakan kesadaran akan Allah di setiap lingkaran maiyahan yang digelar.. Ya, kesadaran yang tumbuh dari diri kita untuk terus menyertakan kehadiranNya.. Mengingat keberadaanNya yang tak pernah tiada.

MUKADIMAH : KOREKSI KUPING #JAAgst

26 Aug 16
ja
No Comments

 

Suatu malam, ribuan manusia tampak memadati area pertunjukkan musik di sebuah sudut kota.  Pertunjukkan yang ramai dan padat pengunjung merupakan pemandangan yang biasa nampak di kala malam minggu tiba. Utamanya di kota-kota besar, pun kota-kota metropolitan. Ratusan bahkan jutaan rupiah rela dirogoh untuk menikmati pertunjukan penampil-penampil musik satu dan lainnya. Demi menonton satu atau dua penampil idolanya. Di episode keramaian kota malam itu, tampaklah dua orang sahabat lama yang ikut menikmati pertunjukkan yang disuguhkan.

“Khusyuk sekali kamu menikmati musiknya? Senang ya? Berasa dunia milik sendiri.”

“Iya..” kemudian ia mulai mendeskripsikan perihal-perihal ketepatan komposisi dan apiknya permainan para musisi kepada sahabatnya itu.

“Iya, memang alunannya indah sekali.. Tapi, ingatlah, rasa takjubmu akan suara-suara itu, akan biduan dan biduanita itu, jangan mengalahkan rasa syukurmu atas pendengaranmu.”

***

Manusia kini terpatok pada apa yang diterimanya sebagai input, namun terlupa pada apa yang sudah melekat pada dirinya selama ini. Terlebih lagi pada pencipta apa-apa yang telah menjadikan diri seorang manusia menjadi dirinya seutuhnya. Bahkan terkadang gaduhnya suara-suara yang hilir mudik hadir di telinga membuat manusia terpatok pada suara-suara yang dihasilkan, bukan pada pesan di balik kehadiran suara-suara yang hadir. Baik suara yang gaduh, maupun yang sunyi.

Budaya manusia modern pun begitu lekat dengan input dan output suara yang begitu beragam. Pembicaraan-pembicaraan, pro dan kontra, diskusi-diskusi panel, dan pedebatan begitu gaduh menghiasi dunia pun layar kaca. Salah satu asbab utamanya adalah dikarenakan manusia modern begitu vokal dan jumawa dengan istilah-istilah seperti hak berbicara atau yang dikenal sebagai freedom of speech. Namun generasi kita tidak memerhatikan betapa pentingnya kewajiban untuk mendengar. Sejauh apakah batasan kebebasan manusia untuk berbicara? Lalu bagaimana dengan kewajiban untuk mendengarkan? Dimana tata letak kewajiban dan kebebasan? Freedom atau kebebasan itu pada akhirnya mengacu penyakralan istilah hak dan hak asasi manusia. Kalau manusia begitu menuhankan kata “hak”, lalu apa guna kata “kewajiban”? Bagaimana dialektika antara keduanya? Hal ini dapat merembet ke permasalahan kenegaraan, ketika yang disebut sebagai wakil rakyat hanya mau didengar dengan kegaduhan janji dan suara-suaranya, namun tidak mau mendengarkan.

koreksikupung

Suara dan pendengaran ibarat satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Indra yang digunakan oleh manusia untuk menghasilkan suara yang menjadi perwakilan dirinya adalah mulut. Sedangkan kuping atau telinga digunakan sebagai indra pendengaran. Namun sesungguhnya seberapa sering kita mendengarkan diri kita sendiri ketika kita berbicara? Seberapa sering sesungguhnya kita mendengarkan diri kita sendiri ketika kita mewakilkan diri kita pada pembicaraan kita? Seberapa sering kita merefleksikan diri kita dengan mendengarkan suara hati kita meski mulut terkunci dan tertutup rapat? Leluhur kita mengajarkan untuk berpuasa yang tidak hanya berpuasa makanan, melainkan juga berpuasa untuk membatasi bicara. Lelaku itu diajarkan untuk melatih kita agar dapat mendengarkan kesunyian meski dalam keadaan ramai, untuk bertapa di tengah keramaian. Bukankah ajaran-ajaran luhur dari para ‘Arifin itu adalah kuncian bagi kita untuk mendapatkan kejernihan yang berkaitan dengan pendengaran? Dan dari pendengaran itu manusia mampu untuk memanifestasikan beragam laku kita di kehidupan sesuai dengan apa yang telah ia tangkap di kejernihan pendengarannya.

Di dunia, mulut kita bisa berbicara untuk memberikan berbagai pembenaran-pembenaran. Di akhirat nanti yang akan bercerita adalah alat-alat indra lainnya. Gaduhnya suara-suara, berita, ataukah informasi sudah sepantasnya membuat manusia dapat lebih memilah, memilih, dan mengarifi apa yang sebenar-benarnya dibutuhkan. Kearifan untuk mengorek informasi dan kebenaran, maupun mengoreksinya. Bersediakah kita untuk mengoreksi pembicaraan, pendengaran, dan telinga atau kuping kita untuk terciptanya suatu tatanan keseimbangan di lingkungan sosial-masyarakat kita? Karena eseimbangan adalah suatu keutamaan, sama halnya harus dicapai dalam proses mendapatkan keseimbangan dalam berbicara maupun mendengarkan. Bahkan, secara fisiologisnya, kuping manusia dititipkan amanah oleh Allah sebagai indra yang dapat mengatur keseimbangan tubuh manusia. Apakah sebuah kesia-siaan Allah mendayagunakannya? Makna apa yang dapat kita tarik dari pendengaran dan keseimbangan hidup manusia? Di dalam Al Qur’an Allah menyandingkan kata pendengaran (sama’) dengan pengelihatan (bashar) dengan menyebutkan pendengaran terlebih dahulu. Tidakkah hal-hal tersebut membuat kita ingin lebih mengorek lagi seberapa pentingkah sebenarnya pendengaran bagi kehidupan kita?

Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘KOREKSI KUPING’ pada hari Jumat26 Agustus 2016 yang akan dimulai pukul 18:00 WIB di Studio 1 Gedung RRI Bandung.  Semoga dapat saling membuka cakrawala dengan mendengarkan satu sama lain secara jernih dan hati yang bersih. Mendengarkan dan mempersilakan satu dan yang lainnya untuk berbicara. Namun begitu, tidak semestinya pembicaraan atau pendengaran adalah hal yang utama; diam dan keheningan pun tak kalah pentingnya. Karena apabila kadar kehebatan seseorang dilihat dari seberapa fasih ia berbicara, lalu bagaimana dengan para tuna wicara? Kalau kadar keimanan seseorang dinilai dari seberapa sering seseorang ia mendengarkan ceramah, lalu bagaimana dengan para tuna rungu? Bukankah di atas semua tingkatan itu yang paling utama adalah kadar kesyukuranmu atas dirimu sebagai seorang manusia? Ataukah apa?

Mari melingkar dan berdiskusi bersama.

Dihaturanan kasumpinganana.

MUKADIMAH : PAREUMEUN OBOR #JAJuli

29 Jul 16
ja
, , , ,
No Comments

***

Merunut ke masa lalu, obor merupakan modal awal manusia untuk membangun peradaban. Dapat disebut bahwa obor adalah pelita awal yang diciptakan manusia. Kehadirannya sudah ada jauh sebelum ditemukannya lampu minyak, petromak, atau bahkan lampu yang kini dialiri listrik.  Sifatnya pun berbeda dengan nyala penerangan yang dikobarkan oleh api unggun. Nyala penerangan obor dapat dibawa untuk berkelana, tak seperti api unggun yang statis di suatu tempat.

Penerangan obor telah membawa manusia-manusia masa lalu dari satu tempat ke tempat lainnya. Kebermanfaatannya telah menjadi pemantik sejak masa silam hingga kita dapat berpijak di sini saat ini. Obor telah menemani manusia-manusia zaman dahulu menapaki satu desa ke desa lainnya, satu kerajaan ke kerajaan lainnya,  satu hutan ke hutan lainnya. Dengan bermodalkan pencahayaan obor yang sederhana, manusia zaman dahulu dapat memiliki harapan untuk beraktifitas, berpelesir, bahkan “mbabad alas” untuk membangun sebuah peradaban.

Dalam pemaknaan Sunda obor adalah simbolisasi dari asal-usul dan persaudaraan.  Berkaitan dengan hal tersebut, di tatar Sunda dikenal adanya istilah “Pareumeun Obor”.  Biasanya para sepuh menyampaikannya kepada anak-cucunya dengan petuah “Kade jang, ka dulur téh ulah nepi ka pareumeun obor.” “Pareumeun obor” mengandung makna terputusnya silaturahmi dengan saudara dan kerabat. Tentunya ada banyak pemaknaan mengenai babasan “Pareumeun Obor” dan di maiyah setiap orang dapat memaknai dan mengkontekstualisasikannya sendiri-sendiri secara otentik. Obor digenggam tangan-tangan manusia di kala malam untuk dapat saling berkunjung. Nyala obor dimanfaatkan untuk dapat saling munjungan ke kerabat, keluarga, dan sanak saudara. Obor pun dapat digilir maupun dipinjamkan dari satu orang kepada yang lainnya hingga dapat saling bekerja sama dan dapat pula menjadi penerang jalan di tengah redupnya hunian-hunian di waktu malam kala itu.

pareumeun obor

Terpadamnya nyala obor menunjukan padamnya jalur estafet pengetahuan akan keluarga dan kerabat yang telah tercipta sejak beberapa generasi ke atas, maupun sejak zaman bihari. Jangankan untuk belasan ataupun puluhan generasi ke atas, bahkan sanak saudara yang saat ini masih hidup pun banyak yang saling tidak mengenal dan melupakan. Tradisi silaturahmi dan munjungan kepada yang dituakan kini bergeser kepada naluri kepentingan dan sebab akibat. Tak sedikit pula yang menghindari tradisi tersebut karena budaya yang ada kali ini mengisyaratkan bahwa kedatangan satu sama lain ke tempat saudara atau kerabatnya akan berbuah kepada mempertunjukkan kesukesan pribadi dan pencapaian masing-masing diri. Lalu apa yang dapat kita lakukan apabila hal ini banyak terjadi? Menghindarinya? Ataukah tetap menjalani tradisi silaturahmi tersebut untuk tetap menjaga nyala sang obor agar tidak padam? Memang seberapa pentingnya bagi kita untuk saling mengenal dan bersilaturahmi, baik dengan sanak saudara? Apakah makna “pareumeun obor” hanya dapat dielaborasi kepada saudara sedarah saja? Bagaimana dengan konsep pertemanan, persaudaraan, atau paseduluran yang lainnya?

Estafet obor dapat pula dimaknai sebagai doa yang mengalir bagi leluhur yang sudah mendahului. Pun mengenai bagaimana keturunan-keturunan berikutnya dapat mengamalkan ilmu bermanfaat yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Baik hubungan anak-cucu dan leluhur yang bersifat sebangsa, maupun satu keturunan, yaitu para Bani Adam. Nyala obor berupa ilmu itu akankah dapat kita lanjutkan dan estafetkan kepada anak-cucu dan keturunan kita nantinya? Yaitu nyala ilmu yang telah diturunkan oleh Allah melalui kekasih-kekasihNya.

Mengingat obor adalah upaya untuk memancing ingatan kita kembali ke masa silam. Ke masa dimana para leluhur kita berjuang untuk mengemban amanah mereka dalam membangun peradaban. Hampir di setiap maiyahan, Simbah Guru Emha Ainun Nadjib selalu menekankan pentingnya mengenal kembali leluhur. Bagaimana kita mau lebih presisi melangkah menata masa depan kalau tidak pernah mengenal masa lalu? Pun begitu, kalau upaya untuk menyalakan obor itu hanya untuk mereka yang masih hidup saat ini, bagaimana dengan leluhur-leluhur kita yang telah mendahului? Bagaimana upaya kita untuk tetap menjaga nyala obor yang telah beliau-beliau gengggam sebelumnya dan menjaganya di masa kini bahkan di masa mendatang nantinya? Kalau tidak mengenal diri kita dan leluhur serta apa yang telah mereka perjuangkan, bagaimana kita bisa mengetahui wilayah amanah yang tepat untuk kita emban? Penting untuk disadari bahwa leluhur-leluhur kita di masa silam telah menyalakan api peradaban bagi anak-cucunya. Bagi diri kita di masa ini.

Ketidakmengenalan diri kita terhadap leluhur akan menjadikan pergeseran-pergeseran makna perjuangan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Memaknai dan membatini apa yang telah para leluhur lakukan adalah pembangunan kesadaran untuk berterima kasih, bersyukur, dan kesadaran untuk melanjutkan perjuangan. Membatini apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah, para anbiya, dan Kekasih-KekasihNya. Karena bila tidak, kita akan berakhir menjadi individu yang hidup untuk semata hidup, bukan hidup untuk kehidupan. Kita akan berakhir menjadi individu yang hidup untuk diri sendiri dan kebermanfaatan pribadi. Bukankah hidup ini adalah upaya siklikal untuk terurs-menerus mengawinkan upaya Habluminallah dengan kebermanfaatan Habluminannas, bahkan dengan makhkluk-makhlukNya yang lain?

Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa, “people without the knowledge of their past history, origin and culture is like a tree without roots.” Membicarakan “Pareumeun Obor” memiliki kaitan yang erat akan hal tersebut. Erat kaitannya dengan mati, pareum,  terputus, asal muasal diri, leluhur, nenek moyang, keluarga, persaudaraan, estafet amanah dari masa ke masa, peninggalan, masa silam, masa kini, maupun masa yang akan datang, dan ragam hal lainnya yang dapat terus digali dan dielaborasi. Lalu, akankah hingga nanti obor itu tetap pareum? Ataukah akan ada yang bersedia mulai menyalakannya, dengan berbagai konsekuensi, kelebihan, dan kekurangannya? Bersediakah kita untuk mulai menggali dan menemukan kembali apa yang telah lama terlupa dan menyalakan obor itu kembali?

Sebagai wadah untuk melingkar, bertukar pengalaman, dan juga rasa, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘Pareumeun Obor’ pada hari Sabtu, 30 Juli 2016 yang akan dimulai pukul 18:00 WIB di Studio 1 Gedung RRI Bandung.  Semoga dapat saling membuka cakrawala dan mencahayai satu sama lain dengan saling mengasah, mengasihi, dan mengasuh. Karena apalah artinya obor yang banyak meskipun sebesar pohon kelapa kalau ia tidak menyala, bercahaya, dan menghangatkan.

Dihaturanan kasumpinganana.

One time Test

13 Feb 16
ja
No Comments

Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, emphasis consectetuer adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Just Test

13 Feb 16
ja
No Comments

Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, emphasis consectetuer adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Maiyahan Jamparing Asih RRI

08 Feb 16
ja
No Comments

JA_RRIBerbicara Air ialah berbicara tentang sumber. Sumber dan sekaligus inti dari kehidupan ini yaitu yang Maha Tunggal, Allah SWT. Air sering digunakan sebagai bahasa simbol oleh dunia sastra. Simbol kerinduan akan sumber atau asal muasal dan juga tempat kembali. Air tidak sebatas material biasa namun hari ini ia menjadi harta karun yang diburu dan ingin terus dikuasai oleh bangsa asing.

Ketika Rasulallah hijrah ke Madinah yang pertama kali dilakukan adalah membagi tanah subur untuk digunakan sebagai lahan pertanian oleh penduduk setempat. ini bukti bahwa setiap masyarakat harus memiliki kemampuan mandiri dalam mengelola tanah yang tentu didalamnya mengandung air. Tanah bisa menjadi milik pribadi dengan bantuan hukum yang berlaku sementara air harus tetap menjadi milik umum. Sebab luas tanah yang ditempati mengandung air yang bersumber tidak hanya dari tanah itu sendiri.

Read More…