Category Archives: Reportas JA

Reportase Manusia Goa

4 Oct , 2017,
ja
No Comments

MANUSIA GOA

(Edisi Agustus)

Tema “Manusia Goa”. Ada apa gerangan dengan goa? Di tengah gempuran kemewahan artifisial zaman serba digital ini, kok masih-masihnya seseorang atau sekelompok berani dengan ‘lancang’ menceburkan diri ke pembahasan yang terkesan kolot ini? Lagi-lagi kebingungan merasuki para jamaah JA—yang pada wengi Edisi Agustus ini dihamparkan seleluasa mungkin. Terutama bagi yang belum membaca mukaddimah.

Merambah pra-diskusi, diisilah dengan mini-halaqah atau lingkaran kecil yang mewadahi perbincangan para tamu baru istimewa JA yang membela-belakan diri agar bisa hadir meski mengorbankan tontonan live Tim-Nas Vs Malaysia yang berakhir terserah apa kata ijtihad anda untuk menyebutnya. Para tamu tersebut sangatlah menyumbang beraneka warna anyar dalam maiyahan lantaran berasal dari beragam corak background; teknisi, seni, musisi, pedagang, aktivis, sipil, orang biasa hingga orang-orangan pun ada dan yang selainnya pula. Kesemuanya menyatu tanpa merasa dibelenggu.

Lanjutlah ke iftitah diskusi, ditemani Mas Aam meng-iqra’ wirid ta’ziz wa at-tadzlil secara berjamaah. Kemudian Al-Fatihah. Diaromai segitiga cinta. Allah-Rasulullah-Hamba. Masuklah kita ke ranah ‘pergunjingan’ tentang “manusia goa”.

Om Teguh—yang usai digoda moderator untuk men-jlentrehkan ketersembunyian makna simbolis poster—mencoba menawarkan suguhan pancingan. Secara pribadi saja, terasa oleh saya, ada keterjebakan pikiran dalam memandang poster JA bertajuk “Manusia Goa” yang tidak terlihat ada manusia dan goa sama sekali. Seekor anjing srigala lah yang justru exist.

Pada aslinya, Om Teguh makin memperdalam penjelasan, di poster itu terdapat goa namun memang sengaja dibikin tidak jelas. Dalam terminologi bidang design dinamakan “double-expose”. Ditonjolkannya sosok anjing srigala itu sebagai simbol anjing “Kitmir” yang menjaga mulut goa dalam kisah Ashabul Kahfi.

Perbincangan mulai mencapai titik panas awal. Setrum-setrum pemantik di masing-masing ubun-ubun berkelindan anggun. Mas Aam ikut meraba bereaksi seolah tertegun. Bahwa kita, yang konon sekarang beralih nama lagi “generasi millenial” ini, kenapa musti mau-maunya menceburkan diri membahas goa—yang padahal terkesan berdebu penuh sarang laba-laba.

Lantas apakah goa? Sampai-sampai term itu, goda Mas Aam dalam mukaddimah yang disebutnya, telah diabadikan dalam salah satu surah Al-Qur’an berisikan rekam jejak Ashabul Kahfi yang usai dimatisurikan selama lebih kurang 309 tahun untuk kemudian digugah kembali dan disuruh-Nya agar tarung-pengetahuan ke-silaman dengan pasar di zaman yang terlampau depan. Sewaktu bangun menatap kondisi sendiri yang tetiba berkuku panjang, rambut makin berkembang, mata sayu memandang, tentu akan penuh kebingungan. Maka tidak mencengangkan jika mata-uang pikiran, mata-uang perenungan, mata-uang pengalaman kita ini tidak laku di pasaran (lautan mainstream) ini. Sanggupkah kita mentadabburi cuplikan fenomena tersebut?

Goa, tak bisakah bahasan tentangnya melampaui sekat-sekat identifikasi akademis-empiris, yang berarti hanya seonggok tanah berlubang dan berisikan kegelapan penuh kelelawar dan dampak penggaungan? Jika bisa, dari sisi perspektif apa saja manusia mampu menjamah kesejatiannya? Betapa wajah goa bila diteropong dari mata saintifik-religius? Kumaha ronanya jika ditilik dari sedotan-pandang tarekat antro-psikologis dunia? Eta terangkanlah seperti apa perangainya seumpama diintip dari bilik keruang-waktuan alam semesta?

Mata-mata menagih tanya. Kepala-kepala mengubrak-abrik rak akalnya. Menelusuri dokumen-dokumen keluasan dimensi, aspek, spektrum, approach, dan sisi-sudut lainnya tentang goa. Jamaah tengah berkelana dalam goa personalnya. Dalam kesunyian jeda dan hening yang seketika, Jamparing Asih serasa begitu gaduh tanpa suara.

Berupa-rupa frekuensi—walau tak kelihatan—ke sana kemari berlompatan, dan untuk nanti, akan saling menemukan titik-pijak pertemuan-pertemuan. Yang sama sekali tidak terduga logika-statis pikiran.

Lompatan pertama yang memecah kebekuan dalam sibuknya akal pikiran, dilakukan Kang Iman selaku moderator. Mempersilahkan Arif Mbah dari Telkom yang memaparkan temuan sekaligus pertanyaan pikirannya, bahwa dalam bahasa lampau ada “topo ing rame, sepi ing gawe”. Bertapa dalam keramaian, sunyi dalam pekerjaan. Jika memang ada goa pada masing-masing diri kita, bagaimana mencari atau metoda menemukannya?

Soal bertapa, Mas Aam menghidangkan contoh Nabi Muhammad—yang pula sering bertapa di goa dan bahkan menerima wahyu di dalamnya. Apakah memang goa ini wasilah dari perenungan?

Tapi apakah Allah bersembunyi ke dalam goa sehingga kita perlu untuk masuk ke sana? Sahutan Kang Imam memperindah penasaran dan memperparah kerinduan. Lantas manusia, sanggah Kang Satrio—keluarga baru JA, semua secara masing-masing akan menemukan titik di mana harus sendiri. Setelah usai dari titik atau ruang kesendirian itu, maka baru menyesuaikan diri (readaptasi sekaligus reinforcement) dengan lingkungan sekitar dan berbekal kesadaran yang juga baru sama sekali.

Gelombang diskusi pun diputar-silamkan Mas Aam, perihal kenapa musti goa yang dijudulkan bahkan disurahkan. Mengacu pada mukaddimah kembali; tentang dalam kesempitan—yang sering didapat dalam goa—justru tersembunyi suatu kelapangan, dalam keheningan ada kegaduhan, miskin dalam kekayaan, begitupun sebaliknya dan malah ada yang mengatakan silence is rhythm itself.

Ada lagi lainnya, masih ada suara dalam sunyi. There are still some noises, altough on the silence. Bahkan terkadang secara dialektis, diam adalah suara paling lantang. Semisal; mending dihajar habis-habisan oleh Ibu dengan rotan, ketimbang sang Ibu mendiamkannya barang dua hari saja. Sebab orang akan lebih sakit hati parah ketika didiamkan ber-ibu bahasa.

Kemudian lompatan selanjutnya, melihat wajah-wajah yang masih menanti penjelasan simbolik poster secara lebih rinci, Om Teguh berusaha memberikan dauroh setulusnya. Karena ada anjing yang merupakan representasi dari Kitmir sang penjaga mulut goa, kita lantas menjadi malas, enggan, atau takut serta paranoid untuk memasukinya. Lebih-lebih menelusurinya? Padahal di dalamnya terdapat banyak sekali tokoh-tokoh yang difigurkan namun tetap bersembunyi. “Mungkin” tersebab kecenderungan orang yang ada di goa itu sudah tidak bisa menghadapi dunia luar. Atau barangkali saja para “Manusia Goa” itu bisa, namun tetap membawa nilai-nilai pedoman mereka yang sudah tidak laku di pasaran dunia luar goa sehingga akan terbitlah rasa-terasing (sense of alien) di batin dan jiwa mereka.

Semua kita memiliki “Goa Garba” dalam diri masing-masing, terus Om Teguh. Tatkala mengamati sesuatu di luar yang tidak cocok dengan kita, sontak kita reflect membatin dalam goa pribadi. Contoh jauhnya, kenapa kok ya tega-teganya pemerintah—yang diamanahi oleh rakyat yang memilihnya—justru memasang tulisan “hanya untuk masyarakat miskin” pada tabung elpigi untuk rakyatnya sendiri? Ironis sekali rakyat yang membayarnya itu, martabat dan harga dirinya telah dijatuhkan sendiri oleh sosok yang dipilihnya untuk mengemban amanah. Menjatuhkan harga diri yang membayarnya. Memerosotkan martabat rakyat, yang merupakan juragannya.

Batin kita—yang tidak cocok bahkan tersiksa oleh hal demikian—seketika akan menarik diri untuk lalu memasuki goa pribadi masing-masing. Maka marilah kita bangun dari tidur di goa ini, ajak Om Teguh, lantas kita ukur nilai-nilai di luar kita; mana yang musti diikuti dan mana yang kudu diubah-perbaiki? Dilanjut dengan menemukan presisi titik mizan di mana kita tengah berdiri dan kemudian memposisikan kedirian sesuai peranan.

Para Peranakan Goa & Terma Pamali

Perihal ini, “peranakan goa” hanyalah sebuah pemadatan dari butir-butir variasi makna tentang goa yang diketemukan. Tercakup pentadabburan dari para tamu JA, goa barangkali saja bisa disepertikan atau dimisalkan “rahim ibu”. Ruang dimana seseorang bisa menjumpai sekaligus mencapai titik rasa paling aman, nyaman, dan akan siap untuk bertumbuh-kembang.

Hidup dalam kondisi ‘ekologi’ yang tidak kenapa-kenapa. Nihil dari situasi genting dan kebak benturan konflik. Meski nanti kepenuhan rasa aman itu akan tetap berlanjut dengan resiko kebahayaan tersendiri. Dan sebagai anak yang baru keluar dari “rahim” kehidupan, akibat alaminya tentu berefek ke rasa keheranan pada cemarutnya dunia. Kekejaman, suram, bunuhan, gelut, polusi dan lain seterusnya.

Sementara Venol, Jamaah baru JA basic seni, memberikan manuver baru. Apakah betul orang yang ke goa itu untuk mencari sunyi (yang padahal ada ramai dalam sepi), atau justru sekadar bersembunyi? Hanya pelarian atau eskapisme kah? Venol coba ajak liyan menggali.

Sedang kalau dalam musik, jeda ialah musik itu sendiri. Venol pun membeberkan cerita tentang anomali konser seorang Komposer luar, John Cage, yang menuai beragam kontroversi. Karya itu, ternyata di dalamnya semua pemain musik hanya terdiam selama hamper 5 menit. Tentu aneh. Meski ada perspektif lain dari pengamat bahwa itu bukan lah musik, melainkan karya seni yang mengilhami musik. Sebab ia terinspirasi oleh lukisan putih polos sewaktu pameran seni. Ketika ditanyakan kenapa hanya putih, atau cuma jual kanvas saja? Pelukis menjawab kepada John Cage bahwa lukisannya ialah apapun yang terlihat oleh pengamat. Jika muncul wajah kekasih, maka itulah isi lukisannya. Dari situlah John Cage meramu karya berjudul 4”33’ itu.

Atas hal itu, Mas Aam menambah diikuti Om Teguh. Kita akhirnya sadar. Bahwa selama ini, kita semua diracuni secara sehalus mungkin oleh sistem konsensus budaya mainstream bahwa yang musik itu gitu, cantik ya demikian itu, lukisan indah seni ya begini. Ini racunan. Anomali lukisan dan musik tadi menggelarkan satu dari sekian contoh cinta yang leluasa dan rahmatan lil-‘alamin. Dalam keheningan masih ada suara. Silakan tanyakan pada yang tuna-rungu, nyatanya masih ada desis atau dengung yang mereka terima.

Kembali ke goa; dalam kebudayaan sunda ada yang serupa. Sebutannya “goah”. Tempat menyimpan hasil panen, terdapat sesaji dan tidak sembarang orang boleh memasukinya. Sering kali orangtua dulu di kampong memarahi anak dan remaja yang lancang menyusup ke goah dengan istilah “heh, awas… pamali”.

Om Teguh lantas mengatakan kalau orang kampong dahulu itu musti taat aturan adat dan manut kepada sesepuh. Pamali menjadi suatu tata-hukum nilai yang kuat dan kokoh dengan tanpa disertai bantah-bantahan. Karena ada yang dituakan—tidak seperti era kekinian. Terma “pamali”, lanjutnya, sangat mungkin berasal dari “Pak Wali”. Awas, jangan masuk…pamali (nanti dimarahin pak wali).

Ini mungkin memang sebuah sistem kolot tapi sekaligus canggih. Yangmana perlu ada hutan larangan yang kita tidak boleh menjamahnya. Tahu batasan. Babi ya harus dan butuh berkembang-biak di sana. Konservasi juga. Sama halnya dengan di suku-suku ‘primitif’ ada semacam aturan adat tentang mengatur air. Hal demikian bukan sesuatu yang remeh. Lebih dari itu, termasuk pula di dalamnya kontrol-sosial. Kita harus turut menanam, berkebun dan menjadwal panen.

Sontak Mas Aam melihat perspektif lain, primitif ialah originalitas. Nabi mendapat gelar Al-Amin itu karena originalitasnya sebagai manusia paripurna. Nah, mungkin sudah waktunya, di tengah gemparnya kemajuan pesat zaman dan era popolontong suka ndangak-an; mending secara berjamaah mari memprimitifkan diri dengan makna di goa benak kita sendiri-sendiri. [08-2017/M.NaufalW.]

Reportase : kakaren zaman

28 Aug , 2017,
ja
No Comments

 KAKAREN ZAMAN

(Jamparing Asih Edisi Juli)

Tema kali ini unik. Sebab berawal dari kebingungan para perumus tema memikirkan bagaimana pada bulan Juli yang Syawalnya sudah mau habis ini sementara masih ada kerinduan tentang bahasan mengenai puasa ramadhan, hari raya, dan suasana halal-bihalal. Namun terkesan terlalu telat. Akhirnya setelah pusing sejenak, tercetuslah dua kata: Kakaren Zaman. Tentang sisa-sisa.

Mas Aam selaku pembuka diskusi, mengawali pembicaraan dengan bacaan al-fatihah bersama, lantas melanjutkan bahwa pada malam itu kami semua akan berusaha mengupas mengenai sisa-sisa. Apa tafsirmu tentang sisa-sisa? Begitu ungkapnya dalam mukaddimah.

Kata kakaren diusulkan oleh Om Teguh—yang disepuhkan di JA sekaligus beliaulah designer poster Maiyah JA—karena pada kakaren yang merupakan term dari bahasa Sunda untuk sisa-sisa makanan pada Hari Raya ini cukup representatif dalam mewakili kondisi dan perasaan kompleks-universal sebagaimana yang ingin dibedah secara berjamaah. Bahkan ditarik-hubungkan ke skala yang lebih luas dari penggunaan kata kakaren itu sendiri.

Berangkat dari sisa makanan di musim Lebaran yang telah lewat, Om Teguh menangkap dan menunjukkan keterkaitan kakaren dengan puasa, syawal dan bahkan zaman—sebagaimana tema lengkapnya. Mata rantai atau simpulnya pada dasarnya yaitu sederhana: sisa. Kami para jamaah maiyah pun merupakan kakaren dalam konteks waktu (minggu ke-4 setiap bulan) dan tema pun juga kakaren. Sementara jika dikaitkan dengan bulan puasa ialah bagaimana kita menghayati dan menelusuri apa saja kakaren atau sisa-sisa dari suasana Ramadhan berikut pula Idul-fitrinya.

Apakah kita masih berjuang senantiasa mengendalikan dan berprihatin-ria sebagai bentuk hasil dari gemblengan selama satu bulan itu ataukah kita kembali ke zona-pelampiasan yang serba membolehkan—permissive? Maka dari sinilah pancingan Om Teguh mulai menyulut beragam reaksi kerja pikir setiap jamaah. Sebelum yang lainnya menanggapi, Mas Aam masuk menyuguhkan pendapatnya bahwa sejatinya yang dapat ditangkap dari kakaren yang dihubungkan zaman ini secara nilainya ialah soal bagaimana sisa-sisa secara luas dan dalam itu kita olah, daur dan dayagunakan untuk menjadi apa. Sesuatu yang lebih bermanfaat kah atau justru menjadi sampah.

Cak Nun & Kiai Kanjeng (CNKK) sering menyebut diri sebagai “keranjang sampah” bagi masyarakat. Tempat menampung bermacam-macam keluh-kesah, kegelisahan, kerisauan, kehausan akan ilmu dari masyarakat. Tema JA kali ini tampak saling terhubung dengan tanpa disengaja.

Lantas ada mahasiswa UIN Bandung yang ikut Jamparingan edisi Juli ini turut serta berpendapat setelahnya mengenai apa yang dia alami. Bahwa kata kakaren yang berasal dari bahasa Sunda itu sendiri masih jarang diturunkan atau diwariskan kepada generasi baru sehingga menimbulkan para pemuda sekarang dan nanti semakin buram atau bahkan tidak mengerti kosa-kata daerah semacam itu. Mahasiswa tersebut yang asli keturunan berdarah Sunda mencoba meneliti apa yang dialaminya sendiri, sebab ia baru mengerti kata kakaren yaitu semenjak mengikuti Jamparingan ini. Maka yang disayangkan olehnya ialah makin punahnya penggunaan kosa-kata daerah asli oleh kebudayaan urban (perkotaan) yang mengakibatkan pada ketidaktahuan generasi baru terhadap kosa-kata otentik mereka sendiri.

Kemudian, seusai mendiskusikan perkara etimologi dan terminologi kakaren dari berbagai sumber pikiran, pembahasan berbelok untuk menengok sedikit tentang pemenggalan kata dan kalimat yang acapkali terjadi atau malah disukai generasi zaman kini. Semisal yang sering kita dengar, “umatnya Nabi Luth”. Ketika mendengarnya, asosiasi bayangan dari hampir semua kita ini tentu sontak berpikir tentang “kaum sodom”. Padahal tidak semua umatnya Nabi Luth itu termasuk kaum sodom, demikian sanggah Mas Aam.

Generalisasi yang carut-marut, silang-sengkarut dan kaprah ini dapat menimbulkan kesalahan sikap yang berefek pada hidup kita secara fatal. Dan ini juga, setahu hemat saya, pernah dibedah dalam Majalah Sabana mengenai kacaunya pemahaman kita akan konotasi dan denotasi oleh Pak-Dhe Iman Budhi Santosa.

Sementara kalau kembali ke topik edisi Juli ini, banyak bermunculan dan berseliweran cabang ide, ranting gagasan, dan dahan wacana yang demikian beragam tertumbuhkan hanya dari satu pohon kata kakaren belaka. Para jamaah Jamparing Asih tidak segan-segan memaparkan keterbesitan ide di pikiran mereka masing-masing untuk dibagi-suguhkan kepada jamaah yang lain dengan tanpa memaksa mereka agar mengonsumsinya.

Ada keterus-terangan yang berpendapat, kakaren itu kan sisa. Berarti sisa itu sudah tentu saja suatu akibat dari sebab tertentu. Maka seseorang boleh bertanya: apakah kakaren ini merupakan produk dari sikap kemubadziran yang dilakukan oleh sesuatu, seseorang, atau suasana-kondisi atau apa? Ambil contoh sederhana istilah “sampah masyarakat”. Jika ditarik ke pembahasan dimensi sosio-kultural, pasti dari istilah itu kita dapat meyakini bahwa tentu ada yang memproduksi sesuatu yang dianggap sampah tadi. Lantas siapa? Masyarakat kah? Negarakah? Atau apa? Hal ini sangat perlu untuk diteliti agar sanggup mempertajam presisi dan akurasi kita dalam menilai segala sesuatu semampu kita dengan mata-pandang yang seluas mungkin.

Sungguh masih teramat melimpah temuan-temuan—yang dalam dunia mainstream dianggap ‘tak berguna’—pada maiyahan JA kali ini. Namun, sudah tentu hanya lantaran kebelum-mampuan penulis lah yang menjadikan semua hasil dan temuan pada diskusi tersebut tidak tertuangkan dalam reportase secara sempurna lengkap dan detail.

 

Kakaren Zaman, Sains-Teknologi dan Al-Qur’an

Usai mencapai pertengahan diskusi, Om Teguh mencoba memaparkan sedikit bocoran tentang makna simbolis dari poster edisi Kakaren Zaman. Terdapat sesosok manusia (boleh juga: makhluq) yang kepalanya terbuat atau memang berbentuk toples khas jajanan Hari Raya. Tidak hanya itu. Ada pula satu buah toples lain yang tengah dipangku oleh sosok manusia dalam poster tersebut. Ringkasnya, tentang kepala toples itu bermakna apa bagi anda dalam radius penafsiran seluas mungkin, pada intinya yaitu pertanyaan ini: apakah apa yang ada di kepala kita, akal kita, itu sudah sesuai dengan yang ada di pangkuan kita? Perlu untuk diolah-renungkan masing-masing diri jamaah sebagai bahan atau daftar pencarian.

Lantas setelahnya, diisilah diskusi malam itu dengan selingan asyik-masyuk berupa musik oleh Gitaris bernama Kang Shofi. Dikeluarkannya selembar kertas dan disampaikan kepada Mas Aam. Maksudnya ialah mengajak agar bersedia menjadi vokalis lagu kesukaannya: Ya Ampun karya Mbah Nun. “Puisisasi Musik”, demikian kata pembukaan dari Kang Shofi dan berlanjut dengan duet seru mereka berdua.

Maka pasca bermusik-ria, disambunglah kembali jalan diskusi. Banyak sirat wajah yang tidak sabar menunggu bagaimana jika kakaren ini dikaitkan dengan zaman. Namun sebelum ada yang ingin menarik garis-hubung itu, Mas Tyas—Guru Silat sekaligus seorang penulis di Mizan—berterus terang mengenai pikirannya kalau kakaren itu musti dibedakan dan menurutnya ada 2 jenis kakaren secara garis besar. Pertama, ialah sisa yang masih bagus, baik, dan masih berguna. Sedangkan kedua, yaitu sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi atau sampah.

Penjelasan itu memantik aneka respon dari jamaah, termasuk yang saya ingat yaitu Kang Shofi. Ia mengajukan respon dalam kemasan ilustrasi di kampung-kampung: “Nak, itu sisanya dihabiskan. Biar berkah.” Nah, kenapa seakan erat kaitannya antara sisa dengan berkah? Agaknya perlu untuk ditelusuri. Disamping kepenasaranan mengenai sisa dengan berkah, ada yang mencoba mengurai contoh-contoh lain yang saya sebut itu: relativitas sisa. Bahwa sisa tidak hanya sekadar bersifat subjektif saja melainkan dapat pula mengandung suatu tolok ukur yang relatif berbeda. Sebutlah, umpamanya, “apa respon kita ketika diberi suatu sisa, sisa ayam goring misalkan, namun oleh sang kekasih?

Dari perumpamaan berupa kalimat tanya di atas, bisa kita lihat ternyata kakaren masih juga terikat oleh relativitas. Pada mulanya orang yang hendak menyuguhkan kakaren (tuan rumah) kepada tamu tentu terbesit secara alamiah rasa sungkan kepada tamu lantaran hanya mampu menyediakan ‘sisa’. Sedangkan, anehnya, tidak jarang ada tamu yang menanyakan, Wa, mana atuh kakaren teh? Apakah itu suatu bentuk gejala kerinduan tertentu pada diri sang tamu? Begitupun dengan permisalan kekasih yang memberikan sisa. Sudah dipastikan akan berbeda sensasinya dan respon penerimanya. Itu baru relativitas pada kategori subjek. Belum hal-hal yang beraroma spiritual dan dianggap semi-klenik semisal sisa minuman atau kopi Kyai yang dijadikan ajang rebutan para santri dengan harapan mencecap berkah ilmu. Belum pula kategori objek seperti: sisa emas, sisa uang negara, sisa piutang, dan silakan dilanjutkan.

Kemudian Om Widi memiliki tanggapannya sendiri—lebih ke ranah yang berbau teknologi. Jika pada kaum awam (konteks ini: gaptek), hardisk bekas dipandang sebagai barang loakan yang tidak bernilai jual tinggi dan tidak terlampau penting. Akan tetapi, timpah Om Widi, betapapun suda jeleknya itu tampilan luar hardisk bekas tetap akan dinilai berharga oleh Ahli Security System. Sebab melalui hardisk bekas tadi, pihak Ahli Forensik Security—demikian kiasan Om Widi—akan dapat menjamah sekaligus mendapatkan data barangkali semacam di-restore, terutama email. Bahkan dari yang rusak sekalipun. Ketika sudah dapat mengakses email yang ada, akan ditemukanlah beragam informasi-informasi. Meskipun telah diakui umum bahwa hardisk itu error, namun di tangan Ahli Security of Technology, hal itu memberikan keuntungan dengan tidak terduga oleh common-sense manusia gaptek. Dari sinilah sisa atau kakaren dalam perspektif teknologi.

Selain dari itu, masih banyak jamaah yang mencuatkan isi benak mereka masing-masing. Termasuk mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi bernama Arif. Sebetulnya, dari beraneka jenis pikiran-pikiran atau bolehlah disebut tiupan-tiupan inspirasi oleh Jibril, tidak lain adalah produk dari kakaren yang digunakan serta dimodifikasi sebagai rumus dalam memandang sesuatu. Maka Arif memperdengarkan isi pikirannya bahwa Al-Qur’an dan Islam pun kakaren. Sisa-sisa. Kita mungkin sering menyebut sebagai kitab dan agama terakhir. Pamungkas. Setelah melalui proses-proses rumit pencarian Tuhan dan manusia masih juga bingung, maka di-shortcut-lah oleh Allah dalam wujud Ajaran Islam melalui Nabi Muhammad Saw dengan pedoman kitab suci Al-Qur’an yang sekaligus menjadi penutup dari semua kitab-kitab suci.

Jadi tidak heran apabila beberapa dari kita berpendapat Indonesia pun merupakan kakaren dari kerajaan-kerajaan peradaban sebelumnya yang secara entah terpaksa atau memang disengaja untuk diramu menjadi satu: Indonesia Bhineka Tunggal Ika.

Lantas jika kita menelisik Kakaren Zaman, sesuai tema, orang cenderung ingat kepada Hari Akhir. Kiamat. Ada pula yang memikirkan sisa-sisa peradaban. Plot kisah-kisah, dongeng-dongeng, paribahasa-paribahasa dan sebagainya. Muncul pertanyaan, kenapa kok mulai dari dahulu, semua orang di zamannya masing-masing merasa bahwa pada zaman mereka itu sudah mendekati akhir? Begitupun kita? Ada apa gerangan?

Pertanyaan-pertanyaan berhamburan tak karuan. Tapi itulah fungsi diskusi: kalau tidak menambah ketakjuban, keilmuan dan pengetahuan, paling tidak ya menambah kepuyengan, keresahan, keheranan dan bentuk-bentuk lain dari kebingungan. Terdengar oleh saya ada yang mengungkapkan bahwa itu sebagai ajang ge-er setiap generasi pada zamannya sendiri sekaligus agar supaya memantik kesadaran serta membikin generasi di zamannya lebih eling lan waspadha—kalau meng-ghosob istilah Ronggowarsito. Toh, pada era milenial ini tidak sedikit yang meskipun sudah merasa tengah berdiri di zaman akhir (kakaren zaman), masih saja secara nekat menjauhkan diri dari cahaya. Barangkali diri kita masing-masing pun tercakup dalam orang-orang yang termaksud itu.

Meski demikian, pada intinya semua kita mau tidak mau terikat pada hukum alam untuk senantiasa berproses dan maiyahan mewadahi para jamaah untuk kebutuhan itu. Salah satunya mungkin dengan saling menjaga agar selalu bersentuhan-pandang—muwajjahah—yang di masa kini mulai pudar intensitasnya. Lantas, dari sekian pemaparan dangkal penulis pada reportase ini, semoga dapat menyulut atau memperparah kekaguman kita sehingga kita ucapkan satu kalimat indah dari Allah dengan khusyuk berdasarkan pengalaman masing-masing seusai menelusuri tentang kakaren. Tentang sisa-sisa yang tertuduh sia-sia dan seolah sampah. Rabbana ma khalaqta hadza bathila.

Betapapun keindahan itu dapat terangkum dan kecerdasan akal setinggi apa, hanya kebelum-mampuan penulis lah dalam meracik gado-gado pemikiran para jamaah secara sekomplit mungkin yang barangkali kurang melezatkan hidangan reportase ini. Dan tersebut adalah satu dari sekian kelemahan dalam mini-reportase edisi Kakaren Zaman. Namun, inilah kakaren yang dengan bismillah bisa saya gambarkan dan diharapkan masih dapat ditransferkan oleh cinta saya kepada pembaca sekalian. [7-2017/M Naufal W]

Reportase #JAJuni : Mengasah Puasa

14 Jul , 2016,
ja
No Comments

Oleh Redakasi Jamparing Asih

***

Malam dituliskannya reportase ini adalah malam terakhir puasa Ramadhan. Malam itu bunyi handphone lebih riuh dari biasanya. Ia berdering cukup sering. Homepage beragam media sosial bermunculan dengan pesan-pesan tentang Iedul Fitri yang akan disambut esok hari. Tak hanya itu, banyak pula tulisan berupa pesan-pesan kesedihan mengenai akan ditinggalkannya bulan Ramadhan yang hanya ada sebulan dalam setahun itu. Namun begitu, apa yang sebenarnya kita sedihkan sepeninggal bulan Ramadhan? Apakah suasananya? Tarawehnya? Buka bersamanya? Libur panjangnya? Ataukah hari-hari puasanya? Kalau puasa adalah jawaban dari kebanyakan orang, bukankah puasa itu hakikatnya tidak hanya di bulan Ramadhan saja? Ataukah ada jawaban-jawaban lain yang lebih mendasar dan bermakna dari itu semua? Silakan ditanyakan di dalam diri masing-masing kita. Meski sudah ditinggalkan oleh sang Ramadhan, kesadaran untuk berpuasa tak sebaiknya ikut kita tanggalkan pula.

Jamparing Asih edisi Juni yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan mengangkat tema “Mengasah Puasa”. Tema tersebut lahir dari kegelisahan mengenai pemaknaan puasa yang semakin kering dari kesejatian. Jamparing Asih bulan Juni diselenggarakan pada Sabtu malam atau yang lebih lekat di telinga anak muda sebagai malam Minggu, tanggal 18 Juni 2016 di ruangan studio 1 RRI  Bandung, Jawa Barat. Kota yang dingin tersebut malam itu mulai terasa hangat, selain suhu tubuh yang menghangat karena metabolisme tubuh bekerja setelah buka puasa. Kehangatan juga didapatkan dari paparan kebersamaan untuk saling berbagi cahaya ilmu kehidupan di setiap maiyahan.

Forum dimulai sekitar pukul 20.00 dengan pembacaan surat Al-Waqi’ah oleh Iman. Selesai pembacaan surat ayat suci Al Qur’an, maiyahan kemudian dilanjutkan dengan shalawatan yang dipimpin teman-teman Unit Rebana ITB. Kondsi di dalam dan di luar Studio 1 RRI menawarkan suguhan suasana yang berbeda. Selain dengan lalu lalangnya pegawai dan penyiar RRI yang masih mengabdi, pada waktu yang sama di tempat yang berbeda tengah terselenggara pertandingan kesebelasan PERSIB yang menjamu Mitra Kukar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GLBA). Di luar halaman gedung RRI telah disediakan layar untuk acara nonton bareng pertandingan tersebut. Sementara di luar studio begitu riuh dengan pertandingan bola, di dalam studio 1 RRI, shalawat kepada Nabi tetap berkumandang di studio 1 dengan tepukan rebananya yang juga beriringan dengan lalu lalangnya beragam manusia yang melakukan kegiatan-kegiatan lainnya pada waktu yang sama di wilayah-wilayah yang berbeda. Seusai shalawatan, sesi dilanjutkan dengan sharing dari penggiat mengenai perjalanan Ihtifal yang dilakukan oleh penggiat pada tanggal 27 Mei lalu ke Ndalem Kasepuhan Simbah Emha Ainun Nadjib di Jombang.

JAJuni16 3

Jamuan Ihtifal Maiyah

Penggiat Jamparing Asih yang datang saat itu tidaklah banyak, hanya sejumlah 4 orang. Sungguhlah sebelum Ihtifal Maiyah,  teman-teman Jamparing Asih sangat berharap untuk dapat menghadiri Ihtifal bersama-sama. Namun apa mau dikata, ada satu dan lain hal yang membatasinya. Salah seorang penggiat Jamparing Asih yang berumah asal dari Jombang pun tidak dapat turut datang karena harus menghadiri upacara wisudanya di kota Bandung. Selain itu, ada seorang penggiat yang ketika sedang duduk asyik dibonceng oleh petugas ojeg, ban motornya kempes di tengah perjalanan menuju Stasiun Bandung. “Tiket hangus nggak seberapa.. Nggak ikut ihtifalnya itu lho. Huhuhu..”, curhatnya melalui pesan singkat kepada penggiat lainnya.

Bekal-bekal yang didapat oleh penggiat saat turut serta dalam Ihtifal kemudian dibagikan kepada sedulur jama’ah yang hadir. Nissa menyampaikan mengenai hal sederhana yang dapat ia petik dari Ihtifal Maiyah, yaitu tentang prosesi bertamu. Di lain kesempatan Cak Nang berkata bahwa Ihtifal adalah seperti ‘riyaya’ atau hari rayanya Maiyah, bukan seperti tamu dan tuan rumah melainkan acara yang dimiliki oleh semua sedulur Maiyah. Namun Nissa tetap akan mencoba memandang Ihtifal Maiyah tersebut dari perspektif seorang tamu karena bagaiamanapun Ndalem Kasepuhan adalah rumah keluarga Simbah Guru, tempat beliau dibesarkan.

Ada beberapa pemantik kecil yang dapat menjadi perenungan tersendiri hal ihwal tamu dan tuan rumah. Di daerah tempat Nissa tinggal dan dibesarkan, di kota Bandung, banyak warganya membangun tempat tinggal berdasarkan standardisasi atau taste pribadi mereka. Standard-nya adalah : “Asal penghuni rumah merasa nyaman dan tentram dari ‘gangguan luar’”. Selain itu pendefinisian kenyamanan pun kian lama kian bergeser terus-menerus menjadi sesuatu yang ‘diharuskan’ bersifat mewah. Tak sedikit para pemilik rumah yang ingin untuk dihormati dan dianggap atas segala kepemilikannya. Tamus yang datang ke rumah diharapkan untuk bertata krama sesuai dan sepantaspantasnya yang diinginkan si tuan rumah. Penyesuaian dan ‘terms of agreement’-nya dipegang oleh sang tuan rumah.

JAJuni16 5Pertandangannya ke Ndalem Kasepuhan menyajikan kenyataan-kenyataan yang berbeda. Ndalem kasepuhan Mbah Nun digunakan untuk membahagiakan orang lain, bahkan masyarakat umum yang tidak memiliki kedekatan secara personal. Masyarakat datang ke Ndalem Kasepuhan dari berbagai penjuru daerah, dari luar kota hingga luar pulau yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Masyarakat yang datang bertandang sebagai tamu dengan beragam niat dan harapan dibesarkan hatinya oleh Mbah Nun, keluarga beliau, dan para Guru Maiyah. Masyarakat dibesarkan hatinya, disediakan lapak untuk mengais pundi-pundi rezeki untuk memberi makan anak dan istri, disuntik oleh banyak ilmu, dijamu dengan itikad yang luhur yaitu memuliakan tamu. Bahkan ketika usai acara, para pendatang Ndalem Kasepuhan pulang dengan meninggalkan sisa-sisa makanan ataupun minuman di halam rumah beliau.

Apabila dibandingkan dengan prosesi bertamu yang biasa kita temukan saat ini, sungguhlah hal yang didapatkan di Ndalem Kasepuhan yang juga banyak ditemukan di lingkaran-lingkaran Maiyah lainnya dapat digali sebagai khasanah kearifan. Penggalian pandangan yang sederhana mengenai cara beliau dan keluarga memuliakan tamu dapat memberikan pertimbangan agar kita dapat mengkalibrasi niat dalam menentukan keputusan dan pilihan dalam menciptakan atmosfer berkeluarga dan bermasyarakat. Dari maiyah juga juga dapat dipetik bahwa kunci dari memaknai kehidupan sebagai pelayanan, pengabdian, dan kepengasuhan.

Iman menyampaikan bahwa pada umumnya acara-acara ditekankan adanya kepanitiaan. Dalam keberjalanan acara sebuah komunitas ada yang pengisi acara, ada panitia, dan peserta. Namun di maiyah meski semuanya bekerja sama saling berembukan untuk mendapatkan kemaslahatan bersama. Baik para pengisi acara, penggiat, maupun jama’ah semuanya berada di bawah payung yang sama, yaitu para pembelajar kehidupan.

Lentera dalam Gelap

Maiyahan bulan Juni cukup berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Penggiat Jamparing Asih yang kebanyakan merupakan orang-orang pendatang Bandung sudah banyak yang meninggalkan kota itu. Tim URI ITB yang biasa menemani Jamparing Asih untuk bershalawat hanya ‘tersisa’ 3 orang. Meski begitu, bukan jumlah personil yang menjadi tumpuan keterselenggaraannya maiyahan, namun keluasan hati dan niat yang suci untuk mau terus bersama-sama menabung kebaikan dan bermaiyah seperti apapun lingkarannya, itulah yang utama. Hal ini pula yang disampaikan oleh penggiat Jamparing Asih yang dirawuhi oleh sedulur maiyah dari  Majenang. “Kita tidak usah melawan gelap, kita nyalakan saja lentera betapapun kecil.”, Nissa menyampaikan kepada Mas Wiwid. Ucapan itu didapatkan Nissa dari salah seorang Guru Maiyah, yaitu Pak Toto Raharjo. Ucapan itu disampaikan untuk memupuk rasa kepercayaan dan membangun rasa kebersamaan pada diri Mas Wiwid yang banyak mengenal maiyahan dari simpul Cilacap ketika bercerita betapa ia berniat membuat lingkaran Maiyah di kota Majenang meski saat ini baru berjumlah 5 orang. Nissa kemudian menyampaikan agar Mas Wiwid dan sedulur Majenang tidak berkecil hati dengan jumlah. Nissa mengungkapkan bahwa hal itu pun tidak berbeda jauh dengan Jamparing Asih. Dalam perjalanannya selama kurang lebih 10 bulan ke belakang bukanlah sesuatu yang instan. Bahkan ketika pertama kali Simbah Guru Emha Ainun Nadjib rawuh ke Bandung pada bulan Agustus 2015 lalu, ketika itu penggiat inti baru berjumlah 4 orang dari orang-orang yang bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Kalau memang Allah telah berkehendak, maka gelombang Maiyah akan tertransmisikan semaunya-maunya Allah kepada siapapun itu. Sehingga yang terpenting adalah menyiapkan wadahnya karena nantinya orang-orang akan kemudian didatangkan untuk dapat mengisi wadah tersebut dan mengemban amanah bersama-sama.

JAJuni16 4

Setiap daerah tentu memiliki cara pertumbuhannya masing-masing. Yang utama dari semua itu adalah bagaimana setiap diri dapat mensyukuri apa yang telah dimiliki, bagaimana setiap lingkaran maiyah dapat menyadari betapa berharganya satu sama lain untuk saling memberikan suntikan semangat agar tidak patah asa. Namun apapun yang terjadi tetaplah kehendak-Nya, untuk menjadikan ada apa yang tidak ada maupun meniadakan apa yang sebelumnya ada. Hal ini perlu diingat untuk meyakinkan dalam diri bahwa semua yang terjadi atas izin dan kehendakNya.

Selain Mas Wiwid, malam itu Iman meminta beberapa jama’ah untuk saling berbagi menemani penggiat atas panggung kecil. Salah satunya adalah Mas Idris yang merupakan jamaah maiyah bangbangwetan yang sedang menjalani pelatihan di Bandung. Ada pula Syafiq, seorang mahasiswa yang baru menempuh perkuliahannya selama 2 semester ikut berbagi mengenai pengalamannya dengan jamaah. Ia datang ke lingkaran Jamparing Asih seorang diri. Syafiq bercerita mengenai prosesnya berlabuh di lingkaran maiyah. Dimulai dari masa SMA-nya yang tidak ikut banyak kegiatan dan hanya diliputi oleh pembelajaran akademik di sekolah. Kemudian saat berkuliah Syafiq mulai memiliki beragam pertanyaan di kepalanya dan mencari arti hidup. Dari keingintahuan dan keresahannya itu, ia membaca-baca buku dan akhirnya ia membaca buku Mbah Nun  yang menjadikan jalan bagi Syafiq untuk terdampar di lingkaran maiyah.

Kang Aldiana yang baru pertama kali rawuh di Jamparing Asih pun ikut berbagi kisah. Ia adalah seorang bapak berusia sekitar 40 tahun. Ia sudah lama melakukan berbagai pencarian untuk menyelami makna demi makna kehidupan. Ia mengenal pemikiran-pemikiran Mbah Nun dari video-video YouTube yang ia tonton. Singkat cerita, Kang Aldi mulai mengenal Mbah Nun sebagai jama’ah maiyah youtubiah. Rasa ketertarikan terhadap ilmu-ilmu Mbah Nun membuat Kang Aldi ingin mengetahui lebih banyak tentang beliau. Kemudian Kang Aldi menghubungi Rumah Maiyah Kadipiro, Yogyakarta untuk mendapatkan informasi tentang Mbah Nun, dan akhirnya disambungkan dengan penggiat-penggiat Jamparing Asih sesuai dengan kota tempat Kang Aldi tinggal. “Sebelumnya saya tidak tahu ada Jamparing Asih ini. Saya juga belum tahu apa-apa tentang apa itu maiyah. Ketika saya menghubungi Yogya saya diberi tahu bahwa ada Jamparing Asih, langsung saya menghubungi nomor yang diberikan oleh pihak Yogya.” Dan akhirnya Kang Aldi dapat rawuh bersama-sama di RRI malam itu.

Kang Aldi menyampaikan mengenai nama Jamparing Asih. Menurutnya  dalam memegang Jamparing Asih (panah cinta –red) kita seharusnya memiliki target yang sama untuk berkumpul agar dapat menjadi jago panah. Untuk menjadi seorang jago panah, harus melakukan latihan terus-menerus. Kemudian kang Aldi mengatakan bahwa sasaran dari panah cinta adalah agar dapat menjadikan orang-orang katarik kataji kapati-pati (tertarik dan jatuh cinta –red.) sembari ia memberikan gestur menunjukkan letak kalbu di dadanya. Kang Aldi kemudian memungkasi dengan mengajak jamaah untuk sama-sama dapat melentingkan kasih sesuai dengan terminologi Jamparing Asih.

Memaknai Mengasah Puasa

Seusai sesi saling berbagi pengalaman, penggiat mengajak jamaah untuk sama-sama mentadabburi tema maiyahan malam itu, yaitu Mengasah Puasa. Menurut Iman mengasah dapat diambil perspektif dari bagaimana kita menjalani kepresisisan. “Ketika ihtifal pun kebetulan ternyata matahari berada tepat di atas ka’bah. Kalau ditadabburi, persitiwa tersebut dapat menjadi momentum bagi kita untuk sama-sama mempresisikan arah.” Mengkalibrasi arah kiblat sehingga kita memiliki pemahaman yang lebih presisi mengenai ke arah mana dan apa yang sebenar-benarnya kita tuju. “Tidak seperti shalat yang tampak gerakannya, puasa adalah ibadah yang sunyi.”, sambung Nissa. “Mbah Nun mengenalkan untuk mempuasai kehidupan, mempuasai apa yang sejatinya harus dipuasai. Beliau pun dalam beberapa kesempatan memaparkan mengenai hakikat dari manusia puasa.” Pembabaran hakikat puasa dituliskan oleh Mbah Nun salah satunya di Lubuk ke-7 yang berjudul “Puasa Tempat yang Dirahasiakan”. Lubuk tersebut menunjukkan laku puasa Simbah atas banyak hal yang berlangsung di dunia dan dipungkasi oleh permohonannya untuk disembunyikan di tempat sunyi yang dirahasiakan.

Iman menyampaikan bahwa untuk dalam mengasah puasa kita diajari untuk mengkikis kulit-kulit terluar dari apa yang inti. “Diawali oleh sahur, kalau dilihat dari masyarakat saat ini, sahur itu artinya saatnya huru-hara. Saatnya ramai-ramai mencoba mendapatkan makanan dan dapat makan secara cepat.”, celoteh Iman. Sahur dimaknai pula oleh Iman seharusnya sebagai makna dari “sifat a nu luhur”. “Dalam berpuasa, Istilahnya puasa ramadhan itu sebagai latihan bagi 11 bulan berikutnya.” Iman mengibaratkan puasa ramadhan dan puasa di bulan-bulan berikutnya serupa zakat dan sodaqoh. “Di bulan Ramadhan kita wajib melaksanakannya, seperti zakat fitrah. Sedangkan untuk bulan-bulan berikutnya dilakukan semampu kita, sesuai takaran diri masing-masing selayaknya sodaqoh. Kemampuan kita untuk menakar pun kita asah di puasa Ramadhan yang sebulan, sebagai madrasah bagi hidup kita untuk 11 bulan berikutnya. Kemudian dalam kesehariannya kita berbuka ditandai oleh adzan Maghrib. Disebut buka puasa karena sebenarnya kita baru membuka gerbang puasa, bukan malah selesai puasa sehari itu dan menutup gerbangnya.”

Iman menanyakan kepada jamaah apa yang terlintas di pikirkan oleh jamaah ketika mendengar kalimat “Mengasah Puasa.” Kang Aldi kemudian memaparkan pemaknaan puasa dengan QS Al Baqarah. Mengasah puasa baginya adalah mengasah sesuatu yang tumpul. Ketika merasa tumpul maka harus diasah. “Saya memaknai dari apa yang telah saya jalankan, bahwa berpuasa itu sebagai cara untuk memudahkan yang sulit. Ulat, contohnya, membutuhkan waktu lama untuk memakan daun di ujung dahan. Ulat pun memiliki cara puasanya tersendiri hingga ia berusaha menuju dedaunan. Ketika ulat sudah menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu, jangankan daun yang di ujung dahannya, terbang megitari alun-alun pun akan mampu dilakukan. Sedangkan mengasah artinya adalah mempertajam yang tumpul. Jangan berharap dulu ada pahala, tapi jalankan dengan ikhlas dan ridho. Kalau kita sudah menjalankan dengan ikhlas dan ridho, disana ada pahala dan lain-lainnya. Jadikanlah setelah puasa ini membuat kita terbiasa. Mintalah kepada Tuhanmu dengan sabar dan shalat. Sabar adalah esensi dari berpuasa dengan menahan nafsu dan shalat adalah sebentukan ritual yang dilakukan untuk mengingat Allah.”, ungkap Kang Aldi panjang lebar.

Ayip kemudian ikut angkat bicara. Ia memaknai tema dari kata asah. Pengasahan dilihatnya sebagai sebuah proses yang tidak dapat luput dari benturan. Seperti pisau atau besi yang diasah menggunakan batu asahan atau gerinda. Kata lain dari pengasahan batu mulia adalah penyepuhan. “Saat puasa dilakukan tanpa memaknai adanya benturan-benturan khususnya  terhadap hawa nafsu yang berdasarkan keinginan, apakah puasa yang kita jalani itu sebenarnya sudah tajam atau masih tumpul?”, tanya Ayip.

Benturan-benturan dari proses pengasahan itu menurutnya justru akan menghasilkan ketajaman dalam puasa yang dijalankan. “Dalam mengasah kita harus berusaha untuk istiqomah dan terus-menerus. Setelah sebulan ini maukah  kita tetap berpuasa?”, ungkap Ayip Lagi. “Mengasah puasa itu ibarat mengasah pisau, kalau tidak dilakukan pengasahan secara berkala, maka pisaunya akan tumpu, berdebu, atau bahkan berkarat.”, papar Iman memungkasi pendalaman tema.

Sedekah yang Sunyi

Mas Tyas kemudian berbagi mengenai pemaknaan puasa dari buku karya Pak Muhammad Zuhri yang dikenal sebagai seorang penyair sufi. “Pak Ahmad Zuhri memaknai puasa sebagai sedekah yang diam dan sedekah yang sunyi. Puasa itu tidak dibayangkan ke dalam diri saja, tapi juga untuk sosial, masyarakat, budaya, dan lain-lain.” Pemaknaannya dibabar oleh Mas Tyas dengan sebuah adegan sederhana tentang mengantri tempe untuk berbuka puasa. “Semisal begini…”, Mas Tyas memulai ceritanya. “Ketika ada serombogan orang yang mengantri untuk berbuka puasa, kemudian tempenya hanya tersisa satu. Ketika si A berniat untuk mengambil tempe, ia mendengar si B khawatir dengan jumlah tempe yang tinggal tersisa satu biji. Mendengar ucapan si B, Si A kemudian tidak jadi mengambil tempe tersebut dan menyedekahkan tempe bagiannya untuk Si B secara diam. Si A sebenarnya sedang mempuasai tempe dan melakukan sedekah yang diam tanpa menunjukkan dan mengumumkannya. Menahan diri adalah salah satu bentuk dari sedekah kita untuk generasi berikutnya. Dengan menahan diri kita terhadap pengekspolitasian alam, misalnya, adalah cara kita untuk bersedekah kepada anak cucu dengan mempertimbankan nasib mereka kelak.”

Mas Tyas kemudian beranjak kepada pemaknaan menahan diri secara lebih mengakar. Ia mencontohkan bahwa pantangan-pantangan yang banyak diberlakukan oleh masyarakat adat sebenarnya adalah manajemen yang agung. Pantangan adalah upaya untuk menahan diri. Namun kenyataannya kini pantangan ataupun terminologi “pamali” yang dianut oleh masyarakat adat tidak lagi diindahkan oleh masyarakat modern. Pantangan-pantangan itulah yang membantu masyarakat menyeimbangkan kehidupan. Esensi dari pantangan tersebut pun ada pada hakikat berpuasa dan mempuasai.

Dipersinggungkan dengan Seni

Selama diskusi berlangsung, teman-teman dapat melihat sosok Pak Diyanto membersamai para penggiat di panggung. Beliau sejak awal belum diberikan microphone untuk berbicara agar Pak Diyanto dapat mengalami maiyahan. Bagaimanapun model forum diskusi maiyahan berbeda dengan forum-forum diskusi para akademisi, tak jarang orang-orang yang belum pernah mengalami maiyahan merasa kaget ketika pertama kali ikut bermaiyah. Nyentrik, bahkan jauh dari kesan yang orang banyak menganggap sebagai sebuah kadar rapi, adalah suatu kesan pertama yang akan segera kita tanggap pada diri seorang seniman. Begitu juga yang terlintas dari jasad wadag seorang Diyanto, salah satu seniman rupa yang bermukim di Kota Bandung.

Kang Diyanto dengan Jamparing Asih dipersinggungkan oleh salah satu penggiat Jamparing Asih, kang Inin, yang keseharinnya berprofesi sebagai jurnalis.Malam itu pun Kang Inin tidak dapat ikut melingkar dan bermaiyah bersama dikarenakan sedang bertugas meliput pertandingan kesebelasan PERSIB. Kegiatan Kang Inin membuat ia sering berhubungan dengan beliau. Hingga akhirnya pada suatu kesempatan, sempat ada obrolan tentang Jamparing Asih antara penggiat dan Kang Diyanto. Dari obrolan di sela-sela ngopi dengan kang Inin di bulan Mei, Kang Diyanto sendiri menyampaikan ketertarikannya berharap suatu saat nanti bisa ikut ngariung di majelisan Jamparing Asih yang akhirnya dapat terlaksana pada bulan Juli. Keberadaan Mbah Nun, sebagai sosok yang memang menjadi ayah bagi jamaah, cukup membantu untuk menjelaskan aktivitas Jamparing Asih, simpul maiyah di Bandung. Meskipun belum pernah bersingguhan secara langsung dengan Mbah Nun, namun Pak Diyanto mengaku cukup mengenal Mbah Nun lewat karya-karyanya.

Dari sekain banyak karya-karya lukis Kang Diyanto, salah satunya adalah karya berjudul ‘kasidah Izroil.’ Sebuah karya yang bercerita tentang seorang hamba yang senantiasa hari-harinya dipenuhi dengan alunan lagu dari Izroil. Berminggu-minggu dia menempuh jalan sunyi di salah satu RS di Kota Bandung. Proses itu sengaja dia tempuh, agar ilham yang dia terima, nantinya bisa disampaikan dengan maksimal, mengena kepada orang lain melalui lukisan yang dibuatnya.

Sebelum akhirnya microphone diberikan kepada Kang Diyanto, teman-teman dari URI ITB mendahului dengan bershalawat Ya Badrotim. “Mengasah soal menahan diri lalu dengan apakah kita mengasah itu?”, pancing Kang Diyanto. “Dengan RRI, yaitu Rasa, Rasio, dan Iman. Itu yang dikatakan oleh almarhum Pak Sadali, salah satu Guru saya dalam dunia seni lukis”. Pak Sadali selalu melukis selepas sembahnyang Subuh, durasi cukup singkat. Bukan durasinya yang singkat tapi intensitas proses penciptaannya yang memiliki keistiqomahan.

Kang Diyanto kemudian menceritakan mengenai terminologi “puasa kendang”. Kendang itu dipukul ujung-ujungnya, tapi di tengahnya ada ruang kosong. “Jadi, sifat puasanya hanya di ujung awal dan ujung akhir saja. Sepertinya puasa yang saya lakukan juga masih sebatas puasa kendang…”, curhatnya. Kang Diyanto kemudian berbagi mengenai seni dan dirinya yang terbiasa merenungkan hakikat dan fungsi keindahan. Selain itu ia juga membagikan perspektifnya bagaimana seni dapat memberikan suguhan yang utopis atau mengimajinasikan sesuatu yang sepatutnya ideal. Setiap orang pasti memiliki pandangan-pandangan ideal masing-masing mengenai apa kehidupan, begitu pun pekerja seni. Hal yang menurut Kang Diyanto menarik untuk diangkat adalah sikap yang terjadi ketika seni dikalkulasikan dengan cara-cara yang pragmatis.

Selain berkonsentrasi di bidang seni lukis, Kang Diyanto juga berkecimpung dalam dunia teater. Ia mendapatkan ilmu yang berbeda pada kedua ruang gerak yang ditekuninya tersebut. Dalam menekuni dunia seni lukis ia melakukan secara soliter atau sendiri, sementara dalam berteater dituntut untuk bekerja bersama-sama. Pada awalnya ia hanya memahami perbedaan seni lukis dan kerja sama dalam teater sebagai pola organisasi mengenai manusia yang di satu sisi kita dapat bekerja sendirian secara soliter. Namun setelah terus berkecimpung di dunia teater ia mendapatkan perspektif bahwa kebersamaan itu harus dialami. “Bagaimanapun tujuan dari seni pada akhirnya adalah memanusiakan manusia.”, tutur Kang Diyanto.

Mas Tyas mengatakan bahwa keilmuan modern sudah mengkotak-kotakan kehidupan. Keilmuan tersebut mengandung perspektif, cara pandang, dan paradigmanya masing-masing. Sementara dengan seni manusia menjadi lebih dapat memandang kehidupan secara keseluruhan.

Puasa, Makna, dan Jalan Ngelmu

Kang Wawan, salah satu pini sepuh Jamparing Asih terlihat rawuh di RRI sekitar pukul 10 malam.  Ia sampai ke studio 1 setelah selesai menuntaskan pertemuan lainnya di tempat yang berbeda. Kang Wawan kemudian mulai memaknai tema miayahan malam itu. “Puasa itu untuk mempertajam.”, Kang Wawan memberikan perspektifnya. “Orang-orang zaman dahulu kalau mau ngelmu itu dengan berpuasa, baik puasa tidak makan-minum, puasa mutih, maupun puasa bicara. Puasa itu adalah sarana untuk mempertajam rasa, pikiran, dan analisa.” Jama’ah kemudian diajak untuk berpikir bahwa kemungkinan puasa yang kita lakukan sudah bukan untuk mengagungkan Allah lagi.

Kang Wawan mengingatkan mengenai ulasan Mbah Nun tentang bulan Ramadhan dan gegap gempita pertelevisian. “Acara-acara televisi yang ada sekarang ini yang dituhankan sebenarnya itu Allah atau rating?”, pancing kang Wawan. Maka dari itu kita diingatkan untuk mengasah puasa kita nanti kita akan mengasah zakat kita, mengasah sholat kita, mengasah haji kita, dan lain-lain. Mengasah dilakukan agar dapat terus mengingat filosofinya sehingga apa yang sudah rutin dilakukan dapat terus dimaknai. Kalau tidak dimaknai ulang maka lelakunya akan menjadi tumpul dan tersisa dan menyisakan pemaknaan menjadi sebatas laku mekanistis saja.

Kang Wawan kemudian menyapa Kang Diyanto dengan mengatakan bahwa salah satunya yang dapat menginterupsi manusia dalam memaknai kembali kehidupan adalah seniman. Kehidupan berjalan terlalu lama dan dilakukan secara terbiasa hingga manusia terlupa untuk memaknainya.

JAJuni16 2 (2)

Kang Wawan bercerita mengenai dirinya yang memaknai iedul qurban dari sebuah film yang diciptakan oleh seorang seniman Polandia. Sang seniman mengemas filmnya secara cantik dengan konsep yang tidak leterlek mulai dari hal yang sederhana, yaitu konsep kepemilikan. Film tersebut mengajak yang menontonnya memaknai bahwa dalam peristiwa Nabi Ibrahim dan Ismail Tuhan sedang bicara tentang konsep kepemilikan.

Kang Wawan yang sudah menikah dan dikaruniai 2 orang anak mendalami konsep kepemilikan dari perspektif berkeluarga. Menurutnya ketika sudah menikah konsep kepemilikan yang paling hakiki adalah anak. Peristiwa Iedul Qurban merupakan pesan bagi manusia untuk menunjukkan seberapa mampu Nabi Ibrahim melepaskan sesuatu yang dia merasa memilikinya. Tuhan memberikan pesan  bahwa anak pun dapat dipanggil Tuhan kapan saja. “Sebelum ke arah yang lain, pertama kita perlu membiacarakan terlebih dahulu makna kepemilikan, baru membicarakan mengenai tidak menginginkan apa yang bukan milik kita.”, Kang Wawan memungkasi penuturannya.

Puasa : Mengosongkan, Meng-inti, dan Melembutkan

Kang Widi kemudian angkat bicara di forum. Baginya memahami puasa tidak secara sempit dengan membatasinya pada tidak makan dan minum. Apabila dibatasi pemaknaannya, maka musafir, orang hamil, datang bulan tidak mendapatkan “jatahnya”. Ia kemudian memaknai puasa dari perspektif tasawwuf.

“Dalam diskusi sebelumnya banyak hal yang dapat digali pemaknaannya. Saya mencoba memaknai dari prinsip takhali, tahali, dan tajjali. Takhali artinya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat buruk. Setelah  kosong kemudian pasti akan diisi kembali dengan prinsip tahali. Kemudian tajalli adalah outputnya.”, paparnya. Baginya, Ramadhan adalah waktu ketika manusia dikosongkan dan diisi kembali dengan takhalli. Hingga kemudian dapat bertajjali dalam proses-proses berkehidupan selanjutnya.

Uwa Adi, salah seorang pinisepuh Kenduri Cinta yang telah lama menemani teman-teman Jamparing Asih kemudian diajak oleh penggiat untuk memberikan bahan-bahan diskusi. Menurut Uwa Adi, Ramadhan adalah latihan dan perjuangannya itu adalah setelah berpuasa sebulan lamanya. Menurutnya yang menjadi soal bukan kemenangannya karena hakikatnya kemenangan tidak akan tercaapai sampai akhir dikarenakan hidup hakikatnya adalah untuk terus berjuang bukan untuk mendapatkan kemenangan. Kemudian Uwa menyampaikan kisah-kisah kelakar sufi Nasruddin Hoja.

Maiyahan malam itu dibawa kepada perenungan makna puasa yang berkaitan dengan hakikat kelembutan. Mas Tyas menyampaikan ia baru saja membaca puisi Mbah Nun bejudul “Ragi” yang ia dapatkan dari buku “Seribu Masjid Satu Jumlahnya”. Mas Tyas mengambil buku tersebut dari tasnya. Buku yang dimiliki Mas Tyas adalah buku terbitan lama. Tidak aneh memang, karena Mas Tyas sebelumnya merupakan editor dari beberapa buku-buku Cak Nun yang kini banyak dicetak ulang. Mas Tyas kemudian membacakan puisi tersebut di forum.

RAGI

sesaat berpuasa

sesaat berikutnya kembali fitri adanya

orang muslim ber-khalwat

mengetuk rahasia uluhiyat

berpuasa ramadhan hanyalah berlatih

memasuki hakikat cinta kasih

ketika lebaran tiba berkaca sebagai bayi

yang tak tergerak oleh pesta-pora duniawi

kalau berpuasa untuk menghayati kemiskinan

maka ramadhan itu milik orang kaya

sebab apakah orang melarat berpuasa

dengan menikmati  kekayaan selama sebulan

berpuasa ialah memeras jasad

melembut  jadi ragi ruhani

sebab pemahaman terhadap ilmu akhirat

ialah menahan diri terhadap yang tak abadi

berpuasa itu membatasi benda

berpuasa itu mengkritik kenyataan dusta

berpuasa itu menyaring kemegahan

berpuasa itu mempertanyakan kemajuan

begitulah puasa, kata almuhammadi

ialah dalam keramaian menemukan sunyi

di tengah kerumunan menjumpai diri sendiri

di kegelapan hidup memburu cahaya suci

puasa meragi

memandikan nurani

sampai mata jiwa mengerti

rahasia sejati

1986

Untuk memaknai puisi tersebut, Ayip yang memiliki latar belakang keilmuan Bioengineering memasukinya dari pintu saintifik. Ayip mengagumi bagaimana Mbah Nun merumuskan sebuah puisi tentang puasa dan proses peragian secara arif secara hakikat. Ayip memulai pemaparannya dengan menjelaskan mengenai ragi yang merupakan mikroba Saccharomyces cerevisiae. “Dalam struktur makhluk hidup sebenarnya prinsipnya sederhana yaitu dibangun oleh struktur Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), dan sisanya adalah trace element, yaitu elemen-elemen yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sedikit.” lanjutnya.

Untuk lebih mempermuah penjelasan, Ayip mengambil contoh singkong yang biasa diragikan. “Singkong mengandung berbagai macam unsur, di dalam singkong terdapat karbohidrat, protein, dan lemak. Yang paling banyak dalam singkong sebenarnya adalah karbohidrat. Sementara yang disebut unsur paling inti adalah Nitrogen yang merupakan unsur pembentuk protein. Protein itu bisa dibilang agak inti, dan Nitrogen adalah inti. “Nah, pada prinsipnya meragi itu adalah menghancurkan karbohidrat untuk meningkatkan kandungan Nitrogen Jadi, bisa dibilang meragi adalah menginti.”, Ayip menambahkan penjelasannya sedikit demi sedikit.

Ayip menarik garis dan titik temu bahwa meragi adalah proses menginti. Meragi adalah proses menuju kepada sesuatu yang lebih inti. Dalam konsep meragi yang bersifat ilmiah maupun metaforik, pemaknaannya berada pada penghancuran segala sesuatu yang bersifat materiil seperti proses penghancuran karbohidrat proses peragian singkong. Korelasi lainya yang diangkat adalah proses meragi dan berpuasa yang sama-sama bersifat melembutkan.

Pemaparan mengenai puasa dan proses meng-inti masih berlanjut. “Dalam menahan lapar dengan tidak makan dan minum saat puasa, otomatis tubuh ini akan semacam dimakan pula oleh tubuh”, Ayip mengawali lagi paparan lainnya yang masih berupa abstraksi. “Tubuh dimakan oleh tubuh, dapat diibaratkan seperti itu dikarenakan ketika tidak ada asupan, bahan pembangun tubuh yang paling pertama kali dikikis adalah lemak, kemudian karbohidrat, lalu protein.”, sambungnya. Dari runutan tersebut dapat diketahui bahwa protein adalah cadangan terakhir atau bisa diibaratkan sebagai inti dari manusia setelah bahan-bahan lainnya terkikiskan. “Saat yang lain sudah tidak ada maka proteinlah cadangan terakhir yang merupakan inti dari manusia itu sendiri yang bisa bertahan di level terakhir dari manusia yang berpuasa.”

Ayip kemudian menutup pendapatnya dengan kembali menghubungkan proses peragian dan puisi Mbah Nun. “Agak saintifik memang penjelasan saya, tapi menurut saya makrifatnya dapet banget. Proses meng-inti dan melembut. Jadi, kalau secara metaforik meragi itu adalah membuat manusia menjadi melunak, melembut, dan meng-inti, maka puisi berjudul Ragi itu sangat cocok sekali dengan pemaknaan puasa itu sendiri.”

Maiyahan di tatar Pasundan malam itu dipungkasi pada pukul 12 malam. Bekal-bekal berupa lontaran pernyataan, pendapat, khasanah, teori, dan kisah-kisah yang bertaburan di majelis menurut Iman baik untuk disimpan dan dijadikan sebagai kunci-kunci perjalanan. “Sedikit mengutip Mbah Nun mengenai kuncian. Bahwa ada hal-hal yang di luar ekspektasi kita, tapi gunakanlah sebagai kunci. Ambil saja semua kuncinya untuk bekal di perjalanan. Jadi, ibaratnya semisal di tengah jalan kita menemukan motor, perjalanan kita dapat termudahkan dengan mengendarainya karena kita telah menemukan kunci-kunci untuk menjalankan kendaraan tersebut yang dapat membantu perjalanan kita.” Ditutup dengan shalawat indal qiyam, jama’ah saling melingkar untuk bersalaman satu sama lain.

JAJuni16 2 (1)

Jamparing Asih bulan Juli insya Allah akan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 30 Juli 2016 yang bertempat di RRI, Bandung. Diharapkan Jamparing Asih dapat menjadi lentera kecil yang dapat menerangi maupun menghangatkan bagi siapapun yang berada di inti dari lingkaran tersebut maupun yang berada di luarnya.Bulan Juli adalah maiyahan Jamparing Asih yang akan diadakan setelah proses berpuasa Ramadhan sebulan lamanya.

Puasa Ramadhan memang sudah usai. Lebaran pun sudah berlalu. Para pemudik kini sudah kembali lagi ke tempat-tempat perantauannya ke kota tempat mereka mengadu nasib. Semua itu adalah momentum-momentum yang telah kita tinggalkan beberapa hari ke belakang. Nah, jadi bagaimana dengan puasamu? Apa kabar 11 bulan lainnya? Mau dilanjutkan prosesnya? Atau menghentikan dan meninggalkannya bersamaan dengan momentum-momentum yang telah berlalu itu?

***