Category Archives: Kolom Penggiat

Cermin Mursyid dan Ilmu Kependekaran

19 Mar 17
ja
, ,
No Comments

Oleh Andityas Praba

Inspirasi untuk mencari kemungkinan pemaknaan per-guru-an Maiyah saya temukan dalam tulisan Cak Nun, Daur 12 April 2016, “Mursyid Peradaban dari Barat dan Utara”. Dari sudut pandang tertentu, tulisan saya ini bisa dianggap saja catatan seorang murid yang baru belajar menulis apresiasi sastra. Kalau salah ya ngapunten, Cak. Namanya juga sedang belajar.

Bagian-bagian yang paling menarik perhatian saya adalah dua paragraf ini: “Masing-masing kalian harus menaklukkan saya di dalam diri kalian. Haram hukumnya Markesot berkuasa atas pikiran kalian, mental kalian, hati dan sikap hidup kalian. Masing-masing dari kalian wajib berdaulat atas diri kalian sendiri.”

“Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian. Jangan sampai saya mendominasi kedalaman jiwa kalian.”

 

           Ilustrasi Pencak Silat

(Sumber : Sumber : http://www.katawarta.com/olah-raga/pencak-silat-akan-didaftarkan-ke-unesco)

Mursyid dan cermin punya hubungan yang erat. Dalam khazanah tarekat, mursyid sering diibaratkan sebagai cermin bagi salik/murid. Ini mengambil hikmah dari hadits Seorang Mukmin adalah cermin bagi Mukmin lainnya.” (HR Abû Dâwûd). Pandangan atau anggapan dalam pikiran seorang murid terhadap mursyidnya sesungguhnya adalah pantulan kondisi batin sang murid sendiri. Seorang mursyid sejati ibarat cermin bening. Setiap orang yang bertemu dengannya hanya menemukan pantulan kondisi batinnya sendiri pada diri sang mursyid. Orang yang berpikiran duniawi menemukan hasrat mendapat keuntungan. Orang yang haus kekuasaan menjumpai peluang-peluang politik. Hanya seorang pencari sejati yang melihat pantulan diri sejatinya pada diri sang mursyid. Sedangkan mursyid sejati, yang kamil, pun memantulkan nur yang pantul-memantul sepanjang sekian generasi hingga mencapai Rasulullah. Atau sederhananya, supaya tidak memakai bahasa yang terlalu melangit, pada sosok sang mursyid, seorang murid bisa menemukan bahan untuk refleksi diri. Murid juga bisa menemukan dalam diri mursyid sifat dan akhlak terpuji yang belum murid punyai, padahal sesungguhnya potensi itu terpendam dalam dirinya.

Maiyah bukan tarekat. Cak Nun sendiri dalam berbagai kesempatan menyatakan tidak punya keinginan membuat tarekat. Tapi mungkin kita bisa mengambil inspirasi dari tradisi tarekat itu? Kita bisa masing-masing membuat laku pribadi seperti yang diisyaratkan Cak Nun dalam samaran Markesot: Menjadikan saya hanya sebagai tambahan unsur, misalnya alat bercermin, di dalam diri kalian.

Kita semua tahu Cak Nun adalah sosok multi-segi seperti prisma, memantulkan sinar beragam, tergantung dari sisi mana kita memandang. Kemungkinan sosok yang kita tangkap sangat banyak, dari seniman-budayawan hingga kiai. Dari pantulan yang kita tangkap saat ini, kita bisa belajar tentang kedalaman isi batin kita sendiri. Dan akhirnya setelah menangkap pantulan demi pantulan, kita bisa mendekati kesejatian diri masing-masing. Proses ini mengingatkan saya pada sebuah puisi Cak Nun, Kau Pandang Aku:

Kau pandang aku penderma agung, kau jilati, padahal aku papa tiada.
Kau pandang aku boneka, kau sandangkan sutera, padahal aku jiwa.

Kau pandang aku ruh perutusan, kau ikut masuk hutan, padahal aku gila.

Kau pandang aku penuh kasih, kau damba kau damba, padahal aku cuma pinjam

Berikutnya yang menarik saya adalah “permintaan” Markesot alias Cak Nun: Masing-masing kalian harus menaklukkan saya di dalam diri kalian … agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian. Bagian ini malah mengingatkan saya pada dunia persilatan. Dalam per-guru-an silat, meguru adalah proses panjang murid untuk menaklukkan guru. Guru adalah lawan tanding (sparring partner) abadi si murid. Mula-mula, murid hanya melulu meniru. Tapi setelah dirasa cukup ilmunya, guru justru mendorong murid untuk mencari kasus silat sebanyak-banyaknya. Bahan-bahan itu kemudian diujicobakan ke guru, semacam studi kasus (dalam silat Sunda disebut kajadian). Dengan melihat cara guru memecahkan masalah (Sunda: ubaran), murid mendapat tambahan pelajaran.

Tapi, selain saling berusaha menaklukkan, sesungguhnya guru dan murid harus berusaha menaklukkan diri sendiri. Murid harus menaklukkan kebosanan dan rasa frustrasi menghadapi latihan yang berat dan belum dia pahami gunanya. Sedangkan guru, jika benar-benar ingin menurunkan ilmunya, harus menaklukkan egonya dan bersabar meladeni, ngemong murid yang kadang bebal atau bandel.

Karena ketahuilah, ada bermacam-macam jenis pendekar. Jenis pertama adalah pendekar, tapi bukan guru. Ilmunya sakti, tapi dia tak punya jiwa pengajar. Kesaktiannya dipek dhewe (hanya untuk dirinya sendiri). Dia bisa menaklukkan lawan-lawan, tapi dia tak bisa menaklukkan dirinya sendiri. Kalaupun dia punya murid, biasanya muridnya tak bisa berkembang potensinya, karena selalu tertekan oleh kehebatannya.

Jenis kedua adalah pendekar yang guru. Ilmunya sakti dan dia punya ketelatenan membimbing murid. Tapi sering pendekar macam ini juga belum bisa mengalahkan egonya sendiri. Dia posesif, muridnya hanya boleh menjadi penerus ilmunya.

Jenis ketiga adalah pendekar yang guru dan memahami hakikat ke-guru-an. Egonya pupus sudah. Satu-satunya harapannya adalah memaksimalkan potensi tiap murid. Banyak terjadi murid perkembangannya mandek. Karena, dalam proses panjang “menaklukkan guru”, sering terjadi semakin naik ilmu murid, semakin naik pula ilmu guru. Karena guru secara alamiah akan berusaha mengimbangi perkembangan kemampuan murid ketika mereka ber-sparring partner. Sehingga ilmu sang guru terus tersundul ke atas. Jadi memang biasanya sampai akhir hayat guru, murid tetap tak bisa mengejar kesaktiannya. Pendekar yang guru sejati pada titik itu paham bahwa si murid harus “disapih”. Selama murid hanya menetek ilmu pada satu guru, dia hanya menjadi pendekar dalam tempurung gurunya. Oleh karena itu, di berbagai aliran silat, ada tradisi guru mengirim murid yang sudah cukup matang ilmunya untuk “studi banding”, belajar ke pendekar-pendekar lain, biasanya saudara seperguruan atau sahabat sang guru. Dengan cara itu, diharap murid bisa melihat ilmu persilatan di luar tempurung ilmu gurunya dan potensinya yang masih terpendam muncul. Ini yang kemudian menyebabkan munculnya aliran-aliran silat baru, hasil dari penemuan murid-murid yang “berdaulat”, yang potensinya berkembang penuh.

Nah, setelah ngalor-ngidul, akhirnya kita kembali ke per-guru-an Maiyah. Dengan definisi Maiyah sebagai majelis ilmu, maka fungsi Maiyah (salah satunya) adalah semacam perguruan dengan Cak Nun berperan sebagai guru. Dengan menghayati “pantulan” Cak Nun sebagai guru, orang-orang Maiyah dapat melakukan refleksi diri. Selain itu, ketika Maiyah ibarat perguruan silat, “pantulan” Cak Nun dalam diri setiap orang Maiyah adalah “mitra tanding” untuk “ditaklukkan”. Dengan demikian, orang Maiyah bisa memenuhi permintaan Cak Nun: Maka kalian harus berdaulat atas diri kalian sendiri, agar siap juga mendaulati saya. Mengatasi saya di dalam diri kalian.

Dengan harapan beliau agar orang-orang Maiyah menemukan kedaulatan masing-masing, maka bagi saya Cak Nun adalah mursyid kamil mukammil. Mursyid yang menjadi cermin bening bagi murid. Dan ibarat pendekar, Cak Nun sudah mencapai ilmu kependekaran jenis ketiga, pendekar yang guru dan mampu membukakan jalan bagi munculnya pendekar-pendekar baru. Sekarang tinggal terpulang pada setiap orang Maiyah, apakah dia bisa menyerap pantulan cermin mursyid dan ilmu kependekaran Maiyah, sehingga dia menemukan diri sejatinya, kedaulatan penuhnya.

 

Bandung, 11 Mei 2016

 

Tahun Pertama Menjadi Kurir Cinta Maiyah

02 Nov 16
ja
, , , , ,
No Comments

Cinta, sepertinya akan atau bahkan mungkin sudah menjadi sesuatu yang langka saat ini. Bagaimana tidak, kita saat ini sudah jarang sekali bahkan nyaris tidak lagi memakainya dalam setiap gerak dan langkah kita di kehidupan ini. Dalam perencanaan suatu hal, pengambilan keputusan, bahkan dalam proses pencarian cinta pun kita sudah tidak mau lagi melibatkan cinta di dalamnya.

Aneh memang, kok ya bisa dalam proses pencarian cinta kita tak mau melibatkan cinta. Ya, lihat saja sekarang banyak sekali diantara kita saling berebut mencari jalan untuk ingin mendapatkan cinta-Nya tapi enggan melibatkan cinta dalam proses pencarian cinta-Nya yang sejati. Malah di tengah perjalanan pencarian cinta-Nya itu, kita tak segan saling sikut, saling pukul, bahkan ada yang tega membunuh sesama kita dengan dalih dirinya lah yang lebih berhak dan layak untuk mendapat balasan cinta dari-Nya.

Coba kalau kita bisa sedikit saja memakai cinta dalam perjalanan pencarian cinta, maka kita akan bisa saling bantu satu sama lain untuk bersama-sama menuju dan bersemayam di singgasana cinta-Nya yang sejati. Dan selama ini aku sendiri pun berada di sana, dalam kegaduhan para pencari cinta yang tak memiliki cinta.

Tapi saat ini, di sini, di Maiyah. Aku belajar banyak sekali hal tentang bagaimana seharusnya kita menikmati proses pencarian cinta dengan penuh cinta, seperti sedang berlayar diatas perahu cinta yang sedang menyusuri samudera cinta.

Satu tahun sudah aku berada diatas perahu cinta yang bernama ‘Jamparing Asih’, sebuah perahu kecil yang dipenuhi oleh panah-panah cinta, dimana di dalamnya aku hanya sang kurir pengantar cinta. Yang selalu siap sedia mengantar beribu ton cinta untuk dikirim kepada mereka yang sedang kehilangan atau dirampas cintanya.

Terima kasih Jamparing asih, yang telah sudi mengijinkan aku masuk dan bergabung untuk menjadi kurir cinta. Termakasih Maiyah, karena telah mengijinkan perahu kecil yang bernama Jamparing Asih ini untuk berlayar bersama perahu cinta yang lain, di lautan cinta ini. Jangan berhenti mengirimi kami cinta, agar kita bisa sampai bersama di samudera cinta-Nya.

Dari cinta, oleh cinta, untuk cinta-Nya.

Bandung, dini hari.

Edi Kandhani

Selamat satu tahun, Jamparing Asih…

Maiyah, Menuju Cahaya Di Atas Cahaya

25 Jul 16
ja
No Comments
oleh Inin Nasta’in
***
Entah berapa tahun ke belakang saya menonton film ‘Rayya, Cahaya di Atas Cahaya’ untuk pertama kalinya. Pun saya tidak tahu pasti sudah berapa kali duduk sila, selonjoran, baringan nonton film yang sudah mulai berpindah ke kamar indekos lewat laptopku itu. Paham? Nggak.. Sampai sekarang yang saya tangkap hanya beberapa petikan dialognya. Selebihnya? Saya hanya sok-sok an khusyuk melototin video, sambil berharap bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam film itu. Atau setidaknya dapat pembenaran atas beberapa kali saya nonton film itu.
 .
Apa yang saya alami dengan film itu, diam-diam membawa saya ke putaran waktu ke belakang, ketika pertama kali riungan dengan teman-teman Jamparing Asih (JA). Dalam pertemuan pertama di aula RRI, semua yang hadir diminta untuk menyampaikan apapun itu seputar maiyah dan Mbah Nun. Tidak terkecuali, Ustad Bambang, yang saat itu menyempatkan diri hadir bersama kami.
 .
jamparing.
Salah seorang hadirin menyampaikan pengalamannya bergelut dengan maiyah. Meskipun tidak rutin datang setiap bulan, tapi si temen ini cukup sering hadir di Majelisan Kenduri Cinta (KC), Jakarta. Dari kehadirannya yang lumayan sering, dia menyampaikan bahwa dia tidak lekas paham apa yang dibahas Mbah Nun di Majelisan KC itu. Tapi diam-diam, si temen itu merasa ada perasaan senang, perasaan yang bener-bener baru dirasakan setiap kali pulang dari sana. Ketidakpahamannya dengan apa yang disampaikan, tidak lantas membuat dia pundung. Tapi justru membuat dia ketagihan untuk datang, datang dan datang lagi.
.
Saya diem-diem terusik dengan pengakuan dari si temen itu. Karena memang itu juga yang saya rasakan selama ini. Tidak hanya ketika nonton Rayya, cahaya di Atas Cahaya saja. Ketika saya membuka youtube Mbah Nun, saya ikut tertawa, ikut seolah-olah terlihat berpikir keras mencerna apa yang disampaikan. Tapi lagi-lagi tolong jangan tanya apa dan bagaimananya. Karena saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya dengan seketika.
.
Seiring berjalannya waktu, ketika JA terus berjalan, dan mulai rutin membagikan tulisan-tulisan Mbah Nun, khususnya ketika turun hujan Daur, sedikit demi sedikit saya mulai paham dan merasa ada ketidakminderan dengan apa yang saya alami. Dari sekian jarang Daur Mbah, tulisan tentang Mbah  yang saya baca, saya menemukan tulisan tentang pelok dan mangga. Lewat tulisan itu, saya sok-sok an untuk menafsirkannya.
 .
maiyahan
.
Ketika banyak kalangan yang gemar memberi mangga, tapi Mbah Nun tidak. Beliau ingin, anak cucunya ketika pada satu kesimpulan, itu hasil dari proses pencariannya sendiri. Mbah Nun sekan-akan ingin anak cucunya mendapatkan cahaya yang tidak temaram, apalagi redup. Mbah Nun ingin anak cucunya mendapatkan cahaya yang benar-benar benderang. Dan itu bisa didapatkan, ketika anak cucunya memulai dari pelok, sebelum akhirnya menikmati Mangga Gendong Gincu Majalengka. Mbah Nun tidak mau anak cucunya menjadi generasi orang yang setengah, tidak utuh. Mbah Nun sekan-akan mengingatkan bahwa ‘kamu itu tidak langsung menjadi mahasiswa, sarjana. Tapi juga kamu terlebih dahulu duduk di SD, SMP dan MTs, SMA dan MA, baru kemudian menjadi mahasiswa, dan sarjana,” Mbah Nun sekan-akan tiadak rela jika anak cucunya hanya tahu hasil, tanpa mau peduli dengan proses. Menjaid generasi yang sakaba-kaba tidak puguh.
 .
Dengan menginginkan anak cucunya berdaulat, Mbah Nun sengaja merusak pikiran anak cucunya. Mbah Nun merusak, tanpa harus membuat anak cucu minder, pundung dan sebagainya. Mbah Nun ngasih pelok kepada anak cucunya, sambil mengajak tertawa dan berjoget. Sehingga nantinya, cahaya yang melekat pada anak cucu, adalah cahaya yang benar-benar cahaya. Cahaya yang tidak hanya menerangi orang lain saja, melainkan cahaya yang akan menciptakan cahaya untuk yang lainnya. Bermaiyah, untuk menuju cahaya.. Cahaya yang bukan hasil mendompleng, bonceng dari cahaya lain…