Category Archives: Kolom Emha

ASALKAN ENGKAU TAK MARAH KEPADAKU

11 Aug , 2017,
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Di ruang tunggu bandara, ketika menunggu pesawat delay, saya duduk, menutupi wajah dengan tangan. Berusaha tidur, kalau nggak bisa ya pura-pura tidur, supaya saya merdeka. Kapan saja bisa ambil jarak dari kehidupan, itulah kemerdekaan.
Tapi tiba-tiba ada yang menggamit pundak saya. Spontan saya membuka wajah. Orang itu menyapa dengan wajah riang gembira.

“Ngantuk, Cak?”, ia bertanya.
“Iyae…”
“Sampai jam berapa semalam acaranya?”
“Jam 3. Salamannya sampai jam 4”
“Semalam saya juga datang lho Cak, tapi cuma sampai jam 1. Khawatir kondisi anak saya, karena masih bayi”

“Lho kok ngajak bayi segala. Kan udara malam tidak baik”
“Ah, ya tapi kan ketutupan sama berkahnya persaudaraan di acara Njenengan”
“Amin”, jawab saya, “tapi posisi saya hanya bisa mendoakan lho. Mudah-mudahan logika dan harapan Anda itu dikabulkan. Sebab Allah mampu apa saja”
“Ini sekarang mau acara di mana lagi?”
Saya menyebut nama sebuah kota. Per malam sampai tiga hari ke depan.
“Cak, Njenengan kok kuat tho mobat-mabit terus. Apalagi maiyahan selalu sampai hampir pagi. Risiko dakwah ya Cak…”

“Ah, ndak. Saya tidak berdakwah. Saya cuma pas bisa memenuhi permintaan. Kalau dakwah itu kan tugas Da’i”
“Lha Njenengan kan Da’i”
“Semua orang juga Da’i”
“O gitu ya Cak”
“Angin juga Da’i. Hewan-hewan juga Da’i. Siapa dan apa saja yang berlaku sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, itu Da’i”

“Kok tahu sesuatu itu dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh Tuhan?”
“Berbuat baik, mempersaudarai setiap orang, memanusiakan orang, tidak menyakiti, tidak mencuri, tidak membunuh, selalu berbagi, berusaha bijaksana secara sosial – itu semua mestinya ya dikehendaki bahkan disukai oleh Tuhan”
“Mestinya atau pasti?”
“Kalau mau pasti, kapan-kapan kita sowan ke rumah Tuhan, nanya langsung. Kalau perlu kita rekam. Kita videokan sebagai bukti. Boleh juga diviralkan”
Orang itu tertawa.
“Tapi semua orang bilang Njenengan ini ya Da’i. Muballigh. Ustadz. Kiai. Bahkan ada yang menyebut Ulama ke Njenengan”
“Mereka bermaksud baik. Cuma belum tentu tepat. Saya ini temanmu, mungkin Bapak atau Mbahmu”
“Waduh. Nanti ada yang bilang lebai lho Cak”, celetuknya.

Akhirnya saya berpikir: sekalian sajalah. Toh sudah gagal tidur: “Dakwah itu memanggil, menghimbau, menganjurkan, menyarankan, merekomendasikan, dan itu dilakukan oleh hampir setiap orang di berbagai urusan. Kalau Muballigh yang bertabligh, itu menyampaikan. Lha Lembu melenguh saja menyampaikan keindahan Allah lewat makhluk-Nya. Kalau Ustadz itu panggilan Mister, atau Pak. Pak Karjo Bengkel. Pak Dirun Tongseng. Pak Kasdu Pijet. Kalau Kiai itu penghormatan budaya dan peradaban Jawa kepada orang atau benda. Ada Kiai Slawé di Jombang. Ada juga keris Kiai Sangkelat, pohon Kiai Keningar, gamelan Kiai Kanjeng, kerbau bulé Kiai Slamet di Solo”

Orang itu tertawa kecil. “Njenengan ini terlalu universal, Cak. Kurang akademis”.

Owalah. Ya sudahlah. “Makanya salah tuduhan bahwa saya ini Ulama. Ulama beda dengan Intelektual, Cendekiawan, atau Ilmuwan, meskipun arti harafiahnya sama. Kalau Ilmuwan itu orang yang memiliki penguasaan pengetahuan dan ilmu atas suatu hal. Kalau Ulama itu orang yang ekspertasinya atas suatu bidang ilmu membuatnya takjub kepada ciptaan Tuhan, sehingga merasa takdhim dan takut kepada-Nya. Kalau Ilmuwan, Intelektual dan Cendekiawan, tidak harus takut kepada Tuhan. Tidak harus bertaqwa untuk disebut Intelektual. Lha saya ini, Intelektual bukan, Ulama apalagi”

“Lho ternyata Njenengan lumayan akademis juga”, orang itu tertawa,
“Ditambah Njenengan ini kalau menjelaskan sesuatu bisa sederhana dan gamblang. Makanya masyarakat terus mengundang Njenengan untuk Amar Makruf…”

Aduh saya jadinya terseret untuk membantah terus. “Lho, Amar Makruf itu tugasnya Pemerintah atau Umara. Saya bukan Carik, Kepetengan atau Kamituwo. Saya tidak berposisi Amar Makruf. Bahkan para Kiai, Ustadz, Da’i, Muballigh dan Ulama pun tidak tidak pada tempatnya untuk melakukan Amar Makruf”

“Kok gitu Cak?”, agak serius wajahnya.

“Amar itu bisa berarti urusan, bisa perintah. Amir itu Pemerintah. Amirul Mu`minin itu pemegang pemerintahan atas Kaum Muslimin. Itu butuh legalitas jabatan dan otoritas resmi. Makruf itu berposisi maf’ul: sesuatu yang sudah diolah menjadi paket padat. Dari kata ‘Irfan, semacam pengetahuan tentang kebijaksanaan. Makruf adalah nilai-nilai kebaikan yang sudah di-arif-i. sudah dimusyawarahkan dengan matang, disimulasikan dan dihitung manfaat mudaratnya. Sehingga ia menjadi pasal, formula yang jelas tentang sesuatu hal. Kalau dalam dunia modern namanya hukum positif, pasal-pasal hukum. Maka Kiai dan Ulama tidak di situ tempatnya. Mereka tidak memegang otoritas untuk memerintahkan, melarang dan menerapkan hukum positif”

“Lha kok selama ini dibilang tugas Ulama adalah Amar Makruf Nahi Munkar?”
“Kalau pendapat saya tugas Ulama itu Dakwah Khoir. Khoir itu kebaikan yang masih cair, bersifat universal, benih, serbuk, energi, glepung. Kebenaran dan kebaikan yang masih umum, hanya bisa disampaikan, dianjurkan atau direkomendasikan. Itulah posisi tugas Ulama, Kiai, Ustadz. Beliau-beliau ini tidak memerintahkan atau melarang, melainkan menyampaikan dan merekomendasikan. Jadi, dakwah khoir. Kalau Pemerintah, jangan menghimbau, tetapi memerintahkan, melarang, menindak tegas”

“Kalau Nahi Munkar?”
“Itu tugas bersama. Setiap manusia harus menghindarkan dirinya dan orang lain untuk tidak melakukan destruksi, penggerogotan nilai kebenaran dan kebaikan, penghancuran kemanusiaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan”

“Jadi Njenengan keliling-keliling ini melakukan Dakwah Khoir Nahi Munkar?”

“Nggak juga. Niat saya cuma jangan sampai dimarahi oleh Tuhan. In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali. Itu ucapan Kanjeng Nabi favorit saya. Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku – maka kuterima apa saja nasibku di dunia: bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, ada atau tiada. La ubali, gak pathèken. Pak Harto yang serem 32 tahun saja percaya saya omongi untuk bersikap di koordinat nothing to loose itu”. *

Reference :
https://www.caknun.com/2017/asalkan-engkau-tak-marah-kepadaku/

LIMA TANTANGAN PERUBAHAN

10 Aug , 2017,
ja
No Comments

Oleh: Emha Ainun Nadjib

 

Meskipun Nabi atau Rasul, tidak terhindar dari sekurang-kurangnya lima tantangan, ujian atau halangan, ketika mensosialisasikan perubahan kepada masyarakatnya. Misalnya Nabi Nuh, Ruhullah – bahkan  ia ruh-nya Allah sendiri – tak kurang dari 950 tahun menyebarkan wacana kebenaran, susahnya bukan main, dan hasilnya jauh dari memadai.

Nuh menginformasikan rasio sangkan-paran, bahwa bumi dengan segala kesuburan dan kekayaannya, bahwa langit dengan tak terbatas matahari dan planet satelitnya, adalah milik Tuhan. Sebab Tuhan yang bikin. Maka Dia pemilik saham primer. Maka pula Dia yang berhak menentukan segala aturan, konstitusi, regulasi, kewajiban dan hak. Manusia bukan pemilik bumi, bahkan tidak memiliki dirinya sendiri. Maka manusia bukan pejabat utama pengelolaan bumi, kecuali pada batas ia dimandati oleh Maha Pemiliknya.

Dari rasio dasar kepemilikan itu, baru dilakukan penerjemahan logis secara sosial pada tata nilai kehidupan manusia. Lahirlah logika ibadah. Urgensi rahmatan lil’alamin. Relevansi akhlakul karimah. Prinsip berbagi dan bertoleransi. Pendidikan sabar dan syukur. Metode puasa atau efisiensi. Keperluan ekspertasi agar shirathal-mustaqim atau efektivitasnya ketemu. Manusia berposisi buruh. Karyawan. Agen. Kepala Bagian. Manajer suatu bagian dari urusan. Mungkin Sales. Pengepul. Pengecer.

Sampaipun pekerja kaki lima. Tetapi seluruh yang dikelola, diperniagakan dan didistribusi – mau tidak mau harus berdasarkan policy Sang Maha Owner, Komisaris Utama, yang bahkan dalam banyak hal Ia juga Direktur Utama Kehidupan, meskipun Tuhan mengangkat sejumlah Staf Khusus di lingkaran dalam manajemen-Nya sendiri, yang dipimpin oleh Jabroil. Atau Jabarala. Sampai Makahala, Hasarapala, Hajarala, para Muqorrobin, petugas khusus Zabaniyah, Ridwan, Malik, Salim, Sykahlatus-Syams dll.

Tahap sosialisasi nilai oleh Nabi Nuh itu baru tahap sangat awal: mengajak masyarakat memahami, menyadari dan mengakui bahwa bukan manusia yang berkuasa, melainkan Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran itu pun cukup berlaku di pikiran dan pengakuan di hati. Belum sampai aplikasi melalui langkah kaki dan gerak tangan. Baru persaksian dan kesaksian. Belum sampai aplikasi dan manifestasi.

Syahadah saja sudah lumayan. Dan Nabi Nuh hanya mendapatkan beberapa puluh orang selama 950 tahun. Tidak perlu sampai ke eksekusi sosial, politik dan kebudayaan. Belum sampai ke sosialisme dan kapitalisme. Fundamentalisme dan pragmatisme. Liberalisme dan radikalisme. Kerajaan dan Kesultanan. Persemakmuran dan Republik. Jangankan lagi Huntingtonisme, Balkanisasi, Arab Spring, Kenduri Nusantara, reklamasi dan Meikarta – yang unit-unit apartemennya sudah ditawarkan secara resmi di tempat-tempat resmi. Nabi Nuh belum sampai harus berpikir otonomi daerah dan Pilkada serentak. Sekadar satu kalimat pendek yang keluar dari bibir manusia.

Tetapi pada posisi sangat dini-nilai itu pun seorang aktivis perempuan menuding, nge-share dan memviralkan “Innahu majnun”, “anduweni loro edan”. Nuh itu tokoh gila. Sakit jiwa. Untung Allah tidak mentakdirkan Prabu Jayabaya menjadi salah seorang stafnya Nabi Nuh. Andaikan demikian, pasti Jayabaya, dibantu Ranggawarsito, bikin counter meme: “Amenangi jaman edan. Sopo ora melu edan ora bakal keduman. Lha wong yang sudah ikut edan saja belum tentu keduman. Arep entuk dumduman sethithik wae konangan….”. Kita mengalami zaman edan. Siapa tidak gabung ikut edan tidak mendapat bagian. Lha yang sudah ikut edan saja belum tentu dapat bagian. Mau dapat bagian sedikit saja malah ketahuan.

Tantangan pertama yang menabrak Nabi Nuh adalah area wacana, adu kekuatan untuk benar, kecanggihan talbis dan keahlian manipulasi. Tantangan kedua adalah budaya kapitalisasi dan atmosfer kapitalisme pada alam berpikir dan mentalitas manusia. Khawid, putra Nuh, yang ditugasi memimpin pembuatan kapal, minta upah kepada Bapaknya sendiri. Khawid mengajukan proposal anggaran biaya. Nabi Nuh tidak mengabulkan, apalagi klausul bahwa Khawid yang menentukan tenaga ahli maupun buruh-buruhnya.

Khawid marah karena hanya dikasih “tiga apem”. Semacam jajan Poffertjes Belanda. Tapi Bapaknya menyuruhnya memakan apem itu dengan terlebih dulu membaca “Bismillahi majreha”. Ketika Khawid memakan satu apem itu, ternyata tak habis-habis sampai ia kekenyangan. Itu suatu fenomena sangkan-paran yang Khawid mengalami tapi tidak memahami. Memang ranah Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, meskipun mengandung bagian dari maintenance yang harus berurusan jual beli – tetapi harus ada kewaspadaan dan kearifan untuk jangan sampai mengkapitalisasikan empat wilayah itu sehingga kehilangan substansi nilainya. Jangan sampai Agama, Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan, dikelola dengan tujuan sebagaimana perusahaan ekonomi materi.

Tantangan ketiga yang dihadapi oleh Nabi Nuh adalah bergabungnya Iblis menumpang ke kapal beliau. Sang Idajil alias Azazil yang oleh Allah dimutasi menjadi Iblis ini berpegangan pada ekor hewan yang bernama Balkadaba, dan ikut bergabung dengan seribu hewan di kapal Nuh. Tatkala nanti banjir menggelombang raksasa dan menenggelamkan wilayah-wilayah di permukaan bumi, dan kapal Nuh berangkat berlayar mengikuti “perintah” alamiah ke mana ombak menyeretnya – Iblis tiba-tiba nongol ke depan Nabi Nuh yang sedang bersandar di sebuah tiang dengan napas terengah-engah. Nabi Nuh tentu saja terperanjat, dan spontan berkata: “Ngapain kamu ke sini!”

Iblis menyungging senyum yang amat menyakitkan hati Nabi Nuh. “Katanya kalau mau selamat disuruh naik kapalmu”, jawab Iblis.
“Kamu sudah tidak punya kemungkinan untuk selamat”.
Iblis tertawa. “Sudahlah. Itu urusanku dengan Allah”, katanya, “Saya menemuimu cuma mau memastikan: berapa jumlah pengikutmu di kapal ini?”
“Delapan puluh”, jawab Nabi Nuh.
“Selamat ya”, Iblis tertawa lebih menyakitkan lagi, “jadi yang mati tenggelam dalam banjir kira-kira berapa?”
“Sekian ratus ribu”, Nabi Nuh menjawab ogah-ogahan.
Iblis mengucapkan kalimat terakhir kemudian pergi meninggalkan Nuh: “Jadi jauh lebih banyak pengikutku ya dibanding pengikutmu….”

Hanya delapan puluh orang ikut naik kapal Nuh. Hanya 80 orang, sesudah berdakwah hampir semilenium. Jutaan lainnya tidak percaya, tidak menemukan gejala-gejala akan datangnya banjir bah yang menenggelamkan hampir dua pertiga permukaan bumi. Tidak ada peringatan ilmiah untuk itu. Tidak ada pengumuman untuk waspada atau siaga bencana. Apalagi Mbah Rono belum lahir waktu itu, dan Badan Meteorologi Klimatogi dan Geofisika belum didirikan.

Tetapi andaikanpun ada yang percaya akan ada banjir besar, belum tentu nanti di dalam kapal mereka memberikan persaksian atas nilai yang disosialisasikan oleh Nabi Nuh. Andaikan peristiwa banjir Nuh terjadi sekarang, kapal akan penuh penumpang. Bukan karena percaya kepada Nuh, bukan karena beriman, melainkan demi keselamatan pragmatis. Siapa yang kira-kira menang, didukung. Siapapun saja yang berkuasa, baik Nuh ataupun Iblis, banyak orang bergabung. Kemudian bersama-sama mereka merajut dan menerapkan kebenaran versi mereka sendiri, untuk dijadikan kebenaran tunggal nasional.

Tuhan memerintahkan Jibril untuk membantu Nabi Nuh mengumpulkan pasangan binatang-binatang minimal berjumlah seribu. Di samping itu, dihimpun juga benih-benih segala tanaman yang mungkin dicover. Nuh didorong untuk berpikir futurologis. Ini tantangan keempat di hadapan perjuangan perubahan. Bisakah Anda bayangkan tingkat kerepotan teknis dan ketidakmudahan teknologis untuk memuat seribu macam binatang? Yang harus dipisahkan antara jantan dengan betina? Dari serangga-serangga kecil hingga babi, kerbau, harimau dan gajah? Bagaimana memberi makan minum mereka di kapal dari hari ke hari? Dari mana bahannya? Tak jelas pula sampai kapan kapal terapung-apung di atas banjir?

Sampai-sampai karena kelelahan dan hampir putus asa, orang bikin humor: kenapa sapi berjalan dengan menggeleng-gelengkan kepalanya? Karena di kapal Nuh tak boleh ada penambahan penumpang. Maka semua alat kelamin dicopot dan dikumpulkan di sebuah ruangan. Setelah banjir reda dan kapal mendarat, baru kelamin hewan-hewan itu dibagi dan dipasang kembali. Tetapi karena manusia saja belum tentu punya budaya antre, bisa dimaklumi kalau binatang berebut berdesakan mengambil kelaminnya masing-masing.

Kuda yang paling cepat larinya, sampai duluan ke gudang kelamin. Tanpa pikir panjang ia mengambil yang paling besar, daripada menunggu urutan administratif. Dengan kelamin yang dahsyat, kuda melesat lari dari gudang, lompat keluar kapal dan turun ke daratan. Sapi menyaksikan betapa cepat larinya kuda, serta betapa besar panjang kelaminnya – sehingga ia geleng-geleng kepala tak henti-henti sampai hari ini.

Adapun tantangan kelima, para pejuang perubahan perlu memastikan perilakunya agar mereka dicintai oleh Tuhan dan di-support serta difasilitasi perjuangan mereka. Sebab Tuhan bikin banjir tidak terutama karena kaum Nuh durhaka dan ingkar pada eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Sebab Tuhan tidak laba kalau kita beriman, dan Tuhan tidak defisit sepeser pun kalau kita kafir. Tuhan menyelenggarakan banjir bah dahsyat itu kemungkinan besar karena Nuh Ruhullah, kekasih-Nya, disakiti oleh manusia dan masyarakat.

Mohon Sampeyan semua tidak usah percaya-percaya amat pada apa yang saya tulis. Juga jangan mendalam-mendalam amat memasukkan ke hati. Di samping saya memang belum tentu bisa dipercaya, juga karena Sampeyan semua sedang hidup di zaman di mana para stakeholders sejarah yang sedang dilangsungkan ini, sangat menikmati keadaan yang sedang berlangsung, sehingga jangan bermimpi beliau-beliau menginginkan perubahan. *

UMMAT ISLAM INDONESIA DIJADIKAN GELANDANGAN DI NEGERINYA SENDIRI

8 Nov , 2016,
ja
No Comments

Muhammad Ainun Nadjib

Andaikan kalah di satu pertempuran (battle), tidak mengagetkan bagi pasukan yang bersiap menjalani peperangan (war) yang panjang. Rakaat pertama yang umpamanya kurang utuh, pasti mendorong rakaat-rakaat berikutnya akan menjadi lebih utuh dan khusyu. Ummat Islam Indonesia tidak memuncakkan perjuangannya pada 4 November 2016, sebab mereka menata nafas untuk Jurus Rakaat Panjang dalam sejarahnya yang penuh tantangan, ancaman dan penderitaan.

Selama ini saya diberi gambaran bahwa sesudah pemecah-belahan Uni Sovyet, Balkanisasi dan Arab Spring, sekarang ada formasi baru persekongkolan internasional yang bekerja keras dan sangat strategis untuk menghancurkan Islam dan Indonesia. Kemudian agak lebih mengarah: merampok kekayaan Negara Indonesia, dengan cara memecah belah Bangsa Indonesia dan utamanya Ummat Islam. Sekarang tampaknya semakin terlihat penggambaran baru yang lebih spesifik dan akurat.

Yakni bahwa NKRI bukan akan dihancurkan, melainkan dimakmurkan, tetapi bukan untuk rakyat Indonesia. Kedaulatan politik, bangunan konstitusi, pasal-pasal hukum, tanah dan modal, alat-alat produksi, serta berbagai perangkat kehidupan dan penghidupan – tidak lagi berada di tangan kedaulatan Bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia tetap dikasih makan dan bisa ikut kecipratan sedikit kemakmuran, asalkan rela menjadi pembantu rumahtangga, karyawan, kuli, khadam dan jongos yang setia dan patuh kepada Penguasa baru NKRI, yang merupakan kongsi dari Dua Adidaya dunia. Syuraqoh, alias keserakahan, diteknokrasi sedemikian rupa.

Sukar saya hindari penglihatan bahwa yang paling sengsara di antara bangsa dan rakyat Indonesia adalah Ummat Islam, karena mereka didera dua penjajahan. Di samping ada paket penguasaan atas NKRI, terdapat juga disain untuk mendevaliditasi Islam di kalangan pemeluknya. Ini berposisi sebagai cara atau strategi penguasaan NKRI, maupun sebagai tujuan itu sendiri untuk memaksimalkan deIslamisasi kehidupan bangsa Indonesia. NKRI tidak boleh menjadi Negara Islam, artinya boleh menjadi Negara Agama selain Islam.

Hampir selama 40 tahun, intensif 20-an tahun belakangan, saya keliling jumpa rakyat rata-rata 10.000 orang perminggu, untuk ikut memelihara keIndonesia, keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan antar golongan apapun yang dinding-dindingnya mungkin etnik, agama, parpol, madzhab, aliran, muara-muara kepentingan, segmen-segmen dan level. Agenda saya adalah membesarkan hati mereka, merabuki optimisme penghidupan dan keyakinan akan masa depan mereka. Kalau orang bilang pluralisme, mereka saya himpun dan ayomi sebagai semacam keindahan orkestrasi. Kalau disebut toleransi, saya carikan formula, aransemen, modulasi sosial untuk puzzling dan saling paham atas batas-batas di tengah kemerdekaan.

Kalau ada kelompok terlibat bentrok dengan lainnya, saya disuruh menambal dan menyatukan kembali. Kalau ada yang diserbu, saya ditugasi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk melindungi dan menampung. Saya minta kepada Tuhan agar dianugerahi ilmu untuk menemani rakyat, agar berada dalam keseimbangan hubungan, meracik skala prioritas dan tata-etika untuk disepakati, dengan menomersatukan keutuhan kemanusiaan dan kebangsaan. Saya ditarik untuk menemani mereka mencari solusi-solusi dalam rembug pengetahuan atau diskusi ilmu dan kasih sayang, minimal 5 jam, bahkan sering berlangsung hingga dihentikan oleh Subuh.

Akan tetapi saya dan kami semua diam-diam ditikam dari belakang. Kami dimunafiki: bilangnya satu dalam perbedaan, tapi diam-diam di belakang punggung menciptakan pecahan-pecahan, menanam perilaku yang menimbulkan amarah, kebencian, permusuhan dan dendam. Saya mengajak kaum Muslimin untuk “la ikroha fiddin” dan memahami metoda-metoda tasammuh atau toleransi, untuk secara rasional menata keIndonesiaan. Tetapi diam-diam Kaum Muslimin digerogoti dari belakang: pergerakan-pergerakan sangat taktis dan strategis dari upaya-upaya deIslamisasi penduduk kampung-kampung, deIslamisasi Kraton, hingga deIslamisasi Pemerintahan Nasional, dengan plan dan timeline yang seksama, sangat kentara, bahkan terang-terangan dengan arogansi dan keculasan.

Bahkan Kaum Muslimin dicuci otaknya secara nasional untuk mempercayai bahwa demokrasi tetap gagal selama pemimpin nasionalnya berasal dari mayoritas. Demokrasi tercapai sempurna kalau pucuk pimpinannya adalah tokoh minoritas. Kalau mayoritas berkuasa itu artinya diktator mayoritas dan intoleransi. Kalau minoritas berkuasa itu maknanya demokrasi dan keadilan. Kalau orang Islam dibunuh, itu perjuangan melawan radikalisme dan fasisme. Kehancuran Islam adalah tegaknya keadilan dunia dan berkibarnya demokrasi. Penguasaan atas Kaum Muslimin dilakukan atas dasar subyektivitisme Ras dan Agama para pelakunya, kalau Kaum Muslimin menolaknya dituduh rasis dan pelaku SARA. Ummat Islam dipaksa untuk menerima kehendak kekuasaan, dan kalau menolak mereka disebut memaksakan kehendak. Ummat Islam diinjak, kalau bereaksi dituduh tidak toleran, anarkis dan radikal.

Sebenarnya selama puluhan tahun terakhir, proses pengikisan hak milik, penjebolan kedaulatan dan penguasaan harta benda Ibu Pertiwi, juga pencurangan cara berpikir tentang mayoritas-minoritas seperti itu sudah berlangsung. Tetapi kemudian, sukar saya elakkan pandangan, bahwa melalui rekayasa penyelenggaraan kepengurusan yang baru atas institusi Negara, dengan tiga tajaman di ujung Trisula politiknya, serta pendayagunaan seluruh perangkat lembaga pengelolaan itu, termasuk kerjasama proaktif dengan media-media informasi tertentu, pun jangan lupa sebagian tokoh dan institusi atau organisasi Islam tertentu yang dipekerjakan: hal itu dipacu maksimal dan total. Sampai Tanah Air Ibu Pertiwi Indonesia bukan lagi milik pribumi asli Indonesia. Dari kursi nomer satu di puncak kuasa hingga sejengkal tanah di pelosok desa, akan berangsur-angsur menjadi bukan lagi milik rakyat Indonesia.

Logika normalnya, siapa menolak kenyataan itu, akan hanya tersisa tempat untuk menjadi gelandangan di kampung sendiri. Dan kalau memberontak, akan dibunuh dengan berbagai jenis dan kadar pembunuhan. Kalau pemberontakannya sangat merepotkan, maka harus dimusnahkan. Rakyat Indonesia dikelabuhi secara intelektual, dininabobo secara mental, ditipudaya secara politik dan hukum, ditelikung secara ideologi, dikanak-kanakkan melalui tayangan-tayangan, disesatkan pengetahuannya, dikebiri keksatriaannya, serta ditidak-seimbangkan cara pandang kehidupannya.

Para ilmuwan, aktivis atau para tradisionalis penghitung sejarah dipersilahkan menjelaskan bebendu sejarah yang sedang deras dilangsungkan itu melalui tema Perang Asia Pasifik, Perang Asimetris, Ku Bilai Khan seri-II, Manifestasi Dajjal yang “mensorgakan neraka dan menerakakan sorga”, kulit dan mata Ya’juj Ma’juj, “wong jowo gari separo cino londo gari sakjodho”, tafsir baru 500 tahun Sabdopalon Noyogenggong, atau apapun. Yang pasti rakyat asli Nusantara Indonesia sedang dikurung oleh perampokan dan penjajahan besar-besaran, di mana mereka belum 10% menyadarinya.

Kalau para pejuang kebenaran 411 tidak memperoleh goal yang dimaksudkannya pada ‘pertempuran awal’, tidak boleh kaget dan malah perlu introspeksi total. Misalnya, karena medan perang dan sasaran tembaknya dipersempit menjadi hanya Al-Maidah 51, yang di dalam ketersediaan pasal pidana tidak sukar untuk di-syubhat-kan. Tidak ada tonjokan tentang kasus-kasus korupsi, reklamasi, atau penyiapan Jakarta untuk pilot project disain penjajahan nasional. Lebih 90% kejahatan manusia tidak selalu bisa dijangkau oleh hukum: ketidak-berbudayaan dalam memimpin, ‘hawa’ negatif eksistensinya, kejinya ucapan, brutalnya tindakan, aura dan nuansa kebenciannya kepada Islam, dst.

Pejuang 411 terfokus pada setitik hilir dan belum menemukan determinasi terhadap hulunya yang dahsyat. Sebab harus berjaga-jaga siapa tahu mereka semua adalah bagian dari suatu formasi kekuatan yang justru bertugas menjaga jangan sampai sasaran itu kena tembak.

Ummat Islam perlu melakukan ke dalam dirinya sendiri (Islam dan Kaum Muslimin) muhasabah komprehensif. Kaum Muslimin tidak bisa menunda waktu lagi untuk lebih mengislamkan dirinya, sebab itulah modal paling kuat untuk mempertahankan Indonesia. Kaum Muslimin di setiap titik harus menyelenggarakan tahqiqi keIslaman sampai ke anak-anak dan cucu-cucu mereka. Menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam. Setiap lingkaran Muslimin memastikan perkumpulan yang berlatih bersama untuk tidak ditimpa kemalasan berpikir, berpuasa dari egosentrisme kelompok, melawan tradisi amarah, atau memasrahkan persoalan-persoalan kepada para pemimpin, padahal pada saat yang sama sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya kepada pemimpin.

Ummat Islam tidak perlu melemahkan dirinya terus menerus dengan khilafiyah dan ikhtilafiyah, apalagi dengan tema-tema furuíyah. Aliran-aliran (produk tafsir) keIslaman tidak bisa mengelak lagi untuk mulai duduk bersama, ber-majlis-fatwa bersama, memandu ummat mereka berhimpun dan bersatu di dalam kebijakan sejarah “wa amruhum syuro bainahum”. Mengkonsisteni keseimbangan berpikir, keadilan sikap, cerdas kapan hitam-putih kapan warna-warni, serta memastikan bahwa Ummat Islam tidak dipersatukan oleh kebencian bersama kepada pihak yang memusuhi mereka.

Melainkan berukhuwah sejati karena iman kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi dan penjunjungan kepada AlQur`an yang Allah Sendiripun maha bekerja untuk menjaganya.

Termasuk tidak membiarkan kebiasaan mudah kagum, gampang terhanyut, mentakhayulkan idola, Satrio Piningit. Syukur akhirnya Allah menghidayahi Ummat Islam untuk memiliki keridlaan sebagai “ummatan wahidah”, ummat yang satu dan selalu menyatu. Dengan kepemimpinan yang juga satu, yang Allah sendiri Maha Pengangkat dan Pelantiknya. Mohon mafhum ini bukan gagasan tentang Imamah.

Salah satu modal Kaum Muslimin adalah mereka yang memusuhinya beranggapan dan meyakini, bahwa berdasarkan teori peperangan: Kaum Muslimin Indonesia kalah hampir di semua segi. Modalnya, pengorganisasiannya, kohesi keummatannya, mesiunya, penguasaan medan dan cuacanya, soliditas pasukan-pasukannya yang jahr maupun yang sirr. Mereka juga menyangka bahwa hizbullah 4Nov adalah gambaran maksimal kekuatan Kaum Muslimin.

Ada sejumlah dimensi, kekuatan, aura, energi, probabilitas “min haitsu la yahtasib”, immanensi “inna nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahu lahafidhun”, rahasia “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul makirin” dst dst yang semua penguasa di dunia sejak zaman Nabi Nuh hingga Abrahah serta para adikuasa abad-abad mutakhir, tidak pernah serius memperhitungkannya. Apalagi untuk konteks Nusantara Penggalan Sorga dengan sejarah tanal liat dan Tapel, dengan Iblis Smarabhumi dan Izroil, yang dianggap klenik dan khoyal, sehingga akan membuat mereka salah sangka di ujung penjajahannya atas tanah berkah ini. Fa’álul-lima Yurid, Allah Maha Bekerja mewujudkan kehendakNya.

Saya sendiri, bersama saudara-saudara yang bersama saya, hanyalah manusia, sehingga lemah dan tak berdaya. Yang Maha Kuat dan Maha Berdaya adalah Allah swt. Dan dengan segala ketidakberdayaan itu saya sudah berkali-kali membisikkan ke telinga para syuraqoh penindas manusia dan penganiaya nilai-nilai hakiki Tuhan yang hari-hari ini sedang berbuat adigang-adigung-adiguna di Tanah Air Indonesia: “Tolong dipikir ulang, agar tidak menyesal kemudian”.

Ke mana-manapun berpuluh tahun saya menghimpun para pecinta Allah, berupaya menambah jumlah hamba-hamba agar dicintai Allah, “mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya”. Saya sedih oleh permusuhan, selalu menikmati persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan, dan saya tidak bahagia harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.

Yogyakarta 8 November 2016.

Olah Ruh dan Olah Rasa

13 Feb , 2016,
ja
No Comments

Setelah kemarin malam selesai beracara di kampung di pinggir kali Code Jagalan Yogyakarta, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di Bandung. Tepatnya di Ballroom Hotel Nexa jalan WR. Supratman Bandung untuk memenuhi undangan Telkom Property yang tengah mengadakan Rapim I 2016. Sudah dua kali Telkom Property mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng, dan malam ini Cak Nun diminta memberikan pemaparan mengenai olah ruh dan olah rasa.

Read More…