Mukadimah

METAMORHUMANIKA

Dalam dialektika kesejarahan hidup manusia, sejak zaman Adam hingga kini (seiring berkembangnya inovasi-inovasi), manusia mengalami berbagai macam evolusi. Baik tentang pengetahuannya, cara pemenuhan hidup, pemenuhan rasa aman, romantisme, dan percintaan. Bagi manusia hari ini, tekhnologi yang semakin berkembang menjadi puncak dari kemegahan ilmu pengetahuan sehingga meletakkan sangkaan peran kehidupan kita semua berada pada koordinat, yang lain diantara kesemestaan hidup dirinya.

Pada sebuah kesempatan, Kyai Toto Rahardjo pernah menyampaikan bahwa “Ilmu pengetahuan boleh jadi seusia dengan peradaban manusia, sebab peradaban berkembang dan maju atas campur tangan ilmu pengetahuan, ia tidak lahir terus berhenti-berkembang dan tumbuh. Juga tidak berhenti melahirkan-selalu lahir yang baru, dan lebih baru lagi”. Pernyataan Kyai Tohar tersebut hampir selaras dengan apa yang pernah diucapkan oleh Hegel bahwa kenyataan merupakan bentuk lahiriah dari idea. Maka, antara pengetahuan dengan kenyataan tentang hidup yang direpresentasikan ke dalam bentuk peradaban manusia merupakan perwujudan dari pengetahuan itu sendiri yang terus berkembang dari masa ke masa.

Namun faktanya, manusia saat ini mengalami fenonema yang bisa disebut disrupsi di berbagai aspek. Yakni sesuatu yang tercabut dari akarnya tentang manusia itu sendiri; baik pengetahuan, ilmu, sains, budaya dan sejenisnya. Manusia mengalami krisis identitas dan personalitas, sehingga hal tersebut membuat kebanyakan manusia tidak mampu memahami hakikat dirinya sendiri. Mereka beranggapan bahwa kehidupan tak ubahnya keadaan yang bersifat statis. Pada saat yang sama, –tentu saja– hal di atas tidak serta merta ada begitu saja; manusia mengalami berbagai macam dialektika dan juga proses yang amat panjang, baik berupa pergulatan sejarah beserta distorsinya dan hal-hal lain, bahkan perang sekalipun yang menyebabkan begitu banyak pertumpahan darah, kematian, serta kelahiran.

Membincang pengetahuan (intelektualitas) mau tak mau akan mengarahkan kita untuk membicarakan benar-salah, yang mana telah menjadi parameter utama bagi khalayak ramai dalam rangka menentukan arah dan tujuan. Serasi dengan ini, Mbah Nun mewanti-wanti agar “Kita perlu mengetahui langkah dan pijakan” dalam menapaki peran yang telah dirahmati-fadhilahi oleh Tuhan. Dari ucapan Simbah tersebut seolah-olah memberikan gambaran yang universal tentang berbagai macam metodologi yang perlu kita gali, tanam, semai dan budidayakan dalam mengambil keputusan dengan tidak serta merta mengacu pada kebenaran melainkan juga kebaikan dan keindahan.

Di Universitas Maiyah kita diajari tirakat untuk tidak gampang latah terhadap kontradiksi-kontradiksi kebenaran. Menyitir salah satu wahyu literer Allah, bahwa yang harus kita kontestasikan ialah kebaikan (fastabiqul khairat), namun kita manusia ini sudah terlanjur atau acap gemar mempertandingkan kebenaran. Kita juga tidak lantas berbicara kepada orang buta bahwa ia tidak melihat. Sebab, baik yang memiliki penglihatan atau yang tidak, dalam melihat realitas: semuanya mengalami kesulitan (baca: limitasi). Hal-hal mengenai kenyataan dan kepastian boleh jadi merupakan objek yang kabur di pandangan mata, apalagi di era digital saat ini, di tengah arus besar Informasi. Di antara raksasa yang kita sebut globalisasi, semakin sulit bagi kita untuk lantang dan gagah menyatakan mengatakan bahwa “kebenaran inilah yang benar-benar benar”.

“Metamorhumanika” –yang kali ini kita jadikan tema Majlisan Jamparing Asih di bulan pertama tahun 2022– merupakan padanan yang diambil dari kata metamorfosis, yang dalam bahasa Jawa disebut mlungsungi, atau megar (dalam bahasa Sunda), yang berarti memberikan gambaran tentang proses transformatif, perubahan, atau evolusi biologis, yang secara formal terjadi akibat pertumbuhan sel dan diferensiasi yang secara radikal mengalami perubahan. Humanika sendiri merupakan pronomina atau kata ganti untuk penyebutan “human” (manusia). Maka, secara sederhana, metamorhumanika bisa diartikan menjadi proses perubahan yang dialami oleh manusia, baik secara struktur biologis ataupun karakteristik, dimana pertumbuhan-pertumbuhan tersebut memengaruhi keseluruhan realitas yang eksklusif terjadi pada diri manusia, ataupun inklusif terjadi pada alam semesta, entah bentuknya, kematian, kelahiran dan lain sebagainya baik dalam bentuk makro maupun mikro perkembangan.

Manusia dibekali dan sekaligus mengalamiperubahan tiga dimensi (intelektual, psikis dan spiritual) dalam mengarungi lautan samudera kehidupan baik lika-likunya maupun dianamikanya, perubahan atau evolusi dimensi tersebut, yang secara alamiah terjadi akibat pertumbuhan sel dan diferensiasi yang secara radikal mengalami perubahan dari masa ke masa.

Sederhananya, meski dengan lapisan kompleksitasnya, bukankah sel-sel kita saat seusia sekarang ini berbeda dengan sel-sel kita saat baru lahir, balita, kanak-kanak? Tetapi kenapa wajah setiap orang hampir tidak jauh berbeda (untuk tidak mengatakan sama persis) dengan guratan awal kereutan wajahnya di saat bayi ketika sel-sel itu mengalami proses transformasi? Dengan kata lain, manusia secara biologis, fisika, kimiawi dan seterusnya mengalami proses metamorfosis, megar, mlungsungi, atau berada dalam lingkup dialektika sunnatullah yuhyi wa yumit oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Belum lagi, bagaimana metamorhumanika ini dikaitkan dengan terma inna anzalnahu fi lailatil qadr, sampai hatta mathla’il fajr?

Muatan mukadimah ini hanyalah landasan bagi kita untuk senantiasa sinau bareng, melingkar bersama di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2022.