Mukadimah

Algoritma Kehidupan

Dalam dialektika kesejarahan hidup manusia, sejak zaman Adam hingga kini (seiring berkembangnya inovasi-inovasi), manusia mengalami berbagai macam evolusi. Baik tentang pengetahuannya, cara pemenuhan hidup, pemenuhan rasa aman, romantisme, dan percintaan. Bagi manusia hari ini, tekhnologi yang semakin berkembang menjadi puncak dari kemegahan ilmu pengetahuan sehingga meletakkan sangkaan peran kehidupan kita semua berada pada koordinat, yang lain diantara kesemestaan hidup dirinya.

Manusia menciptakan ukuran, standar dan skala yang kemudian menjadikan dirinya semakin kecil dan terkungkung. Jika kehidupan ini direperesentasikan ke dalam bentuk angka (matematik). Maka, yang terlahir dari nilai-nilai yang keluar saat ini hanya ‘besaran’ yang berarti hal tersebut membicarakan keunggulan formal dalam suatu objek. Selain itu, cara manusia berkomunikasi satu sama lain dengan hal yang di luar dirinya sangat bergantung pada besarnya akumulasi data dan informasi umum. Sedangkan hal lain yang di luar kapasitas tersebut (ketidakseragaman) pastilah dianggap tabu, kelenik, syirik, tidak logis, dan berbagai prasangka lainnya. Umpamanya, air butuh wadah untuk menjadi bentuk, begitulah hakikat ilmu. Lalu di Maiyah seringkali Mbah Nun menganalogikan para penggiat Maiyah seperti sedang numpang minum untuk melepas dahaga dan apa saja kekeringan yang terjadi di dalam diri.

Jika kita berjalan di kota-kota besar, kita sering menemukan yang namanya Running Teks, Videotron, dan Megatron. Dalam bahasa pemrograman, hal apa saja yang dibuat dalam bentuk mekanika, autometicly, dan lain makna sejenis, pasti tersusun dari satuan angka-angka dan huruf. Contohnya, rumus di dalam matematik, hal tersebut merupakan algoritma, manusia modern selain daripada alim ulama (ilmuan) mengakui wujud dari setiap tekhnologi yang ada tanpa mengkaji skala terkecil, sub koordinasi, titik presisi mengapa hal tersebut bisa kemudian divisualkan, Ketika ditanya siapa penemu atom, pasti semua sepakat bahwa atom pertama kali dikembangkan oleh John Dalton. Apakah sains mampu menjawab siapa yang menciptakan atom? tentu semua akan dikembalikan pada historisitas terjadinya alam semesta. Dalam beberapa abad, pengetahuan modern meyakini bahwa atom merupakan pertikel terkecil. Kemudian setelahnya ditemukan partikel listrik, yang terdiri dari Electron dan Neutron. Hal tersebut menunjukan bahwa pondasi ilmu pengetahuan yang begitu lemah mengakibatkan perubahan-perubahan yang signifikan dan membutuhkan perenungan yang panjang.

Dari gramatika diatas, pertanyaan yang paling mendasarnya ialah bagaimana manusia akan mengekspresikan dirinya ketika melihat fenomena yang lebih dahsyat, seperti berubahnya tongkat Nabi Musa menjadi ular atau terbelahnya lautan ketika tantara Nabi Musa dikejar-kejar oleh bala tantara Fir’aun. Bagaimana jika hal tersebut terjadi di era sekarang?

Maka, sedikit bias antara fenomena dengan nomena, antara sains dengan teks-teks agama, antara proses dan hasil. Banyak fenomena dalam keberlangsungan kehidupan manusia yang bersifat sains, dan manusia menganggapnya mukjizat, keajaiban dan lain hal sebagainya. Namun ketakjuban seperti itu bagi manusia modern harus empiris terlebih dahulu, harus terbukti, lebih terpandang hasil tidak memperdulikan; proses dan dari mana asal muasal hasil tersebut. Sehingga miskin untuk bersyukur.

Dari sekian banyak spektrum yang diurai kesadaran manusia modern pada hal-hal yang bersifat ketuhanaan seolah mereka matikan, bagaimana manusia menggusur tanah, menebang hutan, mengeruk sumber daya yang amat sangat banyak dengan penuh keserakahan, serta hak asasi manusia yang dijadikan alat perampasan nilai kemanusiaan untuk menginjak satu sama lain menjadi poin penting yang kemudian akan kita bahas dalam sesi majelisan Jamparing Asih kali ini, dengan tema ‘Algoritma Kehidupan’.