Mukadimah

Kalangkang

“Bayangan adalah kepastian, tapi itu bukanlah kesejatian”

Kalangkang. Kata ini diambil dari bahasa Sunda yang berarti “bayangan”. Lantas apa yang dimaksud kalangkang atau bayangan dalam ranah yang akan dijadikan sebuah bahan renungan maiyahan kali ini? Mungkin tulisan pengantar ini sedikitnya bisa memberikan gambaran sederhana, meski, sebagai penghatur mukadimah, kami meminta maaf jika bahasa yang dipakai di sini njelimet, tidak jelas dan mungkin sukar dipahami.

Pada dasarnya, sebuah bayangan akan nampak pada kita, ketika ada objek apapun itu, jika ia terkenai oleh cahaya. Sehingga pada akhirnya menimbulkan sebuah bayangan yang berbeda-beda, tergantung keadaan objek itu. Juga tergantung kondisi waktu, ruang, cuaca yang mengitarinya. Serta yang paling penting adalah rentang jarak. Semua bayangan sejatinya akan selalu nampak dan ‘mengada’ pada ‘kedirian’ setiap manusia baik itu didalam kegelapan. Asalkan ia pernah tersentuh sedikit saja oleh ‘cahaya’ yang berjarak.

Lantas apa maksud dari Tuhan menciptakan sebuah bayangan? Bukankah Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia-sia dan pasti dengan tujuannya? Sebelum membahas ke ranah itu, kita harus melakukan positioning yang tepat. Yang mana cahaya, mana objek, dan mana bayangan.  Agar kita tidak salah dalam melakukan pendalaman pada hal yang dimaksud.

Baiklah kita mulai tarik ke ranah yang lebih luas!

Kondisi manusia saat ini, sebenanya sedang mengalami benturan yang cukup parah tentang suatu persoalan kenyataan. Antara realitas, serta bayang-bayang di balik realitas itu sendiri. Dalam istilah filsafat Postmodernisme, hal ini dinamai dengan istilah “Hyperealitas”. Misalkan sebuah iklan makanan atau minuman ringan akan dibuat semenarik mungkin di televisi demi menciptakan sebuah bayang-bayang imajinasi yang melebihi realita. Tujuannya hanya satu. Yaitu agar produk yang diiklankan laris dan berkesan. Lagi-lagi alasan ekonomi.

Dalam ranah agama pun, setiap agama sudah pasti memiliki bayang-bayangnya masing-masing. Persoalan bayangan ini, bagai ‘pedang bermata dua’ yang mana jika kita tidak jeli dalam melakukan penghayatan, pada akhirnya ia akan mencelakakan kita sendiri bahkan mencelakakan orang banyak. Jika agama ‘tanpa bayangan’ sudah tentu agama tidak akan memiliki ruang interpretasi dan pemahaman dunia berdasarkan alam pikiran akal, imajinasi, serta daya kreativitas manusia. Yang pada akhirnya akan menyebabkan kemunduran bahkan kehancuran agama itu sendiri. Tapi agama ‘dengan bayangan’ pun sangat berpotensi untuk mengkerdilkan esensi agama itu. Sebab pada akhirnya kebanyakan yang manusia kaji adalah bayangan agama itu, bukan hakikat eksistensi agama yang sejati.

Kebanyakan orang hari ini, menganggap persoalan bayangan adalah hal yang sepele. Padahal berawal dari bayanganlah, kesejarahan ‘tragedi manusia’ dimulai. Di dalam kitab suci terdapat banyak sekali kata yang –jika dibaca– akan melahirkan sebuah bayangan. Ambil contoh yang familiar seperti tentang Nabi Ibrahim dibakar, Nabi Musa membelah laut, tentang surga dan neraka, dan lain sebagainya. Tanpa pemikiran lebih mendalam pun, bayangan itu secara otomatis masuk kedalam diri kita. Bayangan yang sejenis itu semua lebih sering disebut dengan istilah ‘imajinasi’.

Namun tetap pertanyaan dasarnya dari manakah ‘sumber cahaya’ yang bisa menghasilkan bayangan imajinasi itu, sehingga ia nampak pada pikiran kita? Untuk memberi clue pada jawaban dari pertanyaan itu, kita bisa melakukan percobaan sederhana. Coba ambillah sebuah handphone kemudian nyalakan lampu flash pada HP tersebut lalu dekatkan cahaya HP itu pada sebuah objek pertama yang tidak diberi jarak, yang kedua diberi jarak. Lalu lihatlah apa yang terjadi…

Dan satu hal lagi yang menarik adalah jejak bayangan manusia. Singkatnya, banyak orang hidup malah mengikuti jejak bayangan orang lain, atau bahkan bayang-bayang dirinya, bukan diri yang sejatinya. Sebab kita mesti ingat rumusan awal bahwa “Bayangan adalah kepastian namun ia bukanlah kesejatian”.

Jika ingin menjadi manusia utuh yang berusaha menjaga kemurnian dirinya, yang harus dilakukan adalah memastikan bayangan dirinya di muka bumi.

Tema tentang bayangan ini, sangatlah luas dalam ranah interpretasi sehingga mungkin banyak hal yang tidak tersentuh dalam tulisan pengantar pendek ini. Oleh sebab itu, Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih mengundang hadirin semua untuk mendiskusikan, men-tadabburi-nya agar pembahasannya semakin meluas-mendalam. Mari melingkar, kita berdiskusi bersama-sama merenungkan dan mencari kesejatian apa sebenarnya bayangan itu.

Mengakhiri tulisan pengantar ini ada baiknya kita membaca dan merenungi penggalan puisi Danding KH Hasan Mustofa berikut ini:

kurunganana raga           (kurungnya adalah raga)

raga raganing aing           (raga raganya diriku)

ligar kembang caang         (daun bunga berjatuhan, bunga yang terang)

siang sakahayang            (Siang semaunya)

Sang salik itu bertanya kepada gurunya:

“Dimana bayangan? Aku tidak mengikuti bayangan! Bayanganlah yang mengikutiku.

Seketika kemudian gurunya berubah menjadi angin”.