Mukadimah

Sosoroh Kojor

Dalam kehidupan Urang Sunda, praktik berbahasa menggunakan peristilahan atau peribahasa sangat erat kaitannya dengan laku yang dijalankan dalam kehidupan kemasyarakatannya. Beribu-ribu peribahasa lahir dari kearifan hidup masyarakat Sunda. Dari beragamnya peribahasa yang lahir dan digunakan, terdapat istilah “Sosoroh Kojor”. Peribahasa ini memiliki makna tentang aktifitas suka atau gemar memberikan sesuatu kepada orang lain dan mengharap imbalan, namun kenyataannya bukan imbalan dan keuntungan yang didapatkan, tapi sebaliknya: kerugianlah yang diterima. Dari peribahasa ini, kita bisa coba menangkap bahwa (perbuatan) menolong seseorang haruslah (dilakukan) secara ikhlas dan jangan (pernah) mengharap imbalan. Karena perhitungan untung dan rugi –dalam memberikan pertolongan– akan menodai keikhlasan hati kita.

Selain mengukur makna Sosoroh Kojor yang menyabet persoalan rasa ikhlas, peribahasa ini secara harfiah berasal dari kata nyoro/soro dan kojor. Nyoro/soro artinya mengambil atau ikut memakan bagian orang lain, dan kojor adalah mati atau celaka. Maka dari itu, sosoroh kojor pun sering digunakan sebagai bentuk peringatan yang harus dihindari, Karena sosoroh kojor bermakna mendekatkan diri dengan kematian yang dilakukan oleh diri sendiri atau mendekatkan diri dengan sesuatu yang dapat membuat celaka.

Syahdan, Mbah Nun (Maulana Muhammad Ainun Nadjib), guru dan Marja’ Maiyah kita, pernah bercerita tentang seorang lelaki setengah baya yang masuk Mall dan membawa koper cukup besar. Ia naik eskalator. Kemudian lelaki tersebut tergugup-gugup, mungkin belum terbiasa menyesuaikan kaki dan badannya dengan mekanisme dan irama ‘tangga berjalan’ itu sehingga ia terjatuh, kopernya menggelinding ke bawah, terbuka, dan isinya terbaur keluar. Isi koper itu ternyata beribu-ribu lembaran uang sepuluh ribuan. Tanpa sadar orang-orang yang berkerumun dan lalu lalang di sekitar tempat itu langsung menyerbu dan meroyok lembaran-lembaran uang yang berhamburan itu. Si lelaki setengah baya itu teriak-teriak. Kemudian ia menangis dan menutupi mukanya. “Uang saya diroyok orang! Uang saya diroyok orang…”, sambatnya. Tak ada yang memperhatikannya, sampai akhirnya tak ada orang tahu juga tatkala ia menghilang.

Ternyata memang ia sengaja. Ia ingin beramal, tapi jangan sampai ketahuan kalau beramal. Ia pura-pura menangis dan eman uangnya hilang, agar tak seorang pun menyangka bahwa sebenarnya ia sengaja melakukan itu. Ia ingin menyempurnakan keikhlasannya. Lelaki yang Mbah Nun kisahkan tersebut sangat tinggi derajatnya di mata Allah. Seperti Dawuhnya Kanjeng Rasulullah Saw, “kalau tangan kananmu berbuat baik, tangan kirimu jangan sampai tahu”. Perbuatan baik tidak boleh ditakabburkan. Tidak boleh dipamerkan. Tidak boleh menjadi peristiwa riya’ di dalam kalbu orang yang melakukannya.

Fenomenanya, hari ini, manusia berlabel sosoroh kojor mudah sekali ditemui di setiap sudut masyarakat. Manusia sekarang lebih memilih ‘sosoroh kojor’ demi memenuhi hasrat jiwa permukaan dan kesenangannya yang sementara. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang pun sudah di-nomor sekian-kan. Manusia Indonesia yang dulu dikenal dengan berbagai kearifan hidupnya kini menuju ke-sosoroh kojoran. Dari sikap ke-sosoroh kojoran tersebut manusia hari ini lupa akan peran dan hubungan dengan sesamanya, dengan nenek moyangnya, dengan alamnya, semestanya bahkan dengan Tuhannya.

Situasi, nuansa, orientasi dan posisi ke-sosoroh kojoran Manusia Indonesia pun semakin membludak memasuki Agenda Rutin Lima Tahunan, yakni ‘konon’ Pesta Demokrasi (Pilpres, Pileg, dan sejenisnya). Menuju Tahun 2019 –yang tinggal hitungan hari, apakah masyrakat kita sudah siap menghadapi tahun yang banyak diperbincangkan oleh para peramal masa depan dadakan?

Pemandangan suasana masyarakat Indonesia menjelang Pilpres 2019 banyak dihantui dan diteror dengan informasi-informasi yang begitu banyak dan beragam. Cita rasa informasi tersebut bernada dan bernuansa optimis juga pesimis. Nuansa yang dibangun dalam informasi itu diedarkan secara gratis lagi overloud terhadap masyarakat saat ini sehingga banyak informasi yang tidak penting dan tidak berbobot masuk secara paksa dalam kehidupan masyarakat. Sungguh, informasi-informasi tersebut sengaja dibuat untuk melancarkan acara yang katanya ‘pesta demokrasi’ sesuai dengan keinginan kelompok pelansirnya.

Tidak sedikit jumlah masyarakat yang terpecah belah, berkubu-kubu bahkan sampai “pegat duduluran” (putus persudaraan) karena memihak kepada jagoannya secara total. Totalitas yang mereka persembahkan sungguh luar biasa. Semisal ada yang rela jalan kaki dengan menempuh jarak ribuan kilometer demi memberi dukungan terhadap salah satu Capres, ada juga yang bergerombol meninggalkan aktifitas kesehariannya demi berkumpul dan menyatukan semangat mendukung jagoannya, ada juga yang rela memilih kehilangan kerabat, sahabat sampai kekasih karena berbeda pilihan jagoannya. Beberapa masyarakat akhir-akhir ini banyak menjadi pemberani bak ksatria yang siap bertempur di medan perang, meski medan perangnya hanya seputar lembah dunia maya yang gersang.

Masyarakat yang bergerombol dengan kubu A atau kubu B seolah-olah sudah tidak memiliki rasa takut lagi menghadapi saudaranya yang berbeda pilihan, bila perlu untuk ‘saling cakar’ akan mereka lakukan, jika harus saling pukul mereka pasang badan dengan sigap, jika harus berkelahi pun mereka siap pasang kuda-kuda terbaiknya. Mungkin jika diperintah mati demi membela Jagoan Capresnya mereka pasti siap. Fenomena masyarakat menjelang Pilpres ini sungguh mematikan akal dan juga nurani sebagian kelompok  masyarakat. Situasi masyarakat pun kian kacau, meski mereka yakin bahwa kekacauan tersebut adalah sebuah cara untuk memuluskan jalan menuju kursi kekuasaan. Sosoroh Kojor!!!

Apakah ke-sosoroh kojoran yang banyak menempel ke dalam jiwa manusia hari ini akan berlangsung kekal atau sementara? Atau memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku?

Ah, kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan: silahkan jalan. Hebatlah sendiri dan konyollah sendiri. Semau-maumu.

Toh, kematian bukanlah untuk ditangisi. Tetapi apa yang menyebabkan kematian: itulah yang harus diteliti!

Mari kita ngariung, melingkar bersama, ngopi dan sinau bareng di Majelis Masyarakat Maiyah Jamparing Asih.