Dalam kehidupan berideologi kemajuan ini, tak perlu heran berhamburan ungkapan yang memuji masa kini dan masa depan. Modern, mutakhir, trending, up-to-date, kekinian, progresif, futuristik. Dan yang paling gres: zaman now. Sementara itu, pandangan merendahkan terhadap masa lalu pun banyak terungkap dalam bahasa kita. Kuno, kolot, konservatif, ketinggalan zaman, jadul (jaman dulu), kudet (kurang update), ABG (Angkatan Babe Gue). Singkat kata: mengikuti segala tren zaman now itu kemajuan dan bagus, sedangkan berpegang pada masa lalu itu kemunduran dan jelek.

Pangkalnya bisa kita jumpai pada pandangan modernisme sendiri. Secara sederhana, modernisme adalah langkah intelektual meninggalkan tradisi, memberontak terhadapnya, karena menganggap tradisi tak sanggup mengatasi permasalahan masa kini. Maka, ciri utama modernisme adalah keterputusan dari tradisi. Tapi manusia tak bisa lari dari masa lalunya. Kerinduan akan akar budaya dan kenangan dari masa yang sudah hilang menyelinap dalam bentuk nostalgia, romantisisme sejarah, juga dalam bentuk sederhana semacam kegandrungan akan segala yang retro dan vintage.

Di arena pencarian intelektual-spiritual pun, masyarakat modern telah mengalami suatu titik balik. Di puncak zaman modern, justru muncul gerakan New Age di bidang spiritual dan posmodernisme di bidang intelektual. Kedua gerakan ini punya satu kesamaan yaitu apresiasi yang lebih tinggi terhadap tradisi-tradisi lama. Kita saksikan pada abad ke-21 ini malah timbul ledakan kecenderungan untuk kembali ke akar budaya dan historis di banyak tempat di dunia. Seolah hasrat yang selama ini tertekan kini menyeruak tak tertahankan.

Umat Muslim Indonesia juga mengalami berbagai perubahan besar selama abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ini. Kekaguman dan kegandrungan pada modernitas dari Barat perlahan berbuah kekecewaan karena gagal menjawab kebutuhan-kebutuhan intelektual, spiritual, maupun material yang dirasakan umat Muslim. Mereka pun ramai mengkaji ulang ajaran “lama” agama mereka untuk menemukan jawaban yang tak diberikan modernitas. Maka, ekspresi keislaman kini menjadi mainstream. Contoh sederhana adalah fenomena jilbab. Pada tahun 80 dan 90-an, para Muslimah pelopor pemakaian jilbab dipandang sinis sebagai orang aneh, kolot, atau fanatik. Di zaman now, jilbab menjadi trendy, gaya busana Muslimah yang mainstream. Tapi popularitas jilbab ini mengundang macam-macam fenomena yang tak selalu selaras dengan hakikat nilai jilbab sebagai penutup aurat, sebuah ikhtiar penjagaan martabat.

Fenomena yang sama juga terlihat pada tasawuf. Pada awal era modern Indonesia, dunia tasawuf bisa dibilang benar-benar menempuh “jalan sunyi”. Tapi seiring meningkatnya minat masyarakat Muslim terhadap segala yang berlabel “Islam”, tasawuf menjadi merek yang keren. Setidaknya untuk sebagian Muslim, terdapat tren menjadi sufi (-stik), bergaya hidup nyufi. Bagi segmen Muslim ini, label tasawuf atau sufi punya pesona tersendiri. Maka timbullah merek-merek yang bisa “dijual”: musik sufi, konser sufi, festival sufi, guru spiritual sufi, mursyid pembimbing, sastrawan sufi, metode pencerahan sufi, pelatihan sufi, kursus tasawuf, kafe sufi, jurusan Tasawuf dan Psikoterapi … Di ibukota, para eksekutif muda mendaftarkan diri ke training tasawuf berbayar, menjalani berbagai pelatihan rohani layaknya mengikuti seminar meditasi, mengharapkan pencerahan dan ketenangan batin. Sementara di sudut lain, para salik menekuni jalan mistisisme yang bertabur janji karomah, kemampuan memasuki alam makrifat. Dan banyak mereka akhirnya menjadi “orang sakti”, “orang pintar”. Di hadapan wajah-wajah ini, kita memerlukan cara pandang dan pemahaman yang tepat tentang inti bertasawuf.

Perkembangan ini bagaimanapun juga harus disyukuri. Setidaknya itu mengungkapkan kerinduan Muslim terhadap nilai hakiki agama, yang tidak dijumpai dalam formalitas agama. Tetap saja, kita perlu waspada supaya tidak terjebak pada sikap kesufi-sufian yang jauh dari nilai sufi itu sendiri. Sehingga kita bisa menghindari penyakit yang menjangkiti gerakan New Age di Barat. Sebagian besar peminat gerakan ini pada akhirnya hanya menjadi pelancong, “turis” spiritual. Mereka mengambil ajaran-ajaran tradisi lama yang dapat mengisi celah-celah yang ditimbulkan kehidupan modern. Padahal, jika dikuliti, sebenarnya gaya hidup mereka tidak berubah: tetap materialistik dan konsumtif. Ajaran-ajaran spiritual itu tidak mentranformasi kehidupan mereka, karena hanya berperan sebagai rekreasi. Bisa dibilang spiritualitas mereka hanya spiritualitas tambal-sulam.

Maka, berbahagia sekali jamaah Maiyah karena salah seorang guru mereka, Buya Syekh Nursamad Kamba, baru-baru ini menghasilkan karya yang mengupas inti bertasawuf. “Bertasawuf adalah berislam itu sendiri.” Demikian kalimat pembukaan buku beliau: Kids Zaman Now Menemukan Kembali Islam. Dalam bab terakhir berjudul “Maiyah dalam Perspektif Sufisme”, kita jumpai terminologi “al-baqiyyat al-baaqiyah”. Manakala bagian-bagian luar dari suatu pusaran telah hancur, dan yang tersisa hanya pusat porosnya, maka yang tersisa disebut “al-baqiyyat al-baaqiyah”. Apabila daun-daun, ranting, dan cabang-cabang suatu pohon telah berguguran, dan yang tinggal hanya akar-akarnya, maka yang tinggal disebut “al-baqiyyat al-baaqiyah”. Ketika mayoritas sahabat Nabi Muhammad Saw telah kembali ke pangkuan Ilahi, maka sahabat yang masih hidup disebut pula “al-baqiyyat al-baaqiyah”.

Dari “al-baqiyyat al-baaqiyah” ini terpercik pijar gagasan yang  mendarat di kata bakiak. Tahukah kids zaman now perihal sendal karuhun dari kayu itu? Pede-kah atau sebaliknya, gengsikah mereka untuk bersedia memakainya sehari-hari? Paling banter, bakiak dipakai di dalam rumah untuk kebutuhan ke kamar mandi mereka atau dijumpai di masjid-masjid karena disiapkan DKM bagi Muslim yang hendak berwudhu. Secara rentang waktu, bakiak jelas lebih old, lebih dulu lahir sebagai hasil cipta kreativitas manusia. Di kalangan Pesantren dan masyarakat-masyarakat pedesaan, misalnya, bakiak adalah identitas; bagian dari hidup keseharian mereka. Sementara bagi kids zaman now yang terkubang di pusaran hidup yang kian menuntut serba modern, bakiak mungkin sangat usang, asing, bahkan aneh. Ia kalah pamor dengan sendal-sendal lain atau sepatu-sepatu yang lebih trendy, yang dipersyaratkan oleh ‘industri modern’ di lingkungan sejarah hidup mereka. Bahwa masuk kuliah, perkantoran, dan lain-lain haruslah berpakaian rapi dan beralas kaki sopan atau bagus.

Dari tafakur soal bakiak ini, melompat lagi pemikiran kita ke bayangan bahwa Maiyah, dengan “jalan sunyi”-nya, dapat diibaratkan sebagai bakiak bagi Indonesia. Maiyah sebagai tarekat bakiak! Seperti bakiak, Maiyah tidak perlu mengikuti tren zaman, tidak ingin dianggap keren. Lihatlah majelis-majelis maiyahan di berbagai tempat: penuh kebersahajaan dan tak peduli dengan lokasi dan fasilitas yang jauh dari mentereng. Namun, seperti bakiak yang dikenakan ketika memasuki kamar mandi, berwudhu, atau melangkah di tanah becek, Maiyah bisa jadi sedang menjalankan fungsi paling elementer. Seperti bakiak yang menjalankan fungsi paling dasar melindungi kaki dari kekotoran, mungkinkah Maiyah menjalankan tugas menjaga kesucian jatidiri manusia Nusantara dari berbagai syubhat zaman now.

Dalam rangka merayakan kebahagiaan terbitnya buku Buya Nursamad Kamba, Jamparing Asih pada bulan Oktober ber-maiyah di Bandung dengan mengangkat tema Sufi Zaman Now. Bahan perenungan dan diskusi terutama diambil dari dua bab terakhir buku Buya Nursamad: “Tasawuf, Tarekat, dan Virtual Tarekat” dan. Dengan harapan para salik di Jamparing Asih mendapat pedoman untuk bertasawuf secara tepat di zaman now.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *