Gede Rasa (GR, Ge Er) –secara jelas– sangat akrab, karib, dan inheren dalam keseharian kita berbahasa, baik lisan maupun tulis. Misal, meminjam dialek Sunda, sering diucapkan oleh manusia-manusianya: “Matakna, jadi jelma teh ulah sok gampang GR!” Atau, ala logat Betawi, “Ah loe, GR amat jadi orang”. Dan banyak lagi, silahkan cari padanan nuansa-nuansanya dalam berbagai ragam budaya bahasa masyarakat kita.

Apa itu GR? Sejak kapan term itu lahir dalam ruang budaya manusia Indonesia, atau Nusantara? Rasa kok gede: segede apa ia! Seragamkah rasa tersebut untuk dijadikan satu standar baku bagi suatu kelompok tertentu? Contoh kasus, acapkali kita mendengar seseorang berkata: Mending GR atuh, daripada pesimis(tis): da GR mah deket ka optimis. Sementara, pada saat yang sama, kita pun mengingat adagium yang berbunyi: Khairul umuri ausathuha (Sebaik-baik [di antara pelbagai] urusan/perkara ialah [berpijak] di tengah-tengahnya). Atau, lebih jauh lagi, adakah kata yang seirama maknanya dalam babasaan karuhun kita: dari khazanah bahasa Arab sekalipun, adakah GR di sini semedan magnet semantikanya dengan ‘ujub, atau riya’. Lalu baik atau burukkah GR itu? Mohon, sebentar, sebaiknya jangan dulu menghukumi sebuah kata dengan lampu sorot baik-buruk, benar-salah, atau negatif-positif. Sebab, masih terdapat dialektika untuk memikirkan sesuatu secara asosiatif, siklikal, zigzag, spiral dan seterusnya.

Tetapi, maksud kami, bukankah segala sesuatu harus kita akali (ta’qilun; tatafakkarun): mendayagunakan akal kita untuk meng-iqra’nya? Soal baik-buruk, benar-salah, maslahat-madharatnya sesuatu, adalah berdasarkan cara kita berpikir, memperlakukan, dan mensikapinya. Demikian pula dengan term GR: dengan diawali langkah kemerdekaan diri untuk berdaulat mentadabburinya, kita akan mengerti batasan-batasan di mana ia harus diberi porsi dan diproporsionalkan secara tepat, agar cicilan kita untuk benar-benar ‘menjadi manusia’ kian mampu kita perjuangkan kembali.

Menjadi manusia! Sepertinya dalam hal ini kita mengalami semacam virus atau kuman ke-ge er-an. Betapa tidak. Kita latah menghilangkan rasa, akal, nurani kemanusiaan kita, untuk bersembunyi di balik emblem-emblem sosial (baca: peran kesejarahan lokal) kita masing-masing. Kita centil mbarat ketika memasuki Peternakan-peternakan akademistik-ilmiah (ala sekolah, perguruan tinggi atau universitas); kenes menjadi Arab sekali tatkala berislam dan berkeumatan dalam kehidupan keseharian kita; dan, manusia-manusia Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan ‘Bangsa-bangsa’ Nusantara lainnya –pada titik-titik tertentu– lenyap dalam manufaktur auto-modern saat ini. Tak perlu lagikah kita meyakini kalimat Tuhan dalam Quran literer-Nya perihal syu’ub, qabail, li ta’arafu dan lain-lain. Atau, lagi-lagi, GR lah kita ketika memaknai kalimat-Nya: Inni ja’ilun fil ardhi khalifah! Khalifahkah kita jika perilaku kita dalam memandang segala sesuatu (fil afaqi wa fi anfusikum) tidak berpijak pada sikap tawadhu untuk senantiasa khalif; di belakang; ngikut terhadap Allah. Jadilah yang kita saksikan sampai hari ini, berbagai kerusakan dan pengrusakan yang dilakukan kelompok makhluk yang bernama manusia. Sementara tumbuhan, binatang/hewan saja mengerti bagaimana cara berhijrah, memelihara ketaatan mereka terhadap sunnatullah, regulasi-Nya. Adakah segala sesuatu di muka bumi ini yang berjalan tanpa campur tangan-Nya?

Ke-ge er-an lainnya ialah bahwa kita ternyata tak kunjung lulus menjadi manusia, tapi terlanjur ge er menjadi muslim. Buktinya, yang kita perjuangkan setiap hari adalah pertarungan, pertentangan ‘rasa manis’ Islam kita. Bahwa kita atau kamilah yang paling manis, benar-benar manis, asli manisnya; mereka ‘manisan, atau manisnya buatan’ dan sebagainya. Jadilah kebun atau sawah Islam kita tidak berbuah ihsan/akhlak; melainkan penuh pagar-pagar perintah-larangan ini itu. Yang kita pertandingkan tidak kebaikan, tetapi fastabiqul haqq, atau aslinya fastabiqul fulus? Sampai-sampai, apalagi kalau tidak GR –kita-kita menjelma jadi Jubir Tuhan, kalimullah, untuk seenak udelnya berani dan lantang menentukan siapa ke neraka, siapa ke surga!

Tak sudah-sudah GR ternyata kita ini: manusia! Terhadap apapun, sepertinya manusia (modern) memposisikan dirinya adalah subjek; dan sesuatu di luar dirinya diperlakukan sebagai objek. Bahkan, Allah pun dijadikan objek ketika melakukan penghayatan dalam dialektika berdoa: bahwa Allah harus menjadi Menteri Pekerjaan Umum yang harus mengabulkan keinginan-keinginan ideologis-historis saat seketika berdoa itu. Ihwal subjek-objek ini, nampak cukup berimbas ke pelbagai lini, sisi, segi kehidupan dan penghidupan manusia. Contoh, hampir semua ‘alim, sarjana, scholars, selalu mendengungkan bahwa “Para pengkaji Al-Quran, calon atau mufassir profesional, harus menemukan metodologi yang tepat untuk mempelajari, menafsirkan Al-Quran”. Terhadap Al-Quran (wahyu literer-Nya) pun mereka nekad bersikap seperti itu. Akhirnya, yang terjadi adalah prasyarat-prasyarat yang ketat harus dikuasai seseorang untuk menafsirkan Al-Quran. Belum lagi pembakuan metode, sumber, corak, dalam kajian penafsirannya. Apakah seseorang, atau kita, ketika menafsirkan lafadz, kalimat, ayat Al-Quran memang berkehendak atau berkeinginan untuk disebut (menjadi) mufassir? Tidakkah setiap kita adalah penafsir. Menafsir merupakan potensi eksistensial manusia. Bukankah Al-Quran untuk kita, rahmatan lil a’lamin: lantas, mana yang lebih utama ‘mempelajari Al-Quran atau mempelajari tafsir Al-Quran’! Kok informasi-informasi dari Tuhan (melalui Al-Quran) malah tidak bisa dijadikan rujukan bagi ilmu mereka?

Sementara –sepanjang kami menemukan– hanya Maulana Muhammad Ainun Nadjib yang menulis bahwa Al-Quran adalah Metodologi Agung. Bagi kami, lagi-lagi, itulah percikan cinta dari Sang Maha Kekasih terhadap Kekasih-Nya! Seyogianya kenapa kita tidak kunjung mulai belajar dari-Nya; dari Al-Quran, selalu mendamba untuk senantiasa diajari iqra oleh-Nya. Bahwa Al-Quran adalah metodologi Allah bagi kita, untuk mengkhalifahi kehidupan kita; ‘outbond’ di dunia ini. Ia, jika kami menganalogikan, semacam email dari Allah untuk kita masing-masing. Masalahnya, jangan-jangan kita lupa password email kita; tak mengerti apa itu email, atau PC kita tak ter-upgrade, rusak –bahkan sudah kita jual ke pasar loakan. Terakhir, bukankah “Allah-Rasulullah menjelma OS (Operating System) dalam dirimu”? tutur Gus Sabrang MDP. Mari, berlatih melingkar bak cincin, mengutuh dengan diri kita sendiri.

Bukan Ilmu, Tapi Rindu: Ya Rabb, Inilah Maiyah Kami…

 

Mari, senantiasa berendah hati: sembari Ngopi, diantos kasumpinganana di Majlisan Jamparing Asih!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *