Blog Detail

MUKADIMAH: TERNAK ILMU(WAN)

27 Aug 18
ja
No Comments

Kapan terakhir kali kita menjenguk suatu peternakan? Atau minimal mengintip ke dalam kandang binatang ternak yang berisi satu kontingen keluarga saja. Bagaimana kondisinya? Seperti apa manajemen, pemosisian peran dan tata-kelola kekeluargaan di dalamnya? Harmoniskah hubungan hewan ternak dengan pemiliknya?

Tidak harus dijawab sekarang.

Lantas, setelah mencuripandangi perihal ternak secara visual-imajinatif, adakah terlintas di benak masing-masing tentang kemiripan ‘peradaban ternak’ di kandang, dengan wajah situasi negara kita, bahkan dunia, belakangan ini—beserta komplikasi silang-sengkarut konstelasi di dalamnya?

Banyak centang-prenang kerumitan zaman yang semakin hari makin absurd perwujudan tingkah-polahnya. Jangan-jangan kita sendiri yang membikinnya rumit dan absurd. Atau, malahan kita yang sedang teperdaya oleh pusparagam make-up terkini dan aneka riasan ber-merk mutakhir yang semakin canggih memoles dan mematut-matut penampilan?

Syukurnya, mayoritas orang pada titik koordinat situasi tertentu, pasti akan pernah memetik kesadaran bahwa segala aspek di dunia ini tengah dicengkeram oleh ‘ideologi peternakan’ dan dramatika ‘industrialisasi’.

Tidak terhitung sudah berapa aspek dan ranah kemanusiaan yang diternakkan, dengan ribuan atau mungkin jutaan manusianya yang dijadikan SDT-nya. Sumber Daya Ternak. Sebab, yang konon disebut-sebut sebagai SDM, seperti sindir Mbah Nun, toh hanyalah ukuran yang parameternya disandarkan pada tingkat daya-produktivitas perorangan yang memberikan benefit kepada industri di mana ia bekerja. Bukankah yang demikian itu tergolong ‘mental ternak’?

Sekalipun seseorang tersebut memiliki produktivitas yang lumayan, selama ia tidak menyumbang keuntungan terhadap kepentingan industri, maka ia tidak akan pernah dikategorikan sebagai SDM yang baik.

Apalagi jika kita mentadabburi ungkapan Mbah Nun, “Kejahatan adalah nafsu yang terdidik. Kepandaian, seringkali, adalah kelicikan yang menyarmar. Adapun kebodohan, acapkali, adalah kebaikan yang bernasib buruk. Kelalaian adalah I’tikad yang terlalu polos dan kelemahan adalah kemuliaan hati yang berlebihan.

Ghiroh dan spirit keilmuan bangsa sekarang, lebih mengutamakan hasil yang sekiranya dapat mendatangkan ‘daging-daging’ ilmu yang laku di pasaran (mainstream) dan ‘kotoran-kotoran’ hasil olah metabolisme dan sistem ekskresi yang bisa dijual sebagai pupuk. Pokoknya yang menghasilkan keuntungan dan kepuasan semu. Dengan sorot mata yang silau akan iming-iming omong-kosong motivasional dan serapah janji cerah masa depan. Yang bagai cenayang seakan mampu memproyeksikan masa depan dari telunjuk jari mereka sendiri.

Silakan diamati pula, umpamanya, frame beternak sarjana, kaum intelektual dijujui, disuapi dengan asupan gizi palsu yang kebak tabungan penyakit degradatif dan dekadensi bagi generasi mendatang. Atau fenomena cendekiawan dan ulama yang menurunkan derajatnya—untuk menyebutnya: jual diri—agar memperoleh kursi empuk, bernama kedudukan. Selepas lulus, asal colak-colek, langsung calik (dapat duduk).

Sehingga akan muncul pertanyaan, masih adakah ilmuwan yang nir-belenggu syahwat keduniawian?

Karena kini sosok begawan seakan sudah punah. Langka. Jika pun ada, akan dimatikan fungsi hidupnya, dihimpit peluang pergaulannya, dan masyarakat diracuni sedemikian rupa untuk segera membencinya, membuangnya, mencampakkannya.

Sayangnya, begawan sejati tidak akan benar-benar mati. Ia mengedari udara dan cakrawala, membagi-bagikan “hidangan kesejatian” yang dipetik dari samudera hikmah. Kewaskitaan cahyawi. Namun kenyataan yang sulit ditolak pada era ini adalah cahaya seringkali dimaterikan. Cahaya dikandangi untuk lantas diperjualbelikan—nu penting untung, bos.

Juga tentang keterbalikan penghormatan masyarakat; dari urutan “orang alim-sholeh, pintar, orang kuat, orang baik, kaya dan kuasa” berubah skala prioritasnya menjadi “kaya, kuasa, pandai, kuat, baik”. Hal tersebut tampak kontras betul dalam peradaban manusia postmodern ini—mungkin jika tidak dibenahi, boleh jadi hingga pascapostmodern dan seterusnya.

Betapa tidak geleng-geleng kepala generasi kita yang sadar akan hal itu. Bahkan sebagian ada yang sampai menangis, sehingga dipanggil ‘generasi gembeng’. Tidak jarang yang sekadar nepak-tarang hungkul atau malahan ada yang sampai gereh-gereh. Terlebih jika menengarai peristiwa ‘pesta bisnis ternak ilmuwan’ yang dipelihara habis-habisan hanya demi dipenggal urat nadi kerohaniannya di hari esok.

Dan saat sudah sadar pun, tidak sedikit dari mereka yang menghibur diri lantas menyangkal, “aih, kan dulu saat Nabi Isma’il diqurbankan Ayahandanya, Baginda Ibrahim, langsung diganti domba. Siapa tahu kita pun akan mengalami hal itu jua.

Kemudian suara lain menimpali, “Sudahlah, hidup hanyalah antrean menuju penyembelihan. Tidak perlu terlalu risau.” Tambahan yang di sandingya, “Toh, Mbah Chairil sudah benar, hidup hanya menunda kekalahan. Sekali berarti sesudah itu mati.

Kebingungan pun menjejali para anak adam di zaman now. Atau kita sama-sama hanya sedang berpura-pura bingung dalam dunia yang cuma tempat singgah meneguk air secawan ini? Ataukah kita mendadak blank karena kehabisan dialog saat melakonkan teater dengan skrip “ternak ilmuwan” ini?

Daripada hulang-huleung teu paruguh, mending hayu kita saling ‘ngoordinasi’—ngopi-ngrokok di Jamparing Asih. Bagi yang bukan perokok pun, kami haturkan “diantos kasumpinganana, lur…”

Leave A Comment