Blog Detail

Reportase : kakaren zaman

28 Aug , 2017,
ja
No Comments

 KAKAREN ZAMAN

(Jamparing Asih Edisi Juli)

Tema kali ini unik. Sebab berawal dari kebingungan para perumus tema memikirkan bagaimana pada bulan Juli yang Syawalnya sudah mau habis ini sementara masih ada kerinduan tentang bahasan mengenai puasa ramadhan, hari raya, dan suasana halal-bihalal. Namun terkesan terlalu telat. Akhirnya setelah pusing sejenak, tercetuslah dua kata: Kakaren Zaman. Tentang sisa-sisa.

Mas Aam selaku pembuka diskusi, mengawali pembicaraan dengan bacaan al-fatihah bersama, lantas melanjutkan bahwa pada malam itu kami semua akan berusaha mengupas mengenai sisa-sisa. Apa tafsirmu tentang sisa-sisa? Begitu ungkapnya dalam mukaddimah.

Kata kakaren diusulkan oleh Om Teguh—yang disepuhkan di JA sekaligus beliaulah designer poster Maiyah JA—karena pada kakaren yang merupakan term dari bahasa Sunda untuk sisa-sisa makanan pada Hari Raya ini cukup representatif dalam mewakili kondisi dan perasaan kompleks-universal sebagaimana yang ingin dibedah secara berjamaah. Bahkan ditarik-hubungkan ke skala yang lebih luas dari penggunaan kata kakaren itu sendiri.

Berangkat dari sisa makanan di musim Lebaran yang telah lewat, Om Teguh menangkap dan menunjukkan keterkaitan kakaren dengan puasa, syawal dan bahkan zaman—sebagaimana tema lengkapnya. Mata rantai atau simpulnya pada dasarnya yaitu sederhana: sisa. Kami para jamaah maiyah pun merupakan kakaren dalam konteks waktu (minggu ke-4 setiap bulan) dan tema pun juga kakaren. Sementara jika dikaitkan dengan bulan puasa ialah bagaimana kita menghayati dan menelusuri apa saja kakaren atau sisa-sisa dari suasana Ramadhan berikut pula Idul-fitrinya.

Apakah kita masih berjuang senantiasa mengendalikan dan berprihatin-ria sebagai bentuk hasil dari gemblengan selama satu bulan itu ataukah kita kembali ke zona-pelampiasan yang serba membolehkan—permissive? Maka dari sinilah pancingan Om Teguh mulai menyulut beragam reaksi kerja pikir setiap jamaah. Sebelum yang lainnya menanggapi, Mas Aam masuk menyuguhkan pendapatnya bahwa sejatinya yang dapat ditangkap dari kakaren yang dihubungkan zaman ini secara nilainya ialah soal bagaimana sisa-sisa secara luas dan dalam itu kita olah, daur dan dayagunakan untuk menjadi apa. Sesuatu yang lebih bermanfaat kah atau justru menjadi sampah.

Cak Nun & Kiai Kanjeng (CNKK) sering menyebut diri sebagai “keranjang sampah” bagi masyarakat. Tempat menampung bermacam-macam keluh-kesah, kegelisahan, kerisauan, kehausan akan ilmu dari masyarakat. Tema JA kali ini tampak saling terhubung dengan tanpa disengaja.

Lantas ada mahasiswa UIN Bandung yang ikut Jamparingan edisi Juli ini turut serta berpendapat setelahnya mengenai apa yang dia alami. Bahwa kata kakaren yang berasal dari bahasa Sunda itu sendiri masih jarang diturunkan atau diwariskan kepada generasi baru sehingga menimbulkan para pemuda sekarang dan nanti semakin buram atau bahkan tidak mengerti kosa-kata daerah semacam itu. Mahasiswa tersebut yang asli keturunan berdarah Sunda mencoba meneliti apa yang dialaminya sendiri, sebab ia baru mengerti kata kakaren yaitu semenjak mengikuti Jamparingan ini. Maka yang disayangkan olehnya ialah makin punahnya penggunaan kosa-kata daerah asli oleh kebudayaan urban (perkotaan) yang mengakibatkan pada ketidaktahuan generasi baru terhadap kosa-kata otentik mereka sendiri.

Kemudian, seusai mendiskusikan perkara etimologi dan terminologi kakaren dari berbagai sumber pikiran, pembahasan berbelok untuk menengok sedikit tentang pemenggalan kata dan kalimat yang acapkali terjadi atau malah disukai generasi zaman kini. Semisal yang sering kita dengar, “umatnya Nabi Luth”. Ketika mendengarnya, asosiasi bayangan dari hampir semua kita ini tentu sontak berpikir tentang “kaum sodom”. Padahal tidak semua umatnya Nabi Luth itu termasuk kaum sodom, demikian sanggah Mas Aam.

Generalisasi yang carut-marut, silang-sengkarut dan kaprah ini dapat menimbulkan kesalahan sikap yang berefek pada hidup kita secara fatal. Dan ini juga, setahu hemat saya, pernah dibedah dalam Majalah Sabana mengenai kacaunya pemahaman kita akan konotasi dan denotasi oleh Pak-Dhe Iman Budhi Santosa.

Sementara kalau kembali ke topik edisi Juli ini, banyak bermunculan dan berseliweran cabang ide, ranting gagasan, dan dahan wacana yang demikian beragam tertumbuhkan hanya dari satu pohon kata kakaren belaka. Para jamaah Jamparing Asih tidak segan-segan memaparkan keterbesitan ide di pikiran mereka masing-masing untuk dibagi-suguhkan kepada jamaah yang lain dengan tanpa memaksa mereka agar mengonsumsinya.

Ada keterus-terangan yang berpendapat, kakaren itu kan sisa. Berarti sisa itu sudah tentu saja suatu akibat dari sebab tertentu. Maka seseorang boleh bertanya: apakah kakaren ini merupakan produk dari sikap kemubadziran yang dilakukan oleh sesuatu, seseorang, atau suasana-kondisi atau apa? Ambil contoh sederhana istilah “sampah masyarakat”. Jika ditarik ke pembahasan dimensi sosio-kultural, pasti dari istilah itu kita dapat meyakini bahwa tentu ada yang memproduksi sesuatu yang dianggap sampah tadi. Lantas siapa? Masyarakat kah? Negarakah? Atau apa? Hal ini sangat perlu untuk diteliti agar sanggup mempertajam presisi dan akurasi kita dalam menilai segala sesuatu semampu kita dengan mata-pandang yang seluas mungkin.

Sungguh masih teramat melimpah temuan-temuan—yang dalam dunia mainstream dianggap ‘tak berguna’—pada maiyahan JA kali ini. Namun, sudah tentu hanya lantaran kebelum-mampuan penulis lah yang menjadikan semua hasil dan temuan pada diskusi tersebut tidak tertuangkan dalam reportase secara sempurna lengkap dan detail.

 

Kakaren Zaman, Sains-Teknologi dan Al-Qur’an

Usai mencapai pertengahan diskusi, Om Teguh mencoba memaparkan sedikit bocoran tentang makna simbolis dari poster edisi Kakaren Zaman. Terdapat sesosok manusia (boleh juga: makhluq) yang kepalanya terbuat atau memang berbentuk toples khas jajanan Hari Raya. Tidak hanya itu. Ada pula satu buah toples lain yang tengah dipangku oleh sosok manusia dalam poster tersebut. Ringkasnya, tentang kepala toples itu bermakna apa bagi anda dalam radius penafsiran seluas mungkin, pada intinya yaitu pertanyaan ini: apakah apa yang ada di kepala kita, akal kita, itu sudah sesuai dengan yang ada di pangkuan kita? Perlu untuk diolah-renungkan masing-masing diri jamaah sebagai bahan atau daftar pencarian.

Lantas setelahnya, diisilah diskusi malam itu dengan selingan asyik-masyuk berupa musik oleh Gitaris bernama Kang Shofi. Dikeluarkannya selembar kertas dan disampaikan kepada Mas Aam. Maksudnya ialah mengajak agar bersedia menjadi vokalis lagu kesukaannya: Ya Ampun karya Mbah Nun. “Puisisasi Musik”, demikian kata pembukaan dari Kang Shofi dan berlanjut dengan duet seru mereka berdua.

Maka pasca bermusik-ria, disambunglah kembali jalan diskusi. Banyak sirat wajah yang tidak sabar menunggu bagaimana jika kakaren ini dikaitkan dengan zaman. Namun sebelum ada yang ingin menarik garis-hubung itu, Mas Tyas—Guru Silat sekaligus seorang penulis di Mizan—berterus terang mengenai pikirannya kalau kakaren itu musti dibedakan dan menurutnya ada 2 jenis kakaren secara garis besar. Pertama, ialah sisa yang masih bagus, baik, dan masih berguna. Sedangkan kedua, yaitu sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi atau sampah.

Penjelasan itu memantik aneka respon dari jamaah, termasuk yang saya ingat yaitu Kang Shofi. Ia mengajukan respon dalam kemasan ilustrasi di kampung-kampung: “Nak, itu sisanya dihabiskan. Biar berkah.” Nah, kenapa seakan erat kaitannya antara sisa dengan berkah? Agaknya perlu untuk ditelusuri. Disamping kepenasaranan mengenai sisa dengan berkah, ada yang mencoba mengurai contoh-contoh lain yang saya sebut itu: relativitas sisa. Bahwa sisa tidak hanya sekadar bersifat subjektif saja melainkan dapat pula mengandung suatu tolok ukur yang relatif berbeda. Sebutlah, umpamanya, “apa respon kita ketika diberi suatu sisa, sisa ayam goring misalkan, namun oleh sang kekasih?

Dari perumpamaan berupa kalimat tanya di atas, bisa kita lihat ternyata kakaren masih juga terikat oleh relativitas. Pada mulanya orang yang hendak menyuguhkan kakaren (tuan rumah) kepada tamu tentu terbesit secara alamiah rasa sungkan kepada tamu lantaran hanya mampu menyediakan ‘sisa’. Sedangkan, anehnya, tidak jarang ada tamu yang menanyakan, Wa, mana atuh kakaren teh? Apakah itu suatu bentuk gejala kerinduan tertentu pada diri sang tamu? Begitupun dengan permisalan kekasih yang memberikan sisa. Sudah dipastikan akan berbeda sensasinya dan respon penerimanya. Itu baru relativitas pada kategori subjek. Belum hal-hal yang beraroma spiritual dan dianggap semi-klenik semisal sisa minuman atau kopi Kyai yang dijadikan ajang rebutan para santri dengan harapan mencecap berkah ilmu. Belum pula kategori objek seperti: sisa emas, sisa uang negara, sisa piutang, dan silakan dilanjutkan.

Kemudian Om Widi memiliki tanggapannya sendiri—lebih ke ranah yang berbau teknologi. Jika pada kaum awam (konteks ini: gaptek), hardisk bekas dipandang sebagai barang loakan yang tidak bernilai jual tinggi dan tidak terlampau penting. Akan tetapi, timpah Om Widi, betapapun suda jeleknya itu tampilan luar hardisk bekas tetap akan dinilai berharga oleh Ahli Security System. Sebab melalui hardisk bekas tadi, pihak Ahli Forensik Security—demikian kiasan Om Widi—akan dapat menjamah sekaligus mendapatkan data barangkali semacam di-restore, terutama email. Bahkan dari yang rusak sekalipun. Ketika sudah dapat mengakses email yang ada, akan ditemukanlah beragam informasi-informasi. Meskipun telah diakui umum bahwa hardisk itu error, namun di tangan Ahli Security of Technology, hal itu memberikan keuntungan dengan tidak terduga oleh common-sense manusia gaptek. Dari sinilah sisa atau kakaren dalam perspektif teknologi.

Selain dari itu, masih banyak jamaah yang mencuatkan isi benak mereka masing-masing. Termasuk mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi bernama Arif. Sebetulnya, dari beraneka jenis pikiran-pikiran atau bolehlah disebut tiupan-tiupan inspirasi oleh Jibril, tidak lain adalah produk dari kakaren yang digunakan serta dimodifikasi sebagai rumus dalam memandang sesuatu. Maka Arif memperdengarkan isi pikirannya bahwa Al-Qur’an dan Islam pun kakaren. Sisa-sisa. Kita mungkin sering menyebut sebagai kitab dan agama terakhir. Pamungkas. Setelah melalui proses-proses rumit pencarian Tuhan dan manusia masih juga bingung, maka di-shortcut-lah oleh Allah dalam wujud Ajaran Islam melalui Nabi Muhammad Saw dengan pedoman kitab suci Al-Qur’an yang sekaligus menjadi penutup dari semua kitab-kitab suci.

Jadi tidak heran apabila beberapa dari kita berpendapat Indonesia pun merupakan kakaren dari kerajaan-kerajaan peradaban sebelumnya yang secara entah terpaksa atau memang disengaja untuk diramu menjadi satu: Indonesia Bhineka Tunggal Ika.

Lantas jika kita menelisik Kakaren Zaman, sesuai tema, orang cenderung ingat kepada Hari Akhir. Kiamat. Ada pula yang memikirkan sisa-sisa peradaban. Plot kisah-kisah, dongeng-dongeng, paribahasa-paribahasa dan sebagainya. Muncul pertanyaan, kenapa kok mulai dari dahulu, semua orang di zamannya masing-masing merasa bahwa pada zaman mereka itu sudah mendekati akhir? Begitupun kita? Ada apa gerangan?

Pertanyaan-pertanyaan berhamburan tak karuan. Tapi itulah fungsi diskusi: kalau tidak menambah ketakjuban, keilmuan dan pengetahuan, paling tidak ya menambah kepuyengan, keresahan, keheranan dan bentuk-bentuk lain dari kebingungan. Terdengar oleh saya ada yang mengungkapkan bahwa itu sebagai ajang ge-er setiap generasi pada zamannya sendiri sekaligus agar supaya memantik kesadaran serta membikin generasi di zamannya lebih eling lan waspadha—kalau meng-ghosob istilah Ronggowarsito. Toh, pada era milenial ini tidak sedikit yang meskipun sudah merasa tengah berdiri di zaman akhir (kakaren zaman), masih saja secara nekat menjauhkan diri dari cahaya. Barangkali diri kita masing-masing pun tercakup dalam orang-orang yang termaksud itu.

Meski demikian, pada intinya semua kita mau tidak mau terikat pada hukum alam untuk senantiasa berproses dan maiyahan mewadahi para jamaah untuk kebutuhan itu. Salah satunya mungkin dengan saling menjaga agar selalu bersentuhan-pandang—muwajjahah—yang di masa kini mulai pudar intensitasnya. Lantas, dari sekian pemaparan dangkal penulis pada reportase ini, semoga dapat menyulut atau memperparah kekaguman kita sehingga kita ucapkan satu kalimat indah dari Allah dengan khusyuk berdasarkan pengalaman masing-masing seusai menelusuri tentang kakaren. Tentang sisa-sisa yang tertuduh sia-sia dan seolah sampah. Rabbana ma khalaqta hadza bathila.

Betapapun keindahan itu dapat terangkum dan kecerdasan akal setinggi apa, hanya kebelum-mampuan penulis lah dalam meracik gado-gado pemikiran para jamaah secara sekomplit mungkin yang barangkali kurang melezatkan hidangan reportase ini. Dan tersebut adalah satu dari sekian kelemahan dalam mini-reportase edisi Kakaren Zaman. Namun, inilah kakaren yang dengan bismillah bisa saya gambarkan dan diharapkan masih dapat ditransferkan oleh cinta saya kepada pembaca sekalian. [7-2017/M Naufal W]

Leave A Comment