Monthly Archives:November 2016

NGAJI BARENG EMHA AINUN NADJIB & BUYA NURSAMAD KAMBA : “Menyemai Akhlak, Menuai Cinta Indonesia” #MaiyahBDG

18 Nov 16
ja
, , , ,
No Comments

ditulis oleh : CSSMORA UIN Sunan Gunung Djati

Ngaji bareng Emha Ainun Nadjib dan Syeikh Nursamad Kamba | 19 November 2016, 20:00 WIB | UIN Sunan Gunung Jati, Bandung #MaiyahBDG

Pola hidup materialisme dan hedonisme yang kini menjadi corak paling terang masyarakat modern, tentunya berdampak pada kepribadian manusia secara individual maupun kolektif. Terutama besarnya gelombang persaingan hidup yang sangat kompetitif membuat manusia rentan: mudah stress dan frustasi. Besar kemungkinan ketika manusia modern tidak lagi mampu menghadapi problematika hidup, mereka cenderung mengambil jalan pintas seperti bunuh diri, penyalahgunaan narkotika, tindakan asusila dan lain sebagainya.

Ini menandakan bahwa ada beragam krisis yang tengah menggerogoti kondisi manusia modern sebagai hasil dari ketidaksesuaian sistem-sistem yang sedang dipakai saat ini. Salah satu sistem yang fundamental ialah sistem pendidikan dan kaitannya dengan konstelasi politik. Pendidikan akan selalu ditagih kontribusinya baik berupa SDM yang baik maupun efektivitas sistem yang diterapkannya. Dan dari fenomena inilah urgensi fungsi institusi pendidikan—terutama perguruan tinggi—demikian dinanti agar ikut serta dalam menyelesaikan, atau minimal menanggulangi problematika hidup manusia modern yang kering nilai-nilai keharmonisan lagi.

Dosen sekaligus mahasiswa dan segenap civitas akademik perguruan tinggi sebagai wakil dari kalangan intelektual (yang terdidik) telah memikul tanggung jawab dan beban moral tersebut. Mahasiswa yang diposisikan sebagai agent of social change atau dengan sebutan lain agent of social control saat ini mulai terasa banyak mengalami degradasi nilai dan peranannya. Otomatis akan terkait pula dengan pengajarnya (dosen). Pernyataan ini merupakan suatu asumsi –untuk tidak menyebut tuduhan—dari pengamatan atas realita yang telah terjadi. Khususnya pada beberapa perguruan tinggi yang secara legal-formal memiliki basic dan background Islam.

15042056_331536600551220_8171851330321443798_o

Selebihnya, institusi pendidikan yang jelas-jelas berlabel Islam nyatanya belum bisa menjamin seseorang di dalamnya akan mencerminkan perilaku orang berilmu dan berakhlak. Universitas sebagai laboratorium keilmuan yang semestinya menerapkan 3 terminologi hidup: kebaikan, kebenaran, dan keindahan justru seolah-olah blunder atau barangkali miss the target.

Lebih luas lagi (selain tindakan asusila), persoalan yang menimpa dunia kampus dimana mahasiswa sebagai subjek dan objek seringkali melahirkan dinamika, seperti aksi (demonstrasi) atas nama memperjuangkan hak-hak mahasiswa yang berujung anarkisme, pengawalan birokrasi kampus yang dianggap rawan akan penyalahgunaan wewenang institusi yang terpaksa harus terhenti di tengah jalan karena adanya kolusi-kolusi, hingga perubahan orientasi pendidikan yang tidak memanusiakan manusia. Telah lazim jika fenomena-fenomena tersebut tampaknya telah menjadi rahasia umum.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: sebenarnya apa dan bagaimana perilaku yang semestinya mahasiswa sekaligus pejabat kampus cerminkan di dalam lingkungan pendidikan dan masyarakat? Jangan-jangan, perilaku mahasiswa selama ini sudah bukan lagi menunjukkan hakekat ‘mahasiswa’ itu sendiri.

Semua masalah yang sudah diungkap kalau diteliti akarnya adalah karena jiwa manusia itu telah terpecah-belah sehingga perlu diintegrasikan kembali melalui ajaran akhlak (tasawuf). Maka perlu adanya perenungan kembali, bagaimana mahasiswa sekaligus seluruh warga kampus berperilaku sebagaimana tugas dan peran yang diemban. Dalam kadar paling minimum ialah menumbuhkan kepekaan terhadap realitas sosial. Barangkali, melalui reinternalisasi nilai-nilai kedalaman akhlak, mahasiswa dapat memposisikan kembali sebagai kaum intelektual dan calon pemimpin bangsa yang tentunya dibutuhkan untuk kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia secara umum dalam mengatasi beraneka-ragam problematika zaman.

Melalui kesadaran-kesadaran itulah nantinya mahasiswa dibentuk dan dididik bukan sebagai manusia yang semakin merusak tatanan yang dimiliki bangsa Indonesia, namun menjadi manusia-manusia yang cinta Indonesia dengan mengimplementasikan keilmuan dan kebijaksanaan dalam upaya mengentaskan masyakarat dari krisis kemanusiaan di tengah arus peradaban yang serba-boleh (over-permissive) ini. Atau, jika tidak, ‘Tuhan pun tersinggung’ oleh kaum yang menyebut diri sebagai “maha-siswa”.

MUSYAWARAH DARURAT UMMAT ISLAM INDONESIA DAN MENUJU MAJELIS DARURAT PERMUSYAWARATAN RAKYAT INDONESIA

11 Nov 16
ja
No Comments

Sampai 71 merdeka, rakyat Indonesia semakin didera masalah. Dihimpit, dibelit dan dikurung kompleks persoalan-persoalan. Dan berhubung mayoritas warganegara Indonesia adalah Ummat islam, maka merekalah yang paling menderita. Di tahun 2016 ini mereka bukan hanya semakin menderita secara ekonomi, tapi diposisikan terhina secara politik, kemanusiaan dan keagamaan.
Dari tahun ke tahun rakyat Indonesia dan Ummat Islam berjuang untuk tetap optimis dan bersabar. Dari Pemerintahan ke Pemerintahan rakyat dan ummat berupaya untuk tetap tidak berputus-asa dan bangkit. Akan tetapi harapan-harapan itu selalu saja berujung pada kekecewaan. Persoalan tidak kunjung terurai bahkan semakin bertambah kusut dan saling silang sengkarut. Dan skalanya tidak hanya harta benda Negeri mereka yang semakin dikikis, tapi juga martabat kebangsaan dan harga diri kerakyatan mereka semakin diinjak-injak dan diperhinakan.

Di bidang ekonomi, kekuatan produksi rakyat harus bertarung bebas dengan raksasa kapital yang menindas. Sehingga tingginya angka kemiskinan, meningkatnya jumlah pengangguran, semakin lebarnya kesenjangan penguasaan asset rakyat kecil dibanding segelintir taipan besar merupakan potret nyata kondisi masyarakat Indonesia hari ini. Belum lagi di bidang sosial budaya, hancurnya norma susila, kandasnya moral etika, lunturnya karakter adiluhung bangsa berpadu dengan rusaknya sistem pendidikan nasional yang semakin memperlemah kualitas manusia Indonesia. Konflik di segala lapisan masyarakat dengan berbagai luasan dan eskalasinya, semakin menyempurnakan keruwetan problem rakyat Indonesia. Tak terkecuali di bidang agama, politik, kesehatan, dan lain-lain seolah tidak cukup berlembar-lembar kita daftar satu persatu persolan yang membelit kehidupan Rakyat Indonesia.

Ummat Islam adalah mayoritas secara jumlah, tapi minoritas secara modal dan kekuasaaan. Ummat Islam mayoritas sebagai pendidik, tapi minoritas yang marginal secara politik dan perekonomian. Kemudian semakin banyak di antara mereka yang menyadari bahwa mereka bukan hanya marginal, tapi memang ada suatu disain besar yang sengaja secara strategis untuk memarginalkan mereka. Mereka bukan hanya miskin, tapi memang dimiskinkan. Mereka bukan sekedar terperdaya, tapi memang diperdayakan. Semakin hari semakin merebak dan melebar kesadaran bahwa Ummat Islam memang sedang dilindas oleh semacam suatu mesin kekuasaan besar yang menimpakan ketidakadilan kepada mereka, dikebiri kekuatannya, dimandulkan kepribadiannya, dikikis konsentrasi keIslamannya serta ditidak-berdayakan seluruh perjalanan sejarahnya.
Maiyah melihat bahwa salah satu cipratan dari ketertekanan yang kronis dan simultan itu adalah Gerakan 4 November 2016. Aksi Bela Islam dalam bentuk berhimpunnya massa ratusan ribu Ummat Islam berdemonstrasi di depan Istana Presiden pada tanggal 4 November 2016 tidak lain merupakan letupan kecil atas endapan rasa itu. Meskipun momentum-ledaknya adalah Al-Maidah 51, sesungguhnya posisi keternistaan, keterhinaan, keterlecehan, ketertindasan dan ketersingkiran posisi sejarah Ummat Islam jauh lebih besar, lebih menyeluruh, mendalam dan multikonteks.

Memperhatikan peta permasalahan di atas, juga setelah mempelajari panduan Mbah Nun di Bukan Demokrasi Benar Menusuk Kalbu serta Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan di Negerinya Sendiri, kita ambil saja misalnya tiga keterhinaan Kaum Muslimin Indonesia:

  1. Ketaatan ummat kepada Imam atau pemimpinnya sebagai implementasi keberagamaan justru dimanfaatkan, ditunggangi dan dimanipulasi untuk meraih kepentingan-kepentingan elite tertentu yang bukan kepentingan ummat.
  2. Keberanian ummat Agama lain menyentuh, mempersoalkan dan menafsirkan kitab suci ummat Islam. Sementara Ummat Islam memegang tradisi keilmuan bahwa tafsir terhadap Al-Qur`an dipersyarati oleh prinsip-prinsip yang hanya bisa dipenuhi oleh Ulama-Ulama tertentu. Juga berani menyentuh prinsip aqidah keIslaman, yang Ummat Islam selama ini menjaga toleransi dengan prinsip “lakum dinukum waliyadin”
  3. Sangat berbahaya bagi masa depan Bangsa dan Negara Indonesia kalau Ummat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia justru menjadi kelompok minoritas dalam penguasaan asset dan kekayaan bumi Indonesia, apalagi dengan martabat Ummat Islam dan Agama Islam yang semakin dijadikan bahan pelecehan dan penghinaan.

Melihat, mengalami dan mendalami seluruh keadaan itu, kami berpendapat bahwa ada dua langkah yang harus segera dilakukan oleh Ummat Islam Indonesia:

Pertama,  Musyawarah Darurat Ummat Islam Indonesia.

Gerakan 4Nov melihat medan tantangan yang lebih lengkap, makro dan menyeluruh, sebagaimana tertera di awal urun pendapat ini. Sudah saatnya para pemuka Ummat Islam dan segenap elemen ummatnya, yang tergabung di dalam berbagai organisasi massa, himpunan-himpunan sosial masyarakat, kelompok-kelompok ummat, jamaah-jamaah, perkumpulan, majelis, serta individu-individu yang tidak berafiliasi kedalam kelompok tersebut untuk duduk bersama. Melingkar dalam kebersamaan, berunding, bermusyawarah untuk memformulasikan langkah-langkah strategis ke depan, merumuskan harapan serta solusi atas berbagai persoalan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan.

Kedua, Majelis Darurat Permusyawaratan Rakyat Indonesia.

Para pemimin rakyat Indonesia, para sesepuh, para tokoh, para nasionalis, para patriot Ibu Pertiwi, perlu bergandengan tangan, duduk rembug bersama, untuk merundingkan berbagai hal yang berkaitan dengan semakin runtuhnya kedaulatan Bangsa dan Negara Indonesia. Kedaulatan atas harta kekayaan Tanah Air Indonesia, kedaulatan atas hak-hak kemanusiaan dan harga diri Bangsa Indonesia, yang semakin dikikis oleh keserakahan sejumlah orang dan kelompok. Kita yang menjalani Indonesia hari ini berhutang amanah kepada para Perintis Kemerdekaan dan para Pendiri NKRI, serta bertanggungjawab kepada semua anak-cucu rakyat Indonesia untuk memastikan bahwa Tanah Air Indonesia adalah tetap milik mereka, bukan milik siapapun yang kelak mempekerjakan mereka sebagai kuli-kuli dan jongos-jongos.
Demikian jawaban dan pandangan kami. Jamaah Maiyah, yang hanya sekelompok kecil di antara rakyat Indonesia yang tidak berorganisasi, tidak mengenal jalur komando, dan hanya merupakan jaringan silaturahmi dan majlis ilmu – sangat meneguhkan urgensi itu.

Yogyakarta, 10 November 2016

JAMAAH MAIYAH NUSANTARA

UMMAT ISLAM INDONESIA DIJADIKAN GELANDANGAN DI NEGERINYA SENDIRI

08 Nov 16
ja
No Comments

Muhammad Ainun Nadjib

Andaikan kalah di satu pertempuran (battle), tidak mengagetkan bagi pasukan yang bersiap menjalani peperangan (war) yang panjang. Rakaat pertama yang umpamanya kurang utuh, pasti mendorong rakaat-rakaat berikutnya akan menjadi lebih utuh dan khusyu. Ummat Islam Indonesia tidak memuncakkan perjuangannya pada 4 November 2016, sebab mereka menata nafas untuk Jurus Rakaat Panjang dalam sejarahnya yang penuh tantangan, ancaman dan penderitaan.

Selama ini saya diberi gambaran bahwa sesudah pemecah-belahan Uni Sovyet, Balkanisasi dan Arab Spring, sekarang ada formasi baru persekongkolan internasional yang bekerja keras dan sangat strategis untuk menghancurkan Islam dan Indonesia. Kemudian agak lebih mengarah: merampok kekayaan Negara Indonesia, dengan cara memecah belah Bangsa Indonesia dan utamanya Ummat Islam. Sekarang tampaknya semakin terlihat penggambaran baru yang lebih spesifik dan akurat.

Yakni bahwa NKRI bukan akan dihancurkan, melainkan dimakmurkan, tetapi bukan untuk rakyat Indonesia. Kedaulatan politik, bangunan konstitusi, pasal-pasal hukum, tanah dan modal, alat-alat produksi, serta berbagai perangkat kehidupan dan penghidupan – tidak lagi berada di tangan kedaulatan Bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia tetap dikasih makan dan bisa ikut kecipratan sedikit kemakmuran, asalkan rela menjadi pembantu rumahtangga, karyawan, kuli, khadam dan jongos yang setia dan patuh kepada Penguasa baru NKRI, yang merupakan kongsi dari Dua Adidaya dunia. Syuraqoh, alias keserakahan, diteknokrasi sedemikian rupa.

Sukar saya hindari penglihatan bahwa yang paling sengsara di antara bangsa dan rakyat Indonesia adalah Ummat Islam, karena mereka didera dua penjajahan. Di samping ada paket penguasaan atas NKRI, terdapat juga disain untuk mendevaliditasi Islam di kalangan pemeluknya. Ini berposisi sebagai cara atau strategi penguasaan NKRI, maupun sebagai tujuan itu sendiri untuk memaksimalkan deIslamisasi kehidupan bangsa Indonesia. NKRI tidak boleh menjadi Negara Islam, artinya boleh menjadi Negara Agama selain Islam.

Hampir selama 40 tahun, intensif 20-an tahun belakangan, saya keliling jumpa rakyat rata-rata 10.000 orang perminggu, untuk ikut memelihara keIndonesia, keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan antar golongan apapun yang dinding-dindingnya mungkin etnik, agama, parpol, madzhab, aliran, muara-muara kepentingan, segmen-segmen dan level. Agenda saya adalah membesarkan hati mereka, merabuki optimisme penghidupan dan keyakinan akan masa depan mereka. Kalau orang bilang pluralisme, mereka saya himpun dan ayomi sebagai semacam keindahan orkestrasi. Kalau disebut toleransi, saya carikan formula, aransemen, modulasi sosial untuk puzzling dan saling paham atas batas-batas di tengah kemerdekaan.

Kalau ada kelompok terlibat bentrok dengan lainnya, saya disuruh menambal dan menyatukan kembali. Kalau ada yang diserbu, saya ditugasi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk melindungi dan menampung. Saya minta kepada Tuhan agar dianugerahi ilmu untuk menemani rakyat, agar berada dalam keseimbangan hubungan, meracik skala prioritas dan tata-etika untuk disepakati, dengan menomersatukan keutuhan kemanusiaan dan kebangsaan. Saya ditarik untuk menemani mereka mencari solusi-solusi dalam rembug pengetahuan atau diskusi ilmu dan kasih sayang, minimal 5 jam, bahkan sering berlangsung hingga dihentikan oleh Subuh.

Akan tetapi saya dan kami semua diam-diam ditikam dari belakang. Kami dimunafiki: bilangnya satu dalam perbedaan, tapi diam-diam di belakang punggung menciptakan pecahan-pecahan, menanam perilaku yang menimbulkan amarah, kebencian, permusuhan dan dendam. Saya mengajak kaum Muslimin untuk “la ikroha fiddin” dan memahami metoda-metoda tasammuh atau toleransi, untuk secara rasional menata keIndonesiaan. Tetapi diam-diam Kaum Muslimin digerogoti dari belakang: pergerakan-pergerakan sangat taktis dan strategis dari upaya-upaya deIslamisasi penduduk kampung-kampung, deIslamisasi Kraton, hingga deIslamisasi Pemerintahan Nasional, dengan plan dan timeline yang seksama, sangat kentara, bahkan terang-terangan dengan arogansi dan keculasan.

Bahkan Kaum Muslimin dicuci otaknya secara nasional untuk mempercayai bahwa demokrasi tetap gagal selama pemimpin nasionalnya berasal dari mayoritas. Demokrasi tercapai sempurna kalau pucuk pimpinannya adalah tokoh minoritas. Kalau mayoritas berkuasa itu artinya diktator mayoritas dan intoleransi. Kalau minoritas berkuasa itu maknanya demokrasi dan keadilan. Kalau orang Islam dibunuh, itu perjuangan melawan radikalisme dan fasisme. Kehancuran Islam adalah tegaknya keadilan dunia dan berkibarnya demokrasi. Penguasaan atas Kaum Muslimin dilakukan atas dasar subyektivitisme Ras dan Agama para pelakunya, kalau Kaum Muslimin menolaknya dituduh rasis dan pelaku SARA. Ummat Islam dipaksa untuk menerima kehendak kekuasaan, dan kalau menolak mereka disebut memaksakan kehendak. Ummat Islam diinjak, kalau bereaksi dituduh tidak toleran, anarkis dan radikal.

Sebenarnya selama puluhan tahun terakhir, proses pengikisan hak milik, penjebolan kedaulatan dan penguasaan harta benda Ibu Pertiwi, juga pencurangan cara berpikir tentang mayoritas-minoritas seperti itu sudah berlangsung. Tetapi kemudian, sukar saya elakkan pandangan, bahwa melalui rekayasa penyelenggaraan kepengurusan yang baru atas institusi Negara, dengan tiga tajaman di ujung Trisula politiknya, serta pendayagunaan seluruh perangkat lembaga pengelolaan itu, termasuk kerjasama proaktif dengan media-media informasi tertentu, pun jangan lupa sebagian tokoh dan institusi atau organisasi Islam tertentu yang dipekerjakan: hal itu dipacu maksimal dan total. Sampai Tanah Air Ibu Pertiwi Indonesia bukan lagi milik pribumi asli Indonesia. Dari kursi nomer satu di puncak kuasa hingga sejengkal tanah di pelosok desa, akan berangsur-angsur menjadi bukan lagi milik rakyat Indonesia.

Logika normalnya, siapa menolak kenyataan itu, akan hanya tersisa tempat untuk menjadi gelandangan di kampung sendiri. Dan kalau memberontak, akan dibunuh dengan berbagai jenis dan kadar pembunuhan. Kalau pemberontakannya sangat merepotkan, maka harus dimusnahkan. Rakyat Indonesia dikelabuhi secara intelektual, dininabobo secara mental, ditipudaya secara politik dan hukum, ditelikung secara ideologi, dikanak-kanakkan melalui tayangan-tayangan, disesatkan pengetahuannya, dikebiri keksatriaannya, serta ditidak-seimbangkan cara pandang kehidupannya.

Para ilmuwan, aktivis atau para tradisionalis penghitung sejarah dipersilahkan menjelaskan bebendu sejarah yang sedang deras dilangsungkan itu melalui tema Perang Asia Pasifik, Perang Asimetris, Ku Bilai Khan seri-II, Manifestasi Dajjal yang “mensorgakan neraka dan menerakakan sorga”, kulit dan mata Ya’juj Ma’juj, “wong jowo gari separo cino londo gari sakjodho”, tafsir baru 500 tahun Sabdopalon Noyogenggong, atau apapun. Yang pasti rakyat asli Nusantara Indonesia sedang dikurung oleh perampokan dan penjajahan besar-besaran, di mana mereka belum 10% menyadarinya.

Kalau para pejuang kebenaran 411 tidak memperoleh goal yang dimaksudkannya pada ‘pertempuran awal’, tidak boleh kaget dan malah perlu introspeksi total. Misalnya, karena medan perang dan sasaran tembaknya dipersempit menjadi hanya Al-Maidah 51, yang di dalam ketersediaan pasal pidana tidak sukar untuk di-syubhat-kan. Tidak ada tonjokan tentang kasus-kasus korupsi, reklamasi, atau penyiapan Jakarta untuk pilot project disain penjajahan nasional. Lebih 90% kejahatan manusia tidak selalu bisa dijangkau oleh hukum: ketidak-berbudayaan dalam memimpin, ‘hawa’ negatif eksistensinya, kejinya ucapan, brutalnya tindakan, aura dan nuansa kebenciannya kepada Islam, dst.

Pejuang 411 terfokus pada setitik hilir dan belum menemukan determinasi terhadap hulunya yang dahsyat. Sebab harus berjaga-jaga siapa tahu mereka semua adalah bagian dari suatu formasi kekuatan yang justru bertugas menjaga jangan sampai sasaran itu kena tembak.

Ummat Islam perlu melakukan ke dalam dirinya sendiri (Islam dan Kaum Muslimin) muhasabah komprehensif. Kaum Muslimin tidak bisa menunda waktu lagi untuk lebih mengislamkan dirinya, sebab itulah modal paling kuat untuk mempertahankan Indonesia. Kaum Muslimin di setiap titik harus menyelenggarakan tahqiqi keIslaman sampai ke anak-anak dan cucu-cucu mereka. Menyusun tradisi budaya kependidikan Ta’limul Islam, Tafhimul Islam, Ta’riful Islam, Tarbiyatul Islam hingga tertradisikan Ta`dibul Islam. Setiap lingkaran Muslimin memastikan perkumpulan yang berlatih bersama untuk tidak ditimpa kemalasan berpikir, berpuasa dari egosentrisme kelompok, melawan tradisi amarah, atau memasrahkan persoalan-persoalan kepada para pemimpin, padahal pada saat yang sama sesungguhnya mereka tidak benar-benar percaya kepada pemimpin.

Ummat Islam tidak perlu melemahkan dirinya terus menerus dengan khilafiyah dan ikhtilafiyah, apalagi dengan tema-tema furuíyah. Aliran-aliran (produk tafsir) keIslaman tidak bisa mengelak lagi untuk mulai duduk bersama, ber-majlis-fatwa bersama, memandu ummat mereka berhimpun dan bersatu di dalam kebijakan sejarah “wa amruhum syuro bainahum”. Mengkonsisteni keseimbangan berpikir, keadilan sikap, cerdas kapan hitam-putih kapan warna-warni, serta memastikan bahwa Ummat Islam tidak dipersatukan oleh kebencian bersama kepada pihak yang memusuhi mereka.

Melainkan berukhuwah sejati karena iman kepada Allah, cinta kepada Kanjeng Nabi dan penjunjungan kepada AlQur`an yang Allah Sendiripun maha bekerja untuk menjaganya.

Termasuk tidak membiarkan kebiasaan mudah kagum, gampang terhanyut, mentakhayulkan idola, Satrio Piningit. Syukur akhirnya Allah menghidayahi Ummat Islam untuk memiliki keridlaan sebagai “ummatan wahidah”, ummat yang satu dan selalu menyatu. Dengan kepemimpinan yang juga satu, yang Allah sendiri Maha Pengangkat dan Pelantiknya. Mohon mafhum ini bukan gagasan tentang Imamah.

Salah satu modal Kaum Muslimin adalah mereka yang memusuhinya beranggapan dan meyakini, bahwa berdasarkan teori peperangan: Kaum Muslimin Indonesia kalah hampir di semua segi. Modalnya, pengorganisasiannya, kohesi keummatannya, mesiunya, penguasaan medan dan cuacanya, soliditas pasukan-pasukannya yang jahr maupun yang sirr. Mereka juga menyangka bahwa hizbullah 4Nov adalah gambaran maksimal kekuatan Kaum Muslimin.

Ada sejumlah dimensi, kekuatan, aura, energi, probabilitas “min haitsu la yahtasib”, immanensi “inna nahnu nazzalnadzdzikro wa inna lahu lahafidhun”, rahasia “wamakaru wamakarallah wallahu khoirul makirin” dst dst yang semua penguasa di dunia sejak zaman Nabi Nuh hingga Abrahah serta para adikuasa abad-abad mutakhir, tidak pernah serius memperhitungkannya. Apalagi untuk konteks Nusantara Penggalan Sorga dengan sejarah tanal liat dan Tapel, dengan Iblis Smarabhumi dan Izroil, yang dianggap klenik dan khoyal, sehingga akan membuat mereka salah sangka di ujung penjajahannya atas tanah berkah ini. Fa’álul-lima Yurid, Allah Maha Bekerja mewujudkan kehendakNya.

Saya sendiri, bersama saudara-saudara yang bersama saya, hanyalah manusia, sehingga lemah dan tak berdaya. Yang Maha Kuat dan Maha Berdaya adalah Allah swt. Dan dengan segala ketidakberdayaan itu saya sudah berkali-kali membisikkan ke telinga para syuraqoh penindas manusia dan penganiaya nilai-nilai hakiki Tuhan yang hari-hari ini sedang berbuat adigang-adigung-adiguna di Tanah Air Indonesia: “Tolong dipikir ulang, agar tidak menyesal kemudian”.

Ke mana-manapun berpuluh tahun saya menghimpun para pecinta Allah, berupaya menambah jumlah hamba-hamba agar dicintai Allah, “mengelola arus positif dan negatif menjadi cahaya”. Saya sedih oleh permusuhan, selalu menikmati persaudaraan dengan semua makhluk Tuhan, dan saya tidak bahagia harus bersiap untuk kemungkinan lainnya.

Yogyakarta 8 November 2016.

Tahun Pertama Menjadi Kurir Cinta Maiyah

02 Nov 16
ja
, , , , ,
No Comments

Cinta, sepertinya akan atau bahkan mungkin sudah menjadi sesuatu yang langka saat ini. Bagaimana tidak, kita saat ini sudah jarang sekali bahkan nyaris tidak lagi memakainya dalam setiap gerak dan langkah kita di kehidupan ini. Dalam perencanaan suatu hal, pengambilan keputusan, bahkan dalam proses pencarian cinta pun kita sudah tidak mau lagi melibatkan cinta di dalamnya.

Aneh memang, kok ya bisa dalam proses pencarian cinta kita tak mau melibatkan cinta. Ya, lihat saja sekarang banyak sekali diantara kita saling berebut mencari jalan untuk ingin mendapatkan cinta-Nya tapi enggan melibatkan cinta dalam proses pencarian cinta-Nya yang sejati. Malah di tengah perjalanan pencarian cinta-Nya itu, kita tak segan saling sikut, saling pukul, bahkan ada yang tega membunuh sesama kita dengan dalih dirinya lah yang lebih berhak dan layak untuk mendapat balasan cinta dari-Nya.

Coba kalau kita bisa sedikit saja memakai cinta dalam perjalanan pencarian cinta, maka kita akan bisa saling bantu satu sama lain untuk bersama-sama menuju dan bersemayam di singgasana cinta-Nya yang sejati. Dan selama ini aku sendiri pun berada di sana, dalam kegaduhan para pencari cinta yang tak memiliki cinta.

Tapi saat ini, di sini, di Maiyah. Aku belajar banyak sekali hal tentang bagaimana seharusnya kita menikmati proses pencarian cinta dengan penuh cinta, seperti sedang berlayar diatas perahu cinta yang sedang menyusuri samudera cinta.

Satu tahun sudah aku berada diatas perahu cinta yang bernama ‘Jamparing Asih’, sebuah perahu kecil yang dipenuhi oleh panah-panah cinta, dimana di dalamnya aku hanya sang kurir pengantar cinta. Yang selalu siap sedia mengantar beribu ton cinta untuk dikirim kepada mereka yang sedang kehilangan atau dirampas cintanya.

Terima kasih Jamparing asih, yang telah sudi mengijinkan aku masuk dan bergabung untuk menjadi kurir cinta. Termakasih Maiyah, karena telah mengijinkan perahu kecil yang bernama Jamparing Asih ini untuk berlayar bersama perahu cinta yang lain, di lautan cinta ini. Jangan berhenti mengirimi kami cinta, agar kita bisa sampai bersama di samudera cinta-Nya.

Dari cinta, oleh cinta, untuk cinta-Nya.

Bandung, dini hari.

Edi Kandhani

Selamat satu tahun, Jamparing Asih…