Monthly Archives:April 2016

KOMUNITAS : Maiyah dan Maicih

30 Apr 16
ja
, , ,
No Comments

Oleh Inin Nasta’in

Sejak saya ikut riungan Jamparing Asih, simpul Maiyah Bandung, ada beberapa teman yang nanya, apa sih maiyah itu. Dan sampai sekarang, saya tidak pernah bisa menjawab, apa maiyah itu. Apa sih tempat saya ngumpul itu.

Ada beberapa temen yang kemudian menerka-nerka bahwa maiyah itu adalah pengajian. Ada juga yang bilang maiyah adalah komunitas diskusi. Diskusi budaya, seni dan lain-lain. Dan untuk semua terkaan temen-temen itu, saya hanya bisa meng-iya-kan semua. Karena, ya memang tidak menutup kemungkinan nantinya seiring waktu, seperti simpul maiyah yang lebih tua, di Jamparing Asih itu akan ada hal-hal seperti terkaan itu.

Bahkan ada juga terkaan temen yang (nggak tahu gimana ceritanya), membandingkan maiyah dengan product makanan khas Bandung, maicih. Saya sendiri tidak menyangka akan ada lontaran pertanyaan tentang kaitan dua nama itu. Dan jujur, untuk menjawab secara ilmiyah, saya lagi-lagi tidak bisa. Untuk perbandingan ke dua nama itu, saya hanya jawab. ‘haha, gélo manéh.’

Tapi diam-diam perbandingan dua nama itu, lumayan menggangu juga. “Iya ya, lumayan mirip. Dan ini mungkin bisa ditarik keterkaitannya. Apapun itu hubungannya.” Dari rasa mengganggu itu, saya coba cari-cari keterkaitan antara ke duanya. Maiyah dan maicih.

DSCF1952

Bandung, sebagai kota yang dikenal surganya pecinta kuliner, memaksa warganya tidak hanya menjadi penikmat saja. Warga Bandung juga dituntut untuk mampu menciptakan makanan. Entah itu benar-benar menciptakan atau sekadar membuat perpaduan-perpaduan dari makanan yang sudah ada.

Dari sekian banyak kuliner khas Bandung, ada yang namanya maicih. Makanan ini, masuk kategori camilan, makanan ringan. Maicih sendiri sebenarnya kalau dilihat dari jenisnya bukan makanan baru. Maicih adalah camilan keripik yang terbuat dari singkong.

Namun ada ciri khas tersendiri dari maicih ini. Dibanding kripik product lainnya yang sudah ada lebih dulu, Kripik khas Bandung ini memiliki rasa pedas yang juara, dengan kadar (rendah, sedang dan tinggi) pedas menggunakan level.

Seperti umumnya makanan pedas, yang akan dihujat tapi tetap dinikmati juga. Begitu juga yang dialami oleh maicih. Tidak jarang orang-orang yang menikmati maicih ini akan klenger karena pedas yang dipilih adalah level tertinggi. Tapi kemudian, masih tetep menikmati, hingga akhirnya habis satu bungkus. Dalam pribahasa Sunda, ada hereuyan ‘dipoyok dilebok,’ yang memiliki arti (kira-kira) ‘dihujat, tapi juga dinikmati.’ Dan pribahasa itu mungkin bisa dialamatkan kepada maicih. Dengan segala rasa pedas yang edun, maicih nyatanya tetap dicari.

Gambaran Maicih ini, ada kemiripan dengan Maiyah yang saya rasakan.

Sampai sekarang, saya tidak tahu makna maiyah yang sejati. Dan tidak jarang, ketika menonton di youtube atau baca reportase maiyahan, hanya nol koma nol nol nol sekian yang saya bisa tangkap. Dan itu pun masih samar.

Tapi ke-paham-an yang datangnya tidak segera itu, tidak lantas membuat kapok, leumpat. Padahal tidak jarang, ketika menyimak majlis masyarakat maiyah, justru memberikan pekerjaan rumah. Mencari tau lagi tentang apa yang diulas, adalah risiko yang harus ditanggung ketika menyimak apa yang diobrolkan di maiyah. Belum lagi, kadang yang dibahas itu tidak sesuai dengan angan-angan yang diinginkan.

Ketika mengharapkan akan ada obrolan tentang suatu hal yang memang cukup menarik bagi saya, tapi nyatanya di sana tidak dibahas. Malahan diselingi dengan pembahasan-pembahasan yang remeh-temeh, hanya karena ada jamaah yang melempar pertanyaan yang jauh dari kata penting.

Tapi, entah mengapa. Suasana seperti itu, diam-diam menghadirkan keindahan tersendiri bagi saya. Obrolan yang tidak ada kesimpulan, riungan yang justru memberikan beban pikiran, ngumpul-ngumpul yang tidak menawarkan surga. Tapi ada rasa yang beda, rasa yang diam-diam menuntun saya untuk menikmatinya. Tidak peduli apakah besok-lusa saya akan mencret, yang pasti ini adalah nikmat. Dan kalaupun nantinya mencret, maka tidak benar-benar lieur, sebab sudah melewati prosesnya.

Sok sanajan pedes, hayeuh wae digrauk sampe teu nyadar ntos seep berbungkus-bungkus

Bandung, 8 Februari 2016

Mukadimah : Sakaba-kaba Instan #JAPril

28 Apr 16
ja
No Comments

Maiyah bukanlah organisasi, melainkan organisme”. Hal tersebut yang selalu diingatkan oleh para Guru Maiyah. “Maiyah adalah organisme karena di dalamnya ada nyawa pertumbuhan, ada berbagai komponen yang berkait, dan terdapat proses-proses transformasi yang berlangsung melalui alur Dzat-Sifat-Isim-Jasad”, tulis Pak Toto Raharjo. Pun selayaknya organisme hidup yang membutuhkan air untuk keberlangsungan hidupnya, simpul-simpul Maiyah tentu membutuhkan ‘air’ untuk sumber kehidupan. Sumber air berupa mata air ilmu yang dapat terus direguk kesegarannya untuk menghapuskan dahaga hingga organisme Maiyah senantiasa dapat mengolah kebermanfaatannya di lingkungan tempatnya hidup dan berada.  Meski di dalam Maiyah dibangun sebuah kesadaran bahwa ilmu atau petikan kearifan bisa kita dapatkan dari siapa saja, namun goresan sejarah menetapkan bahwa Padhangmbulan merupakan sumber mata air Maiyah tertua yang keberadaannya melekat erat dengan perjalanan Simbah Guru, Emha Ainun Nadjib. Perjalanan Maiyah yang dipupuk dan ditanam tidak secara instan.

Ada baiknya, Jamparing Asih sebagai salah satu simpul termuda Maiyah menengok kepada sang Induk. Atau semata mengabarkan petikan-petikan ilmu yang ditebarkan di sana, di Padhangmbulan. Seperti pada Padhangmbulan edisi April 2016, Simbah Emha Ainun Nadjib memaparkan mengenai skenario global untuk melemahkan manusia-manusia Indonesia. Tiga skenario utamanya adalah :

1) Diputus hubungan antara kita dengan leluhur

2) Kita dibuat tidak memercayai diri sendiri

3) Diputus cinta kita dengan Rasulullah

Alangkah elok bila kita ikut merenunginya dan menanyakan pada diri masing-masing, apakah hal ini sudah benar-benar terjadi? Apakah kita menyadarinya? Ataukah secara tidak sadar, kita dibuat tidak merasa bahwa bangsa kita sedang digiring kepada ketidaksadaran tersebut?

***

Memahami permainan global adalah pengetahuan yang dapat membantu kita membaca peta kehidupan dengan lebih menyeluruh. Namun tak boleh terlupa bahwa sebagai bagian dari masyarakat, alangkah baiknya bila kita dapat membaca dan memerhatikan fenomena-fenomena lokal yang terjadi di tempat kaki kita berpijak, yaitu Kota Bandung. Kota tempat aku, kamu, mereka, dan Jamparing Asih berada.

Saat ini tampaknya Bandung sedang membangun citranya sebagai kota kreatif anak muda. Geliat pembangunan pun sangat terasa berbeda dengan belasan tahun, atau bahkan puluhan tahun ke belakang. Ditambah lagi dengan hampir menetasnya daerah pusat pengembangan teknologi dan informasi. Tidak lupa pula kini Bandung memperkenalkan identitas dirinya sebagai “Smart City”. Meskipun begitu, masyarakat Bandung seyogyanya tidak melupakan bahwa Bandung merupakan warisan bumi Sunda. Dari seluruh kenyataan terkait demografi dan kemilau pembangunan itu, berapa besarkah yang mensinergikan pembangunannya dengan ruh, jiwa, dan kearifan tatar Sunda?

Masyarakat merupakan unsur yang tidak mungkin luput dari sebuah kota. Badan Pusat Statistik mengabarkan bahwa masyarakat Bandung secara demografi didominasi oleh anak-anak muda. Sekitar 60%  penduduk Bandung, , lebih dari setengah jumlah penduduk, berada pada kelompok usia di bawah 40 tahun. Tetapitidk sedikit anak-anak muda yang menetap di Bandung adalah warga pendatang. Dari sejumlah pendatang yang menjadi tamu di kota Bandung, bagaimanakah bentuk terima kasih yang telah diberikan untuk bumi Parahyangan tempatnya berpijak? Dari jutaan anak muda Sunda yang berada di Bandung, berapa persenkah dari mereka yang memahami sejarah nenek moyangnya di tatar Pasundan? Berapa banyak anak muda Sunda yang menyadari pentingnya menemukan dan merangkai kembali kepingan-kepingan kisah dan sejarah masa silam? Berapa banyak dari mereka yang memahami dan menghayati agungnya laku, pitutur, dan budaya kesundaan?

***

POSTER JAAPRIL 1

Kade, tong kabawa ku sakaba-sakaba”, begitu ujar orang tua Sunda mewanti-wanti anaknya. Sakaba-kaba memiliki artian anu teu pugah-puguh atau sesuatu yang tidak jelas juntrungannya. Di tengah budaya kontemporer saat ini, Jamparing Asih menemukan adanya fenomena “serba instan” yang sebagai salah satu fenomena di masyarakat dapat mewakili kata ke-teu-puguh-an itu. Unsur instan kini banyak ditemukan menjadi haluan utama di segara kehidupan. Dari segi pembangunan, pembelajaran, kebudayaan, keberagamaan, pengumpulan pundi-pundi uang, pendidikan, dan cara berpikir pun sangat mudah ditemukan unsur ke-instan-an nya. Seolah dewasa ini manusia hidup untuk menjadi “masyarakat instan”, bukan “masyarakat intan”.

Dalam naskah drama Simbah Guru yang berjudul “Perahu Retak” terdapat sebuah bait “Orang batu jadi mutiara, karena cintaMu”. Pada Kenduri Cinta edisi Juni 2015, Simbah Guru menyatakan bahwa situasi zaman sekarang sangat memungkinkan orang untuk salah dalam memaknai sesuatu. Manusia kini banyak gagal dalam menempatkan dan memposisikan diri. Tidak bisa membedakan antara intan dengan batu, batu dijunjung-junjung sedang intan justru diinjak-injak. Tatanan sosial akan menjadi teu pugah-puguh apabila masyarakat tidak dapat membedakan mana manusia batu, mutiara, intan, tembaga. Manusia dapat diketahui kualitas keintanannya dari cahaya di dalam hatinya.

Dalam memaknai berharganya intan berlian sebagai sebuah output, kita tidak boleh melupakan proses penempaannya. Pada prosesnya, sang intan mengalami perjuangan panjang, melewati silih berganti pergantian musim, panas dan dingin . Meski tidak sedikit gesekan-gesekan bahkan hantaman-hantaman telah ia rasakan, intan tetap bertahan, karena dengan keteguhannya, gesekan-gesekan itu semakin menimbulkan Mahabbahnya terhadap Sang Pencipta. Ia yakin Sang Pencipta lebih Maha Mengetahui ada apa dibalik semua itu,  sehingga ia tetap bertahan hingga menjadi intan berlian yang begitu indah, seperti pohon yang yakin bahwa ‘badai pasti berlalu, dan ‘yang tersisa hanyalah pohon-pohon terkuat, dengan akar-akar terkuat’.

Dengan tanpa bertendensi untuk mendikotomikan atau membedakan keberadaan manusia, Jamparing Asih mengajak sedulur untuk bersama-sama mentafakuri fenomena di masyarakat yang dapat dimetaforakan menjadi kemanusiaan yang bersifat instan ataukah intan. Sesuatu yang instan memiliki sifat mudah dibuat, sedangkan intan adalah sesuatu yang akan menjadi semakin bernilai dengan adanya kesadaran terhadap proses. Bahwa untuk menciptakan sesuatu nan indah seperti sebutir intan,  proses yang dijalani begitu berliku dan panjang.

Sebagai tempat untuk saling berbagi, berinteraksi, dan memahami selayaknya manusia, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sararea untuk melingkar dan bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema ‘Sakaba-kaba In(s)tan’ pada hari Sabtu, 30 April 2016 yang akan dimulai pukul 17:00 WIB di Gedung RRI Bandung. ‎Semoga dengan lingkaran kecil di malam minggu ini, kita dapat saling mengetahui pentingnya duduk bersama, mendinginkan kepala, dan saling menyadari kekurangan yang dimiliki masing-masing. Agar intan-intan yang terpendam dalam setiap diri dapat sedikit demi sedikit terkikiskan dari pasir dan debu-debu untuk akhirnya dapat saling mendispersikan cahaya yang tertuju kepadanya. Dan ibarat seorang pendulang yang istiqamah mencari intan di tumpukan kerikil, lumpur, dan bebatuan, semoga kita pun dapat berusaha untuk terus menemukan intan-intan yang terserak atau bahkan mungkin dibiarkan terserak oleh tatanan kehidupan yang ada di masyarakat saat ini.

Dihaturanan kasumpinganana.