Monthly Archives:February 2016

Pengabdian Tanpa Pengakuan

24 Feb 16
ja
No Comments

“Abdi” menjadi salah satu kata ganti dalam Basa Sunda untuk menyebut saya atau aku. Apakah ada hubungannya dengan pengabdian dalam bahasa Indonesia? Kalau memang saya adalah abdi, dan abdi berarti orang yang mengabdikan dirinya, kepada siapakah sang subyek harus mengabdi? Siapapun yang menjadi lawan bicara, urang Sunda selalu menyebut dirinya sebagai “abdi”, entah pejabatkah ia, anak kecilkah ia, hatta kepada hewan dan tumbuhan, kita menyebut diri kita dengan abdi.

Begitu pun dalam kehidupan kemasyarakatan kita, jamak kita temui kata pengabdian menghiasi kalimat atau sekedar istilah dari sebuah aktivitas. Teman-teman di kampus tahu dan bahkan wajib mengikuti Praktek Pengabdian Masyarakat, karena memang Tridarma Perguruan Tinggi mengisyaratkan itu, yaitu : Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Tapi, bagaimanakah konsep pengabdian yang dimaksud oleh Tridarma tersebut? Apakah ilmu yg kita dapatkan di bangku sekolah benar-benar diniatkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat, atau dengan ilmu kita malah memanfaatkan masyarakat?

Dalam dunia pemerintahan, kita juga mengenal istilah Abdi Negara, entah itu pegawai sipil, militer sampai para pemimpin negara, disebut dengan para abdi negara. Namun apakah yang sebenar-benarnya diabdikan? Dan apakah pengabdian kita sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh apa-apa yang dirumuskan dalam konsep kenegaraan? Apakah setiap pengabdian diri kita harus mendapatkan pengakuan dari institusi-institusi negara? Apakah sejatinya dimungkinkan adanya bentuk pengabdian dari diri dengan tidak mempertimbangkan ada-tidaknya pengakuan –meski nyatanya pengabdian-pengabdian yang dilakukan secara langsung terasa oleh khalayak ramai?.

pengabdian tanpa pengakuan redaksi

Dalam uraian khazanah Keislaman, Tuhan menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan tak lain kecuali sebagai dan menjadi hamba, makhluk yang mengabdikan diri kepada Tuannya. Namun sering kali kita temui, pengabdian kita ternyata berpamrih. Adakah pengabdian yang paling luhur selain pengabdian tanpa pamrih? Pengabdian yang dilakukan kerap kali memiliki unsur kesimpulan, sepertinya kita adalah hamba yang mengabdikan diri hanya untuk melambungkan keakuan sehingga posisi Tuhan lambat laun tersisihkan. Kalau memang fenomena ini benar terasa, apa sebenarnya yang menyebabkan perkara tersebut terjadi, dan mengapa manusia amat rentan terhadap kondisi dimana ia melihat diri sebagai subyek utama adalah pertanyaan-pertanyaan yang sepatutnya direfleksikan.

Untuk menciptakan sebuah diksursus dalam diri, seorang abdi selayaknya tak henti merefleksikan ulang posisi dan tingkat kemuliaan dirinya di hadapan Tuannya. Seperti mana yang sesungguhnya lebih mulia, manusia ataukah burung? Burung tak pernah memfungsikan semua atribut yang melekat padanya untuk hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, sayap untuk terbang mencari maisyah, kaki tak mencengkram ranting sesuatu yang bukan miliknya, paruh tak pernah mematuk sesuatu yang bukan untuk dipatuk, dan seterusnya. Mungkin itulah kenapa dalam Kitab Suci Tuhan sampai memberitahu bahwa manusia berpotensi menjadi lebih rendah derajatnya dibanding hewan ternak.

Kalau kita pergi ke desa, atau memperhatikan orang-orang yang dianggap kecil, para petani, pedagang keliling, nelayan kecil, perajin kebutuhan berbahan baku alam, kita akan menyadari betapa mereka setia kepada kehidupan, kepada Tuhan dan alam, membalik tanah, menandur, memupuk, mengoyos, membersihkan hama meski musim makin tak menentu, meski hasil tak dapat diharapkan tapi mereka setia karena tugas makhluk adalah bekerja memaksimalkan semua potensi yang melekat, masalah hasil itu hak preorgatifnya Tuhan. Pedagang keliling, memanggul dagangannya dengan payah, entah dimana pembeli akan menghampiri tapi kaki tetap melangkah meski puluhan kilometer harus ditempuh, meski hujan dan panas menguji. Para perajin, memotong, menganyam dan mengikat dengan cekatan, rapih dan indah, meski mungkin sesekali terpikir masih adakah yang akan membeli hasil mereka, meski produk handmade tetap dibeli dengan harga yang murah.

Di sisi lain, kebanyakan manusia saat ini bekerja untuk sekedar mencari pamrih, baik popularitas atau materi. Pengabdian kita hanya untuk diakui bahwa aku ini ada. Sedang bukankah abdi harus dan hanya patuh kepada kehendak Tuannya? Bukankah abdi ada justru untuk menegaskan bahwa Tuhan itu ada? ‎”Aku ada maka Allah meniada”, begitulah kira-kira seorang sufi pernah berujar.

Lantas, dimanakah posisi kita sebagai abdi Tuhan, makhluk yang dikaruniai segudang potensi plus fitur istimewa bernama akal. Apa yang menyebabkan kita lebih berpotensi menyerupai hewan ternak bahkan lebih rendah? Semua kesimpang-siuran ini mungkin telah lama berkecamuk di batin dan benak kita.

Sebagai sarana untuk mendengarkan isi hati yang ada, dengan segala kerendahan hati, Jamparing Asih mengundang sadulur sarerea untuk melingkar dan bermaiyah bersama dalam cinta dengan tema “Pang-Abdi-an tanpa Peng-Aku-an”, pada hari Sabtu, 27 Februari 2016 yang akan dimulai pukul 17:00 WIB di Auditorium RRI Bandung. ‎

Dihaturanan kasumpinganana.

Olah Ruh dan Olah Rasa

13 Feb 16
ja
No Comments

Setelah kemarin malam selesai beracara di kampung di pinggir kali Code Jagalan Yogyakarta, malam ini Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di Bandung. Tepatnya di Ballroom Hotel Nexa jalan WR. Supratman Bandung untuk memenuhi undangan Telkom Property yang tengah mengadakan Rapim I 2016. Sudah dua kali Telkom Property mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng, dan malam ini Cak Nun diminta memberikan pemaparan mengenai olah ruh dan olah rasa.

Read More…

One time Test

13 Feb 16
ja
No Comments

Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, emphasis consectetuer adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Just Test

13 Feb 16
ja
No Comments

Lorem ipsum dolor sit amet, test link adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, emphasis consectetuer adipiscing elit. Nullam dignissim convallis est. Quisque aliquam. Donec faucibus. Nunc iaculis suscipit dui. Nam sit amet sem. Aliquam libero nisi, imperdiet at, tincidunt nec, gravida vehicula, nisl. Praesent mattis, massa quis luctus fermentum, turpis mi volutpat justo, eu volutpat enim diam eget metus. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Maiyahan Jamparing Asih RRI

08 Feb 16
ja
No Comments

JA_RRIBerbicara Air ialah berbicara tentang sumber. Sumber dan sekaligus inti dari kehidupan ini yaitu yang Maha Tunggal, Allah SWT. Air sering digunakan sebagai bahasa simbol oleh dunia sastra. Simbol kerinduan akan sumber atau asal muasal dan juga tempat kembali. Air tidak sebatas material biasa namun hari ini ia menjadi harta karun yang diburu dan ingin terus dikuasai oleh bangsa asing.

Ketika Rasulallah hijrah ke Madinah yang pertama kali dilakukan adalah membagi tanah subur untuk digunakan sebagai lahan pertanian oleh penduduk setempat. ini bukti bahwa setiap masyarakat harus memiliki kemampuan mandiri dalam mengelola tanah yang tentu didalamnya mengandung air. Tanah bisa menjadi milik pribadi dengan bantuan hukum yang berlaku sementara air harus tetap menjadi milik umum. Sebab luas tanah yang ditempati mengandung air yang bersumber tidak hanya dari tanah itu sendiri.

Read More…